
" Hellooo... Spada... Assalamualaikum..... " teriak duo somplak kesayangan Andhara.
" Andhara Nurmaliaaaaa.... We are coming.... " teriak Lila.
" Beb, nggak usah teriak-teriak gitu. Nanti pita suara kamu putus gimana? " ujar Putra.
" Hehehe... Udah kebiasaan kan yang. " sahut Lila cengengesan.
" Ihh, geli gue sumpah ! Dengerin loe berdua lebay. Yang satu manggil beb, yang satu yaangg... " protes Eka sambil mencibir.
" Kenapa loe? Syirik? Mang salah, kalau gue manggil bini gue beb? " sahut Putra.
" Makanya honey, kalau cari suami tuh jangan yang kayak bang Toyib. Yang nggak pulang-pulang. Jadi iri kan, kalau liat temen ayang-ayangan. Laki loe kayaknya lebih sayang ikan hiu ketimbang loe. " imbuh Lila.
Eka memutar bola matanya jengah melihat kedua sahabatnya ini yang ternyata hubungan mereka sampai menikah dan bahkan mereka sudah di karuniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan.
Sedangkan Eka, ia menikah dengan anggota marinir yang memang kerjanya lebih sering di lautan daripada di lautan.
" Mumpung nggak ada anak, nggak ada yang ganggu. Iya nggak beb? " ujar Putra sambil merangkul bahu istrinya sambil mengecup pipinya.
" Dih, najisss sumpah. " cebik Eka.
" Eh, ada tamu tak di undang. Pulang nggak di antar. " sambut Andhara yang baru keluar dari arah dapur.
" Ck! Loe gitu banget my honey bunny... Masak iya kita yang cantik ganteng gini di bilang kunti. " decak Lila.
" Habis masak mak ? " sahut Putra.
" Kagak. Habis ngelonin laki gue. " jawaban yang membuat ketiga sahabatnya mencebik bersamaan.
" Masih kurang anak loe udah 4? " sahut Soni yang baru datang bersama istrinya.
" Nah loh. Kok tumben pada datang nggak kasih tahu dulu. Kan jadinya gue nggak ada persiapan. " ujar Andhara sambil mendekati sahabatnya, Lila, Eka, juga Sabil yang ternyata ia menjadi istrinya Soni. Mereka saling menyapa dan cipika-cipiki.
" Soni mah loe kasih aer comberan depan rumah loe juga mau. " sahut Putra.
" Kalau si Putra mah cukup loe kasih tuh camilan ikan lohan. " sahut Soni tak kalah pedas.
" Haishh... Kalian tuh lagi bertamu, you know! Kagak ada sopan santunnya deh " protes Andhara yang melihat Soni dan Putra sudah masuk ke ruang makannya kemudian keluar lagi dengan membawa toples berisi keripik singkong kesukaan Andhara dan setoples kue nastar.
" Kan kita lagi nggak namu. Kalau kata pak dokter sama pak camat, anggap rumah sendiri. " sahut Soni.
" Mas ih, malu-maluin. Harusnya kita tuh yang datang namu bawa buah tangan. Bukannya ngabisin punyanya tuan rumah. " protes Sabil ke Soni sambil mencubit perut Soni.
" Kan rumah sendiri yang. " jawab Soni.
" Ya udah, bagi sini nastarnya kalau gitu. Laper ih, tadi belum sempat makan siang. " sahut Sabil.
" Dih, gaya pakai ngelarang, pakai mauidhoh hasanah kek Bu nyai. Taunya, sama-sama nggak punya malu. " cebik Lila.
" Kalian kesini pada mau ngapain? " tanya Andhara.
" Mau bakar-bakar. " sahut Eka. Ia adalah sahabat Andhara yang paling serius.
" Bakar-bakar apaan? " tanya Dhara mengernyit.
__ADS_1
" Ba... "
" Eh mas, Kiki mana? Kok nggak ada ? " Sabil nampak celingukan mencari sesuatu di sekitarnya.
" Lah, bukannya tadi kamu ajakin turun? " sahut Soni.
" Kan kamu tadi narik tangan aku suruh cepetan turun. Aku pikir Kiki udah kamu gendong. " sahut Sabil.
" Astaghfirullah.... Kalian ini orang tua macam apa? Bisa-bisanya nggak tahu anaknya dimana. " seru Lila.
" Ya salam.... " Andhara menggelengkan kepalanya melihat sifat dua sahabatnya itu.
" Kalau si Soni sih nggak usah kaget beb. Dia kan emang sukanya ngilangin anak kecil. Si Arisa kan dulu di ilangin sama dia. " sahut Putra.
" Loe juga kali. " sengit Soni. " Noh, biang kerok yang nyulik. " tunjuknya ke Lila.
" Ayang... Berani dia nuduk aku penculik. " rengek Lila sambil bergelendot di lengan Putra.
" Huueekkk.... " Dhara rasanya pengen muntah melihat kelebayan sahabatnya.
" Nyidam lagi, sista? " sahut Lila.
" Lihat loe lebay gitu, enek gue jadinya. " timpal Andhara.
" Malah pada ribut. Oyy Son, Bil, loe pada nggak jadi nyariin anak loe? " teriak Eka geram melihat para sahabatnya malah bercanda terus.
