Om itu suamiku

Om itu suamiku
Menyadari sesuatu


__ADS_3

" Mau berangkat sekolah bareng ayah? " tawar Julio. Ia sudah selesai mandi. Sedangkan Arisa masih bermalas-malasan di atas kasur orang tuanya.


" Atau mau ibu aja yang antar kayak biasanya? " tawar Andhara.


" Kalau di antar dua-duanya bisa nggak? " sahut Arisa sambil menampilkan puppy eyes nya.


" Kamu ini. Selalu ngelunjak. " Andhara mengusap kasar rambut Arisa. Hingga membuat Arisa terkekeh.


Andhara dan Julio sudah sempat berbincang selepas sholat Subuh tadi. Mereka sepakat, untuk tidak menanyakan dengan apa yang terjadi terhadap sang putri.


Entah apa yang telah terjadi dalam rumah tangga putrinya, mereka akan berpura-pura tidak tahu sampai putrinya sendiri yang bercerita.


Siapapun yang bersalah, mereka juga sepakat untuk tidak menyalahkan salah satunya. Karena Andhara juga Julio sadar, pernikahan sang putri terjadi karena perjodohan. Di tambah lagi usia putrinya yang masih terlalu muda.


Mungkin saja sikap kekanak-kanakan Arisa menjadi penyebab keributan dalam rumah tangga Arisa. Mereka pun mengerti itu.


" Udah, cepetan sana mandi. Siap-siap sekolah. Ibu udah siapin seragam kamu. Tadi ibu cari di dalam lemari. Dan ternyata kamu sungguh baik hati meninggalkan satu serangan di rumah ibu ini " ujar Andhara.


" Ayok bangun. Jangan malas. Mandi. Ayah sama ibu tunggu di meja makan. Kita sarapan bersama. Ayah sangat merindukan momen sarapan bersama kalian. Biar meja makan kita ramai kembali. " Sahut Julio sambil menarik tangan kiri Arisa supaya Arisa bangun dan turun dari atas ranjang.


" Okeh. Pasukan selalu siap, komandan. " jawab Arisa dengan suara kayaknya seorang anggota kopassus.


Sambil terkekeh, ia berlari keluar dari dalam kamar orang tuanya Tampa mengingat jika tasnya masih tertinggal di sofa kamar ayah ibunya.


🌷🌷🌷


Di rumah sakit


Mama Ruby, tuan Manoj, Roy, Selsa juga Elyas nampak bahagia dengan kelahiran cucu pertama dari Manoj Rakesh. Bayi laki-laki yang begitu lucu dan menggemaskan itu lahir ketika hendak subuh tadi.


" Kamu apakan suami kamu sampai rambutnya acak-acakan begitu? " ledek Roy sambil melirik ke arah Elyas.


Ya, penampilan Elyas saat ini jauh dari kata baik-baik saja. Rambutnya acak-acakan, kaosnya sudah meler kemana-mana. Belum lagi, tangannya terlihat bercak-bercak merah bekas cakaran dan cubitan.


" Cih! Lihat aja besok kakak akan mendapatkan yang lebih parah dari yang mas Elyas dapatkan. " sahut Selsa yang tidak terima suaminya di ledek.


" Mas Elyas nggak pa-pa kan? Maaf ya mas, aku nggak sadar tadi. " ucap Selsa sambil memandang sendu ke arah suaminya.


Cup


Elyas mengecup kening Selsa lembut. " Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Justru aku yang seharusnya meminta maaf sama kamu karena kamu harus kesakitan saat melahirkan buah hati kita. Dan aku sangat menyesal, karena aku tidak bisa mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan. " jawabnya.


" I love you. " ucap Selsa sambil tersenyum.


" I love you to. " sahut Elyas.


" Cih. Lebay. " Roy berdecih. Tapi tiba-tiba ia terdiam. Berusaha mencari sesuatu yang sepertinya sudah hilang.


Perasaan Roy berubah. Dulu, hatinya akan selalu terasa sesak kala melihat adik tirinya itu bermesraan dengan suaminya. Tapi pagi ini, tidak ada lagi rasa sesak itu ketika melihat Selsa dan Elyas bermesraan. Ia baik-baik saja.


Ia mencoba berpikir dan merasakan lagi. Dan benar, sudah tidak ada lagi rasa cemburu itu.

__ADS_1


" Roy, sudah menghubungi istri kamu? " tanya tuan Manoj.


" Iya, pa? " Roy sedikit tersentak. Ia terkejut karena tadi ia sedang melamun.


" Apa kamu sudah menghubungi istri kamu? Bukankah seharusnya kamu mengantarnya ke sekolah? " ujar tuan Manoj kembali.


" Astaghfirullah hal'adzim... " Roy menepuk keningnya.


Ia lalu meraba sakunya. Tapi ia tidak menemukan ponselnya.


" Sa, boleh pinjam ponsel kamu? Ponselku sepertinya ketinggalan di rumah semalam. Aku mau menghubungi Arisa. " pinta Roy.


Selsa mengangguk. " Mas, ponselku mana? " tanya Selsa.


" Ponselmu juga di rumah, sayang. Semalam aku melupakan ponselmu ketika kamu bilang kalau perutmu sakit. " jawab Elyas.


" Pakai saja ponselku kak. " lanjutnya sambil menyerahkan ponselnya ke Roy.


Roy mengangguk sambil mengambil ponsel Elyas. Ia mencari kontak nama sang istri di sana lalu meneleponnya. Sudah dering ketiga, tapi tidak di jawab.


