Om itu suamiku

Om itu suamiku
Nggak romantis


__ADS_3

" Jadi sekarang, bagaimana dengan perasaan kamu? Apakah kamu juga mencintaiku? " tanya Roy.


Deg


Arisa terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Jantungnya kembali berdebar - debar. Apakah benar dirinya telah jatuh cinta kepada suaminya sendiri?


Arisa bingung. Ia memang benar pernah jatuh cinta. Kepada Miler. Tapi rasa yang ia rasakan dulu, dengan rasa yang saat ini ia rasakan berbeda. Bahkan jauh berbeda. Yang ia tahu, ia merasa sakit dan kesal kala suaminya lebih memperhatikan perempuan lain ketimbang dirinya.


Ia merasa kesal kala suaminya lebih mementingkan orang lain ketimbang dirinya. Dan ia juga tidak suka jika suaminya itu dekat dengan perempuan lain. Atau bahkan ia juga tidak suka jika ada perempuan lain yang terlalu banyak memandang sang suami.


Cemburu? Sepertinya iya. Pikir Arisa setelah ia berpikir sedari tadi. Bukankah kalau ada cemburu, berarti ada cinta?


Ah. Benarkah aku jatuh cinta sama om om ini? Tanya Arisa dalam hati sambil melirik ke arah Roy yang masih setia menunggu jawabannya.


Jadi, gue mencintai om Roy? Benarkah? tanyanya lagi dalam hati dengan hati yang terasa menggelitik.


Sembunyi-sembunyi, Arisa mengulum senyumnya dengan melipat kedua bibirnya ke dalam. Tapi sayang, semua gerak gerik Arisa itu tertangkap di layar monitor otak Roy.


Roy tersenyum tipis. " Gimana? Kok nggak di jawab? Abang udah nyatain perasaan abang loh. Abang mencintai kamu, Arisa istriku. "


" Nyatain cinta tapi nggak spesial. Mana aku lagi kesel lagi. Cih, nggak romantis. " gumam Arisa sambil berdecih.


Roy tersenyum tipis. Benar, ia memang sangat tidak romantis. Menyatakan cinta tidak membawa apa-apa. Mana di siang bolong begini lagi. Di bawah panas matahari yang terik.


" Akan aku kasih yang romantis. Tapi nanti. Kamu jawab dulu, kamu cinta juga tidak sama aku? "


" Ck! Kok maksa sih!" ujar Arisa pura-pura ketus. Ia langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan Roy begitu saja. Ia tidak ingin Roy melihat pipinya yang merona.


Tapi baru beberapa saat, ia kembali. Membuat Roy di liputi tanda tanya.


" Jajanan nya ketinggalan. Sayang kalau nggak di makan. Mubadzir. Nggak ngehargain uang jatohnya. " Arisa memberikan pembelaan.


Padahal sedari tadi sebenarnya ia memang sudah sangat menginginkan makanan itu. Tapi ia lebih menjaga image nya. Lebih tepatnya, ia masih gengsi.


Arisa berjalan lebih dulu menuju ke mobil Roy yang terparkir, sambil membuka salah satu jajanan yang di tentengnya setelah tadi ia menyeruput es bobanya.


Roy mengikuti dari belakang langkah sang istri sambil mengulum senyumnya. Ia bahagia, setidaknya ia yakin, sang istri sudah tidak marah. Ia bahagia, akhirnya sang istri mau untuk dia ajak pulang.


Blug


Arisa menutup pintu mobil setelah tadi ia masuk tanpa menunggu suaminya. Roy, memasuki mobilnya selang beberapa saat setelah sang istri masuk.


" Lapar? " tanyanya sambil tersenyum tipis ke arah sang istri.


" Banget! Ngerti kan bang, Arisa tuh lagi masa pertumbuhan, baru pulang sekolah, mana nggak di kasih makan siang lagi. " sahutnya nyerocos.


" Sorry. " ucap Roy sambil mengusap lembut puncak kepala Arisa.


" Mau makan di restoran kita, apa di cafe kita ? " tanya Roy.


" Ishhh....Abang nggak modal banget sih. Ngajaknya yang gratisan mulu. " ledek Arisa.

__ADS_1


Hati Roy lega, mendengar sang istri yang sudah kembali cerewet kembali. Setidaknya, kini mood sang istri sudah kembali.


" Oke, istriku tersayang mau makan siang di mana? " tanya Roy lembut sambil memiringkan tubuhnya menghadap sang istri.


" Haisshhh!!! Abang ih! Nggak usah pakai lebay napa? Geli tahu dengernya. " protes Arisa. Tapi ia langsung memalingkan wajahnya menghadap ke jendela.


Ia memang merasa geli. Tapi baper juga. Membuat mukanya memerah.


" Wajah kamu, kenapa merona dari tadi? Kalau seneng di gombalin, bilang aja. Nggak usah di tutup-tutupi. " canda Roy.


" Ih, siapa coba yang merona. Emang udaranya aja yang panas. Gerah jadinya. Mana abang ngajakin ke taman lagi siang bolong gini. " elak Arisa membela diri. Padahal sejatinya, ia memang merona.


" Udah, buruan jalan. Sebelum aku pingsan di sini. " ketusnya.


" Baiklah, nyonya Arisa Aditama. " jawab Roy santai sambil tersenyum dan mulai menjalankan mobilnya perlahan.


" Mau di ci *ox nggak? " tawar Roy kala mobilnya sudah mulai berjalan perlahan keluar dari area parkir. Ia menoleh sambil tersenyum smirk ke arah sang istri.


