Om itu suamiku

Om itu suamiku
Manjanya bumil


__ADS_3

" Udah pulang, bang. " sapa Orion ketika ia melihat Roy masuk ke dalam rumah.


" Masih di sini? " tanya Roy.


Ori mengangguk. Ia mematikan game online yang sedang ia mainkan.


" Kakak kamu mana? "


" Tidur di taman belakang. "


" Kok? " Roy mengernyit.


" Ada yang mau Ori bicarain sama abang. "


" Ada apa? " tanya Roy. Ia duduk di sofa yang ada di depan Orion. " Kakak kamu? " tebak Roy. Entah kenapa, sedari pagi perasaannya selalu cemas.


Orion mengangguk. " Tapi Ori belum tahu ada apa pastinya. Yang Ori yakin, ada yang tidak beres sama Arisa. " jawab Orion. Ia menghela nafas beratnya.


" Sedari pulang dari sekolah, dia jadi diem. Ori tanya, dia bilang nggak ada apa-apa. Tapi nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa dia jadi diem gitu. Pasti ada sesuatu. Ori bakalan cari tahu. Abang tenang aja. "


" Ori minta, abang hibur Arisa aja. Coba sambil Abang tanya pelan-pelan, ada masalah apa. Dia tipe orang yang enggan berbagi masalah bang. Khawatir jadi beban orang lain. " jelas Ori.


Roy mengangguk. " Pasti. "


" Ya udah, Ori mau balik dulu. Udah mau magrib. Ibu pasti nyariin. " pamit Orion. Ia bangkit dari duduknya.


" Oh iya bang. Si Risa dari pulang sekolah tadi belum makan. Nggak mau makan dia. " ujar Ori sebelum meninggalkan rumah Roy.


Roy bangkit dari duduknya sepeninggal Ori. Ia berjalan menuju ke tempat sang istri berada.


Kedua sudut bibirnya tersungging kala melihat sang istri yang sedang terlelap dengan bibir sedikit menganga.


Ia berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan sang istri. Mengulurkan tangannya merapikan surai rambut yang keluar dari balutan hijab berwarna putih sang istri.


Arisa mulai bergerak. Sepertinya tidurnya sedikit terganggu dengan elusan lembut jemari Roy .


" Abang udah pulang? " tanyanya dengan suara lirih dan serak.


" Kenapa tidur di sini? Hem? " tanya Roy sambil mengelus pipi Arisa lembut dengan jemarinya.


" Kalau tidur di kamar, nggak tahu kalau abang pulang. Tau tau abang udah mau berangkat kerja lagi aja. " jawab Arisa. Ia mengubah posisinya menjadi duduk.


" Abang duduk sini. " pintanya sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


Roy tersenyum, lalu melakukan permintaan sang istri tercinta. Setelah Roy duduk, Arisa berdiri, dan berpindah duduk di pangkuan Roy.

__ADS_1


" Wow, ada apa ini? " ucap Roy terkejut dengan sikap sang istri. Arisa memeluk tubuhnya erat. Arisa melingkarkan kedua tangannya ke leher Roy, dan merebahkan kepalanya di pundak Roy dengan kepala menghadap ke Roy.


" Pengen di peluk abang. " ucap Arisa sambil menduselkan kepalanya ke leher samping Roy.


Roy pun mengikuti keinginan sang istri. Ia melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Arisa tak kalah erat.


" Ada apa? Hem? Apa terjadi sesuatu? " tanya Roy setelah ia mengecup pundak Arisa.


Arisa menggeleng. Oke. Sepertinya sang istri masih belum mau cerita. Roy memakluminya.


" Ori bilang, kamu belum makan dari tadi pulang sekolah. Kenapa nggak makan? "


" Nggak laper. "


" Kalau bundanya nggak laper, dedeknya gimana? Masak dedeknya juga ikutan nggak laper? "


Arisa menjawab dengan mengendikkan kedua bahunya. Roy mengelus punggung Arisa sayang.


" Mau abang masakin? Mau abang masakin apa? " tanya Roy.


Arisa kembali menggeleng. " Mau di peluk abang aja. "


" Oke. Tapi kamu tetap harus makan. Mau makan di luar? Abang siapin mobilnya dulu. " Roy melepas pelukannya.


