
" E Hem. " Roy berdehem menetralkan suasana yang tiba-tiba terasa dingin. Jika dirinya tadi yang berkuasa di depan Arisa, kini kondisi berbalik.
Dirinya di buat tak berdaya oleh perempuan yang ada di hadapannya ini yang wajahnya terlihat mirip dengan Arisa. Apakah perempuan ini adalah kakaknya Arisa? Tanya Roy dalam hati.
" Maaf, nona. Mau saya pesankan minuman? " tanya Roy.
" Harus itu. " jawab Andhara datar dan terkesan dingin. " Kebetulan, saya memang lagi haus. " ia menaruh tas jinjingnya di atas meja.
Roy memanggil seorang pelayan dan memesankan minuman untuk Andhara.
" Temannya Arisa? " Andhara mulai menjadi seorang penyidik. Ia duduk dengan menumpukan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Punggungnya ia sandarkan di sandaran kursi.
" Mmmm... Bisa di bilang begitu, nona. " jawab Roy. Ia juga berusaha bersikap tenang.
Andhara nampak manggut-manggut. Tapi matanya tetap tajam menelisik .
" Anda kakaknya Arisa? " tanya Roy berusaha mencari tahu hubungan perempuan yang ada di hadapannya ini dengan gadis yang hendak ia nikahi. Hendak ia jadikan istri.
" Hahahaha .... " Andhara malah tertawa kencang. Kakak Arisa? Apa ia terlihat semuda itu? Oh, jika suaminya tahu, maka bisa di pastikan, ia tidak akan di perbolehkan keluar rumah dengan pakaian seperti itu. Julio akan menyuruhnya memakai gamis daster dengan motif batik bunga - bunga bermekaran jika dirinya hendak keluar rumah.
" Apa saya terlihat semuda itu, tuan? Hingga anda menduga jika saya adalah kakaknya Arisa. " celoteh Andhara.
" Hati-hati tuan. Jika suaminya saya tahu, ia bisa marah-marah. " kekehnya.
" Maaf, nona. Ah, nyonya. Saya pikir anda kakak Arisa. Karena wajah anda mirip dengan Arisa. " sahut Roy.
" Tentu saja wajah kami mirip. Karena saya dan suami saya yang memproses dia hingga dia muncul di dunia ini. " jelas Andhara.
" Ap-apa anda ibunya Arisa? " tebak Roy .
Andhara mengangguk. " Anda benar sekali. Saya adalah ibunya Arisa. "
" Oh maaf, nyonya saya benar-benar tidak tahu. Maaf karena saya kurang sopan dalam menyambut anda. " Roy hendak berdiri dan memberikan salam kenal yang benar kepada Andhara.
" Ah, tuan. Jangan seperti itu. Wajar jika anda tidak tahu jika saya ibunya Arisa. Banyak yang berpikir jika saya lebih pantas menjadi kakaknya. Maklum tuan, saya dulu nikah muda. " jelas Andhara.
Roy kembali duduk di kursinya.
" Ah, lupakan tentang saya. Kita kembali ke topik awal. " potong Andhara. " Apa anda sudah lama mengenal Arisa? Saya perhatikan tadi kalian terlihat lumayan akrab. "
" Sebenarnya belum lama, nyonya. Kami bertemu dengan tanpa sengaja beberapa waktu yang lalu. Dan kebetulan juga, kami di pertemukan kembali sebulan yang lalu. " jawab Roy lancar.
Andhara manggut-manggut. " Apa motif anda berteman dengan anak saya? Maaf sebelumnya. Kalau saya lihat, sepertinya anda bukan teman sekolah. Karena setahu saya, penampilan anak sekolah menengah tidak seperti anda. Mereka akan lebih memilih memakai celana jeans belel dan kaos yang memperlihatkan bodynya. Juga rambut yang di buat berantakan. " tanya Andhara sambil kembali meneliti penampilan Roy .
