
" Iihhh onty kebangetan ih! Gak tanggung jawab. Ibarat mekanik, ini namanya terima pasang kagak terima bongkar. " gerutu Arisa yang sedang kesusahan melepas siger yang ada di atas kepalanya. Berikut segala perintilannya.
" Mana pakai melati segala. Kenapa nggak kembang kantil sekalian? Biar kek mbak Kunti. Kan asyik tuh keluar malam-malam gini. Mumpung malam Jumat. " lanjutnya masih mengomel bak kereta super cepat yang baru launching Jakarta-Bandung.
" Malam Jumat, yang pasti paling baik buat bikin anak. " sahut Roy yang tiba-tiba muncul di kamarnya.
" Astaghfirullah hal'adzim!!!! " pekik Arisa terkejut. Lalu memutar tubuhnya masih dengan tangan berada di atas kepala, memicing menatap Roy.
" Ngapain om masuk kamar Arisa? " tanyanya.
" Memangnya kenapa kalau aku masuk kamar kamu? Sah-sah aja kan? Kamu istri aku, aku suami kamu kalau kamu lupa. Udah seharusnya aku masuk kesini. Apalagi hari sudah malam. Apa aku harus masuk ke kamar orang tua kamu? " sahut Roy.
" Ya kan om bisa tuh ke kamar Ori. Kalian sama-sama laki. " Arisa masih tidak terima.
" Hei? Kamu mau membuat aku di ketawain keluarga kamu? Mana ada suami yang tidur sama adik iparnya di malam pertama. Aku capek, mau tidur. Tapi kalau kamu mau ngajakin sunah Rasul di malam Jum'at juga ayok. " goda Roy.
" AWAS kalau berani macem-macem. " sentak Arisa sambil memindahkan kedua tangannya dari atas kepala ke depan dadanya. Untuk melindungi kedua asetnya.
" Apa yang kamu tutupi? Hem? Rata gitu. Paling cuma segede jeruk santang. " goda Roy. Kini ia berjalan mendekati sang istri.
" Enak aja! Kalau ngeledek tuh kira-kira dong om. Bilang segede gundu, gitu misalnya. Apa segede telur cicak. " protes Arisa yang membuat Roy menyunggingkan senyumnya.
" Orang punya Risa udah gede kok. Bentuknya proporsional. Enak buat di pegang. " sontak Arisa menutup mulutnya dengan tangan kanannya lalu memukulnya berulangkali. Memang dasar lidah tak bertulang. Suka ember kadang-kadang. rutuk Arisa dalam hati.
" Oh ya? Coba sini aku pegang. Bener nggak, enak buat di pegang. " Roy makin bersemangat untuk menggoda.
Roy berjalan makin mendekat ke Arisa. Dan Arisa kembali menutupi kedua asetnya dengan pandangan penuh kewaspadaan.
Hingga tubuh Roy makin mendekat dan terus mendekat. Akhirnya Arisa menutup kedua matanya rapat ketika Roy sudah berada di depan wajahnya. Ia bahkan mencengkeram dengan erat kebayanya bagian depan. Ia juga bisa merasakan terpaan hembusan nafas Roy di wajahnya.
Tapi tak lama, terpaan nafas itu menghilang. Arisa sontak membuka matanya. Roy masih berdiri tepat di depannya, tapi laki-laki itu berdiri tegak. Lalu Arisa merasa siger di kepalanya terlepas.
" Eits, om mau ngapain lagi? " tanyanya masih penuh kewaspadaan.
" Capek aku dengerin kamu ngomel terus dari tadi. Pakai bawa-bawa kunti segala. Aku nggak mau lah punya istri mbak Kunti. " jawab Roy santai sambil membantu Arisa melepas segala perintilan di atas kepalanya.
Arisa terdiam karena memang dirinya butuh bantuan. Dan ia bersyukur, Roy mau membantunya.
" Bajunya mau sekalian di lepasin? " canda Roy setelah ia selesai melepas apa yang ada di kepala Arisa. Selain hijab tentu saja. Meskipun Roy sah-sah saja melepas penutup kepala Arisa itu, tapi ia tidak akan melakukannya jika bukan Arisa sendiri yang memintanya.
__ADS_1
Plak
Arisa memukul tangan Roy yang sudah mengudara hendak meraih kancing kebayanya.
" Hish, sukanya cari kesempatan dalam kesempitan. " omelnya.
" Hahahaha...." Roy tergelak. Ia sedikit menjauhkan diri dari Arisa. Kesempatan itu di gunakan Arisa untuk berdiri dari duduknya. Ia berjalan menuju almarinya untuk mengambil baju ganti. Karena ia sudah merasa gerah memakai baju yang ia rasa sangat tidak nyaman itu.
Tapi saat ia membalikkan badannya, ia melihat Roy yang sudah membuka jasnya. Dan kini, tangan laki-laki itu membuka kancing kemejanya satu persatu.
" Om mau ngapain coba ? " tanya Arisa.
" Mau buka baju. Emang kamu nggak lihat? " jawab Roy santai.
" Jangan bilang om mau berbuat aksi por no di sini. " timpal Arisa. Ia masih menghadap ke arah Roy.
