
" Mari silahkan, dokter Julio, nyonya Andhara, Arisa ya? " sapa dokter Lulu.
" Iya, dok. Masih inget aja. Dulu pas Arisa piyik, dokter Lulu yang suka suntik. " jawab Arisa.
" Iya. Dan kamu selalu saja suka ngeledekin Orion karena dia lebih sering nangis kalau habis di suntik ketimbang kamu. " sahut dokter Lulu sambil terkekeh.
" Arisa mah jagoan dok. Kan dokter selalu kasih Risa mainan habis imunisasi. "
Dokter Lulu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya ringan.
" Suami kamu? " tanya dokter Lulu sambil menunjuk ke arah Roy.
" Kayaknya sih dok. " jawab Arisa asal. Karena dia masih kesal dengan suaminya.
" Arisa.. " Julio mengingatkan.
Dokter Lulu menanggapinya dengan tersenyum. Sudah tidak aneh lagi baginya melihat Arisa. Beliau sudah mengenal Arisa mulai dari lahir. Beliau juga sering melihat dan memperhatikan Arisa ketika si kecil Arisa dulu ikut sang ayah bekerja. Pasti selalu saja ada yang anak ajaib itu lakukan.
" Ya udah. Yuk, periksa. " ajak dokter Lulu sambil berdiri dari duduknya.
" Siapa dok? " tanya Arisa. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri. " Ibu? " tunjuknya ketika pandangan matanya menemukan keberadaan sang ibu yang ada di samping sang ayah tentu saja.
" Ibu mah. Masak Arisa mau punya adik lagi sih? Geli tau. Arisa udah pantes loh punya anak sendiri. Masak iya punya adik bayi lagi? " protesnya.
" Ck! Maaf ya dok. Anak saya atu ini emang ajaib. Susah di suruh diem. " sahut Andhara merasa tidak nyaman dengan sikap Arisa.
" Nggak masalah nyonya Prasetya. Saya sudah mengenal Arisa. " jawab dokter Lulu sambil tersenyum.
" Jadi, yang mau di periksa siapa nih? Nggak mungkin Oma kan? " canda dokter Lulu.
" Dokter bisa aja. " sahut ibunya Julio. Mereka memang ikut masuk semua. Kecuali Ori sama Kevin. Dua laki-laki beda usia itu enggan berdempet-dempetan di ruang berbau etanol itu.
" Arisa tuh dok yang mau periksa. " ujar Andhara.
" Loh, kok jadi Arisa? " Arisa terlihat terkejut. " Arisa nggak pa-pa loh ini. Arisa sehat wal afiat. Ibu suruh Arisa lari ngelilingin nih rumah sakit juga oke. " lanjutnya.
" Arisa kenapa yah? " Roy ikut berbicara. Ia mengerutkan keningnya. Ia jadi ikut bingung. Kenapa istrinya tiba-tiba mau periksa. Padahal ia yakin, sang istri baik-baik saja.
" Kita semua akan tahu jawabannya setelah istrimu di periksa nanti. " jawab Julio sambil menepuk pundak Roy.
Roy makin mengerutkan dahinya. Ia makin tidak mengerti dengan jawaban ayah mertuanya.
Ia lalu memutar otaknya. Dokter kandungan. Dan istrinya mau di periksa. Oh, jangan bilang, jika ayah mertuanya mencurigai jika Arisa hamil.
Hamil??? Satu kata yang mampu membuat Roy kaku. Bagaimana jika ternyata memang istrinya itu hamil? Bisa perang dunia ketiga jika benar.
__ADS_1
Ia telah menyalahi perjanjian. Sedari awal, ia berjanji sama sang istri untuk tidak menghamilinya sebelum istrinya itu memegang ijazah SMA nya.
Tapi ternyata berat buat Roy. Baru melihat bibir tipis milik sang istri saja, senjatanya langsung berontak. Apalagi setelah senjatanya itu berhasil mengeluarkan upasnya. Sungguh, ia tidak bisa menolak.
Di tambah lagi, selama ini ia tidak pernah mengenakan sarung ajaib. Jadi sekarang Roy yakin 60%, jika sang istri hamil.
Roy menoleh ke arah sang istri sambil menelan salivanya susah payah. Baru saja sang istri marah-marah kepadanya hanya karena ia yang salah ucap. Bahkan sekarang, istrinya itu masih marah.
Di tambah jika memang sebentar lagi ada berita tentang kehamilan. Pasti sang istri akan semakin marah.
" Abang!! " panggil Arisa.
Roy terlonjak dari pemikirannya. Ia segera menatap sang istri yang juga sedang menatapnya.
" Arisa nggak sakit kan ya bang? Abang kalau lagi itu, nggak ngerasa gimana-gimana kan ya? Baik-baik aja kan? Nggak ada yang aneh kan? " tanya Arisa beruntun.
" Ah, ng-nggak. Nggak ada apa-apa. Baik-baik aja kok. " jawab Roy gagap. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa meremang.
