Om itu suamiku

Om itu suamiku
Masih terasa sesak


__ADS_3

Roy dan Arisa menuruni tangga bersebelahan. Sedari keluar dari dalam kamar, Arisa selalu mengulum senyumnya melihat penampilan sang suami.


Roy mengenakan baju koko lengkap dengan sarung, juga peci di kepala. Sedangkan dirinya, mengenakan celana bahan model besar, blouse Korean style yang di bungkus dengan outer rajut, pasmina panjang berwarna senada yang ia tali ke leher.


Perbandingan yang sangat kentara. Yang satu ustadz style, yang satu Korean style. Sebenarnya Roy merasa keberatan. Tapi karena ia malas jika harus berdebat dengan sang istri yang berbuntut tetap sang istri yang menang, Roy memilih diam.


Hingga sampai di tangga paling terakhir, mereka melihat mama Ruby yang sedang panik.


" Ada apa ma? " tanya Roy sambil menghampiri sang mama.


" Selsa... Selsa... "


" Selsa kenapa ma? " sangat terlihat perubahan raut wajah Roy. Ia seketika seperti di serang panik.


Arisa mengikuti langkah sang suami yang langsung berlari ke arah sang ibu ketika mendengar nama Selsa di sebut dengan raut wajah paniknya.


" Selsa kenapa ma? " tanya Roy kembali setelah ia berada di dekat mama Ruby.


" Selsa mau melahirkan. " jawab mama Ruby.


" Apa? Melahirkan? Bagaimana bisa? Bukankah kata Selsa masih Minggu depan? " tanya Roy beruntun.


Belum jadi mama Ruby menjawab pertanyaan Roy, Roy sudah berlari dengan wajah paniknya menuju ke kamar yang di tempati Selsa juga Elyas. Bahkan Arisa di buat speechless dengan sikap sang suami. Ia hanya menatap nanar ke arah suaminya.


Roy baru akan masuk ke dalam kamar Selsa, terlihat Selsa keluar dari dalam kamar dengan memapah tubuh Selsa.


" Selsa..." panggil Roy. Ia segera menghampiri Selsa.


" Kenapa kamu tidak menggendong saja Selsa? Apa kamu tidak kuat? Biar aku yang menggendongnya jika begitu. Lihat, dia kesakitan begini. " ujar Roy memarahi Elyas.


" Kak! Jangan marah-marah gitu. Nanti anak Selsa kaget. Sss..... " ujar Selsa di sela-sela desisannya.


" Lihat, kamu kesakitan begitu. " sahut Roy tidak mau di salahkan.


" Mas Elyas mau gendong Selsa. Tapi aku yang nggak mau. Aku bukan patah tulang. Ssss.... Aku cuma mau lahiran. Ssssshhh....." sahut Selsa yang kini di selingi emosi selain desisan.


" Ayok mas. " ajak Selsa kembali ke suaminya untuk melanjutkan perjalanan.


" Aku gendong kalau suami kamu nggak mampu. " ujar Roy kembali.


" Selsa memang mau jalan. Dokter nyuruh Selsa banyak jalan biar gampang ngelahirinnya. " Sahut Selsa sambil menepis tangan Roy yang hendak menggendongnya.

__ADS_1


" Ya sudah, aku siapin mobilnya. " ujar Roy pada akhirnya. Ia lalu segera berlari menuju luar.


" Biii... Bantuin bawa baju ganti Selsa. " teriaknya ke pembantu rumahtangga keluarga Rakesh yang sedari kecil sudah merawat Selsa.


Bi Rasti segera mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar Selsa untuk mengambil barang bawaan Selsa yang ternyata sudah di siapkan Elyas sebelumnya.


Roy nampak berlarian.


" Abang kenapa Abang tergesa-gesa? " tanya Arisa membuka suara. Sedari tadi ia hanya memperhatikan semua sikap suaminya.


" Selsa mau melahirkan. Abang mau siapin mobil buat bawa dia ke rumah sakit. " jawab Roy.


" Tapi abang belum makan. " ujar Arisa.


Aku juga belum loh bang. imbuh Arisa dalam hati.


" Aku bisa makan di kantin rumah sakit nanti. " jawab Roy, lalu tanpa menunggu ucapan Arisa, Roy kembali berlari keluar.


Tak lama, Arisa melihat sang adik ipar sedang di gandeng oleh suaminya sambil sesekali mendesis kesakitan.


" Kak..." ujar Arisa sambil menatap takut ke arah Selsa. Apakah melahirkan harus seperti itu?


" Mau Arisa bantu? " tawar Arisa sambil menghampiri Selsa.


" Terima kasih, Arisa. Tapi biar aku saja. " sahut Elyas. Arisa hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.


Lalu Selsa dan Elyas kembali berjalan keluar, dan Arisa mengikutinya dari belakang. Di belakangnya, mama Ruby nampak berjalan cepat mengikuti Selsa sambil menenteng tasnya


" Arisa, mama nemenin Selsa dulu ya. Tolong, nanti kalau papa pulang, kamu kasih tahu papa kalau Selsa mau melahirkan. Soalnya mama telponin dari tadi nggak di angkat. " pesan mama Ruby.


" Iya, ma. " jawab Arisa pendek. Ia yang biasanya banyak bicara, melihat Selsa yang hendak melahirkan entah kenapa semua keberaniannya tiba-tiba lenyap.


