Om itu suamiku

Om itu suamiku
Pamitan


__ADS_3

" Ayah, ibu, Abang mau bicara. " ujar Arisa mengawali pembicaraan serius di antara mereka.


Mereka telah usai menyantap makan malam mereka. Mereka sedang duduk santai di ruang keluarga.


" Mau bicara apa? " tanya Julio yang duduk berdampingan dengan sang istri tentunya.


Arisa dan Roy saling berpandangan sejenak.


" Ayah, ibu, Roy mau minta ijin sama ayah juga ibu. "


" Minta ijin apaan? Mau nikahin anak ibu? Udah kan? " serobot Andhara.


" Ibu ih. Udah kayak bajaj aja main serobot. Biar abang selesai dulu ngomongnya. " protes Arisa.


" Oh, belum selesai ya? Sok atuh. Di lanjut. " ujar Andhara santai seolah tak bersalah apa-apa. Ia kembali mengambil keripik singkong dari dalam toples. Keripik kesukaannya.


" Roy besok mau bawa Arisa pulang ke rumah papa. " ucap Roy tegas.


Julio menghela nafas berat seberat memikul beras satu sak. Bagaimana dia tidak berat? Gadis itu, putrinya, yang selama ini siang maupun malam selalu bersamanya, selalu di lihatnya, harus pergi di bawa sang suami.


Inilah yang dulu membuat Julio tidak ingin menikahkan putrinya secepat ini. Karena jika sang putri sudah bersuami, maka ikhlas tidak ikhlas, ia harus tetap mengikhlaskan putrinya keluar dari rumah.

__ADS_1


Sedangkan Andhara, ia sudah meneteskan air matanya. Ia yang dulu masa remajanya begitu tangguh dan anti untuk menangis, sekarang Andhara jadi mudah menangis.


" Hiks. Masa harus sekarang sih? " ujar Andhara sambil meneteskan air matanya.


" Besok, Bu. Bukan sekarang. Jadi nangisnya, besok aja. " sahut Arisa. Bukannya ia kurang ajar. Tapi ia berkata seperti ini, hanya ingin mengajak sang ibu bercanda. Ia tidak ingin menangis, juga tidak ingin melihat ibunya menangis. Cukup ketika melahirkannya saja sang ibu menangis.


" Kamu , ih! " protes Andhara sambil memukul lengan Arisa.


" Ibu pasti lagi mikir, kalau aku udah nggak di rumah, nggak ada yang suka ibu bawain sapu. Nggak ada yang ngajakin ibu berantem, nggak ada yang ngajakin ibu adu pendapat, sharing-sharing, nggak ada yang ngajakin ibu pecicilan lagi. Hehehe... " Arisa masih bercanda meskipun kini matanya sudah memerah.


Tak kuasa menahannya, Arisa turun dari sofa, lalu jongkok di hadapan sang ibu. Ia memeluk Andhara erat. Meskipun mereka sering terlihat tidak akur, tapi mereka tetaplah ibu dan anak.


" Katanya nggak mau nangis. Kenapa malah jadi ingusnya di keluarin semua? " ujar Andhara yang membuat suasana haru menjadi ambyar. " Gamis ibu basah sama ingus kamu ini. "


" Dasar kamu ya. " ucapnya. " Ibu juga punya. " ia pun tak mau kalah. Ia juga mengusap usapkan hidungnya di bahu Arisa. Membuat mereka berdua terkekeh bersama-sama.


" Sini, duduk sama ayah sama ibu. " ajak Andhara, menarik Arisa dan mendudukkannya di antara dirinya dan Julio. Arisa lalu memeluk erat lengan sang ayah, sambil menyandarkan kepalanya di bahu sandarable sang ayah.


Julio mengusap puncak kepala Arisa dan mengecupnya lembut.


" Jadilah istri dan menantu yang baik di rumah mertua kamu, nak. Jangan membuat malu, jangan membuat susah mereka. Hormati mereka, dan sayangilah mereka seperti kamu menyayangi kami. " ucap Julio memberikan petuahnya.

__ADS_1


" Dan ingat, jadilah istri yang baik untuk suamimu " imbuh Andhara. " Layani dia dengan baik. Maka ibu yakin, dia juga akan membalasnya dengan kasih sayang yang tiada tara. "


Arisa mengangguk. Tetesan air kembali mengalir dari kedua sudut matanya.


" Roy, ayah titip putri ayah satu-satunya sama kamu. Jagalah dia seperti kami sudah menjaganya selama 18 tahun ini. Sekarang, dia adalah tanggung jawabmu sepenuhnya. Bimbinglah dia. Tegur dia jika dia berbuat salah. Tapi ayah ingatkan, jangan pernah mengangkat tanganmu terhadapnya. Senakal-nakalnya Arisa, kami tidak pernah sampai main tangan. " Julio menghela nafas panjang. Ia lalu mengelus punggung tangan Arisa


" Jika suatu saat kamu merasa bosan terhadap dia, jangan kau sakiti dia. Jangan kau sakiti perasaannya. Kembalikan dia sama ayah, sama ibu. Kami akan menerimanya dengan kedua tangan kami yang terbuka. " lanjutnya.


" Ayah, Roy janji, akan selalu menjaga Arisa seperti Roy menjaga keluarga Roy yang lain. Roy akan selalu menyayanginya. Jadi, ayah jangan khawatir, Roy tidak akan mengembalikan dia ke ayah atau ibu. " sahut Roy.


" Ih, pada lebay ih. " ujar Arisa. Sroottt... Arisa menarik ingusnya. Lalu mengusap hidungnya. Ia menegakkan kepalanya.


" Kayak yang Risa mau ke planet lain aja . Risa masih di bumi bumi aja loh ini. Bahkan masih di kota yang sama. Bahkan, tiap hari, Risa bisa kesini terus. Jadi, udah ah sedih-sedihannya. Kayak yang Arisa mau innalilahi aja. Pakai di tangisin. "


" MULUT!!!! " geram Andhara sambil meremas bibir sang putri.


Bukannya kesal, Arisa justru terkekeh. Laki ia mengecup pipi ibu juga ayahnya bergantian.


Sesayang dan sedekat itu hubungan mereka. Aku tidak boleh sampai menyakiti hati Arisa. Batin Roy sambil memandang kedua mertua, juga istrinya.


Bersambung

__ADS_1


Sorry yah, untuk part ini, pendek kali. Jari othor capek nih... Otak othor juga capek... Kalau di lanjutin, takutnya malah merembet kemana-mana, jauh dari cerita jadinya... Maaf YachπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2