
" Ih, cantik bener ponakan onty.... " puji Eka. Ia menunggui Arisa yang sedang di make up oleh Lila.
" Iyalah cantik. Emaknya aja kece Bade kek Luna May. " sahut Andhara.
" Sayangnya ibu, kenapa mukanya di tekuk gitu? Hem? " tanya Andhara karena sedari tadi, muka Arisa lecek kek kanebo habis di peres.
" Bu, bisa nggak di batalin?? " lirih Arisa sambil menunduk. Ia telah selesai di make up.
Arisa sedari tadi terus berpikir. Semakin di pikir, ia merasa semakin tidak siap. Bercita-cita menikah muda dengan laki-laki seperti sang ayah, memang keinginan Arisa semenjak kecil. Tapi kenapa ketika cita-cita itu sudah berada di depan mata, ia merasa belum siap. Ia takut.
Sedangkan Andhara kini menatap sendu ke arah sang putri. Ia pun sebenarnya belum siap melepas putri satu-satunya untuk menikah. Apalagi, pernikahan putrinya hari ini hanya ala kadarnya.
Tidak ada pesta, tidak ada undangan. Bahkan rumahnya hanya di dekor tipis-tipis. Masih terlihat meriah ketika Arisa dan Orion merayakan sweet seventeen mereka tahun lalu.
Tapi semua ini, ia lakukan juga untuk kebaikan sang putri ke depannya.
" Sayang...Putri ibu, buah hati ibu. Ayah, sama ibu melakukan semua ini untuk kebaikan kamu nak. Percayalah, suatu saat nanti kamu akan merasa beruntung menikah hari ini. " Andhara menggenggam tangan Arisa dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menangkup pipi kanan Arisa.
" Bukankah kamu ingin mempunyai suami seperti ayah? Ibu yakin, Roy bisa menjadi suami seperti yang kamu inginkan. Ibu yakin, kalian pasti akan bahagia. " lanjutnya. Lalu ia merengkuh tubuh Arisa dan di bawanya ke dalam pelukannya.
" Semua sudah siap. Mereka dari keluarga berkuasa. Jika kita membatalkan pernikahan ini sekarang, kamu bisa membayangkan kan, apa yang bisa mereka lakukan? Pada keluarga kita, pada kamu, pada pekerjaan ayah. " Andhara sedikit menakut-nakuti Arisa.
Akhirnya Arisa mengangguk. " Doakan Arisa ya Bu, onty Eka, onty Lila. " ia memandang Eka dan Lila bergantian dengan wajah sendunya.
" Pasti, sayang. " Jawab mereka bertiga bersamaan. Bahkan kini mereka bertiga memeluk Arisa bersamaan.
" ARISAA... " teriak Kaila yang sudah membuka pintu dengan cepat. " UPS. Maaf, Tante. Heheheh.... Kai nggak tahu kalau kalian lagi melow melow an. " ucapnya cengengesan.
" Ada apa Kai? " tanya Andhara.
" Keluarga pak CEO udah tiba tante. Om Julio minta Kai buat kasih tahu kalian. " jawab Kaila.
" Ya udah, kamu temenin Arisa dulu di sini. Tante mau keluar. Yuk La, Ka. " ajak Andhara.
" Siap Tante. "
" Sayang, kamu di sini dulu sama Kaila ya. Nanti kalau udah saatnya keluar, ibu jemput kamu. " Andhara berucap sambil mengelus pipi Arisa.
Lalu mereka bertiga keluar dari kamar Arisa yang sudah di dekorasi sedemikian rupa seperti kamar pengantin.
__ADS_1
" Wah, Sa. Beneran ini loe mau merid. Kamar loe udah kek kamar pengantin aja. " Kaila mengamati keadaan kamar Arisa. " Pakai bunga-bunga bertebaran gini. " ia mencomot beberapa helai kelopak mawar yang berada di atas ranjang Arisa.
Sedangkan Arisa hanya mendengus kesal.
" Entar malem, loe udah nggak perawan dong Sa. " ucapan Kaila sudah makin melantur. " Gue jadi bayangin, pak Roy buka jasnya, terus buka kemejanya, kelihatan tuh perut sixpack nya. So sek_si pastinya kan? Apalagi kalau dia buka juga celananya... " pikiran Kaila sudah melayang-layang.
Bugh
Arisa melempar bantal ke muka Kaila yang membuat Kaila terkejut. Dan buyarlah bayangan Kaila yang eksotis.
Bahkan otak Arisa tadi sempat terkontaminasi. Ia ikut-ikutan membayangkan apa yang di katakan oleh Kaila. Sebuah kata Sek_si selalu terngiang di telinganya.
" Kok gue di timpuk sih. " ujar Kaila. Tapi dirinya tidak marah. Ia mengembalikan bantal itu ke ranjang.
" Sa, calon laki loe, sumpah keren banget tadi. Cakep banget. Sumpah, gue masih nggak caya loe bakalan nikah sama dia. Iri gue jadinya sama elo Sa. " ujar Kaila heboh.
" Kalau loe mau, loe ambil aja sono. Gue ikhlas. " sahut Arisa santai.
