
Arisa menunggu sang suami di dalam mobil ketika sang suami masuk ke dalam sebuah apotik bertuliskan B_24.
Duduk dengan sangat tidak nyaman. Ia harus menaikkan rok panjangnya dan mengang kang karena tidak ingin itunya kegesek-gesek.
Tak lama, Roy nampak keluar dari dalam apotik dengan menenteng sebuah plastik kresek kecil berwarna hitam.
" Dapet bang? " tanya Arisa sambil menoleh ke arah Roy yang baru masuk ke dalam mobil.
" Hem. " jawab Roy mengangguk. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan keluar dari parkiran apotik.
Berjalan menyusuri jalanan padat pagi hari. Si komo aja udah aki-aki. Udah kagak kuat jalan lagi. Tapi nyatanya, jalanan masih aja macet. Terus, siapa dong sekarang yang lewat? Cucu buyutnya si Komo kah??
" Kok berhenti bang? Kan sekolah Arisa masih di depan sana. Satu kiloan lagi. " tanya Arisa sambil mengernyit.
Roy menepikan mobilnya di pinggir jalanan yang agak lengang.
" Kita obati dulu itu kamu yang sakit. " sahut Roy sambil menarik tuas rem tangan.
Lalu ia mengambil plastik kresek kecil hitam tadi. Mengambil isinya yang hanya sebuah salep berukuran kecil.
" Arisa pindah dulu ke belakang kalau gitu. " ucap Arisa hendak membuka pintu mobil.
" Ngapain pindah? " tanya Roy menoleh ke arah Arisa.
Arisa menoleh, tapi badannya tetap menghadap ke pintu. " Kan katanya mau kasih salep dulu. Kalau di sini, Arisa mana bisa liatnya. Entar malah salah masuk lagi. " ucapnya.
" Abang yang obatin. Kamu tinggal buka kaki sama angkat rok kamu tinggi-tinggi. " ujar Roy sambil membuka bungkus salep kecil tadi.
" Ih, abang!!! Mana bisa gitu? " Wajah Arisa berubah memerah. Ia masih saja malu ketika sang suami membicarakan tentang hal itu. Arisa lalu mengamit kedua kakinya.
" Kamu bakalan susah kalau ngobatin sendiri. Sini, abang bantu. " Roy menarik pelan tangan Arisa.
" Nggak ah. " tolak Arisa sambil menggeleng kuat.
" Ck! Keburu siang. Nanti kamu terlambat ke sekolahnya. Di hukum di suruh berdiri di lapangan nanti. Bisa makin sakit itunya. "
Arisa masih menggeleng kuat. Sungguh, ia akan sangat malu sekali.
__ADS_1
" Semalam, sama tadi pagi, abang udah lihat semuanya. Nggak usah malu. " ujar Roy merayu.
" Iihhh, malu tapinya bang..." rengek Arisa. Ia masih menolak, tapi kini badannya sudah tidak lagi menghadap ke pintu.
" Kalau kamu nolak terus kayak gini, bakalan makin lama selesainya . " rayu Roy kembali.
" Arisa mau. Tapi abang, jangan naf su lagi loh. Arisa mau sekolah ini. " pinta Arisa dengan suara pelan.
" Iya. " jawab Roy sambil mengangguk. " Abang juga nggak tega kali. Lihat kamu aja jalannya ngang kang gitu. Masak iya, masih abang garap aja. " lanjutnya.
Perlahan, Arisa mulai menaikkan rok panjangnya hingga sampai terlihat paha putihnya. Hari ini, ia memang memutuskan untuk tidak mengenakan celana legging panjangnya. Karena jika ia memakai legging, maka bagian bawahnya bisa lembab, dan yang pasti membuatnya makin terasa perih.
" Hadap sini. " titah Roy menyuruh Arisa untuk menaikkan kakinya ke atas jok dan menghadapnya.
" Tapi beneran ya, abang jangan naf su. Nanti mobilnya jadi mobil bergoyang pagi-pagi. Terus, di samperin sama polisi. Kan malu-maluin. Abang udah janji loh tadi. " ujar Arisa.
" Iya. Abang nggak akan naf su. Kalaupun abang naf su, bakalan abang tahan sampai nanti malam aja. " sahut Roy sambil membuka tutup salep.
