
" Sa, " Roy menatap lekat kedua netra cantik milik Arisa sang istri.
" Abang mungkin bukan orang yang romantis. Karena jujur, abang tidak tahu bagaimana yang namanya romantis itu. Tapi abang tetap berusaha yang terbaik untuk kamu. " lanjutnya. Ia menjeda omongannya sesaat.
" Mungkin buat kamu, apa yang abang lakukan hari ini, bukanlah hal yang romantis. Tapi inilah abang. Sosok laki-laki dingin, keras, yang tidak romantis. " Roy melanjutkan ucapannya.
" Tapi satu yang abang tahu dan yakin. " Roy makin menatap dalam manik mata Arisa.
" Abang mencintai kamu. Sangat mencintai kamu. " ucapnya mantap dan tegas.
Arisa merasa nafasnya tercekat di tenggorokan saat ini. Ada rasa kaget, rasa tak percaya, tapi ia juga merasa ada kupu-kupu kecil yang menggelitik di hatinya.
Ia tak bisa menahan bibirnya untuk tak berkedut. Jujur, ia sangat bahagia. Dua kali suaminya mengungkapkan perasaannya. Jika yang pertama ia masih meragukannya, tapi entah, kali ini ia tidak bisa untuk tidak percaya.
Melihat Arisa yang masih terdiam, Roy mengambil sesuatu dari saku celananya.
Arisa makin di buat terkejut dengan apa yang tersaji di depannya. Roy mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru dongker. Lalu ia membukanya. Dari sana, terlihat kilauan berlian.
Sebuah cincin bertahtakan berlian. Jika Arisa menafsirkan harga. Sungguh tidak main-main. Cincin itu pasti sangat mahal. Sepertinya Arisa yakin sekarang dengan ungkapan suaminya.
Tidak mungkin jika suaminya itu hanya mengatakan hoax, tapi rela membelikannya sebuah cincin semahal itu.
Eh, tapi tunggu. Kenapa ia jadi kepedean begini. Iya kalau cincin itu akan di berikan kepadanya. Bagaimana jika ternyata tidak? Arisa tersenyum kecut dalam hati.
" Ketika melamarmu waktu itu, abang tidak melakukannya dengan baik. Jadi saat ini... " Roy menarik nafasnya dalam-dalam sambil menatap cincin yang ada di tangannya.
" Abang akan melamarmu dengan seharusnya. " Ia mendongak, kembali menatap manik mata Arisa.
" Polaris Amalthea Prasetya binti Julio Enggar Prasetya, maukah kamu menerima cintaku? Menjadi pendamping hidupku selamanya? Mengarungi rumah tangga? Susah maupun senang bersama? Hanya denganku, dan juga anak-anak kita kelak? " ucap Roy masih dengan menatap lekat mata Arisa.
Arisa? Jangan di tanya. Kupu-kupu di hatinya makin banyak beterbangan. Tidak bisa ia untuk termakan gombalan Roy yang ternyata tidak receh seperti laki-laki di luaran sana. Gombalan Roy seperti berwarna merah dan biru.
Arisa masih terpaku. Ia bahkan masih terdiam kala Roy menyematkan cincin berlian tadi di jari manisnya sebelah kiri. Karena di jari manis Arisa sudah ada cincin kawin mereka.
Arisa menatap tak percaya dengan cincin yang kini melingkar cantik di jari manisnya. Ia tidak pernah membayangkan akan mempunyai cincin secantik dan semahal ini.
" Abang.... " suara Arisa seperti masih tercekat di tenggorokan.
" Ini.... " seperti bukan Arisa saja. Kenapa ia bisa merasa se-wow ini? Kenapa ia jadi ingin menangis saat ini? Malam ini, sepertinya rencana Roy berhasil. Roy berhasil membuat sosok Arisa yang bar-bar menjadi melankolis.
" Arisa udah punya cincin yang ini. " ia mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan cincin kawin yang ada di jari manis tangan kanannya.
" Jadi yang ini, boleh nggak nanti Arisa jual? " Ia kini mengangkat tangan kirinya.
Doeng.... Doeng ... Doeng ....
Dasar si Arisa. Di suasana romantis seperti ini, tetap saja mulut asalnya berbicara semaunya. Ia sudah menghancurkan suasana yang mendukung.
__ADS_1
Roy menghela nafasnya. " Kalau mau di jual, jual aja. Toh itu juga sudah jadi milik kamu. " jawab Roy.
Arisa menaikkan sebelah alisnya. " Jadi boleh nih? " godanya.
" Hem. " sahut Roy dengan nada yang terdengar kesal.
Arisa tertawa. " Abang ih. Masak iya Arisa tega jual pemberian abang. Kalau butuh duit mah, tinggal minta aja sama abang. Iya nggak? "
Roy kembali mendongak menatap Arisa serius.
" Tapi kalau Arisa mau nambah lagi cincinnya yang kek gini, boleh nggak? Biar jari Arisa penuh sama cincin berlian. Jadi kek pelawak Te_si. " gelaknya.
" Maruk itu namanya. " sahut Roy masih dengan nada kesal.
" Dih, masak habis romantis - romantis, jadi marah - marah?? Merusak momen banget. " ujar Arisa tanpa perasaan. Bukankah dirinya yang sudah merusak momen?
" Ck! Kamu itu yang sukanya merusak momen. " gerutu Roy.
" Iyakah? " Kekehnya.
" Abang tuh udah susah - susah menciptakan momen yang romantis khusus malam ini. Tapi kamu merusaknya begitu saja. " kembali Roy mengungkapkan kekesalannya.
Arisa tersenyum cengengesan memperlihatkan deretan giginya.
" Abang udah ih. Berdiri lah. Arisa bukan ratu. Abang juga bukan jo_ngos. " ia menarik tangannya.
