Om itu suamiku

Om itu suamiku
Lemah


__ADS_3

" Abbangg..." Arisa terbangun di pagi buta.


Matanya masih terpejam, tapi perutnya terasa bergejolak pengen muntah.


" Bang... " panggilnya lagi sambil meraba kedua sisinya hingga tangan kanannya menemukan kepala seseorang.


Dengan mata yang berat, ia membuka kedua matanya.


" Ssshh.." ia mendesis. " Bang.. Bangun bang... " ia berusaha membangunkan suaminya dengan suara lirihnya.


Roy mulai bergerak. Tapi Arisa yang sudah tidak bisa menahan lagi rasa mualnya, ia pun bergerak hendak bangun. Meskipun dengan susah payah karena badannya terasa lemas.


" Sayang.. " suara serak Roy terdengar. Ia sontak berdiri dengan kesadaran yang mungkin masih separo.


" Mau kemana? " tanyanya ketika ia mendapati sang istri bergerak mau turun dari ranjang.


" Perut Arisa mual bang. Pengen muntah. " jawab Arisa sambil membekap mulutnya.


" Abang bantu. " ucap Roy segera berdiri dan mengangkat tubuh Arisa untuk di bawa ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi dan setelah suaminya menurunkannya, Arisa segera mengeluarkan isi perutnya meskipun isinya hanya air.


Bagaimana tidak hanya berisi air, jika semenjak kemarin ia tidak makan apapun. Hanya cairan infus dan air putih yang menjadi sumber tenaganya.


" Hah! " Arisa bernafas dengan tersengal-sengal. Kedua tangannya memegang pinggir wastafel dengan sangat erat.


" Udah? " tanya Roy yang sedari tadi berada di belakangnya sambil memijat tengkuknya.


Arisa mengangguk lemah dengan kedua mata yang terpejam.


Roy segera menghidupkan kran, membuka tutup wastafel dan membersihkan muka Arisa. Serta membiarkan sisa muntahan Arisa yang berisi cairan itu hanyut sampai ke selokan.


Ia lalu kembali membawa Arisa keluar kamar mandi dan ia letakkan tubuh Arisa perlahan di atas tempat tidur.


Tubuh Arisa semakin terasa lemas dan lemah.


" Bang, badan Risa kenapa rasanya jadi kek mi rebus gini? Meleyot ga ada tulangnya. " keluh Arisa dengan suara lirihnya.


Roy mengusap wajah Arisa yang basah karena air bercampur keringat dengan handuk kecil.


" Karena kamu nggak mau makan. Dan barusan kamu muntah. " jawab Roy.


" Mulut Arisa pahit banget rasanya. Pengen makan. Tapi nggak mau makan nasi. " sahut Arisa. Ia membuka kedua matanya perlahan.


" Mau makan apa? Hem? Abang cariin. Sampai keluar kota juga bakalan abang beliin. Asal kamu mau makan. " ucap Roy penuh semangat.


Arisa menggeleng pelan. " Abang jangan kemana-mana. Jangan tinggalin Arisa. " pintanya.


" Risa cuma mau makan melon. Boleh? " tanyanya.

__ADS_1


" Sayang, kamu dari kemarin belum makan apa-apa. Kalau sekarang makan buah, takutnya perut kamu malah jadi sakit. " jawab Roy.


" Tapi Risa nggak mau makan nasi bang. Kalau makan nasi, bawaannya mual terus. " keluh Arisa.


" Makan steak aja gimana? Biar di anterin sama pegawai abang, ya? " tawar Roy.


Arisa menggeleng. " Risa nggak mau bang. Risa nggak mau makanan berat. Perut Arisa nggak bisa Nerima. "


" Tapi kamu harus makan, sayang. Mau abang beliin bubur ayam? " Roy masih berusaha bernego. Karena dari beberapa hari terakhir Arisa memang sangat susah untuk makan.


" Nggak mau, bang. " kekeh Arisa. " Perut Risa kek di aduk-aduk kalau lihat makanan berat. Rasanya nggak enak banget. Belum lagi kalau sampai muntah. Percuma makanannya. Mubadzir juga. Akhirnya Risa keluarin lagi. "


" Tapi kamu butuh nutrisi sayang. " bujuk Roy.


" Abang jangan maksa kenapa sih. " nada suara Arisa sudah berubah kesal. " Abang nggak ngerasain kan, gimana nggak enaknya perut mual, pengen muntah. Sakit bang. Capek. " keluhnya dengan nada putus asanya.


" Udah berhari-hari Risa ngalamin hal itu tiap habis makan berat. Mual, muntah, tenggorokan pahit. Perut Arisa sakit. Habis itu badan Risa lemes. " Arisa mengeluarkan semua perasaannya.


