
" Ri, ibu mau di sini ajalah. " rengek Andhara ke Orion putranya.
Ternyata bukan hanya Orion yang sibuk mengurus kejutan buat Arisa. Sang ibu juga tidak mau ketinggalan.
" Ibu ada-ada aja deh. " sahut Orion. Ia hendak mengunci pintu rumah Roy karena tugasnya sudah selesai.
Ia harus segera pergi dari rumah ini sebelum kakak iparnya dan kakaknya sampai rumah. Karena tadi, Roy sempat memberi kabar jika mereka sedang di jalan.
" Ibu mau ngapain coba di sini? " tanyanya.
" Ya.... Ibu mau lihat lah surprise nya gimana. Lancar apa nggak.... Siapa tahu kan, balonnya ada yang meletus. Atau bunganya pada layu. " Andhara memberi alasan.
" Emang kalau balonnya meletus, ibu mau niup yang baru? Kalau bunganya layu, ibu mau nyiram, gitu? Ck! Bilang aja ibu kepo... "
" Ck! " Andhara berdecak kesal. " Nggak pren lah kamu sama ibu Ri. Ibu kan pengen lihat, kejutannya berhasil apa nggak. Siapa tahu si Roy malah jadi khilaf, terus ngapa-ngapain kakak kamu. Arisa kan masih sekolah. Kalau dia hamil, gimana? " Andhara beralasan lagi. Tapi kini ia melipat wajahnya kesal.
" Ibu! Kenapa mesti bingung kalau kakak hamil? Ada suaminya ini. "
" Ck! Kamu ini mana ngerti. "
" Lagian, ibu kan udah ngalamin kan, hamil waktu masih sekolah. Masih muda, udah punya anak. Jadi usianya nggak jauh beda. Bisa lah di ajakin asyik-asyikan bareng. Selama ini ibu juga gitu, kan? "
" Iya juga sih. Tapi kan, ibu dulu hamil kamu sama Arisa pas udah mau lulus sekolah. Sedangkan Arisa sekarang baru juga mau tes semester ganjil. Belum ujian. " kini raut wajah Andhara berubah sendu.
Sontak, Orion merangkul bahu sang ibu.
" Kakak pasti bakalan baik-baik saja bu. Apalagi kakak punya suami yang bisa di andalkan. Lagian, asyik loh Bu punya cucu, tapi ibu masih muda gini. Nggak bakalan takut kena encok kalau lagi ngikutin cucu yang super duper aktif. Ori yakin deh, kalau kakak punya anak, bakalan kek dia. " Ori menenangkan sang ibu sambil terkekeh.
" Iya juga sih. " sahut Andhara.
" Tapi ibu pengen lihat nanti hasilnya kek apa. " rengek Andhara.
" Ibu Andhara yang cakepnya ngelebihin Luna Memei, nanti juga bakalan tahu tanpa harus melihat langsung. " rayu Orion.
" Ih, nggak asyik lah kalau nggak lihat langsung. " kesal Andhara.
__ADS_1
Ck! Emak gue. Susah bet di bilangin. Mana bentar lagi abang sama kakak pasti sampai. Keluh Orion dalam hati.
" Bu, ayah pasti nyariin ibu deh. Mana seharian nggak ketemu kan? Pasti ayah kangen banget sama ibu. Ibu seharian ini belum menunaikan semua kewajiban ibu sebagai istri loh. " terpaksa Ori membawa-bawa sang ayah untuk merayu sang ibu agar mau pulang.
Andhara nampak sedang menimang dan menimbang.
" Iya juga sih. Ibu juga kangen sama ayah. Ya udah yuk, kita pulang. " sahut Andhara penuh semangat.
Memang sang ayah paling bisa ngeluluhin sang ibu. Meski hanya dengan menyebut namanya saja.
" Ih, Ori!! Ngapain masih bengong di situ? Ayo, buru kita pulang. " teriak Andhara yang sudah berjalan menuju ke mobil, tapi Orion masih diam di tempatnya yang tadi.
