
Usai makan malam, saling mengungkapkan perasaan, Arisa dan Roy memutuskan untuk beristirahat. Hari sudah malam. Jadi seorang gadis kecil seperti Arisa harus sudah bobok di jam segini.
Ceklek
Arisa membuka pintu kamar. Matanya menyipit. Kenapa kamarnya temaram? Tapi sinar temaram itu bukan dari lampu tidur, melainkan dari lilin yang berada di pojok - pojok kamarnya.
" Nih apaan? Kok malah nyalain lilin di kamar. Kalau kebakaran gimana? Listrik juga idup kan? " gumam Arisa.
Ia lalu kembali keluar dari dalam kamar.
" ABANG....!!!! " teriaknya memanggil sang suami yang masih berada di lantai bawah mengambil minum untuk di bawa ke kamar. Karena ia sering terbangun di tengah malam karena haus.
" ABANG.. " panggil nya kembali.
Tap
Tap
Tap
Terdengar sandal rumahan yang di kenakan Roy menekuni tangga.
" Ada apa? " tanya Roy.
" Sini deh, cepetan. " Arisa melambaikan tangan kanannya ke arah Roy.
" Kenapa? Heboh banget. " ujar Roy.
Arisa segera menarik tangan Roy untuk ia bawa masuk ke dalam kamar ketika Roy sudah berada di dekatnya.
" Abang ih. Nggak tahu bahaya. " omel Arisa. " Abang kenapa nyalain lilin di kamar? Nggak lagi mati lampu kan? Kalau kebakaran gimana? " lanjutnya masih mengomel mirip emak-emak kompleks yang lagi marahin tukang sayur karena ia tidak di perbolehkan untuk menawar harga ayam sekilo.
Roy mengernyit. Lilin? Siapa yang nyalain lilin? Seingatku tadi aku hanya menyuruh Ori menyalakan lilin di taman belakang.
Roy segera masuk ke kamar lebih dalam. Ia pun terkejut dengan kondisi kamarnya.
Ah, kenapa kamarnya jadi kayak kamar pengantin baru gini? Ranjangnya di tata rapi, dengan hiasan taburan bunga mawar, juga kelopak bunga mawar yang di bentuk menjadi lambang cinta, dengan handuk kecil yang di bentuk angsa jantan dan betina saling berci uman.
Di beberapa pojok kamar, lilin dengan aroma terapi di nyalakan. Kerjaan siapa ini? Ia tidak menyuruh Ori melakukannya. Apakah ini inisiatif Ori sendiri?
" Ab-" omongan Arisa terhenti kala ia melihat kondisi kamarnya. Ia sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Apa-apaan ini??? Kenapa auranya jadi makin romantis gini? Dan aroma ini... Aroma ini begitu harum? Batin Arisa.
" Abang juga mendekorasi kamar kita? " tanya Arisa.
__ADS_1
" Sepertinya ini bonus dari tukang dekorasinya." jawab Roy beralasan. Karena sejatinya, ia pun tidak tahu.
" Tukang dekorasinya nggak tahu bahaya ih. Nyalain lilin asal. " gerutu Arisa.
" Lilin-lilin ini tidak bakalan membuat rumah kita kebakaran. Kamu tenang aja. Mereka aman meskipun kita biarkan menyala hingga besok. Lihat, lilin - lilin itu berada di wadah. Jadi tidak akan sampai kemana-mana apinya. " Roy menjelaskan.
" Iya juga ya. " Arisa nampak membenarkan sambil manggut-manggut.
" Abang ke kamar mandi dulu. Atau kamu aja dulu? "
" Abang aja deh dulu. Arisa mau bersihin muka dulu. " jawab Arisa dan Roy mengangguk.
Roy segera mengambil baju ganti dari dalam walk in closed nya. Dan Arisa, segera membuka jilbabnya, dan membersihkan mukanya.
🌷🌷🌷
Arisa dan Roy kini sudah sama-sama di atas tempat tidur dengan guling yang membatasi mereka seperti biasa.
Tapi malam ini berbeda. Kedua pasang mata itu tidak jua terpejam meski mereka sudah berada di atas ranjang selama hampir satu jam lamanya. Bahkan sang putri tidur Arisa, yang biasanya langsung tepar kala mencium aroma kasur, kali ini, matanya juga enggan terpejam.
Entah itu efek ungkapan cinta masing-masing atau apa. Tapi yang pasti, mereka sama-sama terlihat tidak nyaman hanya untuk memejamkan mata. Arisa terus membolak-balik tubuhnya sudah seperti gorengan bakwan, yang jika tidak di balik takut gosong.
Sedangkan Roy, pikirannya melayang. Aroma terapi dari lilin yang menyala itu seakan membangunkan sesuatu yang selalu tertidur selama ini. Entah aroma apa yang mertuanya berikan itu.
Udah gitu, si ibu pakai nitip pesan, katanya ' Silahkan menikmati malam ini bersama putri ibu yang cantik. Kalau bisa, cepat kasih ibu cucu, biar ayah tidak minta anak lagi ke ibu. '
Itulah pesan dari sang ibu mertua absurb nya. Di saat ia menjawab jika Arisa masih sekolah, sang ibu menjawab jika tak apa masih sekolah. Karena ia dulu juga begitu.
Ucapan sang ibu mertua itu selalu terngiang dalam pikiran Roy. Beberapa kali Roy mende sahkan nafasnya berat.
" Bang... " panggil Arisa sambil menatap langit-langit kamar. " Abang udah tidur belum? Arisa nggak bisa tidur nih. " lanjutnya.
" Hem. " sahut Roy.
