
" Holaaaaa.... Onty onty yang syantikkk... sama onta onta gantengnya incess Arisa ... " sapa Arisa ketika ia baru memasuki rumahnya dan melihat sahabat gesrek sang ibu berkumpul di rumahnya.
" Hola juga incess cantiknya onta ontyyy.... " sapa Lila tak kalah nyaring.
Arisa langsung bergelayut manja di lengan Putra. Dan dengan tanpa beban, Putra mengecup puncak kepala Arisa yang masih tertutup jilbab.
" Onty Iila, jangan cemburu yah? " Arisa mengerlingkan sebelah matanya ke Lila dengan tangan yang melingkar di perut Putra. Dan Putra pun melingkarkan tangannya ke bahu Arisa.
Di antara para sahabat sang ibu, Arisa memang paling dekat dengan Putra. Karena Putra selalu memanjakannya. Apalagi dirinya memiliki anak yang dua-duanya laki-laki semua.
" No. Onty nggak bakalan cemburu. Nih ya, kalau emak kamu bolehin, onty pengen bawa kamu pulang. Onty di rumah nggak punya temen. Semuanya cowok.. Sibuk sama urusannya masing-masing. " cemberut Lila.
" Tidak baby. Aku selalu ada buat kamu. " sahut Putra.
" Iya, kalau malem. Itu pun kalau nggak palang merah. Coba aja akunya lagi palang merah. Kamu juga sibuk lembur. " sengit Lila.
" Onty ikut palang merah apa? Kalau Arisa kan palang merah remaja. Soalnya masih ABG. Kalau onty? Masak iya ada palang merah paruh baya. Atau palang merah emak-emak ? " sahut Arisa.
" Eh, ngomong - ngomong si Chiki mana onty Sabil? Kok nggak ikutan? " tanya Arisa sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Biasanya jika onta Soni dan onty Sabil ada di rumahnya, pasti si Chikita juga ada.
" Biasa. Si Kiki di monopoli sama Kevin. " sahut Soni.
" Wah, roman-romannya, ibu bakalan besanan sama onta Soni nih. " canda Arisa.
" Ck! Ibu nggak yakin deh. Mereka berdua sama - sama ceroboh. Entar anak bontot ibu di tinggalin lagi di jalan kalau lagi di ajak hiling. " sahut Andhara.
" Belum libur sekolah Sa? " tanya Putra.
" Belum onta. Lusa baru mau pengambilan raport. " jawab Arisa.
" Kebakaran nggak Sa kira - kira raportnya? " tanya Soni.
" Ih, nggak lah onta. Otak Arisa kan jenius. " jawab Arisa.
__ADS_1
" Emangnya loe? Tiap terima raport, pasti merah semua nilainya. " ledek Eka.
" Hampir semua mapel remidian semua. " imbuh Lila.
" Kayak yang loe nggak aja!. " balas Soni.
" Eh, sesama penghuni ujung klasemen, kagak usah saling ribut. " timpal Andhara sambil terkekeh.
" Ih, ternyata onta sama onty suka sekarat yah nilainya. " ujar Arisa sambil manggut-manggut.
" Jangan di tiru. Ajaran sesat itu namanya. " jawab Putra.
Arisa geleng-geleng mendengar semua ucapan sahabat sang ibu yang sebenarnya tidak jauh beda dengan dirinya. Ia menegakkan tubuhnya dan melongok ke atas meja. Dari posisinya tadi, ia melihat beberapa lembar foto berserakan di atas meja.
" Foto apaan nih? " gumamnya sambil meraih salah satu foto. " Loh, banyak banget foto cowok. " lanjutnya saat ia melihat semua foto yang ada di atas meja adalah foto laki-laki.
" Pada mau bikin acara take me out? " tanyanya sambil menarik sebuah foto.
" Iya. Buat kamu. " sahut sang ibu.
" Keknya nggak ada yang sesuai tipe Risa deh. " cibir Arisa.
