Om itu suamiku

Om itu suamiku
Keputusan


__ADS_3

Di restoran


" Sudah selesai makanmu? " tanya Roy datar tanpa melihat ke arah Joice.


" Kita kembali ke kantor sekarang. " ia sudah tidak tahan berada di tempat itu.


Sungguh ia merasa sangat malu ketika gadis ABG yang sudah menghabiskan makan siangnya juga minumannya tadi membisikkan kata-kata itu. Wajahnya merah padam. Untung saja, tidak ada pengunjung restoran yang memperhatikan mereka.


Roy berjalan meninggalkan restoran tanpa menunggu jawaban dari Joice. Dengan terpaksa, Joice harus meninggalkan makan siangnya yang masih bersisa beberapa sendok itu di atas meja.


" Hah! Selalu seperti ini. Lama-lama gue bisa kurus tinggal tulang belulang. " gerutu Joice sambil bangkit dari duduknya dan menyeruput juice nya. Makanannya sudah terbuang sia-sia. Jadi jangan sampai minumannya juga terbuang sia-sia.


" Mana kunci mobilnya? " Roy menengadahkan telapak tangannya meminta kunci mobil ke Joice setelah Joice berada di dekatnya.


" Oh, tuan tidak usah repot-repot. Biar saya saja yang menyetir. Ini masih jam kerja tuan. Jika tuan ingin mengemudi untuk saya, nanti setelah jam kerja, tuan bisa mengantar saya ke kontrakan. " jawab Joice dengan kepedean tingkat Saturnus.


" Ck! Cepat mematikan kuncinya. " desak Roy tanpa mau menjawab celotehan Joice yang menurutnya hanya membuang-buang waktu saja.


Akhirnya, mau tidak mau, Joice memberikan kunci mobil Roy yang sedari tadi ia taruh di dalam tasnya.


Roy mengambil kunci mobil itu dengan cepat, lalu membuka kunci pintunya menggunakan remote hingga keluar bunyi.


Ceklek


Roy membuka pintu mobil. Dan Joice segera berjalan memutar menuju kursi penumpang.


Melihat Joice yang hendak membuka pintu, Roy mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.


" Kamu kembalilah ke perusahaan naik taksi. Saya tidak akan kembali ke kantor. " ucap Roy, lalu ia mengulurkan uang berwarna merah 2 lembar ke Joice.


" Ha? " beo Joice. " Tuan, suka bercanda ih. Nggak lucu lah tuan. Masak iya saya pulang ke kantor sendirian. Naik taksi lagi. " kekeh Joice.

__ADS_1


" Mau tidak ini? " bentak Roy sambil menaruh uang berwarna merah itu di atas kap mobil.


" Jadi beneran? Tuan nyuruh saya naik taksi? "


" Mau jalan aja, kamu? " tanya Roy.


" Ih, tuan nggak asik lah. " sungut Joice sambil menyambar 2 lembar kemerahan di atas kap mobil yang Roy letakkan tadi.


.


.


.


" Abang, kenapa tadi nggak jadi marahin Arisa? Malah bilang lapar. " dengus Andhara. Julio memang terlalu lembut terhadap anak-anaknya.


" Maaf, sayang ... " Julio memeluk Andhara yang sedang menghangatkan masakan dari belakang.


" Kan kamunya udah terlampau tegas. Kalau abang juga tegas, kasihan anak-anak tertekan nanti . " elak Julio.


" Ck! Halah, bilang aja abang kasihan. " cebik Dhara.


" Bukan kasihan, Ra. Tapi karena sayang. " kekeh Julio.


" Sayang sih sayang bang. Tapi kalau anak salah juga harus di marahin lah sekali-sekali. Di tegasi gitu. Lihat kan, karena abang terlalu manjain si Arisa, dianya jadi gitu. Susah di atur. " omel Dhara.