" Cih! " Arisa berdecih.
" Turunin celananya. " titah Roy kembali. Ia sudah bersiap menghadap Arisa. Menaikkan salah satu kakinya ke atas jok, sama seperti Arisa.
" Lututnya di naikin. Biar abang bisa lihat. Jadi nggak salah kasih salepnya. " ujar Roy kembali.
Arisa berdecih. Tapi tak urung, ia melakukan apa yang suaminya minta.
Arisa mengangkat lututnya, hingga kini, Roy bisa melihat ke arah surgawinya.
Melihat area bawah sang istri yang terlihat berwarna pink ke merah-merahan, membuat jakun Roy naik turun. Sedangkan Arisa, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu.
Perlahan, Roy mengulurkan tangan kanannya meraih area bawah Arisa. Menyentuhnya dengan sangat lembut. Mengelus dan mengusap.
Merasakan sentuhan tangan Roy, membuat Arisa makin mengeratkan gigitannya di bibir bawahnya. Ia tidak mau jika tiba-tiba ia mele nguh. Bagaimana pun juga, sentuhan Roy membuat sesuatu bergelenyar di tubuhnya.
" Udah bang? " tanya lirih.
" Bentar. Abang cek dulu bagian yang luka. Mbaknya di apotik tadi bilang seperti itu. Harus di cek, biar tahu, mana yang harus di kasih salep banyakan, mana yang di kasihnya dikit aja. " sahut Roy beralasan.
__ADS_1
Maafkan Roy ya mbak penjaga apotik. Roy terpaksa memakai mereka sebagai alasan supaya bisa menyentuh bagian bawah istrinya lebih lama.
Ia lalu menarik tangannya, menekan salep dengan tangan kirinya, lalu mengambil se ujung kelingking salep. Lalu ia kembali mengarahkan tangannya ke area bawah Arisa.
" Ssshhh... " Arisa mendesis. Antara merasakan sensasi dingin dari salep ke atas kulit nya yang membengkak, dan sensasi lembut yang di berikan oleh jari jemari sang suami.
" Perih ya? Abang tiupin. " ujar Roy. Ia sedikit menunduk, hingga kepalanya berada tepat di depan area bawah Arisa. Ia meniup - niup itu sang istri.
Arisa semakin menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan kedua matanya. Uh, ingin sekali Arisa mele nguh. Sungguh gi la. Apakah kini ia sangat terlihat murahan?
Ah. Tidak bisa seperti ini. Ia tidak boleh kalah.
" Abang, udah ih. Entar abang malah jadi naf su. " ujar Arisa sambil menetralkan rasa yang ada.
Roy tersenyum tipis. Gengsi sang istri memang setinggi gunung Everest.
" Bukannya kamu yang naf su? " goda Roy.
Arisa menoleh, menatap tajam sang suami. " Abang kali. Tuh, celananya ada yang nongol. "
" Oh ya? Cuma abang? " Roy masih menggoda.
" Terus, kenapa ini jadi basah gini? " lanjutnya terus menggoda. Ia bahkan menyentuh area bawah sang istri yang memang sudah basah.
Si al. Arisa melotot ke arah Roy. Suaminya ini benar-benar......
" See? Basah kan? " Roy mengangkat tangan kanannya, lalu memperlihatkannya ke depan Arisa.
" E hem. " Arisa berdehem. Ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. " Itu karena abang kasih salepnya kebanyakan. " ketusnya.
Hahahaha.... Roy tertawa. " Ya, ya, ya... Salepnya kebanyakan. Atau kamu yang ngompol. " sahutnya.
Arisa lalu segera menurunkan kakinya ke bawah dan membenahi celana da lamnya juga roknya. Dan Roy, ia mengambil sebuah tisu basah dari belakang joknya. Mengelap tangan kanannya, dan membersihkannya.
Masih dengan senyuman lebarnya, Roy kembali menjalankan mobilnya. Sedangkan Arisa, ia lebih memilih membuang pandangan ke arah jendela.
" Nanti pulang sekolah, abang obatin lagi. Kalau masih basah lagi, bisa langsung kita lanjut. Daripada bikin kepala pusing. " kembali Roy menggoda. Tapi tak di jawabi oleh Arisa.
__ADS_1
bersambung