
" Sayang, istirahat di rumah. Wajah kamu pucat. " ujar Roy.
Arisa menampilkan senyuman dari kedua sudut bibirnya. " Arisa baik-baik aja bang. "
" Abang temenin kamu di rumah. Abang ambil cuti. " Roy masih kekeuh membujuk Arisa.
Arisa menggeleng. " Nggak usah. Abang ke kantor aja. Arisa baik-baik kok bang. "
" Tapi wajah kamu pucat. Tubuh kamu juga kurusan. "
" Berarti asupan makanannya di habisin dedek semuanya. Risa nggak di sisain. " kekeh Arisa.
" Sayang.... "
" Abang... Please. Arisa bakalan bosen kalau di rumah terus. " rengek Arisa dengan wajah memelasnya.
Roy menghela nafas panjang. " Oke. Kamu boleh sekolah. Tapi janji sama abang, kalau nanti siang wajah kamu masih pucat gitu, kita periksa ke dokter. " ujarnya tegas tak terbantahkan.
" Hem. " Jawab Arisa sambil tersenyum.
Hah. Rencananya, hari ini, Roy akan menandangi sekolah Arisa. Meminta pertanggung jawaban pihak sekolah, atas apa yang menimpa sang istri.
Karena Arisa enggan tinggal di rumah dan kekeuh berangkat ke sekolah, maka Roy akan mengambil jam pagi saat Arisa masih pelajaran di kelasnya.
" Ya udah, ayo sarapan. Abang antar ke sekolah, nanti pulangnya abang yang jemput. " Roy meraih tangan Arisa dan menggandengnya.
.
.
.
" Permisi, bu. " ujar seorang siswi.
" Ada apa? " tanya guru yang berada di dalam kelas.
" Maaf bu, siswi bernama Polaris Amalthea Prasetya di panggil bapak kepala sekolah. " ucap siswi itu.
" Iya. " jawab guru itu sambil mengangguk. Lalu siswi itu meninggalkan kelas Arisa.
" Arisa. " panggil guru.
Arisa mendongak. " Iya Bu. "
" Kamu di panggil kepala sekolah. Cepat kamu menghadap sana. "
" Oh, iya Bu. " jawab Arisa.
__ADS_1
" Sa, perasaan gue nggak enak. Sumpah. Gue temenin elo. " bisik Kaila. Ia sudah hampir berdiri. Tapi Arisa segera menahannya.
" Gue baik baik aja. Gue udah gede, Kai. Loe tenang aja. " ujar Arisa sambil tersenyum. Ia lalu berdiri dari duduknya dan berpamitan dengan guru yang sedang mengajar di kelasnya.
Setelah mendapatkan ijin, Arisa segera keluar dari dalam kelas. Ia menyusuri lorong kelas yang begitu panjang hingga akhirnya ia sampai di depan kelas Miler juga Inez.
Dan naas, sepertinya kelas itu sedang pergantian jam dan guru di jam itu belum masuk kelas. Sehingga Inez dan kawan-kawannya masih berada di luar kelas.
Biasanya, jika kelasnya masih kosong, Miler juga suka nongkrong di depan kelas. Tapi Arisa perhatikan, anak satu itu tidak terlihat.
" Wuahhh si sugar baby lewat. Awas, kasih jalan woy. " teriak Inez yang di sambut tawa oleh teman-temannya.
" Awas kaki loe. Entar kesandung dia. Bisa keguguran lah. " imbuh teman Inez yang kembali tertawa puas.
Arisa terus saja berjalan tanpa mau menoleh sedikitpun. Ia berusaha menulikan telinganya. Meskipun matanya sudah terasa panas.
Arisa makin mempercepat langkahnya. Hingga tak terdengar lagi riuh tawa siswa siswi kelasnya Inez.
Hah. Arisa menghela nafas lega. Hingga akhirnya langkah kakinya kini sampai di depan pintu ruang kepala sekolah.
Arisa mengangkat tangan kanannya hendak mengetuk pintu itu. Tapi sebelumnya, ia merapalkan doa. Ia yakin, kepala sekolah memanggilnya pagi ini, pasti ada hubungannya dengan gosip yang beredar.
Arisa lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah di dalam sana tidak tersedia udara yang cukup.
" Masuk. " ujar kepala sekolah dari dalam ruangan.
Ceklek
Arisa membuka daun pintu dari luar. Ia melongokkan sedikit kepalanya sebelum ia memasuki ruangan.
Glek
Nyali Arisa tiba-tiba menciut. Ternyata di dalam ruangan, tidak hanya ada kepala sekolah saja. Tapi di sana ada ketua komite, juga para wakil kepala sekolah.
Oh, sepertinya ia akan di sidang hari ini. Jantung Arisa berdetak sangat kencang. Kakinya terasa lemas.
