Om itu suamiku

Om itu suamiku
Om itu suamiku


__ADS_3

Arisa berjalan menyusuri jalanan menuju ke kelasnya dengan pikiran yang entah.


Semenjak masuk dari gerbang tadi, ia melihat tatapan dari siswa siswi yang bertemu dengannya tidak seperti biasanya. Tatapan bak cibiran bibir netijen yang pedesnya melebihi mi sam_yang level 50.


Ada apakah gerangan??


Ah, Arisa enggan untuk memikirkannya lebih lama. Ia menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk yang hinggap di otaknya. Hingga sebuah suara mengagetkannya.


" SISTAHH!!!! " suara teriakan seseorang yang sangat Arisa kenali.


Arisa menghentikan langkahnya. Lalu memutar badannya ke belakang.


" Pagi-pagi udah tes suara aja loe! Mau manggung sama band underground? " cibir Arisa.


" Hiss... Habisnya loe di panggilin dari tadi nggak denger. Ampe kering nih tenggorokan gue. " balas Kaila. " Lagi mikirin apaan loe? Kek yang punya hutang segudang aja. " lanjutnya sambil melingkarkan tangan kirinya ke leher Arisa untuk menggandengnya.


Mereka lalu berjalan beriringan menuju ke ruang kelas mereka sambil bercanda sesekali.


" Kai, loe ngerasa nggak sih? Kalau mereka kek lagi nyinyir ke gue? " tanya Arisa sambil menunjuk beberapa anak yang mereka lewati dengan dagunya.


Kaila mengedarkan pandangannya ke sekeliling. " Ishh, biarin aja lah. Mereka mah udah biasa keles, nyinyirin orang. Kita yang masih waras mah meningan diem. Nggak usah di bawa ke jantung. Entar bisa bikin kita mati jantungan. " jawab Kaila ngaler ngidul.


Kaila menepuk pundak Arisa pelan. " Udah, nggak usah loe pikirin. Mereka paling lagi iri ama loe. " lanjutnya.


Arisa mengangguk, tapi ia masih tetap kepikiran. Entahlah, semenjak hamil, ia jadi lebih baper. Padahal dulu, ia selalu masa bo do dengan tatapan maupun cibiran orang lain.


.


.


.


" Laper banget ya bum? " tanya Rian. Ia sekarang suka memanggil Arisa dengan panggilan bum, kependekan dari bumil.


Rian melihat, naf su makan Arisa makin hari, makin meningkat.


Arisa mengangguk dengan mulut yang masih sibuk mengunyah mi ayam. Segala makanan yang berbau mi, akan langsung Arisa santap dengan lahap.


" Hati-hati kesedak. " Rian menyodorkan sebotol air mineral ke hadapan Arisa. Ia memang masih seperhatian itu ke Arisa.


Jika di tanya, Rian memang masih belum bisa move on. Tapi ia sudah mengikhlaskan semuanya. Ia sudah berdamai dengan keadaan.


Apalagi saat mengetahui jika penghuni hatinya tengah berbadan dua. Ia menjadi lebih perhatian lagi.


" Gue harus makan yang banyak. Buat bekel tenaga. Kayaknya habis ini gue butuh tenaga ekstra ngadepin mulut nyinyir tetangga. " jawab Arisa setelah makanan dalam mulutnya ia telan.

__ADS_1


Arisa merasa, jika apa yang ia pikirkan semenjak pagi akan berbuntut panjang.


Arisa mengambil botol air mineral yang sudah Rian buka tutupnya, lalu menenggaknya hingga tinggal separo.


" Udah lah Sis!! Nggak usah loe pikirin. Entar juga pada capek sendiri. " sahut Kaila.


" Ada apa? " tanya Santo, yang di jawabi Kaila dengan mengendikkan kedua bahunya.


" Alhamdulillah... Kenyang gue. " ucap Arisa setelah ia bersendawa.


" Ih, kebiasaan. Udah jadi istri CEO juga kalau sendawa kagak kira-kira. " protes Kaila.


Arisa menjawab nya dengan cengiran. " Udah, balik ke kelas yuk. Pengen rebahan gue. " ucapnya.


" Nah kan, kebiasaan lagi. Habis makan maunya langsung rebahan. Awas, perut loe buncit. " sahut Rian.


" Kagak pakai rebahan juga perut gue udah buncit keles!! " sahut Arisa.


Arisa berdiri dari duduknya setelah menghabiskan satu botol air mineral.


" Tunggu dulu bentar, e lah. Bakso gue belum abis. " ujar Kaila.


" Santuy aja. Kalian habisin aja dulu makanan kalian. Gue balik sendiri aja dulu. " Arisa mengibaskan tangannya ke udara.


" Lo yakin, kagak apa-apa? " tanya Santo


" Ya udah, hati-hati loe. Habis ini, kita-kita pada nyusulin eloe. " ujar Rian.


