
Sobat Arisa, Kaila, Santo, juga Rian kini berada di taman depan gedung kantor guru. Di manakah Arisa?
Mereka berada di sana, karena Arisa tengah berada di kamar mandi yang berada di luar gedung siswa.
Semenjak dirinya sering di bully oleh siswa siswi, Arisa lebih memilih ke kamar mandi yang berada di dekat kantor guru. Paling tidak, perjalanan menuju ke kamar mandi itu, ia tidak akan banyak bertemu dengan siswa lain.
" Kita nggak bisa diem aja gini liat Arisa di giniin. " ujar Rian memecah kesunyian.
" Terus, kita bisa apa? Kita bertiga, mana bisa meredam suara ratusan anak. Kita udah coba kemarin. Tapi apa? Hasilnya nol besar. " sahut Kaila.
" Makanya, kita pikirin cara lain. Kita harus cari tahu, siapa biang keroknya. Siapa yang dengan sengaja upload foto Arisa sama pak Roy. Bisa bisanya dia dapet foto dengan angle yang begitu pas. " ujar Rian.
" Siapa sih kira-kira yang begitu beruntung dapetin fotonya Arisa? " tanya Kaila. Kini mereka bertiga nampak berpikir.
" Siapa aja coba, di sekolah kita yang nggak suka sama Arisa? " tanya Rian.
" Miler mungkin. " sahut Santo.
" Kayaknya bukan Miler deh. Kalau emang dia, gue yakin, dia pasti bakalan langsung ngelabrak si Arisa daripada pakai upload foto segala. " sahut Kaila.
" Bentar, gue telpon temen gue dulu. " ujar Rian sambil mengambil ponselnya dari saku kemejanya.
" Halo. "
" ... "
" Gue butuh bantuan loe. " lalu Rian mengatakan apa yang ia butuhkan.
Klek
Ponsel ia matikan. " Oke, temen gue siap bantu. " ucapnya.
" Kalau menurut gue sih, kita kasih tahu keluarga Arisa. Minimal si Ori lah. Dia berhak tahu. " usul Santo.
" Gue setuju tuh. " sahut Kaila.
" Kenapa nggak langsung lakinya aja? " tanya Rian.
" Mana berani kita ih! Ada ada aja kamu. Ck! Kalau si Ori tahu, pak Roy juga bakalan tahu. " sahut Kaila sambil berdecak.
" Ya udah, buru loe telponin si Ori. Keburu Arisa balik. " ujar Santo.
Kaila mengangguk, lalu ia mengambil ponselnya dan menghubungi Ori. Baru dering ketiga, panggilan Kaila ada suara yang menyahut.
" Halo. " terdengar suara nge bass dari seberang.
" Halo, Ri. "
" Ada apa? Udah mau ngomong loe, soal yang gue tanya kemarin? Sebenarnya, gue bisa cari tahu sendiri, tapi gue ngehargain sodara gue. " tancap Ori.
" Ck! Elo Ri. Nggak bisa, apa basa basi dulu? Loe udah kek cenayang aja. Mau gantiin mama loreng loe? Seenggaknya , tanya dulu kek! Kabar loe gimana, Kai? Masih sehat kan? Masih waras kan? " Kaila berdecak.
__ADS_1
" Gue nggak suka ember. Buru, loe cerita ke gue. "
" Sepertinya, kondisi Arisa makin parah. " jawab Kaila.
Terdengar helaan nafas panjang dari seberang.
" Si Arisa di sekolah, di bully habis habisan sama anak-anak. Kita udah nyoba menghalau, tapi kalah sama murid ratusan. " Kaila mulai bercerita.
Ori mengepalkan tangannya erat di seberang sana.
" Di bully kenapa? Bukankah dia biasa sama hal kayak gitu ? "
" Kali ini, masalahnya beda. " Kaila menjeda omongannya dengan menarik nafas.
" Ada seseorang yang sepertinya mengetahui jika antara Arisa sama pak Roy ada sesuatu. Di medsos sekolah, tersebar foto foto Arisa yang sedang berpelukan sama pak Roy. Cuma wajah pak Roy nya kagak kelihatan. "
" Arisa di katain sugar baby nya om om. Dia di tuduh perempuan mu rahan. Dan lebih parahnya lagi, terakhir tersebar foto Arisa sedang masuk ke dalam poli kandungan. Sekarang, Arisa di cap sedang hamil di luar nikah. "
" APA??? " pekik Orion. Ia menggerak-gerakkan giginya kuat-kuat.
" Siapa yang memulai? " tanya Ori.