Roy menarik nafas sedalam-dalamnya sambil menunduk. Iya, dia tidak tahu penderitaan sang istri. Ia juga tidak tahu jika ternyata sang istri mengalami mual muntah semenjak entah kapan. Roy kini hanya bisa merutuki kebo dohannya dan ketidak mampuannya untuk menjaga istrinya.


" Maaf. " ucap Roy lirih. " Maafin abang yang nggak tahu semua itu. Maaf, karena abang kamu harus mengalami semuanya. " imbuhnya.


" Biar abang tanya sama dokter. Boleh nggak kamu makan melon sekarang. Oke? " ucapnya. Iya memutuskan, ia tidak akan melarang sang istri untuk hal apapun. Ia akan membiarkan istrinya makan apapun, asal itu di perbolehkan oleh dokter dan tidak membahayakan kesehatan sang istri juga calon anaknya.


.


.


.


" Ssshh!!! Kenapa perut gue tiba-tiba nyeri gini??? Tadi baik-baik aja kok. " keluhnya. Ia memiringkan tubuhnya, menekuk sedikit kakinya, berharap posisi itu bisa meredakan rasa nyerinya.


Ceklek


" Sayang, kamu kenapa? " tanya Roy mendadak panik ketika ia masuk ke dalam kamar Arisa, ia mendapati sang istri yang sedang meringkuk menahan sakit.


Roy meletakkan plastik yang ia tenteng di atas meja sembarangan. Lalu ia menghampiri sang istri, memegangi tubuhnya.


" Arisa, kamu kenapa? Apanya yang sakit? Biar abang panggilin dokter. " tanya Roy panik.


Arisa sedikit mendongak guna menatap sang suami. Wajahnya terlihat pucat.


" Perut Arisa sakit, bang. " jawab Arisa lirih.


" Ya tuhan!! " sahut Roy. Ia lalu segera memencet bel untuk memanggil perawat.


" Ada yang bisa kami bantu? " ucap perawat dari seberang.


" Istri saya kesakitan, sus. Perutnya sakit. " jawab Roy segera.

__ADS_1


" Oh, baik tuan. Kami akan segera ke ruangan. " jawab perawat.


Panggilan itu berakhir. Roy mengusap punggung juga pinggang Arisa bergantian. Berharap, apa yang ia lakukan dapat mengurangi rasa nyeri di perut istrinya.


" Apa sudah mendingan, sayang? " tanya Roy masih dengan suara paniknya.


Ia menghela nafas berat kala ia melihat sang istri menggeleng.


Ceklek


Pintu ruangan di buka dari luar. Terlihat seorang perawat memasuki ruangan dengan seseorang berbaju putih.


" Dokter Lulu. " sapa Roy.


" Kenapa Arisa, tuan? " tanya dokter Lulu.


" Dia bilang perutnya sakit, dok. " jawab Roy.


Dokter Lulu segera menghampiri Arisa dan memeriksa kondisi Arisa.


" Perutnya kram. Apa kamu baru saja turun dan berjalan kaki? " tanya dokter Lulu ke Arisa. Dan Arisa menggeleng untuk menjawab.


" Sus, ambilkan obat XXX. " pintanya ke suster. Lalu suster memberikan apa yang di minta oleh dokter Lulu.


Dokter Lulu segera menyuntikkan obat yang di berikan suster tadi ke selang infus Arisa.


" Arisa, maaf ya. Saya buka dulu bajunya. " ucap dokter Lulu setelah ia mengenakan sarung tangannya.


Roy hanya bisa memperhatikan dengan perasaan cemas. Ia melihat dokter Lulu menyingkap baju pasien Arisa bagian bawah, lalu memasukkan tangannya ke dalam ce lana da lam Arisa.


Dokter Lulu mendesah berat kala ia mendapati flek coklat di sarung tangannya. lalu ia melepas sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah.


" Tuan, nanti tolong ke ruangan saya sebentar. " pintanya ke Roy. Dan Roy menjawabnya dengan mengangguk.


" Arisa, apa masih sakit? " tanya dokter Lulu.


" Udah mendingan, dok. " jawab Arisa dengan suara lemah dan bibir yang tersungging.


" Jangan banyak pikiran ya. Di buat santai aja. Kasihan dedeknya nanti. " ucap dokter Lulu membalas senyuman Arisa dan menepuk pelan punggung tangan Arisa.


Arisa mengangguk.


" Nanti jika perutnya terasa kram lagi, di buat tiduran miring, tapi berlawanan arah sama bagian perut yang terasa sakit ya. Dan jangan lupa, air minumnya di banyakin. Makan juga. Asupan nutrisi sangat di butuhkan buat ibu hamil juga janinnya. " jelas dokter Lulu.


" Dia nggak mau makan dok. " jawab Roy. " Tadi dia minta melon. Apa boleh dia makan sekarang? " tanyanya.


" Boleh. Boleh banget. Makan buah di pagi hari bagus buat pencernaan. Dan yang penting, perut ibu hamil jangan sampai kosong ya? " jawab dokter Lulu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2