" Ah, Anda benar sekali nyonya. Saya bukan teman sekolahnya. Mana ada seumuran saya masih sekolah menengah. Anda juga pasti bisa mengira-ngira usia saya. "
__ADS_1
" Hahaha... Ketahuan ya? " kekeh Andhara.
" Mmmm.... Sebenarnya, saya adalah atasan Arisa waktu Arisa magang di perusahaan saya. " ucap Roy.
" Oh, sama-sama anak magang? " gumam Andhara. Roy hendak membenarkan gumaman Andhara, tapi Andhara buru-buru menyela kembali.
" Sudah punya istri? " tanya Arisa .
" Belum nyonya. " jawab Roy setengah sadar sambil menggeleng.
" Pacar? " tanya Andhara kembali.
" Belum juga, nyonya. "
" Wah, hari gini, laki-laki sekeren anda, belum punya pacar? " kekeh Andhara.
" Coba gue masih muda. Udah gue libas nih cowok. Untung, gue udah punya Abang Julio yang jauh lebih ganteng dan lebih mateng. " gumam Andhara pelan .
" Maaf, anda bicara apa nyonya? Saya kurang jelas mendengarnya. " tanya Roy.
" Oh, bukan. Saya hanya lagi keinget, ikan saya di rumah, lupa belum saya kasih makan . " jawab Andhara asal.
" Oh, melihara ikan juga di rumah? "
" Jadi begini, tuan. Karena usia anda sudah lumayan matang, dan anda juga tidak memiliki pacar, apalagi istri, bagaimana jika anda menikah dengan putri saya saja? Sepertinya saya udah capek nyariin calon yang pas buat dia. " ucap Andhara to the point.
Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi yang jelas, ketika melihat sosok Roy, Andhara langsung srek. Tidak perlu di ospek lebih cermat, ia merasa sosok laki-laki di hadapannya ini adalah laki-laki yang tepat untuk putri satu-satunya.
" Maaf, nyonya. Maksud anda, anda ingin menjodohkan saya dengan putri anda? " tanya Roy memastikan. Ia sebenarnya di buat bingung. Bagaimana bisa seorang ibu menjodohkan putrinya dengan laki-laki yang bahkan baru di temuinya.
Andhara mengangguk sebagai jawaban.
" Kakaknya Arisa? " tanya Roy kembali.
" Anda bercanda tuan. Mana mungkin saya memiliki anak yang lebih tua dari Arisa. " Kekeh Andhara. " Arisa itu adalah putri tertua saya dan satu-satunya. Karena anak saya yang lain, semuanya laki-laki. " lanjutnya.
Ha? Segampang itukah? Ternyata lebih mudah menaklukkan ibunya daripada anaknya. batin Roy.
" Maaf, nyonya. Kenapa anda begitu mudah menjodohkan putri anda dengan saya? Padahal anda belum mengenal saya. Bahkan kita baru bertemu beberapa menit yang lalu. " ujar Roy. Ia adalah seorang pebisnis. Ia bukan tipikal orang yang dengan begitu mudah mempercayai orang lain.
" Feeling seorang ibu yang ingin yang terbaik untuk putrinya, insyaa allah Allah pasti akan memberikan yang terbaik. " hanya itulah yang Andhara ucapkan.
" Lalu bagaimana dengan jawaban anda, tuan? Apa anda keberatan untuk menikahi putri saya? " tanya Andhara.
Roy mengangguk mantap dan penuh keyakinan. " Saya akan menerima tawaran anda dengan senang hati, nyonya. "
__ADS_1
Andhara mengernyit heran. " Apa anda yakin? Anda tidak keberatan? Anda tahu kan, putri saya masih belum dewasa. Dia masih sekolah. Dia masih butuh bimbingan. Anda mungkin akan lumayan kesusahan ketika menjadi suaminya kelak. Arisa itu... agak sedikit bar-bar dan suka seenaknya sendiri. " jelas Andhara
Ia berusaha berkata jujur. Mengatakan bagaimana putrinya itu. Jadi kelak, calon menantunya itu tidak menyesal telah menikahi Arisa. Meskipun ia menyukai Roy, tapi ia juga harus memikirkan bagaimana ke depannya.
