Om itu suamiku

Om itu suamiku
Enak rasanya


__ADS_3

" Lanjut, oke? " tanyanya yang pasti tidak butuh jawaban. Karena apapun jawabannya, lanjut adalah yang akan ia tetap lakukan.


Arisa terlihat menggelengkan kepalanya kencang, pertanda jika dirinya menolak untuk lanjut.


" Sayang, udah terlanjur. Mau sekarang, atau besok sama aja. Toh abang emang udah merawanin kamu. " jawab Roy dengan santainya.


" WHAT??? " teriak Arisa sambil membuka matanya lebar-lebar. " Ab-abang.... " lanjutnya. " Ih, abang jangan bercanda deh... Ssshhh... " desisnya karena merasa ada rasa nyeri di bagian tubuh bawahnya.


" Apaan sih ini ah. Kok ngganjel gini. " gumamnya. Lalu ia berusaha bangkit dengan mendorong dada Roy supaya menjauh dari tubuhnya.


" ASTOGEEEE....!!!! " pekik Arisa. Ia terjingkat. Ia hendak menjauhkan tubuhnya tapi Roy segera menahannya.


" Jangan di tarik. Entar sakit lagi kalau di masukin. " ucapnya.


Arisa kembali menatap bagikan bawahnya.


" Nggak muat itu ih. Pantesan sakitnya sampai ke ubun-ubun. Punya Abang kebesaran. Kecilin dikit atuh bang. " ujarnya fantastis.


Apanya yang harus di kecilkan? Emangnya balon? Bisa asal di kempesin gitu?


" Mana bisa jadi kecil kalau masih tegang gini. Makanya, ayo buruan kita lanjut biar cepet jadi kecil. " jawaban yang sama absurb nya oleh Roy.


" Lanjut... Lanjut... Sakit tau bang. " ketus Arisa.


" Sama. Punya abang juga sakit. Kejepit. Tapi enak. " sahut Roy sambil tersenyum smirk. Ia menarik turunkan kedua alisnya. " Ayo kita selesaikan secepatnya. Kamu rebahan lagi. Kalau nggak di lanjut, punyaku nggak bisa di cabut nih. " lanjutnya.


" Ih, masak ?" Arisa membelalakkan matanya mendongak menatap Roy.


Roy mengangguk mantap. " Udah terlanjur nyangkut kepalanya. Masak iya kita mau kayak gini semaleman. "


" Ih, nggak lah. " sahut Arisa.


" Makanya, cepetan balik rebahan lagi. Kita lanjut. "


" Tapi sakit. " rengek Arisa.


" Habis ini pasti nggak bakalan sakit. Tinggal enaknya aja. " jawab Roy mantap.


" Beneran ya? Awas kalau sakit lagi. " Arisa memicingkan kedua matanya. Ia kembali merebahkan tubuhnya perlahan sambil terus menatap wajah Roy yang terlihat sangat tampan dan gagah.


Setelah tubuhnya di rebahkan, Arisa kembali terjingkat.


" Ah, kok jadi telanjang gini. Abang nelanjangi Arisa ? " tanyanya kembali memekik.


" Lagi sadar kalau udah telanjang ? Kamu sih, terlalu sibuk mende sah aja. " goda Roy dan langsung di hadiahi tatapan menusuk oleh Arisa.


" Nggak ya. " elak Arisa sambil menutup dua aset di da danya. Ia lalu memalingkan wajahnya ke samping.

__ADS_1


" Oh ya? " sahut Roy lalu ia kembali menyerang sang istri.


Menerjang kembali bibir tipis Arisa. Mengu lum serta melu matnya. Sambil tangannya menjauhkan kedua tangan Arisa yang menutupi dadanya, menggantinya dengan jari jemari besar miliknya.


Kembali Arisa terlena. Kali ini, Roy benar-benar menenggelamkan senjatanya ke mulut surgawi sang istri sepenuhnya. Dan dari mulut sang istri, sudah tidak ada jeritan kesakitan. Yang tertinggal hanyalah jeritan nikmat.


" Abaaaaanggg.... " tiba-tiba terdengar teriakan Arisa.


Roy segera menatap wajah sang istri dan menghentikan gerakannya di bawah sana. Padahal yang di bawah sana sudah berdenyut hebat hendak berteriak mengaum juga.


" Ih, kok malah berhenti sih!!! " ketus Arisa kesal.


" Kamu manggil abang, kenapa? Ada apa? " tanya Roy dengan nafas terengah-engah.


" Nggak jadi. Ilang udah rasanya. Sensasinya hilang. " sahut Arisa. " Ulang lagi ih. Biar kayak yang tadi. Yang ada kedut-kedutnya, tapi enak. " lanjutnya.


Ya salam. Kirain ada hal serius apaan. Jerit Roy dalam hati.


" Dengan senang hati. " jawab Roy sembari tersenyum.


Dengan senang hati, dan penuh semangat, kini ia kembali men jamah sang istri hingga kembali Arisa berteriak.


" Abaaaangggg.... Lebih kenceng!!! Ou!!!! Yesss!!! " jerit Arisa.


