
" Gimana hubungan loe sama laki loe, Sa? " tanya Kaila sambil mencomot bakwan yang ada di atas meja kantin sekolah.
Sudah jadi kebiasaan, jika kantin adalah tempat paling asyik ketika kita ingin menggibah tentang segala hal.
Arisa mengangkat kedua bahunya pertanda ya begitulah. " Gitu sih. Emang kenapa? " tanyanya sambil memasukkan satu potong bakwan ke dalam mulutnya.
" Belum belah duren, loe? "
" Hem? Belum lah. Kan durennya belum mateng. Kagak enak kalau di belah sekarang. Belum ada baunya. " jawab Arisa santai sesantai orang yang lagi rebahan. Ia memasukkan lagi bakwan ke dalam mulutnya, lalu bergantian dengan cabe rawit yang lumayan pedas.
" Payah! " cibir Kaila. " Takut, loe? "
" Nggak ada takut dalam kamus seorang Arisa Prasetya. " sahut Arisa jumawa.
" Awas lho Sa. Banyak yang menginginkan laki loe. Kalau loe nggak mau ngasih duren loe sama dia, bisa-bisa dia cari duren yang lain. Asal loe tahu, pasti nggak sedikit perempuan di luaran sana yang mau melemparkan dirinya begitu saja ke laki loe. Secara, loe tahu lah laki loe gantengnya segimana. Belum lagi, duitnya. " ujar Kaila sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Iyakah? " ujar Arisa nampak menyiratkan keraguan di sana. " Ah, nggak lah. Kita udah sepakat sih, kalau nggak akan ngelakuin itu dulu sebelum gue lulus sekolah. " lanjutnya.
" Hisss.. padahal enak loh Sa. " ujar Kaila santai
Mendengar itu, Arisa memicing menatap Kaila.
" Apa loe?? " sarkas Kaila.
" Gue jadi curiga deh sama loe. Jangan-jangan loe jadi sugar baby terus udah pernah di ajakin gituan sama om om genit yang perutnya buncit."
Plak
Kaila menggeplak lengan Arisa. " Loe tuh yang sugar baby. Sampai di nikahin pula. "
" Biarin. Yang penting perutnya kagak buncit. "
" Dasar! Heh! " sahut Kaila.
" Ngomong-ngomong gimana kabarnya si Miler? Udah loe selesaiin, masalah loe sama dia? " tanya Kaila.
Arisa tiba-tiba murung. Ia menggeleng lemah. " Sumpah ya. Gue nggak punya dan belum nemuin alasan yang tepat buat mutusin dia. " ucapnya.
" Buat alasan mutusin dia. " tiba-tiba Rian datang dan menaruh ponselnya di atas meja tepat di depan Arisa.
Arisa dan Kaila menoleh bersamaan. Mereka terkejut dengan kehadiran Rian. Rian yang sudah hampir selama satu bulan ini menjauhi Arisa, kini tiba-tiba datang di saat mereka sedang membicarakan Miler.
" Yan. " sapa Arisa.
__ADS_1
" Gue dapetin itu buat loe. " jawab Tuan sambil menghentakkan pan tatnya di atas kursi di depan Arisa. Ia mencomot bakwan yang tinggal sebiji, karena yang lainnya sudah di babat habis oleh Kaila dan Arisa.
" Loe udahan, bertapanya? " tanya Kaila.
" Udah. " jawab Rian.
" Dapet wangsit apaan loe selama sebulan loe bertapa menjauh dari kita kita? " sengak Kaila.
" Dapet duit segepok sama emas batangan sekarung. " sahut Rian.
Plak
Kaila menggeplak kepala belakang Rian.
" Welcome back, bruuhhh!!!! " ucap Kaila. Jika Rian sudah berbicara seperti itu, itu tandanya ia sudah baik-baik saja. Ia sudah bisa berdamai dengan keadaan.
Rian menaikkan satu kakinya ke atas bangku.
" Eh, yang sopan. Kaki tuh tempatnya di bawah. Ketua kelas macam apa kelakuan minus gini. " cerca Kaila.
" Kayak yang nggak aja. " sahut Rian santai.
" Yan, maksud loe apaan ini? Emang apaan yang ada di ponsel loe? Masak iya gue pakai ponsel loe buat nimpuk Miler biar dia mutusin gue. " tanya Arisa. Loe kali Sa yang minta di timpuk. Bisa-bisanya dia bermode o on di saat saat seperti ini.
