
Roy terlihat menahan senyumnya kala melihat sang istri berjalan ke arahnya yang sedang duduk di meja makan.
Arisa berjalan dengan sedikit mengang kang sambil sesekali memegangi bagian bawahnya dan berdesis kecil. Tas ransel sekolah ia panggul di punggung.
" Kamu kenapa? " goda Roy. Pekerjaan baru buat Roy setelah memiliki istri. Yaitu menggoda sang istri. Ia begitu suka melihat bibir tipis milik sang istri yang di manyunkan ke depan sambil komat-kamit tidak jelas.
Arisa melirik sinis ke arah Roy sambil dengan mulut komat-kamit.
" Au... Sssshhh.... " Arisa kembali berdesis kala ia menghenyakkan pan tatnya ke kursi dengan sedikit kasar. Seperti biasa, seorang Arisa mana bisa pelan-pelan dalam melakukan sesuatu.
" Makanya pelan-pelan. Udah tahu itunya sakit. Duduk nggak pakai di kira-kira dulu. " ujar Roy sambil mengambil sebuah kerupuk yang ada di dalam toples.
" Gara-gara abang nih. " Arisa menjadi kesal ketika kembali mengingat kelakuan suaminya.
" Kok abang sih? "
" Iyalah. Semalam udah, durasinya lama. Arisa baru pertama kali kan? Mana badan juga pada sakit semua. Apalagi ini nih yang di bawah. Sakit, perih. Eh, tadi pagi pakai di serang lagi. Lecet yang semalem aja belum sembuh. Udah makin lecet aja ini. Mana bengkak lagi. Ih, pokoknya nggak nyaman lah kalau buat gerak. Apalagi kalau di pakai jalan. Kegesek-gesek. Makin perih lah. " adu Arisa panjang lebar tanpa henti.
" Abang minta maaf. " ucap Roy serius. Iya, dirinya memang kebangetan. Udah tahu sang istri masih kesakitan. Eh, pagi-pagi main tumbur aja.
Salah siapa coba kalau begini? Salahkan hawa naf su yang namanya manusia.
" Niatan abang juga nggak mau ngajakin lagi tadi pagi. Tapi setelah abang tahu kalau rasanya enak, abang jadi nagih. Tubuh kamu bikin abang candu. " ujar Roy.
" Ck! Emangnya tubuh Arisa teh sya bu - sya bu ? Bikin nagih segala. Bisa di tangkap polisi dong bang. " sahut Arisa.
" Ya udah, udah kejadian juga kan. Kamu juga ikutan enaknya. " ucap Roy. " Apa mau nggak sekolah aja hari ini? Istirahat di rumah aja. " usulnya.
" Mana bisa libur dadakan kayak gini. Di kira tahu bulat? Di goreng... Di mobil .... " sahut Arisa.
__ADS_1
" Nanti Arisa tuh ada ulangan matematika. Mana semalam nggak sempat belajar lagi. " gerutunya.
" Ya udah, nggak usah berangkat aja. Kamu mau ulangan, tapi belum belajar. Nanti hasilnya merah lagi. Mendingan ijin aja, besok masuk sekolah minta ulangan susulan. Nanti bisa belajar dulu seharian. " Roy kembali mengusulkan.
" Bu guru kasih nilainya emang pakai bolpen merah kok. Mau dapet nilai 3, 4, 5, maupun 100 juga sama, merah warnanya. " sahut Arisa. Selalu saja bisa menjawab dengan kata-kata yang entahlah.
" Lagian, di rumah juga sendirian. Nggak asyik lah. " lanjutnya.
" Abang juga bakalan ajuin cuti hari ini. Abang temenin kamu di rumah. " jawab Roy.
" Nggak.... Nggak.... Nggak.... " Arisa langsung menggelengkan kepalanya kuat. " Kalau abang nemenin Arisa teh yang ada, Arisa nya nggak jadi istirahat. Entar abang ngajakin main grobak sodor lagi. " lanjutnya.
Hahahaha.... Roy langsung terbahak.
