
Putra, Soni, Lila, Eka juga Sabil saling berpandangan lalu menganggukkan kepala mereka bersamaan. Sedangkan Andhara, masih memandang ke arah anak bungsunya yang tengah menggandeng si kecil Kiki.
" Ikut kami. " ucap Putra.
Andhara sontak menoleh. " Hem? Ikut? Kemana? " Andhara mengernyit. " Anak-anak nggak ada yang jagain loh. " lanjutnya.
Putra dan yang lainnya berdiri dari duduknya. Lila menarik tangan Andhara. Di ikuti Eka yang menarik tangan Dhara yang sebelah. Sabil mendorong punggungnya, lalu Putra juga Soni mengikuti mereka dari belakang.
" Eh, kalian apaan sih? " tanya Andhara tanpa bisa menolak kemauan sahabat somplaknya. Mereka membawa Andhara ke ruang kerja Julio. Lebih tepatnya, ruang praktek saat Julio di rumah.
Saat sampai di ruang kerja, Lila juga Eka mendudukkan Andhara di sofa single yang ada di ruangan itu. Lalu Eka, Lila, juga Sabil duduk di sofa panjang. Sedangkan Soni dan Putra menarik kursi yang ada di sebelah ruangan yang lain.
" Ada apaan sih ini? Berasa kek terdakwa deh gue. " Andhara memandang sahabatnya satu persatu.
" Kaki loe, ege! Udah pakai gamis juga duduknya masih aja nangkring. " ujar Lila yang melihat Andhara duduk dengan menaikkan sebelah kakinya di atas sofa.
" Ups, sorry. Masih suka kelupaan gue. " kekeh Andhara sembari menurunkan kembali kakinya dan membenarkan gamisnya.
" Gimana anaknya mau bener kalau emaknya kek gini kelakuannya. " gumam Soni.
" Ck! " Andhara berdecak sambil melirik tajam ke arah Soni, sambil dengan mulut komat-kamit mengatakan ' I watch you! '
" Ya udah, buru ! Kalian mau bilang apa ke gue! Nggak mungkin kalian datang barengan kek gini, tanpa ngasih tahu gue dulu, kalau nggak ada hal yang penting. " ucapnya jengah.
Lalu kelima sahabatnya itu menatap serius ke arah Andhara bersamaan. " E lah! Jangan tajam-tajam gitu napa matanya. " decak Andhara karena merasa tidak nyaman dengan tatapan sahabatnya.
" Kita-kita nggak setuju, loe nikahin princess kita di saat usianya masih terlalu muda. " ucap mereka bersamaan.
Andhara di buat cengo. Ia terkejut. Bagaimana mereka bisa tahu tentang hal yang baru ia bahas dengan suaminya kemarin? Ia bahkan belum sempat membahas hal ini atau membuka pembicaraan tentang hal ini dengan kelima sahabatnya.
" Tahu darimana kalian? " tanyanya. Lalu sebentar kemudian ia berucap, " Pasti Abang nih biang keroknya. " geramnya.
Lalu ia berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu.
" Mau kemana loe? Pembicaraan kita belum selesai. " pekik Lila.
__ADS_1
" Mau nyuruh laki gue pulang. Baru setelah itu, kita lanjutkan pembahasan kita. " jawab Andhara.
" Ck. " Putra berdecak. " Duduk, Andhara Nurmalia " ucapnya penuh penekanan.
" Ck. " sambil berdecak, Andhara kembali duduk di tempatnya tadi. Ia tidak jadi menelpon sang suami. Melihat sahabatnya berwajah serius seperti itu, ia pun keder juga.
Busf
Andhara menghenyakkan pan tatnya dengan kasar di sofa.
" Keputusan gue udah bulat. Sebulat kue donat. Jadi kalian nggak usah pada protes. " ucapnya kesal. Ia bersidekap sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa kasar.
" Ra, Arisa itu anak kandung loe. Bukan anak tiri. Loe yang mengandung dia hingga sembilan bulan. Yang brojolin dia sampai loe bertaruh nyawa. " ucap Putra penuh keseriusan.
" Tahu lah. Enak aja gue punya anak tiri. " sahut Andhara. " Gue sunat lagi laki gue sampai ngasih gue anak tiri. " kesalnya.
" Makanya, loe harus mikirin baik-baik keputusan loe. Jangan rusak masa depan anak loe sendiri. " ujar Lila.