" Tadi merengek nggak mau pulang. Giliran inget ayah, langsung deh ngacir. Emang emak gue banget. " gumam Orion.
🌷🌷🌷
" Bang, kok rumah kita gelap banget ya? Kuburan aja sekarang ada lampunya. Kata pak ustadz biar Mbak Kun ti, mas po cong nggak pada keluar kalau malem. Lah, ini rumah kita malah gelap gini. Jangan mbak Kun ti pindah kesini. " cerocos Arisa saat ia melihat kondisi rumahnya yang gelap gulita.
" Rumah kita nggak gelap, Arisa. Tuh, lampu terasnya terang gitu. " jawab Roy.
" Kan di luar bang. Tapi dalamnya gelap. " kekeh Arisa.
" Arisa laper bang... " rengek Arisa sambil menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan seperti anak kecil yang sedang minta di belikan boneka kesukaannya.
" Iya. Kita makan di rumah. Tadi kan abang udah bilang. "
" Kalau masih nungguin masak lama, ih! Buru akunya pingsan. Kalau sampai aku pingsan, ayah Julio bakalan marah sama abang, terus bawa aku pulang ke rumah. "
" Ayah nggak akan marah. Abang pastikan. Ayo kita keluar kalau kamu udah laper. " ajak Roy lagi.
Akhirnya, dengan bibir yang manyun, Arisa keluar dari dalam mobil.
" Tunggu bentar. " Roy menghentikan langkah Arisa yang hendak melangkah ke teras rumah.
Arisa berbalik sambil menghentakkan kakinya. Sungguh, rasa lapar bisa merubah suasana hati seseorang.
__ADS_1
" Apalagi sih bang!! Arisa laper ini ... "
Roy berjalan mendekat Arisa sambil memanggul tas sekolah Arisa di pundak. Ia mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya.
" Tutup mata kamu dulu. " ucapnya sambil melipat sapu tangannya memanjang.
" Apalagi sih ah! Ribet banget deh perasaan. Mau makan aja ribet. " keluh Arisa.
" Abang mau kasih kejutan buat kamu. " ucap Roy.
" Kejutan? " beo Arisa. " Jangan bilang abang mau culik Arisa. Terus di bawa ke kandang buaya. Abang kesel ya, Arisa banyak omong? Arisa cerewet ya bang? " cicitnya.
Roy menghela nafas panjang. " Bukan. Masak iya, abang mau ngasih istri abang yang cantik ini ke buaya. Sayang lah. Limited edition ini. " sahut Roy.
" Udah, nurut aja kenapa sih? Barang sekali aja, nggak pakai protes. " lanjutnya.
Akhirnya Arisa diam. Ia membiarkan suaminya menutupi kedua matanya dengan sapu tangan.
" Nggak bekasan ingus kan bang, sapu tangannya? " tanya Arisa.
" Bukan. Cuma bekas tadi abang ce bok. " sahut Roy tak kalah absurb.
" His!!! " Arisa hendak menghindar. Tapi dengan cekatan, Roy menahan.
" Diem dulu, biar cepetan beres. " ujarnya.
Setelah selesai menutup mata Arisa, Roy memapah Arisa, berjalan memasuki rumah.
" Udah mirip si buta dari goa kun ti belum ini? Kayaknya kurang bawa mo nyet di pundak aja deh. " kekeh Arisa sambil terus berjalan dengan mata tertutup.
" Bisa nggak, sekali aja serius gitu? " protes Roy.
" Ini juga udah serius, e lah bang. Kalau aku nggak serius, udah aku copot nih sapu tangan bekas pe per. " jawab Arisa.
" Kok nggak sampai-sampai? Masaknya kapan ini bang? " lanjutnya masih tidak bisa diam.
__ADS_1
" Nggak perlu masak. Bentar lagi nyampe. Makanya, kamu diem. Biar cepet sampainya. Kalau kamu ngomong terus, nggak nyampe-nyampe entar. " ujar Roy dan berhasil membuat Arisa diam.
Bersambung