Soni dan Sabil sama-sama menepuk jidat mereka. Lalu mereka berlari tunggang langgang keluar dari dalam rumah Andhara. Yang lainpun mengikuti mereka berlari di belakang mereka.
Dari depan rumah, nampak seorang anak kecil berusia 5 tahun menangis di dalam mobil sambil memukul-mukul kaca jendela mobil.
Sedangkan Soni dan Sabil masih syok di tempatnya.
" Buru bukain pintunya! Loe mau anak loe pingsan kehabisan oksigen di dalam? " teriak Andhara yang sudah berada di samping mobil. Tangannya sudah memegang handle pintu.
Soni tersentak. Ia segera mengambil kunci dari dalam saku celananya bagian belakang.
Kik .. Kik ...
Ceklek
Andhara segera membuka pintu mobil Soni kala kuncinya terbuka.
" Huaaa.... " gadis kecil berusia 5 tahun itu menangis tersedu-sedu karena ketakutan.
" Sayang... Cup... cup .. cup ... " Dhara segera mengambil tubuh mungil itu dan menggendongnya, memeluknya dan mengelus punggungnya.
Jebles
Dhara menutup pintu mobil menggunakan pan tatnya, lalu kembali ke teras di mana semua sahabatnya berkumpul.
" Sumpah ya. Kalian berdua kebangetan. Gue aja nih, yang dulunya absurb abis, nggak sampai ninggalin anak gue dalam mobil sendirian. " omel Andhara masih sambil menenangkan si Kecil Chikita yang biasa di panggil Kiki itu.
Ia melewati Soni dan Sabil begitu saja. Si kecil masih menangis dalam dekapannya.
" Maafin mama sayang. " Sabil mengikuti gadis kecil berkerudung yang berada dalam pelukan Andhara.
__ADS_1
" Mama... " panggil Kiki sesenggukan. Si kecil mengangkat kedua tangannya meminta gendong Sabil.
Andhara menyerahkan Kiki ke mamanya ketika mereka sampai di dalam rumah. Si kecil masih menangis ketakutan.
" Ssssss..... " Sabil berusaha menenangkan si kecil Chikita. Sang papa, Soni mengelus punggung Kiki dari samping sambil mencium tangan Kiki.
" Ibu... Chiki kenapa? " Kevin, bungsu Andhara dan Julio turun dari tangga. Ia segera menghampiri ibunya yang sedang duduk di sofa ruang tengah dekat tangga.
" Kiki.... Ketakutan sayang. " jawab Andhara sambil meraih Kevin di pangkuannya.
" Hai, Chiki. " sapa Kevin. Si kecil Kiki menegakkan kepalanya lalu menoleh ke samping.
Usia Kevin dan Kiki terpaut 2 tahun. Saat ini, Kevin berusia 7 tahun. Ia sudah duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar.
" Kak Evin. " ucap Kiki sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
" Chiki kenapa menangis? Kalau nangis, cantiknya hilang loh. " ujar Kevin.
" Kiki cantik ya kak? " tanya Kiki masih dengan sisa-sisa sesenggukannya.
Kevin mengangguk mantap. " Cantik. Banget. Kayak Song Hye Kyo. " jawab Kevin.
" Bwahahahaha.... " Eka, Lila dan Putra tertawa terbahak bahak bersamaan.
" Bener-bener titisan si Andhara. Suka ngereceh. Mana pakai Song Hye Kyo segala. " ujar Putra masih sambil terkekeh.
" Pasti dia sering liatin emaknya nonton drakor tuh . " imbuh Lila.
" Mau main sama kak Evin, ma. " pinta Kiki ke mamanya.
" Bilang dulu dong sama kak Kevin. Mau nggak ngajakin Kiki main. " jawab Sabil.
Kiki mengangguk, lalu ia mengalihkan pandangannya ke Kevin kembali.
" Kak, mau main sama Kiki nggak? " tanya Kiki sambil berkedip lucu.
Kevin tersenyum dan mengangguk. " Mau dong. Kan Chiki cantik. " ucapnya. " Mau main apaan? " tanyanya sambil turun dari pangkuan ibunya. Kiki juga turun dari pangkuan mamanya.
" Gimana kalau mau main pengantin-pengantinan? " usul Chiki.
Kevin mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Kiki. " Boleh. Kita main pengantin-pengantinan sekarang karena masih kecil. Besok kalau sudah besar, kita jadi pengantin beneran ya. " ucapnya sambil berjalan menggandeng tangan Kiki.
Para orang tua menepuk jidatnya sendiri - sendiri.
" Calon-calon ini mah. " gumam Putra.
" Kak Evin, jangan panggil Kiki Chiki dong. Kiki kan bukan makanan. " masih terdengar celotehan si kecil.
" Kan nama kamu Chikita. Jadi udah bener kalau aku panggil Chiki dong. Aku suka manggil kamu Chiki. " sahut Kevin.
" Ihhhh!!! Tapi kayak cemilan. " terdengar si kecil Kiki masih protes.
" Ck!ck! Roman-romannya kalian bakalan besanan nih. " celetuk Eka. Yang langsung di toyor Soni juga Andhara bersamaan.
" Kalau gue sih, Aminin aja lah. " sahut Sabil membuat Andhara dan Soni menoleh ke arahnya.
__ADS_1
bersambung