" Justru karena gue mikirin masa depan dia, gue mau nyariin laki buat dia. Gue cariin suami buat dia. " kekeh Andhara.
" Iya Ra. Tapi pasti ada solusi selain nikahin dia kan? " ujar Eka.
" Nggak ada. Gue udah mikir sampai rambut gue rontok. Terus beruban. Gue juga udah ngelakuin banyak hal biar dia mengubah sikap dia yang bar-bar terus seenaknya sendiri. Tapi hasilnya nol besar. " jawab Andhara.
" Terus, kalau dia loe nikahin, ada jalan keluarnya gitu? Yakin kalau anak loe bakalan berubah? Bukan malah makin parah? Loe tahu anak muda jaman sekarang kayak gimana. " sahut Soni.
" Gue mau nyariin laki yang dewasa buat dia. Biar bisa bantu ngerem kelakuan dia. Buat bantu bimbing dia biar insyaf. " sahut Andhara.
" Ra, si Arisa tuh tahap kenakalannya masih wajar loh. Dia cuma suka keluyuran, bolos sekolah, nongkrong nggak jelas di mall, kabur dari sekolah. " sebut Soni satu persatu.
" Sebanyak itu, loe bilang wajar? Coba aja loe bayangin kalau si Kiki besok kelakuannya kayak gitu. " tantang Andhara.
" Loe semua, punya anak masih pada kecil-kecil. Tapi anak gue, udah ABG. Kalau gue nggak bisa ngerem dia, bisa masuk pergaulan nggak bener. Itu yang gue takutin. " ujar Andhara lirih.
Ia memang takut dengan berita di TV, di sosmed tentang pergaulan anak jaman sekarang. Ia jadi sering berpikiran bagaimana kalau sampai putrinya satu-satunya terjerumus dengan pergaulan macam itu. Apalagi sekarang, putrinya itu sudah berani berpacaran.
__ADS_1
" Si Arisa bahkan udah punya pacar sekarang. " imbuhnya.
" Apa? Arisa udah punya pacar? Wah, pelanggaran ini. Kenapa dia punya pacar, nggak ngasih tahu kita. " Putra berucap dengan menggebu.
" Wah, kalau begitu, nggak bisa di biarin. Kita cariin dia suami secepatnya. " Ucap Lila.
" Bener banget loe Lil. Gue setuju. " imbuh Eka dan Soni bersamaan.
Nah kan, sepertinya rencana Julio menyuruh mereka bicara sama Andhara salah besar. Kini, mereka malah justru mendukung rencana Andhara.
" Kita harus bekerjasama cari calon suami yang tepat buat princess kita. " ucap Soni.
" Loh, kok malah jadi ikutan rencana Dhara sih? Rencana kita nggak kayak gini loh tadi. " sahut Sabil yang malah bingung dengan situasi saat ini.
" Gue punya anak buah di mako. Anaknya rajin, cakep, hitam manis lah. Macho, so pasti. Umurnya juga udah pas lah buat si Arisa. Bisa banget buat bantuin loe mendisiplinkan Arisa. " ucap Eka memberi pandangan.
" Gue juga punya lah sodara yang masih lajang. Punya showroom mobil juga. " Sahut Sabil tak kalah antusias.
" Gue juga ada. Itu loh beb, tetangga depan rumah kita. " Lila menatap ke arah suaminya. " Yang punya bengkel Aha_ss di pojok perumahan sama di daerah Da_go. "
Putra mengangguk mengiyakan.
" Oke, kalau gitu, kita kumpulin lah biodata, foto juga jangan lupa. Terus loe bawa kesini. Gue juga mau milih lah jodoh buat anak gue. Gue juga mau nyari juga calon buat dia. "
" Oke. Deal. Kita kumpul lagi di sini minggu depan. Masing-masing udah bawa calon ya. " Eka mengusulkan.
" Siap. "
Lalu setelah berbincang banyak hal mengenai rencana mereka, kelima orang itu berpamitan. Mereka meninggalkan rumah Andhara.
Kala mereka sampai di teras rumah, mereka bertemu Julio yang baru pulang dari rumah sakit. Melalui tatapannya, ia bertanya kepada kelima orang itu.
" Tenang pak dokter, kita udah ambil kesepakatan. Kita bakalan audisi satu-satu calon suaminya princess. " ucap Putra sembari menepuk pundak Julio.
What?
__ADS_1
bersambung