
Setelah mendapatkan buku yang di butuhkan, Arisa terus berjalan tanpa arah sambil sesekali melihat layar ponselnya. Ia berharap, sang suami menghubunginya atau sekedar mengirim pesan, atau apa.
Tapi ternyata tidak ada sama sekali. Bahkan ini sudah hampir jam setengah 10 malam. Sudah 3 jam waktu berlalu.
Apakah memang sang suami hanya peduli dengan adik tirinya? Apakah sang suami hanya bisa mengkhawatirkan adik tirinya saja ? Apakah sedikitpun sang suami tidak memikirkan dirinya?
Walau hanya sekedar bertanya apakah dirinya sudah makan malam atau belum, apakah dirinya sudah mendapatkan buku yang di cari atau belum, apakah dirinya pulang dengan selamat atau tidak.
Berbagai pertanyaan dan spekulasi tidak jelas mampir di otak kecil Arisa. Memikirkan hal itu, membuat hatinya kembali berdenyut sakit. Dan tak terasa, air matanya kembali menetes.
Kenapa ia jadi cengeng begini? Kemana Arisa yang selalu cuek? Kemana Arisa yang selalu menomor duakan perasaan?
Ah, jatuh cinta memang sangat tidak enak. Sangat membuat manusia merasa tidak nyaman. Apalagi jika harus merasakan sakit seperti ini.
Arisa terus menyusuri trotoar jalan raya yang ramai dengan mobil juga motor yang berlalu lalang. Sambil sesekali menyeka air matanya kasar.
" Capek ih, dari tadi jalan terus. Mana nahan hati yang sakit lagi. " Arisa bermonolog sambil menghentikan langkah kakinya.
" Mana laper lagi belum makan malam. " Arisa mengelus perutnya yang terasa keroncongan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
" Abang Jahat!!!!! " lanjutnya sengit. Lalu tiba-tiba matanya menemukan seorang pedagang menggunakan gerobak. Ia menyipitkan kedua matanya guna membaca tulisan yang ada di gerobak.
" Batagor, Siomay. Mending jajan itu aja lah. Orang nangis kan juga butuh tenaga. " ujarnya, lalu ia menengok ke kanan dan ke kiri untuk selanjutnya menyeberangi jalan.
" Bang, batagor satu porsi, siomay satu porsi. Kasih sambalnya yang banyak ya bang. " ucapnya ke si penjual.
" Di bungkus, neng? "
" Nggak bang. Makan sini aja. "
Kembali Arisa menoleh ke sisi kanan dan kirinya. Ia mencari penjual minuman. Matanya berbinar ketika ia melihat tulisan es cincau.
" Bang, aku tinggal beli minuman kesana bentar ya. " pamit Arisa sambil menunjuk ke penjual es cincau.
" Sip, neng. "
🧚🧚🧚
Malam kian larut. Arisa sudah lelah berjalan. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam. Ia bingung, harus kemana sekarang. Mau pulang ke rumah Roy, ia malas. Pulang ke rumah ayahnya, sudah terlalu larut. Bisa saja ia kena amukan sapu ajaib sang ibu nanti.
Kembali Arisa mengangkat ponselnya dan melihat ke arah layarnya. Masih tidak ada kabar dari sang suami.
Apakah Roy hanya memikirkan Selsa saja? Arisa tahu, jika kondisi Selsa saat ini memang butuh perhatian. Tapi apakah dengan mengirimkan pesan saja, satu... Saja, apakah tidak bisa? Itulah yang membuat dada Arisa makin sesak.
Akhirnya ia memanggil sebuah taksi. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah sang ayah. Lebih baik sakit di pukul sapu ajaib sang ibu, daripada pulang ke rumah Roy, tapi harus tidur sendirian dengan hati yang makin sesak.
Arisa menghentikan sebuah taksi yang lewat. Setelah taksi itu berhenti, Arisa membuka pintu dan segera memberikan alamat yang ia tuju.
__ADS_1
Setelah sampai depan rumah Julio, Arisa segera membayar taksi dan turun dari taksi.
Arisa tidak langsung masuk ke dalam pekarangan rumah. Ia meneliti sekeliling. Jika seandainya rumahnya sudah tertutup rapat, maka ia akan mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah itu. Ia akan pergi ke hotel saja.
Baru saja ia hendak membalikkan tubuhnya karena ia melihat lampu di dalam rumah sudah padam, pak Dirga memanggilnya.
" Neng Arisa. " panggil pak Dirga, sekuriti rumah sang ayah.
Arisa sontak membalikkan badannya. " Eh, pak Dirga. " ia tersenyum.
" Neng, kenapa malam-malam begini ada di depan rumah? Kenapa tidak masuk ? " tanya pak Dirga.
" Eh, emm... Iya pak. Mau masuk, tapi takutnya udah pada tidur. Nanti malah ganggu. " jawab Arisa seadanya.
" Masuk aja atuh neng. Masih punya kunci duplikat kan? " tanya Pak Dirga sambil tersenyum.
" Masih sih pak. "
" Ya sudah, ayok neng. Masuk. Bapak bukain gerbangnya. " ajak Pak Dirga. " Oh iya, ngomong-ngomong, neng Arisa teh nggak sama suami? Bapak kok nggak lihat. "
" Iya pak. Abang tadi buru-buru, soalnya harus keluar kota. " jawab Arisa sekenanya.