Arisa menoleh ke arah Roy yang ternyata masih membuka matanya.
" Kenapa, nggak bisa tidur? Hem? Biasanya kalau lihat tempat empuk aja langsung melayang ke dunia mimpi. " ujar Roy sambil menoleh juga ke arah Arisa. " Pasti karena ucapan cinta abang ya? " godanya.
Arisa sudah kembali menatap langit-langit kamar. " Iya nih kayaknya. Jadi kebawa baper. Susah merem nih mata. " jawabnya apa adanya.
Roy mengambil guling yang membatasi mereka, lalu memindahkan guling itu ke pinggir ranjang. Ia bergerak bergeser mendekati Arisa.
" Abang mau ngapain? " pekik Arisa terkejut. Ia bahkan menyilangkan kedua tangannya di depan dada waspada. " Gulingnya ih, balikin. " ketusnya.
Roy tak menggubris pekikan Arisa. Ia justru menelusupkan tangan kirinya ke bawah kepala Arisa. Menyangga kepala itu, lalu menarik tubuh kecil Arisa ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Tak sulit menarik tubuh Arisa. Karena tubuhnya yang kecil, membuat Roy bisa dengan mudah melakukan apapun.
Arisa menahan tangannya ke dada Roy ketika tubuhnya di dekap oleh Roy
" ABANG, ih!! Jangan modus deh. Arisa masih kecil ya. Jangan macem-macem. Entar Arisa laporin nih ke Komnas Perlindungan anak. " ancamnya yang justru membuat Roy terkekeh.
" Mana ada perlindungan anak yang mau nerima laporan kamu, hem? Kamu bukan anak kecil lagi yang masih di bawah umur. Kamu sudah punya KTP kan. " Roy menunduk untuk melihat wajah menggemaskan sang istri sambil menoel hidung Arisa.
Arisa mendongak, hingga kedua pasang netra itu bertemu. Lama kelamaan, pipi Arisa terlihat merona. Mereka masih sama-sama diam tak bersuara. Sampai entah semenjak kapan, Roy bermain di bibir Arisa.
Me ***** bibir tipis itu bergantian hingga Arisa tak kuat untuk tak membalas dan membuka bibirnya hingga Roy bisa dengan leluasa merasakan setiap inci mulut Arisa hingga terdengar sebuah le nguhan manja dari bibir Arisa.
Le nguhan itu membuat Roy makin tak terkontrol. Usia yang matang membuat hasratnya sulit untuk di kekang lagi. Apalagi gadis di depannya ini halal untuknya.
Tangan Roy sudah ikut bergerilya ke tubuh Arisa. Mengusap - usap lembut punggung Arisa hingga membuat atasan baju tidur bergambar Elsa milik Arisa tersingkap ke atas.
Sentuhan tangan Roy yang menyapu kulit punggung Arisa, membuat Arisa makin melayang. Tangan Roy tak hanya sampai punggung. Kini, tangan itu berpindah ke depan setelah menyentuh mengelus pinggang Arisa.
Sampai tiba-tiba tangan Roy meraih dan menggapai gunung kembar Arisa yang masih tertutup dala man. Memijat, meremas, hingga membuat dala man itu terkoyak dan menyingkap ke atas.
Merasa tidak ada penolakan dari Arisa, tangan kanan Roy beralih ke punggung kembali. Tapi kali ini, bukan untuk mengusap punggung itu, tapi untuk melepas pengait dala man sang istri.
Arisa sudah seperti kehilangan kendali akan tubuhnya. Ia terus mengikuti permainan sang suami. Mende sah dan mengge linjang kala tangan sang suami mengusap, memainkan, meme lintir ujung gunung kembar yang selama belum pernah di sentuh tangan manapun selain tangannya sendiri.
Rasa baru yang baru Arisa rasakan. Geli-geli nik mat. Ternyata di sentuh, di elus tangan orang lain, bisa sedahsyat ini rasanya.
Roy pun sama. Ia sudah tidak mengingat perjanjian mereka jika mereka akan melakukannya saat Arisa telah menerima ijazah menengah atasnya.
Bibir Roy kini sudah berpindah ke da da Arisa. Baju tidur Elsa milik Arisa sudah menghilang entah kemana beserta penutup da da Arisa berkat tangan lihai Roy.
" Ah.... Abanghhhh.... " desah Arisa. Mendengar Arisa memanggil dirinya dengan suara de sahannya, membuat Roy makin menggila.
Seperti kucing di kasih ikan asin. Mana bisa menolak. Roy terus menik mati tubuh sang istri. Dan Arisa hanya menerimanya sembari menik matinya pula.
Sampai pada saat Roy mulai mengarahkan senjatanya ke hutan lindung milik sang istri, bahkan baru saja kepalanya saja yang masuk, Arisa menjerit.
" AAAAAAAAAA...... " jerit Arisa. " IBUUUUU.... Arisa di perawanin abang nih!!!! " lanjutnya sembari menutup kedua matanya erat merasakan rasa sakit yang rasanya sampai ke otak.
Roy terdiam. Ia tidak melanjutkan kegiatannya. Apa benar rasanya sesakit itu? Tanyanya dalam hati sambil menatap Arisa lekat dengan deru nafas kencangnya.
Ia lalu menengok ke bawah kala ia merasakan ada sebuah cairan yang mengalir membasahi senjatanya.
Senyum tipis terbit dari kedua sudut bibirnya kala melihat cairan berwarna merah itu. Ia lalu mengecup kening, lalu kedua mata Arisa yang tertutup, hidung, terakhir, bibirnya.
bersambung
__ADS_1