Ia kembali mengamati foto-foto itu. " Yang ini, ketuaan. Yang ini, kulitnya terlalu hitam. Yang ini, terlalu culun. Terus yang ini, terlalu garang. "
" Hah! Arisa nggak suka. " lanjutnya. Membuat semua orang melongo.
" Emangnya tipe kamu seperti apa? " tanya Putra.
" Yang kayak ayah. Ganteng, gagah, sayang sama keluarga. " jawab Arisa pasti.
" Nggak pengen yang kayak onta gitu? " tanya Putra kembali.
" Mmmm.... " Arisa terlihat mengamati Putra. Lalu ia menggeleng. " Kayaknya nggak deh. Onta kalah cakep sama ayah. "
__ADS_1
" Dasar kamu. " Putra langsung mengamit leher Arisa .
" Ampun ontaaa!!!! " pekik Arisa sambil tertawa renyah. " Ha... ha ... ha ... "
" Makanya, jangan suka ngeledek. " ucap Putra sambil melepas kaitan tangannya di leher Arisa.
" Buat Arisa, ayah tetap ter the best. Tetap yang paling cakep. " ucap Arisa mantap. Coba saja sang ayah mendengarnya saat ini, tentu saja ia akan tertawa kegirangan.
" Mmm... Sayang, kalau misalnya ibu, onty, onta, ayah, minta kamu nikah muda gimana? " tanya Andhara. Ia pikir ini waktu yang tepat untuk membicarakan tentang pernikahan dengan sang putri.
" Nikah muda? " tanya Arisa, dan Andhara juga yang lain menganggukkan kepalanya. " Nikah sekarang, gitu maksudnya? Pas masih sekolah? Kayak ibu sama ayah? " tanyanya lagi memastikan.
Andhara and the Genk kembali mengangguk sambil menatap Arisa lekat. Menunggu jawaban dari sang princess.
" Mmmm..... Kayaknya asyik tuh. Ide yang bagus. Arisa mau lah. Arisa pengen punya suami yang kayak ayah. Terus berumah tangga, seperti rumah tangga yang di jalani ayah sama ibu. Hidup bahagia. " ujar Arisa sambil berangan-angan.
" Wah, hari-hari Arisa pasti bakalan indah. Kayak hari-harinya ibu. Iya kan bu? Ibu bahagia kan berumah tangga sama ayah? " ujar Arisa panjang lebar.
" Bahagia dong sayang. " jawab Andhara sambil mendekati sang putri yang duduk di samping Putra. Lalu memeluk Arisa penuh kasih.
" Sayang, kalau punya suami kayak suaminya onty mau nggak? Punya suami marinir, gajinya gede loh. " ujar Eka.
" Ah, nggak deh onty. Kalau nikah sama kayak suami onty, jadi kayak bang Toyib. Jarang pulang. Jadi jarang di belai. Nikah kayak gitu kan nggak enak onty. Sama aja kalau nggak punya suami. Kemana-mana masiihh aja sendiri. " jawab Arisa. Dan tergelaklah tawa yang lainnya. Sedangkan Eka hanya bisa berdecak. Karena memang seperti itulah dirinya.
" Jadi, dari foto-foto itu, nggak ada yang srek gitu? " tanya Andhara.
" Nggak ah bu. Jelek semua. Masih cakepan ayah. Masih cakepan bos Arisa waktu magang malahan. " jawab Arisa.
" Emang, sekeren apa sih CEO Rakesh entertainment? Orang-orang banyak yang bilang kalau CEO nya masih muda. Ganteng banget lagi. " tanya Lila.
" Cakep onty. Kalau sama yang di foto - foto itu mah lewat. Sebelas dua belas lah sama ayah. " jawab Arisa. Semua yang ada hanya manggut-manggut. Kira-kira dimana bisa menemukan tipe calon suami seperti yang Arisa mau.
Selama ini, mereka sudah banyak bertemu laki-laki. Tapi tidak ada yang sesuai kriteria Arisa. Yang ada, mereka malah di buat kesal dan tertawa.
__ADS_1
bersambung