" Terus, maksud loe, apaan loe ngasih ponsel loe ke gue? "
" Gue tadi udah bilang, pakai itu buat mutusin Miler. Masak gitu aja loe nggak nyambung sih. Dasar lelet! "
" Ck! Loe nya aja yang nggak jelas. Maksud loe apaan ngasih gue ponsel butut loe, pe'a! "
" Loe lihatin itu yang ada di ponsel gue. Masak loe nggak ngerti sih. "
" Iya, tapi liatin apaan? Orang hp loe gelap gini. Kagak ada apa-apanya. " Arisa mengangkat ponsel Rian dan menunjukkan layar ponselnya yang gelap gulita.
" Oh. Layarnya mati. Sorry kagak kepikiran gue. "
" Ngerti kan, sekarang? Siapa yang lelet. " sahut Arisa.
Rian menanggapinya dengan cengengesan. Ia lalu mengambil ponselnya dari tangan Arisa, lalu menghidupkan layarnya dengan menempelkan jari jempolnya ke layar.
" Nih. Loe lihat deh video itu. " Rian mengembalikan ponselnya ke Arisa
Dengan cekatan, Arisa segera mengambil ponsel itu dan melihat video apa yang di bicarakan Rian.
__ADS_1
" Yan... Ini??? " Arisa di buat menganga melihat video yang ada di ponsel Rian.
Kaila pun tak mau ketinggalan. Ia juga segera ikut nimbrung melihat ada apa di ponsel Rian.
" Wah, istimewa. Ini yang namanya solusi yang solutif. " ujarnya sambil tersenyum smirk.
" Anjjiiimmm!!! Polaris Amalthea Prasetya yang notabenenya cewek paling kece sekolah ini, di selingkuhin begini. Nggak bisa di biarin. Dasar kimvriitt!!! " umpat Arisa sambil menggeretakkan gigi-giginya.
" Minta di apain cowok modelan kek gini, Kai? " tanyanya ke Kaila.
" Di potong aja bu rungnya biar nggak bisa terbang lagi. " jawab Kaila. " Gue yang siapin goloknya. Kalau perlu gue bantuin loe mutilasi tuh anak. "
" Harusnya gue yang selingkuhin dia. " Arisa masih merasa geram. Tapi, tidak ada rasa cemburu di hatinya. Tidak ada ceritanya seorang Arisa menangis termehek-mehek untuk laki-laki macam Miler. Ia hanya marah, karena ia sudah di tipu mentah-mentah.
" Gaskeun ae lah Sa, sekarang. Jangan nunggu habis lebaran. Entar dia keburu minta maaf sama loe. " ujar Rian.
" Otw ae lah kalau gini caranya mas bruhhhh... " ujar Arisa penuh semangat. Tiba-tiba ia tertawa.
" Dih, sin ting kayaknya nih anak. Tiba-tiba tertawa sendiri. " cibir Kaila.
" Terus, gue harus nangis gulung-gulung, sambil narikin ingus yang segede jelly bikinan si Ais, gitu. " sahut Arisa.
" Gue ketawa soalnya tiba-tiba gue keinget sama permintaan laki gue tadi pagi. "
" Apaan? Minta di ci pox, dia? "
" Enak aja! Minta gue panggil mas dia. "
" Keren tuh. So sweet. Mas Roy. " ujar Kaila sambil membayangkan jika dirinya dalam posisi Arisa.
" So sweet apaan. Yang ada, geli gue. "
" Berarti loe nggak mau, gitu? "
" Ya nggak lah. Gue panggil aja dia abang. Biar kek ibu ke ayah. " ujar Arisa.
" Dah ah, gue mau nyari makhluk jejadian dulu. Biar ngilang di telan bumi. " ucap Arisa.
" Loe, tumbenan pakai peniti. Sok imut loe. " ujar Rian kala Arisa masih menyeruput es tehnya meskipun ia sudah berdiri dari duduknya.
" Nih? Laki gue yang ngasih. Katanya, biar aurat gue ketutup. Jadi gue bisa jadi cewek alim. " jawab Arisa asal. Lalu ia segera meninggalkan tempatnya itu untuk mencari Miler, si tukang selingkuh.
bersambung
__ADS_1