" Loe nya ikhlas. Tapi dianya yang nggak ikhlas kalau gue minta dia buat jadi laki gue. " balas Kaila.
" Eh, si Miler gimana kabarnya? Loe udah mutusin dia kan? " tanyanya
" Belum. " Arisa menggelengkan kepalanya. " Gue masih bingung gimana mau mutusin dia. "
" Selingkuh kalau calon laki gue kagak tahu, pe'a! Orang dia tahu kok kalau gue masih pacaran sama Miler. Dianya kagak apa-apa. " sahut Arisa.
Di ruang utama, Roy nampak duduk di apit oleh papa juga mamanya. Ia menggenggam tangannya sendiri. Meskipun ia belum ada rasa cinta buat Arisa, tapi tetap saja ia nervous. Tangannya sudah basah dengan keringat dingin.
Sesekali matanya melirik ke setiap penjuru ruangan. Selain dirinya tegang karena hendak menghalalkan seorang gadis yang akan membuatnya mempunyai status baru, ia juga was-was takut takut jika Arisa berubah pikiran dan menolak pernikahan ini.
" Assalamualaikum. " sebuah suara mengagetkannya. Ternyata pak penghulu yang sudah tiba. Hatinya sedikit lega. Paling tidak, Arisa tidak punya kesempatan untuk menolak lagi.
" Silahkan pak. " ucap Julio mengantarkan penghulu yang juga seorang kiai di kompleksnya. Julio mengantarkan pak kiai itu ke tempat duduk yang telah di siapkan.
Dan setelah pak penghulu itu duduk, Roy di minta untuk menduduki kursi yang berada di depannya.
Dengan di dampingi oleh tuan Manoj, Roy duduk di kursi yang telah di sediakan untuknya.
***
__ADS_1
" Saya terima nikah dan kawinnya Polaris Amalthea Prasetya binti Julio Enggar Prasetya dengan mas kawin tersebut, tunai. " dengan sekali tarikan nafas, Roy berhasil mengucap ijab kabul atas nama Arisa.
Roy bernafas lega saat penghulu dan para saksi mengucap kata ' Sah ' bersama-sama. Ah, akhirnya dia sekarang menjadi seorang suami. Suami? Untuk seorang gadis kecil. Biarlah orang menyebutnya pedofil atau klorofil. Yang penting dirinya nyaman.
Tak lama setelah penghulu membacakan doa, perhatian semua yang ada di ruangan itu teralihkan ke objek sejak tadi di tunggu tunggu oleh Roy.
Istri. Mengingat kata itu sekarang, membuat Roy tergelitik. Ingin rasanya ia tertawa tapi ia tahan. Yang akhirnya dirinya hanya bisa menahan tawanya.
Tapi rasa ingin tertawa itu tiba-tiba menghilang dan berganti dengan rasa tegang. Jantungnya berdebar kencang dan sorot matanya yang tidak bisa ia alihkan saat ia melihat sosok yang sekarang menjadi istrinya.
Mata Roy bahkan tidak berkedip. Ia menatap dan mengikuti setiap pergerakan Arisa. Baginya, malam ini, Arisa terlihat dewasa dengan riasannya. Tapi tak menutupi wajahnya yang terlihat imut.
Dalam balutan baju kebaya berwarna senada dengan dengan jas Roy, dan siger di kepala, membuat Arisa nampak anggun. Tidak terlihat sama sekali bagaimana kesehariannya.
Arisa berjalan menghampiri Roy dengan di gandeng oleh sang ibu juga Lila.
" Karena nikahnya baru bisa secara agama, jadi tidak ada acara tanda tangan buku nikah ya. " celetuk pak penghulu kala Arisa sudah di duduk di samping Roy, suaminya.
Suami. Cie .. cie...
" Langsung pasang cincin saja. " lanjutnya.
Ruby segera beranjak dari duduknya dan menghampiri pengantin baru itu. Ia membuka tempat cincin dan menyodorkannya ke pengantin baru itu.
Roy berinisiatif mengambil terlebih dahulu cincin itu, lalu mengambil tangan kanan Arisa dan menyematkan cincin nikah itu di jari manis Arisa sebelah kanan.
Tangan Arisa terasa dingin dan sedikit berkeringat. Roy bisa merasakan itu.
" Di cium tangan suaminya, nak. " ujar Ruby
Arisa mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah mama mertuanya dan di sambut senyuman hangat.
" Harus, ya? " tanya berbisik ke Roy. Dan Roy menganggukkan kepalanya. Lalu ia menyodorkan tangan kanannya.
Sedangkan Arisa terlihat memanyunkan bibirnya sambil menggerutu tidak jelas. Tapi tak urung, ia menjabat tangan Roy dan mencium punggung tangannya menggunakan hidungnya dengan sangat cepat.
Lalu Ruby kembali menyodorkan cincin lagi. Kali ini ke Arisa. Arisa pun mengambil cincin itu, dan menarik dengan kasar tangan kanan Roy dan menyematkan cincin itu dengan gerakan cepat. Membuat Roy berdecak.
Setelah cincin itu tersemat, Roy mendekatkan wajahnya ke Arisa membuat Arisa memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
" Mau apa? Awas ya kalau macam-macam. " peringatnya.
bersambung