Om itu suamiku

Om itu suamiku
Tamu


__ADS_3

" Onty, emangnya mau ada acara apa sih? " tanya Arisa ke Lila yang saat itu sedang mendandani dirinya. Ternyata bakat Lila semenjak dulu tersalurkan juga. Sekarang ia sudah menjadi MUA yang lumayan terkenal di ibukota.


" Ulang tahun Risa masih bulan depan loh. " lanjutnya sambil mengikuti semua gerak gerik Lila.


" Emangnya, kita boleh tampil cantik kalau acara ulang tahun doang? Nggak kan? " sahut Lila sambil mengoleskan blush on di pipi Arisa.


" Iya. Tapi ngapain juga Risa pakai di dandanin kayak gini? Kan yang punya acara ayah. Kenapa bukan ayah aja yang di dandanin? "


" Ck! Masak iya, onty kasih lipstik, kasih blush on ke ayah kamu. Yang ada entar onty di kasih obat tidur sama ayah kamu. " timpal Lila.


" Ya... Seenggaknya ibu lah yang onty dandanin. Bukan Risa. Sumpah ya onty, Risa tuh paling males di dandanin kek gini. Risa nggak suka. " rengek Arisa.


" Ibu kamu udah bisa dandan sendiri, sayang. Udah nggak butuh onty lagi. Kalau dulu pas ibu sama ayah kamu nikah, onty juga loh yang dandanin. "


" Tapi kan Risa sekarang nggak mau nikah, ontyyyy.... " rengek Arisa sambil cemberut.


" Udah deh, sayangnya onty diem dulu. Tinggal pakai lipstik, kelar deh. Kalau pakai lipstik terus kamunya ngomel terus, entar lipstik nya meluber kemana-mana. " sahut Lila. Ia mengambil sebuah lipstik dari dalam tas kosmetiknya.


" Lipstik nya jangan yang warna merah menyala ya onty. Entar Risa jadi kelihatan kayak habis makan daging mentah. Berdarah-darah. " ucap Arisa sambil mengamati gerakan Lila mengambil lipstik dari dalam tasnya.


" Tanggung beres deh sama onty. Habis ini, kamu bisa ngaca. Onty jamin, kamu nggak bakalan ngeluh lagi lihat wajah cantik kamu, jadi makin cantik. " jawab Lila. Ia sudah menemukan lipstik dengan warna yang cocok dengan gaun tertutup yang Arisa kenakan.


Dengan pelan, Lila mengaplikasikan lipstik itu di bibir Arisa. " Nah, sempurna. " ia memandang takjub ke arah Arisa yang memang sudah memiliki wajah cantik keturunan dari sang ibu juga ayahnya.


Perpaduan yang sangat sempurna kalau Lila boleh bilang. Andhara berwajah cantik, dan Julio juga tampan.


" Sekarang, tinggal onty pakaikan hijabnya ya. Biar auranya kelihatan. "


" Aura kasih, onty?? " celetuk Arisa dan Lila tersenyum renyah.


Lila berjalan menghampiri ranjang, dan mengambil hijab Arisa yang berada di atas ranjang. Lalu ia kembali menghampiri Arisa, merentangkan hijab pashmina itu, lalu menelangkupkannya menutupi kepala Arisa. Memasang peniti di sana sini, hingga hijab itu terpasang sempurna.


" Waw, perfecto. " ucap Lila sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.


Lila memegang kedua bahu Arisa, lalu menyuruh Arisa berdiri.


" Yuk, pakai sepatu kamu, terus berdiri. "


Arisa mengikuti arahan Lila. Ia mengenakan sepatu dengan heels setinggi 5 cm yang sudah Lila siapkan pula.

__ADS_1


Setelah Arisa memakai sepatunya, dan berdiri, Lila memutar tubuh Arisa hingga sekarang Arisa bisa melihat dirinya di cermin.


" Wuaaahhh.... Arisa bukan ini onty? Kok malah kek Amanda Manope? " ucap Arisa sambil mengamati dirinya. Mulai dari wajahnya, gaunnya, semua penampilannya.


" Kalau kek gini, bisa-bisa ayah nggak ngenalin anaknya sendiri nih. Bisa-bisa di ajakin selingkuh sama onta onta. " kekehnya.


" Hmm!!! Awas aja!! " ketus Lila


" Onty tenang aja. Risa juga nggak bakalan mau kok. Udah pada mau udzur juga. Mendingan nyari yang masih fresh from the oven. " sahut Arisa.


" Bayi dong Sa. " sahut Lila dan di sambut tawa oleh Arisa.


Sedangkan di luar kamar, tepatnya di ruang depan rumah Julio, tamu yang di tunggu-tunggu sudah tiba. Terlihat beberapa mobil mewah memasuki pekarangan rumah Julio.


Para sahabat Andhara, Julio, juga Andhara, di dampingi oleh emak Komsah juga orang tua Julio, berdiri menyambut tamu.


" Masya Allah... Bang, kenapa mobilnya bagus-bagus bener? Banyak lagi. " bisik Andhara.


