
Hari terus berlalu. Sudah tiga hari ini, keadaan Arisa masih tetap sama.
Di sekolah, bully-an dari siswa siswi tidak jua mereda. Bahkan makin parah. Tersiar juga jika saat ini, Arisa tengah berbadan dua akibat dari kelakuan mu rahannya.
Meskipun benar adanya jika ia tengah berbadan dua. Tapi tuduhan dari teman-temannya yang mengatakan jika anak yang di kandungannya itu adalah anak haram, hasil perzi nahannya dengan om om, membuat Arisa makin depresi.
Arisa sekarang lebih banyak diam. Di sekolah, ia enggan beranjak dari tempat duduknya. Ia lebih memilih menghabiskan waktu seharinya hanya dengan duduk di bangkunya di dalam kelas.
Ia juga tidak pernah mau di ajak ke kantin. Padahal sebelumnya, kantin adalah tempat favoritnya.
Hal itu membuat ketiga sahabatnya bingung. Mereka juga sebenarnya sudah berusaha menekan gosip yang beredar. Tapi apalah daya, murid yang jumlahnya ratusan itu, sangat sulit untuk di bungkam. Mana tiap harinya, ada saja berita baru mengenai Arisa.
" Sa, ke kantin yuk. " ajak Kaila.
Arisa hanya menggeleng sambil tetap meletakkan kepalanya di atas meja.
Sudah beberapa hari ini, ia tidak bisa tidur nyenyak. Ia selalu bermimpi buruk. Ia selalu terbangun tengah malam karena mimpi buruknya.
Meskipun sang suami selalu memeluknya di saat ia tertidur, tetap saja mimpi buruk itu selalu datang.
Setelah terbangun dari mimpi buruknya, Arisa pasti akan sulit untuk kembali tidur. Yang ada, ia hanya akan berpura-pura memejamkan matanya seolah ia tengah kembali terlelap supaya Roy tidak khawatir terhadapnya.
" Loe kurusan, tau Sa. Kita makan yuk, di kantin. " ajak Kaila kembali.
" Gue males, Kai. " jawab Arisa lirih.
" Loe berdua aja ke kantin. Gue nemenin Arisa di sini. " ujar Rian sembari duduk di sebelah Arisa.
" Lo bungkusin gue nasi rames aja bawa kesini. " pintanya kembali.
" Sekalian buat dia juga. " lanjutnya tanpa suara sambil menunjuk ke arah Arisa.
" Ya udah deh. Gue ma Susan ke kantin dulu bentar gue balik. " pamit Kaila sambil menganggukkan kepalanya.
Lalu Kaila dan Santo berlalu. Rian dengan sabar, menemani Arisa yang hanya diam tanpa sepatah katapun.
Selang beberapa saat, Kaila dan Santo kembali ke kelas dengan menenteng plastik berwarna ungu yang berisi es jeruk, juga nasi rames pesanan Rian.
" Nih Yan. Pesenan loe. " Santo meletakkan plastik tadi di atas meja di depan Rian.
__ADS_1
Rian mengangguk. Ia lalu membuka plastik itu hingga menimbulkan suara berisik.
" Apaan sih, berisik loe ah! " ucap Arisa sambil mengangkat kepalanya.
" Laper gue Sa. Mau makan. Kantongnya plastik. Jelas aja berisik kalau di pegang. " jawab Rian santai.
" Wah, enak nih kayaknya. " lanjutnya setelah ia membuka tutup kardus. " Hmmm .. Aromanya... " imbuhnya guna memancing indera penciuman Arisa.
" Ck. " Bukannya terpancing, Arisa malah justru berdecak.
" Enak loh Sa. Loe tau, kan masakan ibu kantin senikmat apa. " sahut Rian. Ia lalu memasukkan sesendok nasi rames ke dalam mulutnya.
" Makan yuk Sa. " bujuk Rian. Tapi hanya gelengan malas yang ia dapatkan.
" Si Kaila udah bungkusin juga buat loe. " lanjutnya.
" Kan gue nggak minta. " jawab Arisa. " Udah gue bilang, gue nggak laper. "
Mereka bertiga menghela nafas beratnya. Jika sudah keluar keras kepalanya seperti ini, maka akan susah untuk meluluhkan seorang Arisa.
