Om itu suamiku

Om itu suamiku
Ajakan menikah


__ADS_3

Arisa mengelap bibirnya dengan tisu ketika makanan dalam piringnya udah tandas.


" Om, makasih ya makan siangnya. Nggak percuma harganya mahal. Makanannya emang TOP BGT. " Arisa mengacungkan kedua jempol jarinya. Dan Roy hanya mengangguk menjawab ucapan Arisa.


" Kapan-kapan, di traktir lagi juga saya nggak bakalan nolak. Hehehehe.... " Arisa melanjutkan omongannya.


" Nggak usah kapan-kapan. Tiap hari juga boleh. " jawab Roy.


" Ha? Seriusan? Nggak bo'ong? " Arisa memastikan.


" Tapiiii.... Makasih deh. Entar Arisa jadi kebablasan. Keseringan makan enak, bisa jadi lupa sama yang nggak enak. Jadinya ngelunjak, kalau ayah bilang mah. " lanjutnya kembali sambil menaruh tisu kotornya di atas piringnya yang sudah kosong dengan garpu dan pisau yang sudah ia balik.


" Mmmmm... Ya udah, sekarang om kasih tahu, kerjaan saya yang belum beres apaan? "


Roy menghela nafas berat. Ia membenarkan posisi duduknya.


" Soalnya saya nggak bisa lama-lama nih om. Kalau kelamaan bisa kena strap sama ibu. " imbuh Arisa. Dengan santai ia menyeruput sisa smoothies nya.


" Would you Merry me? " ucap Roy sambil memandang lekat ke arah Arisa.


Uhuk.... Uhuk .... Uhuk ...


Smoothies yang baru saja Arisa seruput dan belum sempat ia telan sepenuhnya, ia semburkan keluar karena ia sangat terkejut dengan apa yang barisan dia dengar.


Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..


Arisa masih terbatuk-batuk sambil mengelap mukanya dengan tisu. Sedangkan si pelaku masih tetap duduk santai sambil tetap memandang lekat ke arah Arisa.


" Ha.... Ha ... Ha ... " setelah batuknya reda, kini Arisa malah tertawa terbahak-bahak hingga membuat beberapa pelanggan menoleh ke arahnya. Sedangkan Roy, memutar bola matanya jengah.


Roy sudah menduga, jika tidak akan segampang mengajak perempuan lain menikah. Gadis satu ini memang berbeda. Jika gadis lain, mungkin akan langsung melompat ke arahnya dan memeluknya erat sambil mengucapkan banyak-banyak terima kasih.


" Om, sumpah, om kalau ikut lomba stand up komedi, pasti juara. Saya saja sampai sakit perut karena ketawa. " ucap Arisa masih sambil tertawa dan memegangi perutnya yang terasa kram karena ia tertawa.


Sesekali ia menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya karena asyiknya ia tertawa.


" Ck! " Roy berdecak. " Bisa tidak serius sebentar saja? " tanyanya .

__ADS_1


" Hahaha .. Habisnya .. om lucu... Om duluan yang ngajakin bercanda. Saya cuma ngikutin. Saya cuma tinggal ketawa. " sahut Arisa masih sambil tertawa.


" Arisa, saya serius dengan apa yang saya katakan. Saya tidak sedang bercanda. Kamu bisa lihat dari muka saya. " sahut Roy serius.


Seketika, Arisa menghentikan tawanya. Ia membalas tatapan Roy. Tapi hanya sebentar. Karena jujur, ia tidak sanggup menatap mata itu lama-lama. Arisa mengalihkan pandangannya ke samping.


" Bagaimana? " tanya Roy kembali.


Arisa menggeleng. Jelas saja dirinya tidak akan mau. Pertama, karena dirinya masih sekolah. Kedua, ia tidak mencintai Roy. Bukankah pasangan menikah karena saling mencintai? Ketiga, ia tidak menyukai Roy yang datar, galak, dan suka semena - mena terhadapnya.


" Arisa... !! " panggil Roy. Tapi yang di panggil tetap memalingkan pandangannya ke samping.


" Lihat saya, Arisa. " ucap Roy. Tetap sama. Arisa malah menunduk. Ia memainkan ujung jilbabnya.


Roy menghela nafas beratnya. Ia menegakkan duduknya, membenahi jasnya, lalu mengulurkan tangannya hendak menggapai Arisa. Tapi ia urungkan kala terdengar suara Arisa yang lirih.


" Arisa masih kecil. Masih sekolah. "


" Tapi kamu sudah dapat tamu bulananmu kan? " bukannya menjawab ucapan Arisa, Roy justru melayangkan pertanyaan yang membuat Arisa sontak menegakkan kepalanya dan memandang tajam ke arah Roy.