" Suami kamu mana tahu, Sa. " sahut Andhara.
" Udah, ayok. Di periksa sama Bu dokter. Biar kita semua tahu. Ibu temenin. " Andhara menggandeng bahu Arisa dan berjalan menuju ke brankar yang ada di ruangan dokter Lulu.
" ABANG!! " panggil Arisa sambil berteriak.
" Kamu ih! Kuping ibu pengang!! " ujar Andhara sambil mengusap-usap telinganya.
" Hehehe.. Maaf ibuku sayang. Kayaknya TOA nya ibu pindah ke Risa deh sekarang. " jawab Arisa cengengesan.
" Kenapa? " tanya Roy yang sudah berada di antara ibu dan anak itu.
" Kok kenapa sih? " sungut Arisa. " Temenin lah. Kalau entar ada apa-apa sama Arisa, terus Arisa pingsan, siapa yang gendong coba, kalau abang jauh. " lanjutnya.
" Iya, abang temenin. Kamu nggak bakalan pingsan. Karena kamu istrinya abang yang kuat. " ujar Roy.
Roy lalu membantu Arisa naik ke atas brankar. Lalu, dokter Lulu duduk di kursi sebelah Arisa, menghadap alat USG.
Roy dan Andhara sedikit menyingkir kala seorang perawat hendak membantu dokter Lulu.
Perawat itu menaikkan kemeja yang Arisa kenakan, lalu menurunkan sedikit celananya hingga ke bawah perut.
Lalu perawat itu mengoleskan gel di atas perut Arisa.
Roy menyedekapkan kedua tangannya di dada. Sorot matanya terus menatap layar monitor yang ada di depan dokter Lulu. Meskipun ia tidak tahu, gambar apa yang ada di layar itu, tapi ia tetap ingin memperhatikannya.
Hati Roy berharap-harap cemas. Ia pasti akan sangat bahagia jika memang Arisa hamil. Karena bagaimanapun juga, di usianya yang sudah 29 tahun ini, ia menginginkan seorang keturunan. Buah cintanya dengan sang istri.
__ADS_1
Tapi ia juga merasa cemas, membayangkan bagaimana reaksi Arisa nanti jika dirinya memang di nyatakan hamil.
Andhara pun sama. Ia menatap lekat ke arah monitor, sambil terus berdoa, semoga saja jika memang putrinya itu hamil, putrinya bisa bersikap lebih dewasa daripada dirinya di waktu yang lalu.
" Coba kita lihat, ada apa di dalam perut Arisa ya. " ujar dokter Lulu, sambil meletakkan dan menggerakkan alat USG di atas perut Arisa.
Sedangkan Arisa, ia hanya bersikap biasa saja. Karena ia merasa, tubuhnya baik-baik saja. Ngapain harus takut, coba. Itulah yang di pikirkan Arisa.
Senyum lebar terukir dari kedua sudut bibir dokter Lulu.
" Wah, ternyata benar. Ada calon baby nya di sini. " ujar dokter Lulu.
Deg
Roy terkejut mendengar ucapan dokter Lulu. Calon baby? Berarti benar, Arisa sedang hamil? Tanya Roy dalam hati.
Roy melirik ke arah Arisa yang masih bersikap biasa. Bahkan tidak ada raut wajah terkejut di sana.
" Jadi benar, dok? " tanya Andhara.
Dokter Lulu mengangguk. " Nyonya lihat, ada titik hitam di sini. Calon cucu ini nyonya. " jawabnya.
" Alhamdulillah. " jawab Andhara sambil mengusap wajahnya.
Begitupun Julio, Oma, juga opa Arisa yang juga berada di dalam ruangan itu, sama-sama mengucapkan rasa syukur.
Lalu bagaimana dengan Roy? Ia masih belum bisa menunjukkan sikapnya. Hatinya bahagia mendengar berita ini. Tapi ia masih bingung harus bersikap seperti apa.
Apakah istrinya akan menangis? Sambil marah-marah kepadanya karena ia yang telah lalai dengan janjinya?
Roy masih menunggu bagaimana reaksi Arisa.
" Dokter Lulu, maksudnya ada apa sih? Calon baby? Calon baby nya siapa? " tanya Arisa yang sepertinya masih nge-lag.
" Tentu saja calon baby kamu, Arisa. Kamu tuh nggak ngundang - ngundang saya ke nikahan kamu. Dateng-dateng, udah mau punya baby kamu, Sa. Udah jalan 8 Minggu loh ini. " canda dokter Lulu.
Arisa terdiam mendengar ucapan dokter Lulu.
Tik tok... Tik tok... Tik tok...
Bunyi jarum jam di ruangan itu terdengar nyaring karena saking sunyinya ruangan itu. Tidak ada seorangpun yang berani berkata. Bahkan mereka juga meminimalisir hembusan nafas mereka.
Menunggu bagaimana reaksi Arisa mendengar kebenaran ini.
Bersambung
__ADS_1