Rian meletakkan kembali kardus berisi nasi rames nya ke atas meja.
Arisa mengangkat kembali kepalanya.
" Loe pikir gampang, Yan? Loe pikir segampang loe balikin telapak tangan loe? " ujar Arisa.
" Sakit, tau Yan. Sakit banget di sini. " tunjuk Arisa ke da danya.
" Kalau di katain cewek ga punya adab, cewek bar-bar, pethakilan, it's oke. Gue nggak bakal sesakit ini. " jelasnya
" Tapi ini beda, Yan. Mereka ngatain gue ja lang. Mereka ngatain gue sugar baby nya om om genit. Ngatain gue matre. Dan lebih parahnya lagi, mereka bilang kalau anak gue ini anak haram. " Arisa mulai terpancing emosi. Suaranya sudah meninggi.
" Anak gue punya bapak, Yan. Kenapa mereka ngatain anak gue anak haram??? " pekiknya sambil dengan air mata yang berlinang.
Sontak Kaila mendekat. Ia segera menarik Arisa ke dalam pelukannya. Menepuk serta mengelus lembut punggung Arisa yang bergetar.
" Udah, Sa. Udah. " Kaila jadi ikut menitikkan air matanya.
" Anak gue punya bapak, Kai. Dia bukan anak haram. " ujar Arisa dalam pelukan Kaila.
__ADS_1
Santo dan Rian ikut mengelus punggung Arisa.
" Iya, anak loe punya bapak. Bapaknya ganteng gitu. " sahut Kaila.
" Sa, kenapa loe nggak bilang aja sama pak Roy? Atau minimal Ori lah. " ujar Santo kala Arisa sudah mulai tenang.
Arisa menggeleng. " Beban pikiran abang udah banyak. Gue cuma nggak mau nambahin beban pikirannya aja. Ori juga. Dia udah punya tanggung jawab lain sekarang. Gue bisa kok nge-handle masalah ini sendiri. " ucapnya.
" Tapi loe jadi kek gini, Sa. Loe jadi kurusan sekarang. Loe jarang makan. Lagian, bayi itu bukan cuma punya loe. Pak Roy juga punya hak. Dan masalah ini, menyangkut anak dia juga. Jadi kalau pak Roy tahu, itu udah seharusnya. " jawab Rian.
" Nggak. " Arisa menggeleng. " Jangan kasih tau abang. Gue bisa ngatasin masalah ini sendiri. " Ia mengusap sudut matanya yang basah.
" Oke, kita nggak bakalan kasih tahu pak Roy. Tapi loe harus makan. Kasihan anak loe, Sa. Dia butuh asupan makanan. Kalau bukan lewat loe, darimana coba dia bisa makan? " sahut Santo.
Ah, Santo mah lebih milih Arisa mau makan. Masalah bicara sama Roy, akan ia pertimbangkan lagi nanti.
Arisa menggeleng. " Gue nggak laper. Kalau gue nggak laper, anak gue juga pasti nggak laper. "
" Makan, Sa. " Rian sudah mengisi satu sendok penuh nasi rames milik Arisa dan menyodorkannya di depan mulut Arisa.
" Iihh!!! Gue nggak laper. " kekeh Arisa.
" Tapi anak loe butuh makan. Loe jangan egois. " ucap Rian dengan nada datarnya.
Hap. Mendengar nada suara tak bersahabat milik Rian, sepertinya bisa membuat Arisa melahap sendok pertamanya.
Tapi baru tiga sendok nasi masuk ke dalam perut Arisa, Arisa sudah merasa tidak nyaman. Rasanya perutnya menjadi mual.
Ia langsung membekap mulutnya kala Rian menyodorkan kembali sendok ke depan mulutnya.
" Lagi, Sa. "
Arisa menggeleng kuat. " Perut gue mual. Pengen muntah kalau di masukin makanan lagi. "
" Udah, jauhin. " Arisa mendorong sendok yang masih berisi nasi, menjauh dari mukanya. " Daripada yang udah di dalam keluar lagi. "
Hah. Rian menghela nafas lelahnya. Ia menyerah. Ya sudahlah, yang penting sudah ada makanan yang masuk ke dalam mulut Arisa meski cuma tiga sendok.
Bersambung
__ADS_1