" Polaris Amalthea Prasetya? " tanya kepala sekolah dari dalam ruangan.
Arisa mengangguk menjawab pertanyaan kepala sekolah.
" Masuk kalau begitu. " titah kepala sekolah.
Arisa masuk ke dalam ruangan dengan sangat berat. Memasuki ruangan, ia menoleh ke arah AC.
Masih normal. Tapi kenapa terasa begitu dingin begini? Batin Arisa.
" Berdiri di sana, Polaris. " titah Waka kesiswaan sekolah Arisa.
__ADS_1
Arisa mengangguk, lalu ia berjalan menuju tempat yang Waka kesiswaan tadi tunjuk.
Arisa menunduk dalam ketika semua pandangan orang yang berada di dalam ruangan itu mengarah kepadanya.
" Bisa kamu jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa ada berita yang begitu menggemparkan sekolah seperti itu? " ujar kepala sekolah.
Arisa sedikit mendongakkan kepalanya. Lalu ia menggeleng.
" Itu hanya gosip, pak. Semuanya tidak benar. " jawab Arisa.
" Bicaralah yang jujur, Arisa. " ujar waka kurikulum yang bergenre perempuan. " Bagaimana bisa beredar foto di medsos sekolah jika semuanya salah? Jangan mengatakan jika foto itu hanya editan seseorang. Karena kami telah mengecek keaslian foto itu sebelum kami memanggil kamu. " sang Waka menjeda omongannya. Ia menarik nafas berat.
" Foto itu asli, Arisa. Bukan editan. " imbuhnya.
Arisa makin menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena memang foto yang beredar itu asli adanya. Tapi gosip yang beredar yang salah. Ingin rasanya Arisa mengatakan hal itu. Menjelaskan semuanya. Tapi ia tidak mungkin mengatakan jika dirinya sudah menikah.
Arisa memegang pinggir rok seragamnya erat. Jujur, ia gugup. Ia takut.
" Siapa laki-laki itu? Siapa laki-laki yang kamu peluk begitu erat dan mesra penuh cinta itu. Tidak mungkin jika dia adalah saudaramu. Bukankah kamu adalah anak tertua di keluargamu? Dan kamu tidak mempunyai saudara laki-laki yang berumur seperti laki-laki itu di keluargamu. Kami sudah menyelidikinya. " ujar kepala sekolah tegas dengan pandangan mata yang tajam.
Arisa semakin memilin dan menggenggam roknya erat.
" Polaris, kamu tahu kan, nama sekolah kita apa? Sekolah Menengah Atas Islam Terbuka. Kita sekolah yang lebih condong ke agama. Bahkan kamu bersekolah dengan mengenakan hijabmu. Apa pantas, seorang muslim dengan pendidikan agama yang memadai seperti kamu hidup menjadi seorang sugar baby? " ucap ketua komite panjang lebar.
Arisa memejamkan matanya erat sambil terus menunduk.
" Dengan kelakuan kamu seperti itu, itu artinya kamu sudah mencoreng nama baik sekolah kita. Nama baik yang sudah di bangun semenjak puluhan tahun yang lalu. " imbuhnya sambil mende sahkan nafasnya.
Arisa masih diam. Ia tidak menjawab apapun. Karena ia tahu, menjawab juga akan sama hasilnya. Lebih baik ia diam saja menghemat energi. Karena jujur, tubuhnya terasa lemas sekarang. Bahkan jika para dewan guru itu meneliti wajahnya, maka mereka akan melihat jika wajah Arisa sudah semakin pucat.
" Arisa, sebaiknya kamu ubah kelakuan kamu. Sebentar lagi kamu akan ujian. Apa kamu tidak sayang, sebentar lagi kamu akan lulus, tapi pihak sekolah malah mengeluarkanmu dari sekolah ini? " Ujar waka kurikulum.
Sontak Arisa mendongak mendengar kata di keluarkan dari sekolah. Ia terkejut, dan ia tidak terima. Bagaimana mungkin ia membiarkan pihak sekolah mengeluarkannya. Bagaimana mungkin ia bisa mengecewakan ayah juga ibunya?
" Bu-"
" Sudah berapa bulan? " potong ketua komite. " Sudah berapa bulan usia kandunganmu? " tanyanya kembali.
" Bagaimana bisa seorang siswi sekolah IT seperti sekolah ini, bisa melakukan hal ke ji dan mura han seperti itu hingga menyebabkan kamu hamil di luar nikah? Hah? " lanjutnya semakin tersulut emosi.
Ceklek
" Siapa bilang Arisa hamil di luar nikah? " suara bariton seseorang terdengar tegas dan menakutkan. Semua yang ada di dalam ruangan sontak menoleh ke arah pintu. Termasuk Arisa.
" Ab-bang!! " gumam Arisa.
Bersambung
__ADS_1