Om itu suamiku

Om itu suamiku
Mbak Kun ti


__ADS_3

" Kapan pulang, banggg???? " rengek Arisa.


" Bentar lagi. Pekerjaanku ada yang belum beres. " sahut Roy tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang ada di atas meja kerjanya.


Bukan pekerjaan yang ada di kantor yang belum beres. Melainkan pekerjaan yang ada di rumah yang sedang di kerjakan Orion yang belum beres.


Roy tadi sempat menghubungi Ori, menanyakan bagaimana persiapan di rumah, tapi kata Ori, masih 90%. Alhasil, dia harus bisa menahan Arisa supaya tidak pulang dulu.


" Tapi ini udah malam loh bang. Aku belum mandi. Rasanya gerah ini. Lengket. Masak seragam ini aku pakai mulai jam 6 pagi, sampai jam 6 sore gini. 12 jam loh. " cerocosnya.


" Ya sudah, kamu mandi aja di dalam dulu sana. Sekalian wudhu, persiapan sholat magrib. Abang nanti juga mau mandi dulu di sini kayaknya. "


" Masak habis mandi masih pakai seragam ini lagi. Jijik lah. " rengek Arisa.


" Abang udah siapin baju ganti buat kamu juga. Ada di almari deket kamar mandi. Barengan sama bajunya abang. " jelas Roy.


" Bilang kek dari tadi. Badan udah kumel and lecek kayak kertas bungkus bakwan gini. " dumel Arisa sambil melepas kerudungnya.


" Eh, ada yang masuk nggak ya bang? Aku mau buka kerudung nih. " tanyanya.


" Nggak. Semua karyawan udah pada pulang. Palingan tinggal sekuriti yang masih ada. " jawab Roy.


" Oh. " Arisa ber oh ria, lalu melanjutkan melepas kerudungnya.


Setelah jilbabnya terlepas, ia melipatnya, dan hendak memasukkannya ke dalam tas, tapi ia tahan.


" Bang, baju gantinya, ada kerudungnya juga nggak? " tanyanya ke Roy terlebih dulu.


Roy mengangguk, " Ada. "


Arisa lalu melanjutkan memasukkan kerudungnya ke dalam tas. Ia lalu bangkit, menuju sebuah ruangan yang ada di sebelah meja Roy. Arisa sangat tahu ruangan apa itu.


Ruangan kecil tempat Roy biasanya melepas penat barang sesaat. Dalam ruangan itu juga ada kamar mandi, ranjang kecil, juga almari kecil.


Arisa pernah masuk ke ruangan itu dulu waktu dirinya masih jadi asisten magang suaminya. Kala itu, ia sedang kebelet pi pis, dan tidak bisa menahan jika harus ke kamar mandi yang ada di ujung lorong lantai ini.

__ADS_1


" Abang jangan ngintip loh kalau aku lagi mandi. Entar bintitan. " Arisa melongokkan sedikit kepalanya keluar dari dalam ruangan sambil memandang penuh ancaman ke sang suami.


" Ngapain ngintip? Kayak yang punya siapa aja. Semua yang kamu punya, itu milik abang juga. " sahut Roy tanpa menoleh ke arah Arisa.


Arisa berdecak lalu mencebik. Sambil masuk ke dalam ruangan.


Roy mengulum senyumnya ketika Arisa sudah masuk ke dalam kamar kecil di ruangannya itu dan menutup pintunya sedikit kasar. Bukan Arisa namanya jika melakukan apapun dengan halus.


Selesai mandi, Arisa keluar dari dalam kamar kecil milik CEO.


" Abang, kok bajunya mirip gaun gini? Kek mo ke pesta aja. " ujar Arisa sambil memperhatikan penampilannya. Rambutnya masih basah, jadi ia belum mengenakan kerudungnya.


Roy mendongak, menoleh ke arah Arisa. " Pakai aja yang ada. " ujarnya.


" Iya ini juga di pakai. Emang adanya ini doang. Kirain tuh baju santai gitu. Celana jeans sama kaos gombrong. Enak, adem. " sahut Arisa.


Roy berdiri dari duduknya. " Tunggu dulu bentar. Abang mandi. Nanti sholatnya kita jama'ah. "


" Hem. " Arisa mengangguk. " Baju abang udah aku siapin di atas kasur. " teriaknya karena sang suami sudah masuk ke dalam kamar.