" Awas minggir. Dhara mau ngangkat sayurnya. " Dhara menggoyangkan bahunya karena Julio menyandarkan dagunya di sana sedari tadi. Posisi paling wenak menurut Julio saat menemani sang istri memasak.


Julio melepas pelukannya dan tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Semua orang di rumah ini terlalu manjain Arisa. Belum lagi kalau Putra, Lila, Soni, sama Eka dateng. Semuanya manjain Arisa. " Dhara masih mengomel.

__ADS_1


" Dhara juga sayang bang, sama Arisa. Tapi Dhara nggak mau terlalu manjain juga. " Dhara menjeda omongannya.


" Hah! Kalau kayak gini caranya, Dhara mau cariin suami ajalah. " putusnya setelah capek mengomel.


" Sayang .... Kok gitu solusinya? " protes Julio sambil meletakkan piringnya di atas meja.


Dhara mengambil piring itu, lalu mengisinya dengan nasi juga lauk.


" Habis mau gimana bang? Arisa juga udah berani pacaran. Dhara khawatir bang. Dia putri kita satu-satunya. Kalau si Ori punya pacar, Dhara nggak bakalan sekhawatir ini. Dhara yakin kalau Ori bisa jaga diri. " keluh Dhara.


" Kita udah berusaha, sekolahin dia ke sekolah yang berhijab, dengan segala aturan yang nggak main-main. Sekolahnya si Arisa itu sekolah IT terbagus di kota ini. Tapi dia nggak berubah. Dhara sampai nggak enak hati sama pihak sekolah. Hampir tiap sebulan sekali Dhara di panggil ke sekolah. " Dhara menghembuskan nafas lelah.


" Apa ini karma ya bang? Karena Dhara dulu juga gitu? " tanyanya sendu. " Anak-anak kita yang laki-laki nggak kayak gitu loh bang. Si Ori, Zavi, juga Kevin. " lanjutnya.


( Ternyata Bang Julio sama neng Dhara anaknya 4 guysss)


" Ya nggak lah sayang. " Julio duduk di kursi dekat Dhara, lalu merangkulnya. Ia tahu, istrinya pasti sedang capek. Harus mengurus rumah, mengurus anak 4 orang, masih kadang harus membantu di apotik saat pegawainya ada yang cuti.


" Makanya bang, Dhara mau cariin suami aja buat Arisa. Dulu, habis Dhara nikah langsung sembuh loh bang. Dhara nggak suka keluyuran lagi. " ujar Dhara memijit pelipisnya.


" Arisa masih terlalu muda buat nikah. Dia mana bisa jadi istri yang baik. Yang ada nanti malah nyusahin suaminya. " sahut Julio.


" Abang lupa, dulu abang nikahin Dhara pas umur Dhara berapa? Dhara juga masih 18 tahun bang. Berarti abang dulu juga ngerasa Dhara nyusahin abang, gitu? Dhara nggak bisa jadi istri yang baik, gitu ? " Sepertinya perkataan Julio salah kali ini. Ang ibu negara mengamuk.


' Duh, salah ngomong. Dia kan lagi PMS. Pasti gampang kesinggung. ' batin Julio.


" Bu-bukan begitu, sayang. Kamu adalah istri terbaiknya abang. Meskipun abang nikahin kamu waktu kamu masih muda, tapi kamu selalu jadi istri terbaiknya abang. " rayu Julio sambil mengelus punggung tangan Dhara yang berada di atas meja.


" Ya udah, berarti Arisa juga nggak masalah jadi istri di usia muda. Bang, Dhara pernah ngerasain jadi Arisa. Kalau di biarin terus, bisa makin parah. Percaya deh bang, setelah dia punya suami, maka tingkahnya akan terkontrol. Dia pasti akan lebih nurut sama suaminya ketimbang sama kita. " sahut Dhara.


" Pokoknya, itu udah keputusan final Dhara. Kita bakalan nikahin Arisa. " Kekeh Dhara. Ia lalu meninggalkan suaminya yang bahkan belum jadi menyentuh makanannya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2