Arisa tersenyum dan mengangguk. Ia senang, sahabat-sahabat begitu perhatian terhadapnya.


Arisa lalu melangkah keluar dari kantin setelah membayar makanan juga minuman yang tadi ia dan teman - temannya pesan.


.


.


.


" Ini dia nih si sugar baby. " Miler tiba-tiba menghadang langkah Arisa yang hendak ke kelasnya.


Arisa mengernyit dengan ucapan Miler. Miler nampak menyunggingkan senyuman miringnya. Ada kekecutan dalam raut wajah Miler.


" Gue pikir loe gadis baik-baik. Gue pikir loe gadis polos. Nggak tahunya, loe sama aja sama gadis-gadis yang lain. " sengak Miler sambil menatap ji jik ke arah Arisa.


" Eh, loe ngomong apaan sih!! Ga je deh! " sahut Arisa masih dengan sikap santainya.

__ADS_1


" Gue tahu sekarang alasan loe mutusin gue. Lo pura-pura jadi cewek polos. Munafik loe! " bentak Miler. " Loe ngatain gue playboy, tukang selingkuh. Tapi nyatanya, loe lebih parah dari gue! " Miler menunjuk Arisa dengan jari telunjuknya tepat di depan muka Arisa.


" Loe mutusin gue, karena lebih milih jadi sugar baby! Iya kan!! " Miler masih dengan nada suara tingginya.


" Mile!!! " bentak Arisa geram


" Loe pikir gue nggak tahu? Iya? Loe tuh hanya cewek mu rahan!! Di bayar berapa loe sama tuh om om? HA?? Gue bisa bayar loe lebih tinggi!! " cibir Miler dengan suara lantangnya hingga menarik perhatian siswa siswi lain.


Tempat itu kini sudah di kerumuni oleh banyak siswa. Mereka saling berbisik.


" Jangan suka fitnah jadi orang!! " suara Arisa tak kalah lantang. Ia sudah geram. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya.


Suara tawa Miler menggelegar bak petir yang menyambar.


" Semua penduduk sekolah ini juga tahu kelakuan loe, dasar ja lang!! " sahut Inez.


" Loe nggak lihat grup? Semua foto-foto Mura han loe tersebar di sana!! " imbuhnya.


" Loe milih jadi sugar baby nya CEO Rakesh entertainment ketimbang jadi cewek gue, iya??" kembali suara lantang Miler menggema.


Meskipun foto laki-laki yang berada satu frame dengan Arisa itu tidak terlihat jelas, tapi karena Miler pernah magang di perusahaan itu, ia sangat mengenali sosok Roy Aditama.


Dan tentu saja, hanya dialah dari sekian ratus anak siswa sekolah Arisa yang mengenali sosok itu.


Arisa menundukkan kepalanya untuk menahan emosinya yang hampir meluap. Ia hanya semakin mengepalkan kedua tangannya.


" Ada apa ini? " suara seorang laki-laki memecah kerumunan. " Minggir! Minggir! Awas!! "


Terlihat Rian, Santo, juga Kaila nongol dari balik kerumunan.


" Sa" panggil mereka dengan raut wajah yang berubah menjadi cemas karena ternyata Arisa lah yang sedang mereka kerumuni.


Kaila memeluk Arisa dari samping.


" Gue nggak pa-pa. " lirih Arisa dengan suara yang bergetar. Kedua matanya memanas. Ingin rasanya ia menangis. Tapi ia tahan sedari tadi. Ia tidak ingin terlihat cengeng di depan semua orang.


" Kita pergi dari sini. " ajak Kaila menenangkan. Dan Arisa hanya mengangguk.


Lalu Kaila memberi isyarat ke kedua sahabat lainnya untuk meninggalkan tempat itu. Arisa tidak boleh berada di tempat itu terlalu lama. Keadaan itu bisa membuat mental Arisa down dan stress. Dan hal itu, sangatlah tidak baik untuk kondisi Arisa yang sedang hamil.


Santo dan Rian mengangguk, lalu mereka sama-sama membawa Arisa pergi. Tapi baru selangkah Arisa melangkah, Miler meraih lengannya dan menahannya. Dengan terpaksa, Arisa berhenti dan menoleh ke arah Miler.


" Kenapa? HA? Apa karena loe pikir dia lebih kaya? Loe pikir gue nggak mampu bayar loe? Gue sanggup bayar loe mahal daripada CEO sia lan itu!! " ucap Miler penuh dengan penekanan.


" Udah berapa kali loe tidur bareng om om macam itu? " tanya Miler kembali sambil mengeratkan gigi-giginya.

__ADS_1


Sontak Arisa menatapnya nyalang. Ingin rasanya Arisa berteriak mengatakan jika ' Om itu suamiku '


Bersambung


__ADS_2