Di luar, Arisa melihat semua pergerakan sang suami yang begitu cepat membukakan pintu untuk Selsa.


" Kamu temani istri kamu di belakang. Jaga dia dengan baik. Aku yang nyetir. " ujar Roy ke Elyas. Elyas hanya bisa mengangguk.


Sampai saat ini, Elyas masih merasa sungkan dengan Roy. Bagaimana pun juga, Roy adalah atasannya selama lebih dari 5 tahun ini.


Lalu Roy langsung memutari mobil dan masuk ke dalam mobil, duduk di balik kemudi, tanpa mengucap sepatah katapun ke Arisa yang masih berdiri menatap semuanya.


" Kak, bukankah kakak mau mengantar Arisa untuk mencari buku buat tugasnya? " ujar Selsa mengingatkan.

__ADS_1


Mendengar perkataan Selsa itu, Arisa segera menatap sang suami. Sebenarnya, perkataan itu juga ingin ia katakan ke sang suami. Tapi melihat apa yang suaminya lakukan saat ini, lidahnya menjadi terasa kelu.


" Sudah, pikirkan dirimu dan bayimu saja. Arisa nanti bisa di antar sama mamang. Atau dia bisa memesan taksi online. " jawab Roy. Entah sadar atau tidak Roy berkata seperti itu jika Arisa pun ada di sana.


Roy mungkin tidak tahu jika sang istri merasakan rasa sesak yang teramat di dalam dadanya. Ia yang biasanya tidak mudah menangis, saat ini, ia sangat ingin meneteskan air matanya. Tapi Arisa berusaha untuk menahannya.


Ucapan Roy tadi, semua sikap Roy yang di tunjukkan tadi, seolah merupakan petunjuk buat Arisa tentang semua pertanyaan yang memenuhi hati dan pikirannya beberapa waktu terakhir ini.


Jadi benar apa yang aku pikirkan bang? Ujar Arisa dalam hati sambil menatap nanar ke arah suaminya.


" Sudah , ayo cepat masuk. Kita harus segera ke rumah sakit. " ujar Roy tegas.


" Kak... "


" Arisa, kamu bisa pergi sama mamang kan? Maaf, Abang tidak bisa menemani kamu. " ucap Roy dari dalam mobil.


" Ayo ma. Cepat masuk. " ajaknya ke mama Ruby yang sedang melihat raut wajah Arisa yang terlihat mendung. Sebenarnya, mama Ruby tidak tega meninggalkan Arisa begitu saja. Tapi, Selsa juga membutuhkannya.


" Roy, apa tidak sebaiknya kamu mengantar Arisa dulu untuk mencari buku? Biar Selsa mama yang menemani. Dan mamang yang mengantar. "


" Sudah ma. Ayo cepetan. Kondisi Selsa lebih urgent. Dia harus segera sampai di rumah sakit. Aku nggak yakin mamang bisa mengantar Selsa sampai ke rumah sakit dengan cepat. " sahut Roy.


Mama Ruby menoleh ke arah Arisa. Arisa terlihat sedang tersenyum dan mengangguk ke mama Ruby. Akhirnya, mama Ruby memasuki mobil, menutup pintunya, dan Roy segera menjalankan mobilnya tanpa berpamitan dulu ke Arisa.


Air mata Arisa akhirnya menetes juga setelah mobil yang di kendarai Roy menghilang dari pandangan.


" Kenapa sama hati gue? Kenapa rasanya sakit sekali, Ya Allah??? " ucap Arisa lirih sambil memukuli dadanya.


" Arisa nggak mau kayak gini. Arisa nggak mau jatuh cinta kalau Arisa harus nangis gini, Ya Allah... " isaknya.


Arisa menekuk lututnya, lalu ia jongkok sambil menelusupkan wajahnya ke pahanya. Ia menangis sejadi - jadinya tanpa harus terdengar oleh orang lain.


Gue nggak mau jatuh cinta sama abang kalau akhirnya harus kek gini. pekiknya dalam hati.


Kenapa loe harus nikahin gue, ngasih perhatian ke gue, gombalin gue, kalau emang loe cintanya sama kak Selsa???? Ingin sekali rasanya Arisa berteriak seperti itu di hadapan Roy. Tapi ia tidak mampu.


Arisa bukanlah gadis polos yang tidak bisa membaca raut wajah Roy. Ia melihat bagaimana Roy yang terkadang mencuri pandang ke Selsa. Ia tahu arti pandangan itu. Karena ia sering melihat sang ayah yang memandang ibunya seperti itu.


Tidak mau berlama-lama menangis di depan rumah yang bisa mengundang perhatian para ART rumah itu, Arisa memutuskan untuk keluar dari rumah.


Ia tidak meminta mamang untuk mengantarnya. Ia keluar dengan berjalan kaki menuju gerbang kompleks sambil sesekali menyeka air matanya yang masih saja menetes.

__ADS_1


Arisa memutuskan untuk pergi dengan taksi online. Pertama-tama, ia tetap harus segera ke toko buku. Karena besok, ia harus sudah mempunyai buku itu. Lalu setelah itu, ia belum tahu mau kemana. Tapi yang pasti, Arisa tidak akan pulang ke rumah keluarga Rakesh malam ini.


Bersambung


__ADS_2