
" Selamat ya kak. Atas kelahiran dedeknya. " ucap Arisa sambil menyerahkan buket bunga yang ia beli ketika perjalanan ke rumah sakit.
Bukan Arisa sebenarnya, tapi Roy lebih tepatnya. Karena ia lah yang mengeluarkan uang. Arisa hanya memilih dan membawa buket itu ketika sudah sampai di depan ruang rawat inap Selsa.
" Terima kasih, kakak ipar. " sahut Selsa sambil terkekeh.
" Isshh!! Aku tidak suka di panggil kakak ipar. Aku masih belia loh kak. " sahut Arisa sambil cemberut.
Selsa kembali terkekeh. Roy berdiri tidak jauh dari Arisa. Bahkan ia berada sangat dekat, seolah tak ingin berjauhan. Pemandangan itu tak lepas dari mata Selsa dan Elyas. Bahkan kedua orang tua baru itu saling melirik.
" Abang, ih!! Jauhan sana ah. " bisik Arisa sambil menyodok perut Roy menggunakan sikunya.
" Takut kamu hilang lagi. " sahut Roy di telinga Arisa.
Sontak Arisa memiringkan tubuhnya dan memutar kepalanya hingga menoleh ke Roy yang ada di belakangnya. Matanya mendelik tak suka.
" Lebay!! Entar aku video in, terus aku viralin. Aku kasih caption 'CEO Rakesh entertainment yang terkenal dingin dan kalem, bisa lebay seperti ini'. " ujar Arisa.
" Silahkan. "
Mendengar jawaban Roy, Arisa makin mendelikkan matanya.
" Seperti itulah jika laki-laki sudah bucin. " sela Selsa sambil melirik ke arah sang kakak dan tersenyum bahagia. Kini ia bisa merasa lega. Sang kakak sudah bisa membuka hatinya untuk sang istri.
Roy dan Arisa sama-sama memandang Selsa dengan pandangan yang entah.
Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Ternyata ponsel Roy berbunyi.
" Sebentar, aku terima telepon dulu. " pamitnya ke Arisa sambil mengusap kepala Arisa yang senantiasa tertutup jilbab segi empat.
Arisa mengangguk. Sedangkan Selsa dan Elyas kembali saling menatap dan tersenyum.
" Arisa.. " Selsa mengenggam tangan Arisa kala Roy sudah keluar dari kamar itu.
Arisa segera berbalik menoleh ke Selsa. " Iya, kak? "
" I am sorry. " ucap Selsa tulus dengan pandangan penuh ketulusan.
" Maaf? Buat? "
" Buat yang kemarin malam. Maaf, gara-gara aku, kakak nggak jadi nganter kamu. " ujar Selsa.
Arisa tersenyum canggung. " Ih, kak Selsa apaan sih. Aku nggak pa-pa kali. " ujarnya tiba-tiba tidak enak hati.
__ADS_1
" Kemarin aku udah mau teriak buat kasih tahu kakak, kalau kamu nungguin dia dari sore. Tapi rasa sakit yang aku rasakan, jauh lebih mendominasi. Jatuhnya, aku juga teriak. Tapi teriak kesakitan. " jujur Selsa.
" Nggak pa-pa kak. Wajar kalau abang ikutan panik dan cemas. Bagaimanapun juga, kak Selsa kan adiknya, dan mau melahirkan. " jawab Arisa sambil mengelus tengkuknya.
" Sa, jangan salah paham ya? Antara aku, sama kakak tidak pernah ada apa-apa. " ujar Selsa sungguh-sungguh sambil tetap menggenggam tangan Arisa dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya, menggenggam tangan suaminya.
" Aku tahu, kamu mengetahuinya. Tapi percayalah, kakak sudah berubah. Aku melihat cinta di mata kakak untukmu. Iya kan, mas? " Selsa mencari pembenaran ke sang suami.
" Benar, Arisa. Kak Roy mencintaimu. Mungkin karena dia memang orangnya sedikit kaku, jadi kurang bisa menunjukkannya kepadamu. " sahut Elyas.
Kaku bagaimana? Tidak bisa menunjukkan bagaimana? Dia sudah membuatku merona terus tiga hari ini asal kalian tahu. Dia juga me sum. Jerit Arisa dalam hati.
" Di matanya kini hanya ada kamu. Kamu tidak lihat kemarin betapa paniknya dia kala menyadari jika dia telah berbuat salah kepadamu. Tanpa pamit, kakak langsung keluar dan menjemputmu. Tapi sepertinya kamu malah tidak pulang ke rumah. " lanjut Elyas.