" Tidak di angkat. " ujar Roy sambil mengembalikan ponsel Elyas. Lalu ia melihat jam di dinding. " Sudah jam 6 lebih. Dia pasti sudah berangkat sekolah. "


" Pulanglah kak. Kabarkan bagaimana Arisa. Semalam kamu meninggalkannya begitu saja. Padahal kamu mau mengantarnya membeli buku. " timpal mama Ruby.


Deg. Tiba-tiba jantung Roy berdetak kencang. Ia melupakan hal itu begitu saja. Iya. Semalam ia telah mengabaikan sang istri. Bahkan ia tidak memberikan kabar apapun semenjak semalam.


Arisa. Maafkan aku. Ucap Roy dalam hati.


Bagaimana kalau sampai sang istri marah? Bagaimana sang istri semalam? Apakah sudah mendapatkan buku yang di carinya? Atau dia tersesat? Apakah sang istri bisa tidur semalam tanpa dirinya?


Begitu banyak pertanyaan yang bersarang di hati juga pikirannya. Tiba-tiba rasa rindu menyelimuti hatinya.


" Pa, ma, Roy pulang dulu. " pamitnya tiba-tiba. Ia harus segera pulang. Ia harus segera bertemu dengan sang istri. Siapa tahu Arisa masih berada di rumah.


Ia lalu meninggalkan kamar rawat inap Selsa begitu saja. Ia berlari menyusuri lorong rumah sakit. Hingga membuat perhatian beberapa perawat yang ia lewati.


Tunggu aku, sayang. Batin Roy.


🌷🌷🌷


Roy memarkirkan mobilnya sembarangan di pekarangan rumah keluarga Rakesh. Bahkan ia tidak menutup pintu mobilnya kembali karena terburu-buru.


Roy berlari masuk ke dalam rumah setelah ia membenahi sarungnya yang hendak melorot. Ia juga mengangkat sarungnya supaya ia bisa bebas berlari.


Brak


Roy membuka pintu utama rumah papanya dengan kasar. Ia kemudian berlari menuju kamarnya. Ia bahkan melewati anak tangga dengan langkah lebar.


Ada rasa yang membuncah yang ingin ia sampaikan ke sang istri. Rasa yang baru saja ia sadari.


" Arisa... " Roy memanggil nama istrinya kala ia sudah membuka pintu kamarnya. Ia lalu masuk ke dalam.

__ADS_1


" Arisa... " panggilnya kembali kala tidak ia dapati sebuah jawaban.


Brak


Roy membuka pintu kamar mandi dengan kasar. Kosong. Tidak ada siapapun di sana. Lalu ia memutar badannya kembali. Ia melihat, ranjangnya terlihat rapi seperti tidak ada yang memakainya semalaman.


Dahinya mengernyit. Ia lalu berjalan dengan tergesa memasuki walk in closed nya. Ia membuka pintu lemari yang berisi pakaian sang istri.


Matanya menyipit melihat seragam sekolah Arisa yang seharusnya di pakai hari ini masih menggantung di sana.


" Apa dia belum berangkat? Tapi di mana dia sekarang? " monolognya.


Roy lalu memutuskan untuk keluar dari dalam kamar. Ruang makan dan dapur adalah tujuan utamanya.


" Arisaaa... " suara Roy menggema dari lantai 2. Ia menuruni tangga dengan langkah lebar. Ia menuju ke ruang makan.


Sepi. Tidak ada satupun orang di sana. Bahkan meja saja sepi tak berpenghuni. Lalu Roy berjalan menuju ke dapur.


" Bi, melihat istriku? " tanya Roy ketika ia sampai di dapur, namun hanya seorang pembantu rumah tangga keluarga Rakesh yang ia dapati.


Pembantu itu membalikkan badannya. " Tuan muda. " sapanya.


" Bibi melihat istriku? "


" Maaf, tuan muda. Tapi nona Arisa belum keluar dari dalam kamar. " jawab sang bibi.


" Tapi, kamarnya kosong bi. Dia tidak ada di sana. " jawab Roy. Hatinya semakin terasa gundah dan cemas.


" Iya, tuan? Biar saya bantu cari. Mungkin ada di belakang rumah. " ujar sang bibi.


Roy mengangguk, lalu ia keluar meninggalkan dapur. Perasaannya tidak enak. Ia mencari sopir yang biasanya ia mintai tolong untuk mengantar Arisa kemana-mana jika dirinya tidak bisa.


" Mamang... " panggil Roy.


" Iya, tuan. " jawab mamang sambil tergopoh-gopoh menghampiri sang tuan.


Dahi Roy mengernyit memperhatikan penampilan mamang sang sopir yang terlihat basah seperti habis memandikan sesuatu.


" Mamang habis ngapain? "


" Oh, itu. Habis menyuci mobil. "


" Nyuci mobil? Jam segini? " beo Roy. " Mamang tidak mengantar istriku ke sekolah? " tanyanya.


" Non Arisa, tuan? Bukankah nona tidak ke sekolah hari ini? "


Deg


Bersambung


Maaf ya guyss... hari ini terlambat up... Sibuk sama pekerjaan di dunia nyata dari pagi... sampai hampir kelupaan sama pekerjaan di dunia halu...😁😁😁

__ADS_1


Tapi it's oke lah ya... Yang penting masih up meski terlambat 😁😁😁🙏🙏🙏


__ADS_2