" Terus, maunya kamu gimana? Apa mau ke sekolah, nanti sampai sekolah, abang gendong deh sampai kelas. Wujud tanggung jawab abang karena udah bikin kamu sakit. " tawar Roy kembali.
" Ya udah, buruan makan. Abang anterin ke sekolah. Nanti pulangnya, abang juga yang jemput. Nanti sekalian kalau berangkat udah ada apotik buka, abang beliin obat. Pasti ada kok obat atau salep buat itu kamu biar nggak sakit lagi. Nggak bengkak lagi. " ujar Roy, sambil mendekatkan satu kotak nasi goreng spesial yang tadi di antar langsung dari restoran miliknya ke depan Arisa.
" Tapi abang yang turun ya. Abang yang beli. Bilang kalau buat mahkota berlian milik istri abang yang cantik yang lagi sakit karena habis malam pertama. " titah Arisa.
" Iya. " Roy iyakan saja. Daripada panjang lagi urusannya.
" Bang, semalam sama tadi pagi, abang ngeluarin dimana? " tanya Arisa sambil menyendok nasi goreng.
" Apanya yang di keluarin di mana? "
" Itu... kecebong punya abang. Nggak lupa abang kantongin kan? Soalnya, seingat Arisa, nggak ada abang keluarin di luar. " jawab Arisa dengan vul gar.
" E hem... " Roy berdehem. Iya, dia lupa. Semalam itu dadakan sekali. Ia juga tidak ada rencana mau malam pertama dalam waktu dekat. Jadi mana mungkin dia bersiap dengan membeli sarung sakti kan.
__ADS_1
" Abang....!!! " Arisa menatap tajam ke arah Roy setelah menelan nasi goreng yang ada di dalam mulutnya.
" Jangan bilang, abang nggak pakai kantung ajaib. " lanjutnya.
Roy nampak mengusap-usap kepalanya bagian belakang.
" Abang nggak persiapan. Kan semalam kejadiannya tanpa ada rencana. " jawab Roy mencari pembenaran.
" Ihhh.... Kalau Arisa teh hamil, gimana? "
" Ya.... Nggak gimana-gimana seharusnya. Kan kamu punya suami. Kita udah nikah juga kan? " jawab Roy.
" Iiihhh, abang gimana sih? Arisa tuh masih kecil loh. Masih sekolah. Kan nggak lucu tuh. Sekolah tapi perutnya kayak nyembunyiin tanjidor. Lagian, mana ada sekolah yang mau mempertahankan muridnya yang hamil sebelum lulus. Yang ada, Arisa bakalan di keluarin dari sekolah. " sahut Arisa.
" Kamu tenang aja. Abang pastikan, kamu hamil pun, nggak bakalan di keluarin dari sekolah. "
" Terus, Arisa mesti sekolah dengan perut segentong? " ketus Arisa.
" Yaa... Kalau Allah memang memberikan kita kepercayaan buat punya anak secepatnya, apa kita mau nolak? "
" Ya... Nggak gitu lah bang. Arisa tuh kayak yang nggak pede. Entar kalau Arisa nggak bisa ngerawat anak kita gimana? Arisa kan belum punya pengalaman. "
" Semua istri yang baru menikah, dan mau punya anak pertama, pasti belum punya pengalaman. Nggak usah kamu pikirkan. Ada Abang. Ada ibu, ada mama. Kami pasti akan selalu ada buat kamu. Dampingi kamu. Menjaga dan merawat anak kita bersama. " Roy mengenggam tangan kanan Arisa. Lalu ia mengelus lembut pipi sang istri.
" Lagian, kita juga baru ngelakuin itu sekali. Masak iya bisa langsung jadi anak, kecebongnya. " lanjutnya.
" Abang amnesia apa? Dua kali, baaaanggg.... Dua kali. " sahut Arisa sambil menunjukkan dua jarinya di depan Roy. " Abang nggak inget, yang tadi pagi teh ngapain? "
Bersambung
__ADS_1