" Mana abang tahu, neng. Kan kamu kemarin yang di telponin sama si Roy. " jawab Julio juga dengan berbisik.


" Dia kemarin bilangnya cuma dateng sama orang tuanya loh bang. Kagak satu kompi gini. Mana muat rumah kita. Kita itung aja, satu mobil isinya 5 orang. Nah, itu ada 6 mobil. 30 orang dong bang. " bisik Andhara kembali.


" Ih, Abang. Mana muat lah mobil kecil-kecil gitu di isi 10 orang. Di kira pakai mobil elf. " sungut Andhara yang membuat Julio terkekeh sambil menelusupkan tangannya ke pinggang sang istri.


" Kamu tenang saja. Kalau rumah kita nggak muat, kita taruh aja sebagian di rumah ayah. " ucap Julio sambil mengelus pinggang sang istri.


Tak berapa lama, Roy nampak keluar dari dalam mobil yang berada di paling depan. Ia keluar dari pintu samping kemudi. Itu artinya, dia membawa sopir.


 Lalu ia berjalan menuju ke mobil yang ada di belakangnya, lalu membuka pintu belakang mobil. Dari dalam mobil itu, keluarlah sepasang pria dan wanita paruh baya. Yang di yakini Andhara, jika mereka pasti orang tua Roy. Bakal besannya.


Lalu dari mobil ketiga, turunlah sepasang suami istri, dimana sang istri tengah hamil. Dengan kapasitas perut yang lumayan besar. Terlihat sang suami membukakan pintu untuk sang istri dan membantunya keluar dari dalam mobil.


Dan dari mobil keempat, kelima, juga keenam, tidak ada lagi penumpang yang keluar.


Dari kelima tamu yang datang ke kediaman Julio, mereka mengenakan kemeja batik yang sama, dan dua orang wanita memakai baju brokat dengan warna yang sama pula.


Setelah kelima orang itu keluar, mereka berjalan bersama menuju rumah Julio. Roy berjalan di samping kedua orang tuanya, sedangkan pasangan yang satunya, yang bisa di pastikan jika itu adalah Selsa dan Elyas, berjalan bergandengan di belakang tuan Manoj dan Ruby.


" Assalamualaikum.. " sapa Roy saat ia sudah sampai di depan pintu rumah Julio.

__ADS_1


Julio dan Andhara bergandengan berjalan menghampiri pintu.


" Waalaikum salam. " jawab Julio dengan senyuman lebar menyambut calon besan dan calon menantunya.


" Apa kabar om? " ujar Roy sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Julio. Tanpa Julio memperkenalkan diri, sepertinya Roy sudah tahu jika laki-laki yang berdiri di depannya ini adalah calon mertuanya.


" Alhamdulillah, om baik. " jawab Julio.


" Apa kabar, Tante? " ujar Roy ganti menjabat tangan Andhara.


" Alhamdulillah, tante juga baik. " jawab Andhara.


" Oh iya, perkenalkan ini papa, sama mama Roy. " ucap Roy memperkenalkan tuan Manoj dan Ruby bergantian.


Julio menyambut mereka dengan baik. Ia menyalami bakal calon besannya bergantian.


" Saya Julio, ayah dari gadis yang akan di pinang oleh nak Roy. " ucap Julio memperkenalkan diri.


Begitupun Andhara. Ia juga menyalami kedua orang tua Roy. Tapi Ruby rupanya menarik Andhara dan malah memeluknya. Lalu mereka cipika cipiki. Padahal Andhara sudah nervous dengan kedatangan mereka. Ia khawatir jika ia melakukan kesalahan dan membuat malu keluarga di depan keluarga terpandang seperti tuan Manoj.


" Dan mereka... " Roy memindahkan tubuhnya ke samping, dan memperkenalkan Selsa juga Elyas. " Dia adalah adik saya satu-satunya. Dan dia adalah adik ipar saya. "


" Halo, Tante. Halo om. " sapa Selsa sambil menyalami Julio dan Andhara bergantian. Sama seperti sang mama, Selsa juga mengajak Andhara cipika-cipiki.


" Assalamualaikum om, Tante. " sapa Elyas. Ia juga menyalami keduanya.


" Waalaikum salam. "


" Oh, sampai lupa. Kok malah tamunya di biarkan di luar begini. Mari silahkan masuk. " ujar Andhara. Lalu ia dan juga Julio memberi jalan untuk Roy dan keluarganya masuk ke dalam rumah.


Setelah mereka masuk, Julio memperkenalkan semua anggota keluarganya dan juga para sahabat Andhara tanpa terlewatkan. Karena yang berada di sana hanya orang tuanya, ibu mertua, ketiga putranya, Putra, Soni, Lila, juga Eka.


Setelah mereka berbincang sebentar untuk saling berkenalan, tiba-tiba ada 6 orang pria yang membawa banyak sekali barang-barang. Barang seserahan yang sudah di siapkan oleh Ruby juga Selsa.


Andhara dan sahabat somplaknya sampai di buat melongo dengan barang-barang yang di bawa para pria itu hilir mudik seperti tiada habisnya.


Benar-benar keluarga sultan. Pikir mereka.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2