Arisa berjalan menuju kaca besar yang ada di belakang meja Roy. Sambil menyisir rambutnya yang basah menggunakan jari jemarinya, Arisa melihat pemandangan yang tersaji. Kelap kelip lampu jalanan, lampu dari bangunan - bangunan tinggi yang terlihat dari sana.


Hingga suara bariton sang suami terdengar.


" Ayo sholat magrib dulu. "


Arisa menoleh, ia mendapati sang suami yang sudah selesai mandi. Rambutnya juga basah. Tapi tak sebasah rambut Arisa yang sampai menetes-netes airnya seperti air liur buaya. Rambut Roy pendek. Jadi di gosok sebentar menggunakan handuk saja, rambutnya akan cepat kering.


Arisa mengangguk, lalu berjalan menuju ke sofa untuk mengambil mukenanya dari dalam tas sekolahnya. Ia memang selalu membawa mukena ke sekolah.


Setelah mengambil mukena, ia berjalan menuju kamar kecil milik CEO. Di sana, Roy nampak sudah menggelar dua sajadah. Arisa lalu segera mengenakan mukenanya dan mereka sholat berjamaah.


Selesai sholat, Arisa lalu menaruh kembali mukenanya ke dalam tas. Ketika ia hendak beranjak, Roy menariknya, dan menyuruhnya duduk di kursi depan meja kerjanya.


" Mau ngapain? " tanya Arisa sambil mendongakkan kepalanya ke arah Roy yang sedang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


" Udah diem. " jawab Roy sambil mengubah arah kepala Arisa menjadi menghadapi lurus ke depan.


" Abang bantu keringin rambutnya. Biar nanti jilbabnya nggak basah. " lanjutnya


Roy mengusap-usap, menggesek-gesekkan handuknya di tangannya ke rambut Arisa.


" Jangan kenceng-kenceng loh bang. Entar rambut aku pada rontok. Botak dong jadinya. " kekeh Arisa.


" Kalau buat botakin rambut kamu, abang pakai alat cukur aja sekalian. " sahut Roy. Ia mengeringkan rambut Arisa dengan lembut, hingga membuat Arisa begitu menikmati.


Arisa menikmati sambil memejamkan kedua matanya, dengan kedua sudut bibir yang terangkat.


" Bang, kalau malam-malam gini, kantor udah sepi, suka ada juriknya nggak? " pertanyaan absurb Arisa layangkan.


" Juriknya siapa? " sahut Roy.


" Ya... Siapa tahu gitu bang. Biasanya gedung - gedung perkantoran karena kalau malem suka sepi, suka ada penampakan. Ada gende ruwo, ada mbak kunti, ada mas po cong, ada suster nge sot juga. Sayang, nggak ada zombie nya. " celoteh Arisa.


" Kalau suster nge sot adanya di rumah sakit, di klinik. Mana ada suster kerjanya di kantor entertainment gini. Yang ada kalau di sini tuh mak lampir, geran dong. Di lantai 5 biasanya. " jawab Roy yang ikut-ikutan absurb sang istri.


" Ih, abang. " Arisa menoleh ke arah Roy. " Itu mah hantunya lagi pada syuting. " cebiknya.


Roy kembali mendorong kepala Arisa hingga kembali menghadap ke depan.


" Habisnya, kamu, nanya yang enggak-enggak. " sahut Roy.


" Ya penasaran aja gitu. Siapa tahu kita di sini bisa sekalian uji nyali. Entar kalau beneran ada, kita panggil tuh mbak Sa_rah Widjaya. Biar bisa di rasuki. Hantunya biar bilang, ada pesan dan kesan apa gitu. Siapa tahu dia jadi hantu gentayangan karena masih ada yang ganjel di hatinya. " celoteh Arisa panjang lebar.


" Kamu mau uji nyali? Nanti abang ajakin deh ke gedung yang ada di pojokan perempatan depan sana. Banyak yang bilang, di sana sering ada suara-suara aneh kalau malem-malem gini. Tapi abang terus balik. Kamu di sana sendirian. Soalnya hantunya suka nggak mau keluar kalau kitanya ramai-ramai. " jawab Roy ikut-ikutan panjang lebar.


Baru bersama dengan Arisa Roy bisa berbicara panjang dan lebar seperti ini.


Arisa mencebik mendengar jawaban dari Roy. " Yang ada entar akunya ken cing sambil berdiri. Bisa di ketawain lah sama mbak Kunti. " gerutunya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2