Roy memberikan apa yang di minta sang istri. Karena iapun akan segera sampai. Dengan hentakan yang lebih dalam dan lebih kencang, Roy terus memacu sang istri hingga terdengar lengu han panjang dari keduanya.


" Abang,, berat ih!!! " gerutu Arisa sambil mendorong pundak Roy.


Roy terkekeh sambil menegakkan tubuhnya, lalu menoel hidung sang istri.


" Abang capek. " ucapnya. " Nitip tubuh bentar. "


" Di kira Arisa nggak capek apa? " sahut Arisa.


Kini Roy sudah mulai beranjak dari atas tubuh Arisa. Ia meraih tisu di atas nakas untuk membersihkan bagian bawahnya.


" Kan abang yang kerja dari tadi. Kamu tinggal menikmati. " sahut Roy santai sambil mengelap bagian bawahnya dan istrinya.


" Abang pikir teriak ah, uh, oh, nggak butuh tenaga? Mana abang nggak pakai istirahat lagi. Kering nih tenggorokan Arisa. "


" Sebentar. Abang ambilin minum. " jawab Roy sambil turun dari atas ranjang.


" Untung Abang tadi bawa minum ke kamar. " lanjutnya sambil berjalan santai menuju ke meja untuk mengambil air minum untuk Arisa.


" ABAAAAANGGGG!!!!! " Teriak Arisa kembali.


Sontak Roy menoleh ke arah ranjang dengan tangan yang sudah hampir menggapai gelas.

__ADS_1


" Malu ih!!! Keranjangnya di pakai atuh bang. Mana kimpal kimpul gitu ih. Geli tahu lihatnya. " lanjutnya.


" Ck! Kirain apa. " sahut Roy dengan santainya. Ia meraih gelas, lalu kembali berjalan ke arah ranjang.


" Cih! Makin tua keknya makin nggak punya malu deh. " decih Arisa.


" Emang, kamu punya malu? Lihat tuh, da da kamu. Terekspos gitu. " balas Roy sambil menunjuk tubuh Arisa yang masih polos dan telentang tanpa memakai apapun untuk menutupinya. Bahkan kedua kakinya masih terbuka lebar.


Sontak mata Arisa menatap ke bawah. " Astaghfirullah hal'adzim!!!! " pekiknya, lalu segera meraih kain yang ada di dekatnya. Entah kain apa itu. Sepertinya kemeja Roy. Ia segera menutup tubuhnya seadanya.


Roy terkekeh melihat tingkah sang istri.


" Nggak usah di tutupi. Abang udah lihat semuanya. Udah terekam juga di memori otak abang. Gedenya seberapa. " Roy makin senang menggoda Arisa. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu membuatnya seolah sedang memegang sesuatu yang bulat.


" Dih, me sum pak CEO nya. Arisa bilangin sama mama besok. Anaknya me sum. Ngajarin anak-anak gak bener. "


" Tapi anak-anaknya bisa di ajakin bikin anak. " sahut Roy santai.


" Nih, minum dulu. " Roy menyerahkan gelas berisi air mineral penuh ke Arisa.


Arisa beranjak dari rebahannya. Uh.... Tubuhnya terasa sakit. Ia menarik tubuhnya ke belakang untuk bersandar di headboard ranjang. Tangan kirinya, ia gunakan untuk memegangi kemeja Roy untuk menutupi tubuhnya meskipun hanya sekenanya.


" Auuuhhh!!! " desisnya. " Sakit ih. Ganjel. Kayaknya punya abang masih ada yang ketinggalan deh. " gerutunya.


" Mana ada ketinggalan. Nih, lihat. Masih utuh. " jawab Roy sambil menunjukkan senjatanya yang masih kopat kopit dengan bebas karena ia masih polos.


" IH!! ABANG!!! Sumpah ya. Abang menodai mata suci Arisa kalau kayak gini caranya. " pekik Arisa sambil menggerutu. Ia bahkan harus menoleh supaya tidak melihat tindakan tak senonoh sang suami.


Hahahah.... Tawa Roy menggelegar.


Arisa lalu mengambil gelas dari tangan Roy sedikit kasar. Lalu menenggak isinya hingga tak bersisa.


" Udah nih. " ketusnya ke Roy sambil mengembalikan gelas yang sudah kosong ke Roy.


Lalu Arisa kembali hendak merebahkan tubuhnya.


" Kok rebahan lagi? Nggak pengen mandi? " tanya Roy.


" Capek... " rengek Arisa. " Besok ajalah. Mana ini masih sakit lagi. Kena air pasti perih kan. " lanjutnya.


" Sayang, kamu sekarang lagi dalam keadaan tidak suci. Alangkah baiknya jika kita mensucikan diri dulu baru tidur. Kita nggak tahu, saat kita tidur nanti, bakalan ada kejadian apa. Kita juga nggak tahu, kita bakalan masih bisa bangun apa nggak besok pagi. " ujar Roy panjang lebar.


" Abang ih. Bikin takut aja. Arisa mau umur panjang dong bang. " Arisa langsung kembali bangun. Masih mendekap kemeja Roy tentunya.


" Amiinnn. " sahut Roy. " Abang siapin air hangat dulu bentar. Habis itu, Abang bantuin kamu ke kamar mandi. " Ia lalu berlalu ke kamar mandi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2