" Kita juga kagak tahu, Ri. Si Rian lagi minta tolong sama temennya buat nyoba nyari info. Tapi yang paling getol ngatain si Risa perempuan mu rahan itu si Miler. "
Klek
Panggilan tiba-tiba di matikan secara sepihak.
" Kenapa? " tanya Santo.
" Kagak ada ucapan say goodbye, main di matiin aja. Ck! " Kaila berdecak sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku roknya.
" Sorry, lama. " ucap Arisa yang tiba-tiba udah datang.
Rian, Kaila, juga Santo menoleh ke belakang bersamaan.
" Masih nggak enak perutnya? " tanya Kaila.
" Muka loe pucat gitu. Gue anterin loe pulang aja, gimana? " tawar Rian.
Arisa menggeleng. " Ngapain pulang sekarang? Pelajaran tinggal dua jam lagi kan? Lagian di rumah sepi kalau jam segini. " jawabnya.
" Ke UKS aja yuk. Gue temenin. " ajak Kaila.
Kembali Arisa menggeleng. " Gue nggak pa-pa. " ia berusaha untuk tersenyum.
" Yakin loe, nggak pa-pa? Perut nggak sakit kan? Cuma mual aja kan? " tanya Kaila beruntun karena khawatir.
" Gue nggak pa-pa. " jawab Arisa. " Ke kelas aja lah. Takut gurunya udah masuk kelas. " ajak Arisa. Dan di angguki ketiganya.
Lalu mereka pergi kembali ke kelas. Di dalam kelas, Arisa hanya kembali diam dan melamun. Bahkan apa yang di jelaskan oleh guru, sama sekali tidak ada yang nyangkut di otaknya.
__ADS_1
" Sa, wajah loe makin pucet deh. " bisik Kaila.
Arisa menoleh, lalu menggeleng.
" Kita ke UKS aja yuk. Atau gue anterin loe pulang aja deh. Entar gue temenin loe di rumah, sampai laki loe balik kerja. " bujuk Kaila.
" Tanggung Kai. Bentar lagi, jam sekolah juga habis. " jawab Arisa tak bersemangat.
Jika sudah begini, apa yang bisa di lakukan Kaila. Arisa memang keras kepala. Ia sangat paham akan hal itu. Sekarang, mau tidak mau, ia hanya akan mengikuti kemauan bumil satu ini.
" Tapi loe jangan pingsan loh! " ucap Kaila sambil mendelikkan matanya.
" Loe tenang aja. Gue nggak bakalan pingsan. Soalnya juga tahu, kalau gue pingsan, yang ada loe bakalan gelindingan gue gitu aja. " kekeh Arisa.
Kaila ikut terkekeh. Seenggaknya, Arisa masih bisa bercanda. Masih bisa tertawa. Meskipun raut wajahnya pucat.
Sampai akhirnya, jam pelajaran habis. Bunyi bel panjang menggema di seluruh penjuru sekolah. Para siswa siswi berbondong bondong memanggul tas mereka meninggalkan halaman sekolah.
Seperti biasa, Arisa selalu di temani ketiga sahabatnya.
" Loe di jemput siapa? " tanya Rian.
" Ori. " jawab Arisa.
" Tapi kok tumben, Ori belum nyampe sini. Biasanya dia udah nangkring sok kecakepan di depan gerbang. " celetuk Kaila.
" Dia pasti juga baru keluar dari sekolah. Bentar lagi juga nyampe. " sahut Arisa.
Mereka tetap menemani Arisa hingga hampir setengah jam lamanya. Tapi yang di tunggu, masih juga belum kelihatan batang hidungnya.
" Kayaknya Ori ga jemput loe deh. Apa dia lupa? " ujar Kaila.
" Bentar, gue telpon dulu deh. " jawab Arisa sambil mengambil ponselnya.
Hingga dering kelima, Orion masih belum menerima panggilannya.
" Ga di angkat. " ucapnya.
" Pak Roy gimana? Loe telpon dia gih. " usul Santo.
Arisa menggeleng. " Biasanya kalau abang minta Ori yang jemput, abang lagi ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal. "
" Ya udah, gue anterin aja. Kebetulan, gue bawa mobil. Kai, loe temenin Arisa. " ujar Rian. Tanpa menunggu jawaban dari Arisa, ia langsung pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya.
" Entar gue temenin loe di rumah dulu sampai pak Roy pulang. " ujar Kaila. Ia menggandeng tubuh lemah Arisa.
Arisa mengangguk dan tersenyum menoleh ke arah Kaila.
Bersambung
Hai reader.....
__ADS_1
Othor minta maaf banget.... Kemarin nggak bisa update... Soalnya kemarin othor sibuk, nggak sempat nulis... Mohon di maafkan ya....