Om itu suamiku

Om itu suamiku
berbicara


__ADS_3

" Sini nak. Duduk deket ayah. " Julio melambaikan tangannya ke arah Arisa supaya sang putri duduk di sebelahnya. Di sofa yang berhadapan dengan Roy dan orang tuanya.


Masih dengan pikiran yang entah apa, Arisa berjalan perlahan menghampiri sang ayah. Ia ingin bertanya ke sang ayah, apa yang sebenarnya tengah terjadi.


Arisa menghenyakkan pan tatnya di sofa di sebelah ayahnya. Pandangannya tidak berpaling dari sang ayah.


" Ayah, ada apa ini sebenarnya? " tanyanya langsung ketika ia sudah mendaratkan pan tatnya di atas sofa.


Arisa mengernyitkan keningnya. " Ayah, kenapa baju Arisa samaan sama punyanya om itu. " ia menunjuk ke Roy dengan jari telunjuknya tapi pandangan matanya tak lepas dari sang ayah.


" Sayang, Arisa, putri ayah. Putri ayah sekarang sudah besar. Sudah hampir dewasa. " ucap Julio membuka ucapan.


" Kamu mengenal mereka? " tanyanya dengan penuh kehati-hatian.


Arisa mengangguk perlahan. " Om itu yang pakai baju yang sama kayak punyanya Arisa, CEO di tempat Arisa magang, ayah. " jawab Arisa.


" Lalu nyonya itu, mamanya om itu. Dan yang lagi hamil itu, adiknya om itu. Yang di sebelahnya, suaminya adik om itu. " bingung kan, dengan penjelasan Arisa. Begitulah Arisa. Suka seenaknya.


" Lalu, yang bapak itu, apa kamu tahu? " tanya Julio kembali.


" Kalau tidak salah, kakek itu, yang punya Rakesh entertainment. Berarti papanya om itu. "


Dih, Tuan Manoj di panggil kakek oleh calon menantunya? Sungguh calon menantu tak berakhlak. batin Lila sambil menggelengkan kepalanya.


" Eh, bukan kakek Ding. Om ajalah. Om tua gitu. " sambung Arisa. Membuat para sahabat somplak Andhara mengulum senyumnya. Coba saja mereka sedang tidak berada di dekat orang terhormat, pasti sudah pecah tawa mereka.


" Sayang, mereka berdua adalah orang tua dari Roy Aditama, pria yang kamu panggil om itu. Mereka datang kesini, untuk melamar kamu, untuk di jadikan istri oleh Roy. " jelas Julio.


Krik


Krik


Krik


Suasana tiba-tiba hening dan senyap. Hanya alunan nafas semua yang terdengar. Dan mungkin ada beberapa jangkrik yang sedang bernyanyi di luar sana.


Bahkan Arisa masih tidak bergeming. Ia masih menunjukkan raut wajah yang sama. Pandangannya masih tetap ke sang ayah.


Sedangkan Roy, ia mengamati Arisa semenjak tadi. Ia kini ingin segera tahu, bagaimana reaksi calon istrinya itu setelah mengetahui jika dirinya telah melamarnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Arisa bangkit dari duduknya, dan memutar badan, menjauhi sofa.


" Sayang... " panggil Julio. Semua mata mengikuti langkah Arisa. Begitupun dengan Roy. Hatinya sudah berdebar tak karuan. Ada rasa takut di tolak yang tiba-tiba mendera.


Arisa tidak mendengarkan panggilan sang ayah. Ia terus melangkah.


" Arisa .. " kini sang ibu yang memanggil. Bahkan Andhara sudah bersiap untuk mengikuti Arisa. Tapi di cegah oleh Roy.


" Tante, biar Roy saja. Biar Roy bicara empat mata dengannya. " pinta Roy. Dan Andhara pun mengangguk. Tapi raut wajah khawatir tak pergi dari wajahnya.


Roy bergegas menyusul Arisa yang entah melangkah kemana.


Arisa menghentak-hentakkan kakinya di lantai, menendang-nendangkan kakinya ke udara sembari mengangkat rok batik yang bercorak sama dengan kemeja yang di kenakan oleh Roy tadi.


 Ia juga memukul-mukul kursi yang tak bersalah yang berada di teras belakang. Di tempat akan di adakannya jamuan makan malam setelah acara pertunangan.


Arisa terus menggerutu sambil memukul, menendang, semua yang bisa dia lakukan, ia lakukan. Untuk mengekspresikan semua kekesalannya. Tanpa ia sadari, Roy sedang memperhatikannya sambil mengulum senyumnya.


Roy merasa lucu melihat aksi Arisa. Gadis yang sering ia sebut bocil itu memang masih kecil sepertinya. Melihat apa yang di lakukan gadis itu, ia bisa melihat jika memang gadis yang inginkan untuk mendampinginya itu masih bocil.