Roy tersenyum. " Anda jangan khawatir, nyonya. Saya sudah cukup mengenal putri anda. Sepertinya saya bisa mengatasinya. Asal anda tahu nyonya. Sebenarnya tadi saya melamar putri anda. Tapi dia menolak saya mentah-mentah. " ucapnya.
" Apa? Arisa menolak anda? Dan ... Anda ... Anda tadi melamar Arisa? " Andhara di buat tak percaya.
" Iya nyonya. " jawab Roy sambil tersenyum.
" Ah, iya. Sebagai calon menantu, saya belum memperkenalkan dirinya saya dengan benar, calon ibu mertua. " ucapnya. Roy lalu berdiri, merapikan pakaiannya, lalu dengan sedikit membungkukkan badannya, ia memperkenalkan dirinya.
" Nama saya Roy Aditama. Anda bisa memanggil saya Roy, nyonya. " ucapnya.
" Ah, iya. " Andhara ikut-ikutan berdiri dan membungkukkan badannya. " Saya Andhara. Andhara Nurmalia istrinya dokter Julio Enggar Prasetya, ibunya Polaris Amalthea Prasetya. " ucapnya paket komplit.
Roy tersenyum melihat tingkah calon ibu mertuanya. Sepertinya sang calon mertua ini tidak jauh beda dengan gadis yang ingin ia nikahi. Dan sepertinya ia bisa berguru kepada calon ayah mertuanya kelak.
" Tunggu .. Tunggu ... " Andhara menegakkan tubuhnya ketika ia menyadari sesuatu.
" Roy Aditama? Satu perusahaan dengan Arisa? Di Rakesh entertainment? Atasannya Arisa? Ah, jangan bilang anda..... " Andhara menghentikan omongannya. Ia menutup mulutnya yang menganga.
Oh my... Jangan bilang jika pria yang berdiri di hadapan gue ini, CEO Rakesh entertainment yang di gandrungi banyak perempuan. batin Andhara.
" Maaf, tuan Roy. Saya benar-benar tidak tahu. Duh, dasar mulut lemes! " Andhara memukul bibirnya sendiri. " Seharusnya saya tidak meminta anda untuk menikahi putri saya yang sesuatu. Hehehe... " lanjutnya merasa tidak enak hati.
" Nyonya.... "
" Sudah, sudah .. jangan di ambil hati permintaan saya tadi tuan. Lupakan saja. Saya akan mencarikan jodoh lain saja. Saya permisi. " Andhara rasanya ingin buru-buru kabur dari tempat itu. Ia segera meraih tasnya yang masih tergeletak di atas meja.
" Tunggu nyonya. " panggil Roy. Andhara menoleh.
" Meskipun anda tidak meminta, saya juga akan tetap menikahi putri anda. Jadi tolong, jangan lihat saya sebagai seorang CEO sebuah perusahaan. Saya adalah manusia biasa seperti yang lain. " ucap Roy.
" Tap-"
" Tolong nyonya. Jangan mencari jodoh lain untuk Arisa. Biar saya saja yang menjadi jodohnya. " potong Roy.
Andhara nampak bergeming. Ia nampak berpikir sejenak.
" Jika anda serius dengan niat anda, kami tunggu anda dan keluarga anda di rumah kami. " hanya itu yang bisa Andhara ucapkan.
Sungguh, ia di buat gemetar dengan kenyataan yang ada di depannya ini. Benarkah dirinya akan mempunyai menantu seorang CEO terkenal? Akan punya besan pemilik perusahaan raksasa yang menaungi banyak bidang usaha.
bersambung
__ADS_1