" Buka baju aja di bilang por no. " ujar Roy masih santai dan tetap membuka kemejanya. Kini, tubuh Roy sudah polos bagian atasnya hingga memperlihatkan otot-otot perutnya yang kekar, juga dada bidangnya yang sedikit berbulu.
Membuat Arisa agak meremang. Kini, yang ada di otaknya adalah ucapan Kaila. Tiba-tiba otaknya menjadi mesum. Setelah melihat tubuh Roy bagian atas, kini pikirannya melayang membayangkan yang ada di bagian bawah. Hingga tanpa ia sadari matanya menatap celana Roy.
" Mau lihat yang bawah juga? " tanya Roy menggoda Arisa yang tengah mengamati tubuhnya dengan tatapan hendak menerkamnya.
" Ngapain malu? Meski aku telanjang bulat pun boleh-boleh aja. Lagian, kamu? Sok-sokan polos. Bilangnya por no. Tapi mata kamu aja ngeliatin tubuh aku nggak ngedip. Yang ada, biasanya perempuan tuh malu-malu, terus matanya di tutup gitu. Ato balik badan. Kamu, malah makin lebar aja matanya. " kekeh Roy.
" Haisshhh, ngapain pakai di tutup matanya? Orang di kasih pemandangan indah kok nggak di nikmati. Mubadzir jatohnya. Lagian kan katanya udah halal. " gumam Arisa santai.
" Oh, jadi kamu mau lihat? Aku juga nggak masalah kalau kamu mau lihat. " Roy melangkah mendekat ke arah Arisa sambil melepas gespernya. Ia masih mendengar gumaman sang istri.
Cleguk
Arisa menelan salivanya kasar. Ia semakin memundurkan tubuhnya hingga menabrak almari.
Roy melempar sembarang gesper yang sudah terlepas. Kini ia meraih pengait celananya. Baru saja hendak di buka, tapi teriakan Arisa sudah menggema.
" KABOOORRRR!!!!!! " Arisa berlari dengan tangan kirinya mendekap baju ganti, sedangkan tangan kanannya mengangkat kain sampingnya.
Blug
Arisa menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras. Sedangkan Roy, ia tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan istri kecilnya. Asyik juga menggoda bocah kecil itu. pikir Roy.
__ADS_1
Dia yang selama ini tidak pernah melakukan hal semacam julid, atau mengerjai seseorang, entah kenapa setelah mengenal Arisa, ia jadi suka sekali mengerjai gadis itu. Seperti obat penghilang penat dan rasa lelahnya.
Roy berjalan mendekati kopernya yang tergeletak di sebelah almari baju Arisa. Ia mengangkat koper itu dan di taruhnya di atas ranjang yang bertabur bunga.
Membukanya, lalu mengambil sebuah boxer, celana pendek selutut, serta kaos tanpa lengannya. Lalu menutup kembali kopernya dan menaruhnya di tempat semula.
Roy berjalan mengitari ranjang, memungut beberapa kelopak bunga mawar yang bertaburan di sana, lalu melemparkannya kembali ke atas ranjang.
Pikirannya menerawang. Buat apa di kasih bunga seperti ini. Toh, mereka juga tidak akan melakukan apapun kan? Mungkin hanya tidur menghabiskan malam ini.
Sekelebat pemikiran tentang pernikahannya pun sempat mampir. Bagaiman pernikahannya itu ke depannya? Apakah ia benar-benar bisa membawa Arisa ke dalam hatinya dan hanya mengisi hatinya dengan nama Arisa?
Apakah dirinya juga mampu menumbuhkan rasa cinta di hati Arisa untuknya? Apakah gadis itu benar-benar akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak?
Memikirkan tentang pertanyaan terakhirnya itu, Roy mendesah. Kapan dirinya bisa menjadi seorang ayah? Jika kelakuan istrinya saja seperti itu. Baru hendak di kecup keningnya saja, Arisa sudah main kabur-kaburan.
Ceklek
Suara pintu yang terbuka dari dalam membuat Roy mendongak. Arisa sudah selesai mandi sepertinya. Gadis itu sudah berganti menggunakan piyama dengan motif hello Kitty berwarna pink berlengan panjang, juga jilbab instannya.
" Kenapa memakai piyama seperti anak kecil begitu? Apa kamu tidak punya baju tidur semacam lingerie, begitu? " tanya Roy sengaja menggoda Arisa kembali
Pertanyaan yang membuat Arisa melotot. Lalu ia memukul Roy menggunakan handuk yang tadi habis dia pakai.
Hap
Handuk itu di tangkap oleh Roy yang sedang tertawa melihat kekesalan Arisa.
" Eh, mau di bawa handuknya? " tanya Arisa kala Roy membawa handuknya yang berwarna peach.
" Mandi lah. Masak handuk buat apron masak. " jawab Roy santai sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
" Ih, tapi itu handuk aku. "
" Emang kenapa kalau handuk kamu? Aku lupa nggak bawa handuk. "
" Biar aku ambilin handuk yang baru. Itu bekas aku loh om. "
" Kenapa kalau bekas kamu? Ludah kamu aja aku mau kok. " kekeh Roy lalu segera masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya sebelum terkena amukan Arisa kembali.
__ADS_1
bersambung