Om itu suamiku

Om itu suamiku
Alhamdulillah


__ADS_3

Tik tok... Tik tok... Tik tok...


Bunyi jarum jam di ruangan itu terdengar nyaring karena saking sunyinya ruangan itu. Tidak ada seorangpun yang berani berkata. Bahkan mereka juga meminimalisir hembusan nafas mereka.


Menunggu bagaimana reaksi Arisa mendengar kebenaran ini.


Tiba-tiba, Arisa menarik tangan Roy dan menggenggamnya erat. Roy sontak menoleh dan menatap sang istri.


Kedua pasang manik mata itu bertemu. tapi Roy tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran sang istri dari raut wajahnya.


Arisa menoleh ke arah dokter Lulu. Tapi ia masih tetap menggenggam tangan Arisa.


" Dok, mau lihat lagi boleh? " tanyanya.


" Oh, pengen lihat lagi? Boleh. " jawab dokter Lulu dengan tersenyum.


Dokter Lulu kembali meminta perawat mengoleskan gel, lalu kembali menggerakkan alat USG di atas perut Arisa.


" Nah, itu ada bulatan hitam, itu kantung janinnya. Di dalamnya, ada janinnya. Yang warnanya agak putih itu. " terang dokter Lulu.


" Itu hasil karya Risa sama abang dok? " tanya Arisa.


Dokter Lulu mengangguk sambil tersenyum.


" Dih, kok bentukannya gitu, dok? Kek kecambah yang suka Risa makan. Enak tuh di kasih bumbu. Jadinya nasi pecel. " bukan Arisa namanya jika menanggapi sesuatu dengan serius.


" Bang, kecebong abang tuh. " tunjuknya ke sang suami. Senyuman terukir di kedua sudut bibirnya.


" Kamu... Kamu suka sama hasil karya kita? " pertanyaan absurb pun keluar dari mulut Roy. Bagaimana bisa, seorang CEO yang terkenal kaku itu mengeluarkan kata-kata yang abstrak seperti itu.


" Suka dong. Kecebong abang hebat. Bisa nangkring di perut Risa. " kekeh Arisa.


" Alhamdulillah.... " ucap seluruh orang yang ada di ruangan itu.


Mereka seperti terbebas dari sebuah jeratan. Bagai bisul yang meletus. Lega rasanya kala mengetahui jika Arisa menerima kehamilannya dengan sangat baik.


" Berapa bulan itu dok? " tanya Arisa.


" Udah jalan bulan kedua. Bulan depan jalan tiga. Emang, kamu nggak ngerasa pusing, mual? " tanya dokter Lulu.


" Nggak dok. " Arisa menggelengkan kepalanya. " Tapi porsi makan Risa yang jadi nambah. Bentar-bentar laper. " lanjutnya. " Risa jadi gendutan nih dok. Jadi nggak sek seh lagi. " ia memanyunkan bibirnya.


Ha... Ha... Ha....


Semua menebarkan tawanya.


" Bagus dong. Kalau nggak pusing, nggak mual. " Dokter Lulu mengusap punggung tangan Arisa. " Kalau saya bilang, perempuan hamil tuh nggak enak kalau udah pusing sama mual loh. " lanjutnya.


" Iya deh. Risa bersyukur kalau gitu. " Jawab Arisa sambil membenahi pakaiannya dengan di bantu oleh Roy.


" Eh, udahan kan ini periksanya? " tanyanya sambil menghentikan aktivitasnya.


" Udah. " jawab dokter Lulu sambil mengangguk. Beliau bangun dari duduknya dan berjalan melangkah menuju kursi kebesarannya.

__ADS_1


" Saya resepkan vitamin aja kalau gitu ya. " lanjutnya.


" Vitamin dok? Emang Risa masih kurang gemuk gitu? Kok masih mau di kasih vitamin? " sahut Arisa.


" Ck! Vitamin buat kandungan kamu. Biar anak kamu sehat. Bukan bikin kamu makin gendut. Yang bikin kamu gendut itu karena kamu sering makan. " ujar Andhara.


" Dih, ibu kok gitu ngomongnya. Seneng ya, kalau Risa gendut gitu? " Arisa menampilkan wajah cemberutnya.


" Au' deh. Susah ngomong sama bumil. Bawaannya pengen nerkam aja. " keluh Andhara.


" Sabar, sayang. Kamu dulu juga kayak gitu loh. " bisik Julio.


" Abang salah. Dulu Dhara lebih parah. " sahut Andhara juga ikutan berbisik.


Julio tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala sang istri yang tertutup hijab.


Setelah mendapatkan beberapa wejangan dari dokter Lulu, juga vitamin, Arisa beserta rombongan meninggalkan ruangan dokter Lulu.


" Abang. " panggil Arisa.


Roy yang berjalan di sebelahnya yang masih menggenggam tangannya, dan tangan kanannya memegang amplop berisi foto USG.