" Maksud om apa tanya hal privasi saya? " tanyanya tidak terima.


" Tapi saya belum punya KTP. Jadi saya masih di bawah umur. Belum boleh menikah. " ucap Arisa tak kalah tajam.


Roy tersenyum tipis. " Bukan hal yang sulit untuk membuatkanmu KTP. " jawabnya.


" Saya masih sekolah. Bahkan saya baru mau naik kelas XII. "


" Bukan masalah juga. Jika kamu khawatir saya akan melarangmu melanjutkan sekolah setelah kita menikah, kamu salah. Kamu tetap bisa sekolah. Kamu bisa kuliah juga. Bahkan sampai S3 pun, akan saya biayai. Karena saya juga tidak suka mempunyai istri yang bo doh. "


" Cih! Anak sekolah di larang menikah kalau om tidak tahu. " Arisa mencebik.


" Maka kita akan menyembunyikan pernikahan kita sampai kamu di nyatakan lulus sekolah menengah. Karena setahu saya, mahasiswa di perbolehkan untuk menikah. " Roy masih tetap bisa menjawab semua penolakan Arisa.


" Huh! " Arisa membuang nafas kasar. " Kalau gitu, beri saya satu saja alasan kenapa om mau menikahi saya. Karena yang pasti, alasan itu bukan karena tanggung jawab kan? Kan saya nggak hamil. "


Roy menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Arisa.

__ADS_1


" Kalau alasan om bisa saya terima, maka saya akan menerima tawaran om. Tapi jika tidak, maaf. " imbuh Arisa.


Dirinya butuh alasan yang jelas. Karena jika ia tetap menggunakan usia sebagai penolakan, itu tidak mungkin. Karena ia tahu, dulu, ibunya juga menikah di saat usianya juga masih muda.


" Karena mama meminta saya untuk menikah secepatnya. Dan mama saya menyukai kamu. " ucap Roy pasti.


Arisa terkekeh. Kekehan yang lebih mirip ejekan. " Alasan om tidak bisa saya terima. Jadi maaf, saya menolak tawaran om. "


Setelah menjawab ungkapan Roy, Arisa hendak berdiri. Tapi Roy segera menambahi omongannya.


" Karena saya juga menyukai kamu. " imbuh Roy.


Arisa masih tak bergeming. Ia menipiskan bibirnya. " Om pikir, hanya kata suka, bisa membuat seseorang menerima tawaran menikah? "


Huh. Sungguh pembicaraan yang sangat alot. Jika di suruh memilih, maka Roy akan memilih merayu investor atau membujuk klien untuk bekerja sama dengannya. Daripada mengajak seorang gadis seperti Arisa untuk menikah.


Roy tidak pernah membayangkan, ternyata melamar seorang gadis itu seperti ini susahnya. Sepertinya posisi dan kedudukannya tidak bisa ia gunakan untuk memaksa seorang Arisa.


Tapi Roy justru menyukainya. Roy semakin yakin untuk meminang seorang gadis kecil bernama Arisa ini. Ia suka gadis yang tidak memandang statusnya, atau kekayaannya ini.


Arisa terlihat berdiri dari duduknya. " Maaf, om. Alasan om belum bisa saya terima. "


Roy sejenak terkejut. Tapi ia berusaha untuk menutupinya. Ia masih terlihat santai. Sampai sebuah suara membuatnya mendongak.


" Astaghfirullah ARISAA!!!!! " pekik seorang perempuan berhijab pasmina dan berpakaian tertutup. Memakai celana kulot bahan, dan atasan kemeja dengan outer berbahan rajut.


" Addduuhhh ib-"


" Rupanya malah asik-asikan kencan kamu ya. Bilangnya mau ke rumah Kaila. Taunya malah nongkrong di cafe sama laki-laki. " potong Andhara sambil melirik ke arah Roy yang sedang mengamatinya. Tapi tangan kanannya masih senantiasa berada di telinga Arisa menjewernya.


Siapa nih laki? Keren. Masih muda. Harus gue cari tahu nih. batin Andhara sambil diam-diam mengawasi Roy.


" Buk-"


" Sana kamu. Susulin onta sama onty kamu di mall. Ajakin mereka kesini. Buruan. " potong Andhara kembali. Ia melepas tangannya dari telinga Arisa.


" Iya ih. " jawab Arisa memberengut sambil mengusap telinganya yang terasa kebas. Tanpa pamit ke Roy, Arisa keluar dari dalam cafe. Sedangkan Andhara, duduk dengan santainya di kursi yang tadi di tempati Arisa.

__ADS_1


Matanya menatap lekat Roy. Lekat dan menghujam serta memicing hingga membuat Roy beberapa kali menelan salivanya gugup.


bersambung


__ADS_2