" Nggak mau kemana-mana. Mau di peluk sama abang aja. Abang jangan kemana - mana. " rengek Arisa manja.


" Abang nggak akan kemana-mana. Kalau gitu, kita delivery aja. Kamu mau makan apa? Mau di delivery dari resto kita? " tawar Roy.


Arisa kembali menggeleng. " Pengen sushi. " jawab Arisa.


" Mau beli di mana? Mau ke Jepang langsung? " tawar Roy.


Arisa kembali menggeleng. Jika sedang tidak dalam mood yang buruk, tentunya ia tidak akan sekedar menggeleng.


" Keburu laper kalau ke jepang. " jawabnya singkat. " Mau dari restoran jepang yang ada di deket perumahan aja. " lanjutnya.


" Oke. Bentar, abang ambil hp Abang dulu. " jawab Roy sambil dengan susah payah mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Gimana nggak susah, kalau Arisa sama sekali enggan beranjak.


Setelah berhasil mendapatkan ponselnya, Roy memesan makanan seperti yang di inginkan Arisa.


" Kita masuk, ya. Bentar lagi magrib. Kata orang tua, pamali perempuan hamil magrib magrib ada di luar. " ajak Roy dan kembali Arisa hanya mengangguk tanpa mau melepas pelukannya.


Roy tersenyum, lalu menelusupkan tangan kanannya ke bawah kaki Arisa dan mengangkat Arisa, menggendongnya ala bridal masuk ke dalam rumah.


" Mau ke kamar? Atau ke dapur aja? Atau mau mandi dulu? " tanya Roy.

__ADS_1


Arisa menggeleng. " Males mandi. Mau di peluk abang aja terus. Biar abang nggak ilang. "


.


.


.


" Bang..... Abang..... " panggil Arisa panik.


Ia yang kebangun di tengah malam, tiba-tiba mendapati ranjang sebelahnya kosong. Di manakah sang suami??


Arisa bangun dari rebahannya dengan panik. " ABANG...!!! " panggilnya kembali dengan suara yang lebih kencang.


Ceklek


Baru saja Arisa hendak menurunkan kakinya ke lantai, pintu kamar terbuka dari luar. Sontak Arisa menoleh ke samping.


" Abang... !! "


" Kamu kebangun? " tanya Roy.


Arisa mengangguk. " Badan Risa kerasa dingin. Abang nggak melukin. Abang darimana? Abang kenapa ninggalin Risa ? Kan Risa tadi bilang, boboknya mau di pelukin sama abang. "ocehnya.


" Abang ke bawah bentar ambil minum. Tadi kan nggak sempat bawa minum. Kalau kamu kebangun haus, kan repot. " jelas Roy. Ia menaruh botol minum di atas nakas. Lalu naik ke atas ranjang di samping sang istri.


" Ya udah, tidur lagi. Sini, abang peluk lagi. " Roy mengulurkan tangannya mengajak Arisa tidur dalam pelukannya kembali.


Arisa mengangguk, lalu ia menggeser tubuhnya mendekati Roy, dan masuk ke dalam pelukan ternyaman suaminya.


Roy melingkarkan tangannya ke pundak dan pinggang Arisa. Sedangkan Arisa menelusupkan kepalanya ke dada Roy.


" Abang jangan pergi lagi. Harus melukin Risa sampai besok pagi. " pinta Arisa dengan suara lirih karena ia masih sangat mengantuk.


" Iya, sayang. " Jawab Roy. Cup. Ia mengecup puncak kepala Arisa.


Roy yakin, pasti terjadi sesuatu dengan sang istri. Karena Arisa bukan tipe perempuan manja yang selalu minta di peluk begini.


Bersambung


Hai reader, masih tetep stay di sini, apa udah pada bosen nih?


Harapan othor sih, kalian tetep stay di sini sampai cerita babang Roy sama neng Arisa selesai. The end.


Sebenarnya, othor tuh suka loh nulis di NT. Seneng aja, soalnya reader nya ga usah beli koin buat buka bab. Mungkin kalau di sebelah-sebelah, mesti beli koin atau ngumpulin poin dulu biar bisa baca ampe tamat.

__ADS_1


Othor cuma berharap aja sih, kebijakan NT kembali ke awal... Biar lencana punya othor ada manfaatnya...🙏🙏


__ADS_2