Sontak Arisa menoleh. " Apaan sih ah!! Me sum deh ih! " protes Arisa kesal sambil menutup bibirnya dengan punggung tangannya.


Hahahahah.... Roy langsung tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Arisa.


🌷🌷🌷


" Banyak banget pesennya, bang? " tanya Arisa melihat banyaknya makanan yang tersaji. Mereka kini berada di sebuah restoran terkenal di kota Bandung.


" Kayak yang nggak makan seharian. " lanjutnya. " Aku tadi pagi udah sarapan loh. Udah jajan juga di kantin. "


" Abang emang belum makan dari tadi pagi. " jawab Roy enteng sambil mengambil menu makanan pesanannya.


" Nggak naf su makan. Istrinya abang hilang. " jawab Roy santai tanpa melihat ke arah Arisa.


Mendengar jawaban Roy, Arisa mencebik. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia belum mengambil makanannya sedangkan Roy sudah menikmati makanannya.


" Isshh!!! " cebik Arisa.


" Nggak makan? " tanya Roy kala melihat Arisa belum menyentuh makanannya.


" Entar. Ciloknya masih nyangkut di tenggorokan. " sahut Arisa asal.


" Keburu dingin entar nggak enak. " ujar Roy.


Akhirnya Arisa kembali menegakkan tubuhnya dan mulai menyantap makanannya. Mereka makan dalam diam.


Sampai akhirnya Roy menyelesaikan makan siangnya, sedangkan Arisa masih menikmati makanannya karena belum habis.


" Abang ngapain sih, liatin terus?? " ujar Arisa tanpa melihat ke arah suaminya yang memang sedari tadi terus menatapnya hingga membuatnya canggung ketika sedang menikmati makanannya.


" Kenapa? Kan liatin istri sendiri. Bukan istri orang lain. "


Arisa langsung mendelikkan matanya ketika mendengar jawaban Roy. Ia tidak suka. Sangat tidak menyukai jawaban sang suami.

__ADS_1


" Awas aja berani lihat istri orang lain. " omel Arisa dan membuat Roy menipiskan bibirnya.


Roy terkekeh. Tapi ia masih tetap memandang sang istri.


" Abang!!! Ih!!! Jangan liatin mulu. " ujar Arisa kesal. " Arisa jadi nggak nyaman makannya. "


" Takut kalau abang nggak lihatin kamu, kamunya hilang lagi. "


" Ck! Bini hilang juga karena lakinya aja yang meleng. Kalau nggak Meleng juga bini nggak kemana-mana. " gerutu Arisa.


" Aku mencintaimu. " ucap Roy.


" Uhuk ... Uhuk .." Aris tersedak mekanannya mendengar ucapan cinta Roy.


" Sorry... Sorry ... Minum dulu. " Roy mengarahkan gelas minuman milik Arisa ke depan Arisa. " Habisnya, abang selalu aja pengen bilang cinta tiap mandang kamu. " lanjutnya.


" Isshh!! " kembali kedua pipi Arisa merona. Ia lalu terdiam dan Roy masih tetap memandang wajah Arisa.


" Bang, aku mau pulang ke rumah ayah lagi. " lirih Arisa ketika ia selesai dengan makanannya.


Roy menghembuskan nafasnya perlahan. Ia lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia menunduk dan memejamkan matanya sesaat.


" Aku masih kangen sama ayah sama ibu. " cicit Arisa. " Mana semalam belum ketemu sama Ori sama Kevin juga. "


Roy masih diam.


" Abang nggak ikut nginep sana juga nggak pa-pa. Abang pulang aja. Arisa sendiri aja yang nginep rumah ayah. Besok, aku sekolahnya barengan ayah lagi kek tadi pagi. " lanjutnya.


" Arisa janji, kalau kangennya udah ilang, Arisa bakalan pulang ke rumah papa mama. " imbuhnya lagi.


" Oke. Nggak pa-pa. Abang ijinin kamu nginep di rumah ayah. Tapi harus sama abang. " sahut Roy.


" Ck! Abang nggak ikut, nggak pa-pa. " sahut Arisa. Ia sebenarnya ingin tinggal di rumah itu tanpa suaminya. Ia ingin mengenang masa dulu. Kalau sang suami ikut, sudah di pastikan ia akan di minta menghabiskan waktunya dengan sang suami.


" Arisa janji, nggak ilang lagi deh. " tawar Arisa.


" Nggak! Kalau abang nggak ikut, berarti kamu juga nggak. " tegas Roy.


Akhirnya Arisa mengalah. Daripada ia tidak diperbolehkan pulang ke rumah sang ayah, lebih baik ia mengajak Roy pulang kesana juga.


Sebenarnya, ia belum siap saja pulang ke rumah Rakesh setelah apa yang ia rasakan kemarin.


Bersambung


...Holaaa epribadehhhh.......


Cuma sekedar intermezo aja sih...


Othor minta maaf kalau ceritanya nggak sesuai dengan ekspektasi reader semua... Othor baca dari komenan kalian, kalian pengennya Arisa marahnya lama... Tapi gimana dong??? Arisa udah terlanjur tersipu sama ungkapan cinta suami...


Lagian, mereka kan udah suami istri. Jatohnya dosa kalau marahan lama-lama. Nggak dpt ridho suami nanti kalau Arisa bilang.

__ADS_1


Di tambah lagi, Arisa masih masa puber kan ya? Jadi gampang baper... Mana dia juga sebenarnya udah cinta sama Roy...


Tapi yang pasti sih... Semua sudah jadi alur cerita yang othor bikin... Jadi maaf ya, kalau udah bikin para reader kecewa...🙏🙏🙏


__ADS_2