Pak Dirga membuka gerbang rumah sedikit lalu menyingkir dan membiarkan Arisa masuk ke dalam.
" Pak, Arisa terus masuk ke rumah aja ya? " pamitnya.
Arisa membuka kunci dan pintu rumah sang ayah perlahan. Lalu menutupnya kembali dengan perlahan juga. Dengan langkah mengendap-endap, sudah bak maling jemuran aja, Arisa berjalan memasuki rumah.
Baru saja kakinya menaiki tangga dasar, sebuah suara mengagetkannya.
" Arisa... " Sontak Arisa menghentikan langkahnya. Ia menutup kedua matanya rapat sambil menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan.
Suara sang ayah. Apa yang dilakukan ayah malam-malam begini. Bukankah biasanya ayah sudah tidur di jam segini? tanya Arisa dalam hati.
" A-ayah.. " Arisa membalikkan badannya sambil tersenyum manis. Untung saja suasana ruangan itu temaram. Jadi sang ayah pasti tidak akan melihat matanya yang sembab.
Arisa menuruni tangga perlahan, lalu berjalan menuju sang ayah yang sedang membawa segelas air putih.
Oh, ternyata sang ayah haus. Makanya kebangun malam-malam begini.
" Kamu kenapa malam-malam begini kesini? " tanya Julio.
" Ish, masak anaknya yang paling cantik dan kece gini pulang nggak boleh? " Arisa memasang wajah merajuknya. Tapi ia tetap bergelayut manja di lengan sang ayah. Ia sangat merindukan sang ayah, juga ibunya dan seluruh keluarganya.
" Arisa kangen loh sama ayah. Sampai di bela-belain malam - malam gini pulang. " lanjutnya masih merengek. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.
Julio tersenyum sambil mengelus kepala sang putri. Hati seorang ayah tidak bisa di bohongi. Ia tahu, pasti terjadi sesuatu.
__ADS_1
" Sendirian? Mana suami kamu? " tanya Julio.
Arisa menegakkan kepalanya sebentar. " Bisa tidak, tanya kabar Arisa aja gimana. " ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.
Julio menghela nafas beratnya. Ia yakin sekarang, pasti terjadi sesuatu. Tapi ia tidak akan menghakimi begitu saja.
" Terjadi sesuatu? " tanyanya.
Kembali Arisa mengangkat kepalanya. Ia menggeleng. " Abang lagi keluar kota. Arisa nggak bisa tidur sendiri. Kangen ayah sama ibu. Jadi pengen pulang. Nggak bisa bobok. " jawabnya manja.
Arisa memutuskan untuk memendam semuanya sendiri. Meskipun ia tahu, pernikahannya dengan Roy atas pilihan orang tuanya, tapi ia tidak akan merengek dan menyalahkan kedua orang tuanya atas apa yang ia rasakan.
" Mau tidur sama ayah sama ibu? " tawar Julio. Ia tahu, putrinya sedang tidak baik-baik saja. Ia tahu, sang putri butuh pelukan kedua orang tuanya.
" Ta-piii ibuuu... " Arisa nampak ragu. Jujur, ia takut dengan kemarahan emaknya itu.
" Ibu juga merindukanmu. Ia juga pasti senang melihatmu datang. Ibu juga bangun. Nih, dia bilang haus. " Julio mengangkat gelas yang di pegangnya.
Akhirnya Arisa mengangguk. Lalu Julio menggandeng bahunya, dan mengajaknya berjalan beriringan.
Ceklek
Julio membuka pintu kamarnya. Dan terlihat, Andhara langsung menoleh. Hingga kedua kelopak matanya membesar kala melihat siapa yang berada di belakang sang suami.
" Arisa... " ucapnya terkejut.
Baru ia hendak bertanya, Julio mengedipkan matanya guna memberi isyarat untuk tidak bertanya. Andhara yang mengerti, mengangguk kecil.
" Putri kita yang manja, katanya kangen sama kita. Pengen tidur sambil di peluk ayah sama ibu. " ucap Julio.
Andhara tersenyum. " Sini. " ia melambai-lambaikan tangannya ke Arisa. " Ibu juga kangen. "
Arisa tersenyum meskipun sedikit takut. Tapi ia pun berjalan mendekat ke ranjang. Dan Julio, meletakkan gelas minum sang istri di atas nakas.
" Mau tidur di mana? Di tengah, di pinggir, atau di sofa? " canda Andhara.
" Ishh, ibu!! " rengek Arisa. Tanpa menjawab, ia lalu meloncat ke atas ranjang dan berada di tengah-tengah ayah dan ibunya setelah meletakkan tasnya di atas sofa.
" Mau ne nen juga nggak nih?? " ledek Andhara kembali.
" Nggak!! Nanti di marahin ayah. " sahut Arisa sambil menggeleng. Ia lalu tidur menghadap sang ibu, menelusupkan kepalanya ke dada sang ibu, lalu menarik tangan sang ayah untuk memeluknya.
" Ada apa? " tanya Andhara ke sang suami kala Arisa sudah dalam pelukannya. Ia bertanya tanpa suara.
Sang suami hanya menjawab sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibir.
Bersambung
__ADS_1