" Aarrrggghhhh!!!! " Teriak Arisa tertahan meluapkan seluruh kekesalannya. Lalu mungkin karena sudah kecapekan, ia menghentakkan pan tatnya kasar ke kursi yang tadi ia pukuli sambil dengan bibir yang cemberut.


" Udah capek nendang-nendangnya? Udah capek mukulin kursi yang nggak bersalah? " suara bariton Roy membuat Arisa memutar menoleh ke arah sumber suara.


" Kasihan loh kursi nggak ada salah apa-apa, kamu pukulin kayak gitu. " goda Roy. Ia ikut menghenyakkan pan tatnya di ruang kosong di sebelah Arisa.


Tahu akan hal itu, Arisa menggeser duduknya kasar sambil mengomel. " Ngapain sih ikut-ikutan duduk di sini. Nggak jelas banget. "


Bukannya marah atau tersinggung, Roy malah mengulas senyumannya. " Saya juga capek loh liatin kamu marah-marah dari tadi. Pengen duduk juga. Lagian, kursinya masih nganggur kan? "


" Iihhh!!! Pindah sana ih! Jangan deket-deket sama aku!! " pekik Arisa mengusir Roy.


" Dosa loh marah-marah sama calon suami. " goda Roy.


Kembali Arisa memutar bola matanya malas. " Ngaku-ngaku!! " sengaknya.


" Loh, beneran loh. Saya ini calon suami kamu. Tinggal pasangin cincin di jari manis kamu, kita udah jadi tunangan. Ayah sama ibu kamu, udah Nerima lamaran saya. " ujar Roy.


" Itu kan ayah sama ibu. Bukan aku! " sengit Arisa.

__ADS_1


" Lagian om ngapain sih kesini "


" Melamar kamu. "


" Kemarin kan aku udah nolak. Kok om masih ngotot aja sih. "


" Bukan nolak. Tapi kemarin kamu masih bingung aja. Aku yakin itu. " sahut Roy yang sudah membiasakan diri memakai aku kamu ke Arisa.


" Ihh! Sapa bilang?? Kalau aku nolak ya nolak. " sahut Arisa dengan meninggikan intonasi suaranya.


" Nolak di awal. Nerima belakangan. It's oke. " Roy masih bersikap santai. Ia masih mengajak Arisa untuk bercanda.


Arisa justru makin kesal. Ia memutar separuh tubuhnya hingga menghadap Roy.


" Om, kenapa sih maksa banget buat nikahin aku? Aku tuh udah punya pacar loh. "


" Bukan pacar. Laki-laki itu memang sedang ngejagain jodohnya aku. Dan sekarang, aku udah siap buat jagain jodoh aku sendiri. Jadi, udah saatnya dia ngelepasin kamu. " sahut Roy enteng.


" Makin ngeselin, tau nggak!! " Arisa masih belum mengubah nada bicaranya.


" Oh, ayolah Arisa. Semua keluarga sudah menunggu kita. Tinggal acara penyematan cincin, dan selesai acaranya. "


" OM! Berapa kali aku harus bilang? Aku nggak mau nikah sama om. " kekeh Arisa.


" Coba kamu kasih aku alasan kenapa kamu nolak. " kini suara Roy sudah berubah menjadi serius.


" Pasangan menikah itu karena cinta. Buat apa menikah jika tidak ada cinta? Toh, akhirnya akan berpisah juga kan? " jawab Arisa.


" Kamu salah. Tidak semua pasangan menikah karena cinta. Tapi mereka tetap bertahan sampai akhir. Karena cinta itu bisa datang dengan seiringnya waktu. Apa kamu tahu, banyak orang yang menikah setelah ta'aruf sekali. Mereka bahkan belum pernah saling mengenal sebelumnya. Tapi pernikahan mereka langgeng. " sahut Roy. Arisa terdiam mencerna apa yang Roy katakan.


" Tapi mereka tetap ada getaran di saat mereka bertemu pertama kali. Makanya om, mereka bisa cepat saling mencintai. " sahut Arisa.


" Lalu, bagaimana jika aku mengatakan, jika akupun sama seperti mereka? Aku pun merasakan getaran di saat pertama kali kita bertemu. " jawab Roy dengan pandangan lekat ke netra Arisa. Membuat Arisa sedikit salah tingkah. Ia bahkan mengalihkan pandangannya.


" Bagaimana jika selamanya cinta itu tidak pernah datang? Karena baik aku, ataupun om, tidak pernah ada rasa apapun. " jawab Arisa tanpa melihat ke arah Roy.


" Maka, ayo kita coba. Bagaimana kita akan tahu jika kita tidak mencobanya. Asalkan kita yakin jika cinta itu akan hadir di hati kita, maka Allah pasti memberikan rasa itu di hati kita. "


Arisa terdiam dengan banyak pertanyaan juga pertimbangan.

__ADS_1


Bagaimana?


bersambung


__ADS_2