Arisa membelalakkan kedua matanya. Darimana mereka tahu jika dirinya tidak pulang malam itu.
" Kamu kemana Sa? " tanya Selsa.
" Ah!! Aku .. Aku pulang ke rumah ayah. Tiba-tiba saja aku merindukan mereka, kak. " jawab Arisa.
" Baiklah. Tapi aku mohon sama kamu, jangan pernah pergi dari kakak. Kakak adalah laki-laki yang baik meskipun dia agak dingin dan kaku. Tapi percayalah, jika dia sudah mencintaimu, maka dia pasti akan selalu menjagamu dan melindungimu.
" I-iya, kak. " jawab Arisa sambil mengangguk.
Arisa mencebik melihat Roy yang posesif.
" Kenapa kak? Hanya aku yang menggenggamnya. Bukan laki-laki lain. " ledek Selsa.
" Tetap saja. Hanya aku yang boleh menggenggam tangannya. " jawab Roy.
" Dasar! Bucin. Posesif. Ingat kak, Arisa masih terlalu muda. Jangan terlalu mengekangnya. Bisa-bisa dia malah kabur karena nggak betah sama sikap posesif om om macam kakak. " lanjut Selsa.
" Begitu? Kamu mau kabur? " Roy langsung menoleh ke arah Arisa.
" Bukan kabur sendiri. Tapi ayah yang akan membawaku kabur. Karena abang nggak bolehin ayah megang tangan aku. " ketus Arisa.
" Bwahahahah.... " Selsa dan Elyas terbahak bersama-sama.
Tok... Tok ... Tok ...
" Permisi... " suara seorang wanita menyela kehebohan mereka. Sontak keempat orang itu melongok ke arah pintu.
" Dedeknya sudah selesai mandi, bunda. " ujar sang perawat tersenyum sembari mendorong box bayi.
__ADS_1
" Waaahhh... Aku mau lihat dedeknya. " ujar Arisa antusias. " Awas abang ih! " ia mendorong tubuh kekar Roy hingga Roy sedikit menyingkir.
" Jangan cemburu sama bayi kak. " ledek Selsa ketika mendapati wajah sang kakak yang mengeruh.
Arisa berjalan antusias ke arah box bayi yang sedang di dorong oleh perawat.
" Ihhh!!! Meni lucu pisan. Hidungnya mancung banget. Pantes kalau keturunan India ini mah. " celetuk Arisa gemas. Dan membuat ibu bayi itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
" Sus, boleh saya gendong? " tanyanya sambil mengusap-usap kedua tangannya.
" Boleh ya kak? " tanyanya menoleh ke arah Selsa, dan Selsa mengangguk.
" Bisa emang, kamu? " tanya Roy yang sudah berada di dekatnya.
" Eits, abang jangan salah. Kalau cuma gendong bayi, Arisa jagonya. Ori aja kalah. " ucap Arisa jumawa.
" Iyalah kalah. Ori kan cowok, Sa. " kekeh Roy.
" Ck! Abang nggak percaya sama kemampuan istri abang, ya? " ucapnya sambil memandang penuh tantangan ke arah Roy. " Lihat aja nih. " Arisa mengangkat tubuh mungil itu dari dalam box bayi.
" Ihh, gemoy nya.... " ujar Arisa gemas melihat bayi laki-laki yang sepertinya mempunyai wajah sang ibu.
" Pengen gue kantongin. " lanjutnya sambil terus menatap bayi mungil yang berada dalam dekapannya.
" Jangan Sa. Entar kalau di kantongin, anak gue jadi kek dompet dong. " sahut Selsa.
Arisa tertawa sambil menimang - nimang bayi Selsa di gendongannya.
" Nih, lihat. Arisa bisa kan bang? " tanyanya ke sang suami.
" Ck! Abang lebih percaya kalau lihat kamu urus anak kita sendiri nanti. " sahut Roy.
" Kode tuh Sa. Kayaknya abang udah pengen punya anak sendiri. " ujar Selsa.
" Nanti kak. Aku nya yang belum siap ngeden. "
" Ngeluarin bayi nggak cuma bisa lewat ngeden aja Sa. Kalau kamu takut, bisa di keluarin lewat perut. " sahut Roy.
" Dih! Perut Arisa di sobek gitu? Nggak mulus lagi dong entar perut aku. " ucap Arisa.
" Nasib mu kak!! Terimalah. " kekeh Selsa.
Bersambung
__ADS_1