
" Loe kenapa Sa? Kusut amat tuh muka. Udah kayak keset yang ada tulisannya Wel_come nggak di cuci setahun. " ujar Kaila.
" Bau dong gue. " sahut Arisa. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah 2 Minggu libur. Seperti biasa, di saat jam istirahat begini, mereka suka nongkrong di kantin.
Arisa merebahkan kepalanya di atas meja. Ia terlihat manyun dan malas.
" Loe nggak pada makan? " tanya Santo yang baru saja tiba. Ia datang dengan Rian. Rian langsung mencomot bakwan yang ada di piring di depan Kaila.
" Pesenin gue dong. " pinta Kaila.
" Loe udah di sini dari tadi ngapain aja? Mau bantuin jualan? " celetuk Rian.
" Eh, kagak usah banyak omong deh. Bakwan loe pada nyembur keluar tuh." sahut Kaila.
" Eh , gue kalau makan tuh kalem ya. Jadi apapun makanan yang ada dalam mulut gue, nggak bakalan kocar-kacir. " sahut Rian.
" Mau gue pesenin apa? " tanya Santo.
" Nah, ini nih my bestie. " ujar Kaila sambil tersenyum manis.
" Jangan loe kasih gue senyuman kek gitu La. Entar gue nggak bisa move on dari loe. " sahut Santo membuat Kaila langsung mencebikkan bibirnya.
" Pesenin gue bakso lah. Yang pedes. Tapi jangan yang kek mulut netijen. " ujar Kaila.
" Loe juga kagak Sa? Mau gue pesenin soto apa bakso juga kek Kaila? " tanya Santo.
Arisa menggeleng lemah dengan kepala yang tetap menempel di atas meja.
" Kenapa loe Sa? " tanya Rian. " Lagi dapet loe? Perut loe sakit? " lanjutnya sok perhatian.
Kembali Arisa hanya menggeleng. " Gue nggak lagi sakit Yan. Otak gue nih yang lagi nge-lag. " jawabnya.
" Bentar-bentar... Loe simpen dulu cerita loe. Gue pesen makan dulu bentar. Ingat, jangan loe ceritain dulu kalau gue belum balik. " pinta Santo mewanti-wanti.
Ia lalu segera ngacir ke tempat Bu Ipah untuk memesan makanan buat dia, Rian, juga Kaila.
" Gue udah balik nih. Sekarang loe cerita sama kita-kita. Ada apa sama loe? Sapa tau aja kita kita bisa bantuin benerin otak loe yang lagi nge-lag . " ujar Santo.
Arisa kembali menggeleng. Ia masih belum mau bercerita. Sebenarnya ia masih bingung. Apakah ia harus cerita dengan temannya, atau ia sembunyikan saja.
" Makanan datang. " Bu Ipah datang dengan membawa tiga mangkok bakso. " Nih, punyanya neng Kai, ini punyanya mas Santo, dan ini punyanya mas Rian. " Bu Ipah membagikan pesanan Santo tadi.
" Loh, neng Arisa sing gelis, nggak pesen baksonya Bu Ipah neng? " tanyanya ke Arisa.
" Mulut Risa lagi males buat ngunyah bu. " jawab Arisa lirih.
__ADS_1
" Lagi sakit, neng? " tanya Bu Ipah. Arisa menggeleng. " Oh, habis liburan dua Minggu pastinya teh kangen sama a' Miler ya neng... " godanya. " Belum kelihatan sih neng dari tadi. Kayaknya kelasnya di lanjut. "
Kembali Arisa menggeleng. Bagaimana dia bisa merasakan rindu buat Miler? Ada rasa di hati aja nggak.
" Bu, ada nggak makanan atau minuman gitu yang bisa otak Arisa adem gitu. " Arisa menegakkan kepalanya.
" Kalau minuman yang bikin tenggorokan adem teh ada neng. Tapi kalau makanan atau yang minuman yang bikin otak adem, kagak ada neng. Emang tadi habis ulangan matematika ya? Masak baru hari pertama masuk sekolah, udah ulangan aja. " ujar Bu Ipah.
" Ya udah buk, kalau gitu. " Arisa kembali merebahkan kepalanya di atas meja
" Ya udah, kalau gitu, ibu ke belakang dulu. Mari, mangga atuh di nikmati baksonya. " pamit Bu Ipah.
" Makasih buk. " jawab Santo, Rian, juga Kaila bersamaan.
Sruuppp
Ahhh
Sruuuppp
Ahhh
Bunyi Santo, Kaila, dan Rian menikmati baksonya yang masih mengeluarkan kepulan asap.
" Guyysss.... Gue mau merid! " ucap Arisa tiba-tiba tapi dengan suara yang pelan.
" Uhuk ... Uhuk .... " Sedangkan Santo dan Kaila tersedak kuah bakso bersamaan.
" Jorok ih loe Yan!! " pekik Arisa sambil membersihkan seragamnya yang sedikit terkena semburan lahar panas dari mulut Rian sang ketua kelas.
" Iya ih. " Kaila juga terkena muntahan itu.
