
" Saudara ketemu gede. Saudara yang bisa di ajak enak-enakan kalau malem. " ujar Roy.
Spontan Arisa meremas bibir Roy saking gemas dengan ucapan sang suami.
" Abang, ih!! Mulutnya suka me sum deh. " protes Arisa sambil memanyunkan bibirnya.
" Kamu katanya kangen sama abang. Sampai abang rela-relain loh ninggalin kerjaan yang setumpuk cuma buat nyamperin kamu. " ujar Roy.
" Oh iya. Lupa. " sahut Arisa sambil memukul jidatnya sendiri.
Ia lalu menarik tangan Roy dari pinggangnya, lalu menarik tangan itu hingga Roy mengikuti langkahnya.
" Kita ke mobil aja. Biar nggak ketahuan anak-anak. " ujarnya sambil menoleh sebentar ke arah Roy.
Roy tersenyum melihat kelakuan istri kecilnya. Dan lucunya lagi, dirinya yang sudah udzur mau-mau saja mengikuti kemauan sang istri.
Jebles
Roy menutup pintu belakang mobil ketika ia dan Arisa sudah masuk ke dalam. Udara terasa dingin. Karena sedari tadi, Roy tidak mematikan mesin mobilnya hingga AC nya pun masih hidup.
" Mau apa ajakin abang masuk kesini? " tanya Roy.
" Mau minta obat sama abang. Pak satpam bilang tadi, abang mau ngasih obat Arisa yang ketinggalan sama abang. " ujar Arisa.
" Abang kan cuma cari alasan biar kamu bisa keluar. " sahut Roy.
Arisa tersenyum smirk. Lalu dengan sigap, menarik dasi yang masih menggantung di leher sang suami, hingga sang suami ke tarik dan berada begitu dekat dengannya.
Cup
Satu kecupan Arisa layang kan di bibir tebal sang suami. Dan tanpa melepas bibir sang suami, Arisa melu mat bibir itu penuh dengan naf su.
Roy yang awalnya terkejut, kini menikmati permainan sang istri. Istrinya itu sekarang sudah mahir dalam berciu man.
Arisa melepas tautan bibirnya kala nafasnya terengah-engah.
" Obat rindu namanya. " ucap Arisa sambil terkekeh.
Roy pun ikut terkekeh. Lalu tanpa aba-aba, ia menarik tengkuk Arisa, dan kembali mengulangi kegiatan yang mereka lakukan beberapa saat lalu.
Saling melu mat, saling mengu lum, saling bertukar saliva, juga saling meneliti tiap inci isian mulut masing-masing.
Bahkan kini, Arisa sudah berpindah duduk di pangkuan Roy. Bibir saling bertaut, dan tangan yang saling berkelana.
Kemeja Roy yang tadi sudah Arisa rapikan, sekarang tangan Arisa pulalah yang membuatnya kembali berantakan. Dan tangan Roy, kini juga sudah menyelinap ke dalam baju atasan Arisa.
__ADS_1
Meremas dan memainkan aset kembar Arisa yang sekarang sudah tidak lagi sebesar apel fuji. Mungkin sudah sebesar buah naga.
" Mmngghhh... " Arisa melenguh kala jari jemari sang suami bermain di atas puncak kembarnya.
" Udah sholat Duhur? " tanya Roy ketika ia melepas bibir sang istri sejenak.
Arisa mengangguk.
" Kita coba di sini. Dengan waktu yang singkat. Mau? " tanya Roy dengan pandangan berkabutnya. Sungguh, istri kecilnya ini luar biasa. Selalu mampu membuatnya on fire kapanpun dan di manapun.
Arisa melebarkan senyuman di bibirnya sambil mengangguk penuh semangat. Memang inilah yang sedari tadi ia sangat inginkan. Bad mood gara-gara tidak bisa mengerjakan ulangan matematika, membuatnya jadi menginginkan hal di luar nalar. Ajaib kan?
Roy pun tak kalah semangat. Dengan segera, ia menyingkap rok seragam sang istri, lalu melepas cela na da lamnya. Sedangkan Arisa juga terlihat sibuk. Sibuk melepas gesper suaminya, lalu membuka resleting celana sang suami.
" Pelan-pelan, sayang. Jangan sampai peliharaanmu kejepit. " ujar Roy yang merasa jika sang istri sangat terburu-buru.
" Abang tenang aja. Di jamin aman. Kalau peliharaannya kejepit, Arisa juga pasti ikut kehilangan. " jawab Arisa santai.
Lalu ia menye cap bibir sang suami. Ia menyerang dengan brutal. Bahkan Roy sampai kewalahan. Baru kali sang istri terasa mendominasi dan terlihat sangat ganas.
Masih sambil saling lu mat, Arisa segera memasukkan peliharaannya ke kandang, lalu ia yang berada di atas, segera bergerak naik turun membuat mobil mereka agak bergoyang. Untung saja kaca mobil Roy tak tembus pandang keluar.
" Ahhh..." de sah Arisa kala lidah suaminya bermain di da danya sambil mendongak ke atas merasakan sensasi yang luar biasa. Seragam atasannya sudah terbuka beberapa kancing bagian atasnya. Bahkan penutup da danya sudah naik sampai leher dengan pengait yang sudah tak saling bertaut.