Roy menoleh ketika merasa sang istri menghentikan langkahnya.


" Ada apa? " tanya Roy.


" Abang jongkok. " pinta Arisa.


" Mau ngapain? " tanya Roy bingung. Bahkan rombongan di depannya ikut berhenti.


Roy menghela nafas beratnya. Bumil memang harus selalu menang. Dan maha benar.


Roy berjongkok di dekat Arisa. Dan Arisa, senyumannya langsung merekah melihat Roy berjongkok.


Dengan segera, ia naik ke punggung Roy. Karena tanpa aba-aba, hampir saja Roy terjerembab ke depan. Untung saja, tangannya reflek memegang dinding hingga ia dan sang istri tidak nyungsep ke depan. Bisa malu kan ya, kalau sampai mereka nyungsep di dalam rumah sakit gini.


" Arisa... Jangan aneh-aneh deh kamu. " sang ibu memperingatkan.


" Risa mau minta di gendong sama abang. Apanya yang aneh? Tadi dokter Lulu kan bilangnya, Risa nggak boleh kecapekan. Jalan dari ruangan tadi, sampai ke parkiran itu jauh loh Bu. Arisa entar capek. Kasihan baby nya. " jawab Arisa.


" Dih, baru juga hamil, udah lebay. " sarkas Orion.


" Eh, mulut ya. Coba aja loe yang hamil. Lo rasain tuh gimana kalau lagi hamil. " ketus Arisa.


" Mana mungkin gue hamil, pe'a!! Gue laki, kalau loe lupa. "


" Kagak! Gue kagak lupa. Cuma gue ingetin loe aja, sapa tau loe kena adzab. Jadi deh, loe di sim salabim sama Allah, terus jadi cewek. " sahut Arisa.


" Hati-hati sama mulut loe! Entar anak loe tuh yang jadi cewek jadi-jadian. "


" Amit-amit jabang baby deh, ih! " sahut Arisa sambil mengelus perutnya yang masih rata.


" Ori, anak abang juga loh ini. " sahut Roy.

__ADS_1


" hehehe... Sorry bang. Habisnya, bini Abang kalau ngomong suka asal. " kekeh Orion.


" Jadi di gendong nggak, nih? " tanya Roy sambil menoleh ke belakang. Karena sang istri urung memintanya gendong.


" Jadi dong. " jawab Arisa segera. Ia lalu naik kembali ke punggung Roy.


Roy berdiri dengan seperti tanpa beban.


" Risa berat ya bang? " Arisa menoleh ke kiri. Ia ingin melihat wajah suaminya. Ia juga mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami.


" Nggak. " jawab Roy santai. " Kalau kamu berat, mana mungkin abang muat gendong kamu. " lanjutnya. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.


" Dih, Abang. " Arisa menjawab sambil malu-malu.


" Sayang... " panggil Roy.


" Hem? "


" Kamu bahagia, ada baby di perut kamu? " tanya Roy. " Kamu nggak kecewa atau marah sama abang? "


" Kenapa mesti marah? " tanya Arisa balik.


" Karena abang, udah melanggar perjanjian kita. Abang nabur benih sembarangan. "


" Kok sembarangan? Abang naburnya di perut Arisa loh ini. Istri sahnya Abang. Jadi, nggak ada yang salah. "


" Kamu nggak marah, abang nggak pernah pakai pengaman? Sampai-sampai buat kamu hamil gini? "


" Kenapa marah,bang? Jika seorang perempuan hamil karena sudah melakukan hubungan suami istri sama suaminya, ya udah konsekuensinya jadi hamil. " jawab Arisa.


" Kalau abang udah nabur benih, terus nggak jadi kecebongnya, Risa malah sedih loh bang. Jangan-jangan ada masalah sama kandungan Arisa. " lanjutnya.


" Tapi Alhamdulillah, Arisa hamil. Itu berarti, Arisa sehat. Arisa bisa kasih keturunan sama suami Risa. " lanjutnya lagi.


Hati Roy menghangat. Ia tersenyum sambil menoleh ke arah Arisa.


" Terima kasih. Udah mau nampung kecebong abang yang udah tua ini. " ujarnya.


" Mungkin karena Abang udah tuaan kali ya. Kecebong abang super. Bisa langsung jadi dalam waktu dekat. Kalau kita hitung, belum sampai sebulan kita enak - enakan, berarti Risa udah hamil loh bang. " ujar Arisa.


" Karena kelamaan di simpen kali. Jadi, kecebongnya jadi bener-bener matang. " sahut Roy.


Lalu mereka berdua terkekeh bersama.


" I love you, my little wife. " ucap Roy sambil menoleh ke samping.


" I love you too, my husband. " jawab Arisa.


Cup


Arisa mengecup bibir Roy yang berada di hadapannya. Membuat Roy kembali mengekeh.


Roy benar-benar bahagia hari ini. Ia tidak menyangka, jika kehidupannya akan seindah sekarang. Bersama istri kecilnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2