Lalu ketiga pasang mata yang berada di dekat Arisa menatap penuh tanya ke Arisa.
" Jangan bercanda loe Sa. " ucap Rian setelah ia mengelap wajahnya.
" Iya loh Sa. Kita mah harus selalu serius. Candaan loe gak lucu. Sumpah. " imbuh Kaila.
" Yah, kita semua kan emang pada merid nantinya. " sahut Santo berusaha kembali santai. Ia yakin, Arisa sedang bercanda. Bahkan ia mulai mengaduk-aduk kuah baksonya dan hendak memasukkan sesendok bakso beserta te tek bengeknya ke dalam mulutnya.
" Gue serius. Gue nggak lagi bercanda. Dan nggak akan lama lagi. Bukan besok di masa depan. " jawab Arisa serius. " Makanya gue galau banget, sumpah. " rengeknya sambil kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
Ketiga sahabatnya saling berpandangan mencoba saling bertanya.
" Sa, beneran loe mau nikah sekarang? Beneran, jangan bercanda deh Sa. Kita masih sekolah loh ini. " ujar Rian dengan raut wajah seriusnya.
__ADS_1
" Gue serius lah. Gue mau nikah dua Minggu lagi. " jawab Arisa.
" WHAT??? LOE MAU ME-dppffttt-" mulut Kaila langsung di bekap oleh Arisa.
" Jangan teriak-teriak ege!! Rahasia ini. Gue cuma ngasih tahu loe bertiga. Karena loe bertiga adalah sohib gue. Loe, sama Santo, sohib sehidup semati gue. Kita udah barengan lama. Dan loe Yan, meskipun gue kenal loe baru pas masuk di sini, loe juga udah gue anggap sohib rasa brother. " ujar Arisa.
" Tangan loe Sa. Kayak habis megang kemenyan. " ujar Kaila kala tangan Arisa terlepas dari mulutnya.
" Loe kira gue Mbah dukun!! " Arisa menoyor kening Kaila.
" Yah... Yah ... Yah ... Potek hati abang neng!!! " rengek Rian. " Gue kemaren ngebiarin loe jalan sama si Meler. Tapi kok malah jadi gini? Tau gitu kemarin gue gercep jadiin loe milik gue selamanya Sa. " lanjutnya.
Tidak ada yang bisa di bohongi. Rian memang menaruh hati kepada Arisa semenjak awal. Tapi Arisa selalu hanya menganggapnya sahabat. Tidak bisa lebih.
" Nasib loe bang. " ujar Santo sambil menepuk-nepuk pundak Rian.
" Sama siapa Sa? Jangan bilang sama si Meler. " tanya Kaila.
" Bukanlah. Makanya, sekarang gue tuh bingung, gimana sama si Meler. Eh, Miler. Masak iya gue putusin. Gue nggak ngerti lah gimana caranya mutusin cowok. " lirih Arisa.
" Terus, kalau nggak loe putusin, loe mau punya pacar sama punya suami gitu? Maruk loe namanya. " sahut Santo.
" Bukan Maruk kalau itu mah. Selingkuh itu. " sahut Kaila.
" Iya lah. Gue belum gila ya. Tapi beneran gue bingung gimana caranya mutusin ke si Mile. Baru juga beberapa bulan jadian. Dan selama ini, kita fine fine aja. Masak tiba-tiba gue putusin gitu aja. Tanpa alasan yang jelas. "
" Kan alasan loe jelas Sa. Lo mau punya suami. Tinggal loe bilang aja ke Mile. " jawab Kaila.
" Itu namanya buka rahasia, woy!" sela Rian.
" Oh... Iya ya. Kok gue jadi lupa. " jawab Kaila sambil menggaruk kepalanya.
" Terus gimana dong. Kasih tahu gue lah gimana caranya. "
" Sa, lagian loe jadi cewek polos amat. Si Meler tuh nggak sebaik yang loe kira. Di belakang loe, dia punya cewek lain. Gue udah sering bilang ke elo kan? " ujar Santo.
" Nah, itu bisa loe jadiin alasan buat mutusin dia. " sahut Kaila.
Arisa mencebikkan bibir bawahnya. " Kan gue nggak pernah lihat. Gue nggak punya bukti juga. Polisi aja kalau dapet laporan tanpa bukti yang jelas, nggak bisa nangkep penjahat. "
" Entar kita bantu cari buktinya, Say. " jawab Kaila sambil merangkul bahu Arisa.
Sedangkan Rian, ia hanya diam saja sedari tadi. Dia masih belum bisa menerima kenyataan jika dirinya memang benar-benar harus merelakan Arisa untuk orang lain yang ia pun belum tahu siapa itu.
Hatinya galau. Dadanya terasa sesak. Ia tidak menyangka jika sebelum dirinya bisa move on dari Arisa, malah gadis itu akan menikah dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Rian menatap wajah cantik Arisa lekat. Seolah ia ingin memindai wajah itu untuk ia simpan di dalam hati dan pikirannya baik-baik supaya setelah Arisa menikah, ia tetap mengingat wajah itu dengan jelas.
bersambung