" Ouhhh... Faster, baby...hhh " erang Roy sambil memegang kedua pan tat Arisa dengan kedua tangannya.
" Tunggu abangh sayang. Kita keluarinhh barengh-barengh.." Roy pun tak mau kalah.
" Abbanghh keluarin di luar, okehh? " Pikiran Roy masih agak waras. " Abangh gak bawahh pengamanhh... " lanjutnya sambil terus menikmati hentakan yang di lakukan oleh Arisa.
Arisa menggeleng keras menjawab ucapan Roy. " Tanggunghh bangghh... Terlanjur enakhh "
Roy hanya mengangguk. As you wish, madam. Batin Roy.
Ia lalu membantu Arisa untuk bergerak lebih cepat.
" Engghh.... Aaaahhh!!! " Teriak mereka bersamaan.
Lalu, beberapa saat kemudian, Arisa menjatuhkan kepalanya di atas pundak Roy sambil mereka mengatur nafas mereka yang ngos-ngosan.
Roy memeluk pinggang Arisa erat. Ia pun menetralkan nafasnya sambil memejamkan kedua matanya. Merasakan sensasi nikmat yang tadi ia dapatkan.
Bahkan posisi Arisa masih sama seperti tadi. Mereka masih saling menyatu di bawah sana.
" Gilak!! Benar-benar gilak. " ujar Arisa sambil terkekeh. Ia tidak menyangka jika dirinya bisa segila ini. Melakukan hal tersebut, di saat jam sekolah masih berlangsung, tepat di depan sekolahnya pula.
__ADS_1
Roy ikut terkekeh. " Masih kangen? " tanyanya.
" Udah dapet obatnya. Sekarang udah semangat lagi. " jawab Arisa sambil mengerlingkan sebelah matanya ke Roy.
Roy kembali mengekeh. " Kita lepas dulu. Jangan sampai abang minta lagi. Nanti kamu jadi nggak ikut pelajaran. " ucapnya Roy sambil menepuk pelan pan tat Arisa.
" Abang ih!! " pekik Arisa terkejut dengan tepukan Roy.
Bukannya segera melepas penyatuan mereka, Arisa malah mengangkat tangan kanannya dan melihat jam yang melingkar di tangannya.
" Wah, udah habis satu jam pelajaran nih. Udah ganti mapel juga. " ucapnya.
" makanya, lepas dulu, ayok. Abang bantuin benerin seragamnya. "
" Ya harus lah. Kan abang yang bikin berantakan. Tanggung jawab dong. " sahut Arisa.
" Tisu mana tisu bang? " Arisa celingak celinguk ke kanan dan ke kiri.
" Abang ambilin. " ujar Roy, lalu ia mencondongkan tubuhnya ke depan hingga menempel ke tubuh Arisa. Tangannya meraih tisu yang berada di samping bangku depan.
Ia lalu menarik beberapa lembar tisu. " Ayok berdiri, Abang yang bersihin. "
Arisa mengangguk. Lalu perlahan, ia berdiri dan melepas penyatuan. Roy langsung menutupkan tisu yang ada di tangannya ke bagian bawah Arisa karena ia yakin, cairan darinya pasti akan langsung menetes.
" Wah, kecebong abang keluar semua nih. " ujar Arisa sambil melihat ke bawah.
" Hem. Kasihan benih unggul abang. Keluar gitu aja. " sahut Roy santai sambil mengambil beberapa lembar tisu lagi dan mengusap bagian bawah Arisa hingga kering.
" Udah bang. Tuh bu rung Abang cepetan di tutup. Entar terbang lagi. " kekeh Arisa kala melihat senjata sang suami masih nongol di sela-sela celananya.
Roy mengangguk. Ia mengambil lagi beberapa lembar tisu, dan ia membersihkan senjatanya sampai mengkilap. Lalu membenahi celana da lamnya, lalu menaikkan resleting celana bahannya.
" Sini, abang kaitin br@ nya. " ujar Roy saat melihat Arisa yang kesusahan mengembalikan penutup da danya.
Roy segera menelusupkan kedua tangannya ke punggung Arisa dan membenarkan apa yang tadi sudah ia lepas. Lalu ia membantu Arisa mengancingkan kembali kancing atasan seragam Arisa.
Sedangkan Arisa, ia sibuk membenahi letak kerudungnya yang morat marit bak di terjang banjir bandang.
" Udah cantik. Sekarang, balik ke kelas. Abang balik ke kantor dulu. Nanti pulang sekolah, Abang jemput. " ujar Roy.
Arisa mengangguk. " Makasih obatnya bang. " kekeh Arisa.
Ia mengecup pipi Roy terlebih dahulu sebelum ia keluar dari dalam mobil dengan wajah cerianya.
Roy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana ia bisa ikut-ikutan gila seperti tadi. Ia lalu keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Roy mengamati Arisa masuk kembali ke area sekolah hingga tak terlihat lagi. Setelahnya, ia membuka pintu kemudi, sebelum masuk ke dalam mobil, ia sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah sekuriti.
Bersambung