" Kamu memang seorang ratu di hati abang. " ucapnya.
" Gombal. Aneh tahu bang. Tiba-tiba abang bersikap kek gini. Garing. Kek kerupuk melinjo. " kekeh Arisa.
" Siapa yang bilang abang lagi gombalin kamu. Abang lagi serius. Dan abang nggak akan berdiri, sebelum mendapatkan jawaban dari kamu atas pertanyaan Abang tadi. " ujar Roy serius.
" Abang ih. Pertanyaan abang kebanyakan. Arisa sampai bingung jawabnya. " ucap Arisa beralasan.
Ia sebenarnya hafal di luar kepala semua pertanyaan Roy tadi. Tapi untuk menjawab, lidahnya terasa kaku. Padahal ia sudah mempunya jawaban atas semua pertanyaan tadi.
" Jangan bohong, dan jangan beralasan. Tidak mungkin kamu lupa sama semua pertanyaan abang tadi. Abang tahu, semua sudah terekam di otak kamu. " sahut Roy.
" Rekamannya kayaknya kena virus deh bang. Jadi ilang. " ujar Arisa.
" Bisa tidak, kali ini kamu serius. " ujar Roy dengan nada tegas dan seriusnya.
Sontak Arisa langsung terdiam. Selain memang mulutnya yang terbiasa berbicara seenaknya, susah untuk serius, kali ini ia sengaja menghilangkan kegugupannya saat ini dengan selalu menanggapi ucapan Roy dengan candaan.
" Maaf. " cicit Arisa sambil menunduk. Ia terdiam sesaat.
" Abang... Abang yakin sama perasaan abang? " tanyanya. " Arisa cuma gadis kecil yang nggak tahu apa-apa. Belum tahu sih sebenernya. Bukannya nggak tahu. " ia mendongakkan kepalanya menatap Roy yang masih berjongkok di depannya.
__ADS_1
" Abang yakin, mau menghabiskan sisa hidup abang sama Arisa? Abang yakin, mau Arisa menjadi pendamping hidup abang selamanya? Abang yakin, bisa menerima semua kekurangan sama kelebihan Arisa ? " lanjutnya.
Kedua sudut bibir Roy terangkat. " Kenapa kamu sepertinya malah jadi minder? Hem? " ucapnya.
" Abang yakin dengan semua yang abang ucapkan dari tadi. Abang yakin sama perasaan abang. Abang juga yakin untuk menghabiskan hidup abang selamanya denganmu. Hanya mencintai kamu, dan anak-anak kita kelak. Sangat yakin malah. " lanjutnya memastikan.
Mereka terdiam dan saling menatap, mencoba meresapi perasaan masing-masing.
Kemudian, Arisa mengangguk kecil. Bahkan sangat kecil. Namun Roy tetap bisa melihatnya. Ia tersenyum makin lebar.
" Maksud anggukan kamu, apa? " tanyanya memastikan.
" Arisa mau bang. Arisa mau menerima abang jadi teman hidup Arisa. Sampai kita tua nanti. Arisa, mau jadi istri abang, juga jadi ibu dari anak-anak abang nanti. Ayo kita bangun rumah tangga kita bang. Susah senang kita lalui bersama. " lanjutnya.
Roy begitu bahagia mendengarnya. Ia menumpukan tubuhnya di kedua lututnya hingga kini tingginya hampir menyamai Arisa yang masih duduk di atas kursi.
Roy menangkup kedua pipi Arisa. Mendekatkan wajahnya, lalu meraih kening Arisa, dan di kecupnya lama. Arisa memejamkan matanya menikmati kecupan sang suami dengan bibir yang tersungging.
Hatinya terasa seperti roller coaster. Nolak balik, tapi tidak sampai membuatnya mual dan muntah.
" Lalu, apakah kamu mencintaiku? Apakah perasaan itu sudah tumbuh di hati kamu buat abang? " tanya Roy sambil kembali menatap lekat manik mata Arisa.
Arisa kembali mengangguk tipis. Tapi tidak setipis kulit ari.
" Katakan jika kamu juga mencintaiku. " pinta Roy.
" Apa masih perlu untuk di katakan? Bukankah apa yang kita rasakan jauh lebih bermakna daripada apa yang kita katakan? Bukankah yang perlu ungkapan itu adalah perempuan? Abang kan laki-laki. " jawab Arisa. Bukannya ia tidak mau mengatakan, tapi ia malu untuk mengatakannya.
" Tidak memandang laki-laki, atau perempuan. Semua orang juga butuh pengakuan. Mendengar pengakuan dari pasangan, akan membuat kita lebih yakin dengan langkah kita ke depannya. " sahut Roy.
Arisa melipat bibirnya ke dalam. Lidahnya terasa kelu hanya untuk mengatakan ' Aku juga mencintaimu '.
" Oh, ayolah sayang. Cepat katakan. Apa kamu mencintaiku? " desak Roy.
Mendengar sang suami kembali memanggilnya sayang, hati Arisa kian berbunga.
Ia tersenyum sambil melipat bibirnya ke dalam. Ia lalu memajukan wajahnya, dan bibirnya mengecup pipi kanan sang suami lembut. Hanya kecupan kilas.
Lalu ia berbisik di dekat telinga Roy, " Arisa juga cinta sama abang. "
Setelah mengungkapkan hal itu, Arisa segera menjauhkan wajahnya dan memalingkan wajahnya yang terasa memerah.
Roy tersenyum begitu bahagia rasanya mengetahui jika perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
Roy menarik dagu Arisa, supaya Arisa menghadap kepadanya. Setelah Arisa menghadap kepadanya, ia memagut bibir tipis sang istri lembut.
Bersambung
__ADS_1