
Bug
Sebuah pukulan tepat di wajah, Miler dapatkan dari Rian. Rian sudah tidak bisa menahan emosinya.
" Sekali lagi loe ngomong, gue ancurin tuh muka! " geram Rian.
Miler menyeka sudut bibirnya yang sedikit terasa perih sambil tersenyum miring.
" Loe nggak lihat di grup sekolah? Loe nggak tahu, gimana kelakuan perempuan yang loe sukai? Yang loe lindungi? " bentak Miler. " Dia! " ia menunjuk ke arah Arisa. " Dia nggak lebih dari seorang perempuan ja lang. " lanjutnya.
" Ahhh.. Atau loe juga udah nyicip juga? " tawanya sumbang.
Bugh
Kembali Rian memukul Miler dengan keras.
" Jaga mulut loe! " sentak Rian.
Baru saja Rian kembali mengepalkan tangannya, Arisa memegang lengannya lalu menggeleng.
" Kita pergi dari sini. " ajak Arisa lirih.
Rian terdiam sesaat. Lalu ia kembali menoleh ke arah Miler. Ia melepas tangan kirinya yang berada di kerah Miler, dengan mendorong tubuh Miler keras hingga membuat Miler terhuyung ke belakang.
" Cuih!! An jing ggg!!! Se ta n!!! " umpat Miler. Ia menatap kepergian Arisa dengan tangan terkepal. Hatinya terasa sakit dan panas.
Perasaan Miler terhadap Arisa dulu adalah nyata. Ia tidak berniat bermain-main terhadap Arisa. Tapi sayang, sifatnya yang selalu tidak tega sama cewek, di manfaatkan oleh Inez. Dan ia ikut terpesona.
" Mile, gue anter ke UKS. " ajak Inez. Ia memegang lengan Miler.
" NGGAK usah sentuh sentuh gue!!! " Miler menepis tangan Inez kasar. Ia lalu meninggalkan kerumunan itu.
.
.
.
" Loe lagi sakit? Nggak enak badan? Perut loe sakit? " tanya Orion ketika siang hari menjelang sore menjemput Arisa di sekolah.
__ADS_1
Orion masih memakai seragam sekolahnya juga. Tapi sekarang ia sudah mempunyai SIM, jadi sang kakak ipar memberinya sebuah mobil supaya Ori bisa membantunya mengantar juga menjemput sang istri tercinta.
Arisa menggeleng lemah. Ia menyandarkan tubuh serta kepalanya ke sandaran jok mobil dengan mata yang terpejam.
" Gue cuma ngantuk doang. Capek. " lirih Arisa.
" Laper juga, nggak? Kalau laper, kita ke cafe bang Roy aja dulu. Loe makan di sana. " tawar Ori.
" Gue lagi nggak laper. Masih kenyang. Gue cuma pengen cepet nyampe rumah, terus rebahan. Sumpah, gue capek banget hari ini. " jawab Arisa lesu.
" Ya udah, kita pulang sekarang. " ucap Ori. Ia lalu menjalankan mobilnya.
Ia merasa ada yang tidak beres dengan saudara kembarnya. Tapi ia lebih memilih diam. Ia tahu bagaimana sifat kembarannya. Jika Arisa mengatakan tidak ada apa-apa, maka mau sampai lebaran tahun depan juga Arisa tidak akan mau mengatakan apa yang terjadi.
Sedangkan Arisa, bukan badannya yang capek. Tapi hati juga pikirannya yang lelah. Sekarang ia punya predikat baru di sekolah. Bukan hanya gadis bar-bar dan nyeleneh seperti yang siswa-siswi sekolahnya katakan selama ini. Tapi sekarang, ia juga di kenal sebagai perempuan mu rahan.
Sesekali Orion melirik ke samping. Ia melihat beberapa kali Arisa menghela nafas beratnya dengan mata yang terpejam. Fix. Something wrong. Ori bakalan cari tahu setelah ini.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Ori, tiba di pekarangan rumah Roy.
" Sa, udah sampai rumah. Bangun. " Ori menggoyang goyangkan bahu Arisa.
" Udah sampai? "
Ori mengangguk untuk menjawab. Ia lalu turun dari mobil, di ikuti oleh Arisa.
" Lo nggak ke travel, Ri? " tanya Arisa ketika ia melihat Ori mengikutinya masuk ke dalam rumah.
" Nggak. Gue tadi udah ijin sama bang Roy. Gue juga ngantuk banget, pengen tidur. " jawab Ori sekenanya.
" Ah, elo Ri! Kerja asal-asalan. Jangan karena loe kerja sama kakak ipar loe, terus loe seenaknya. Makan gaji buta kalau gitu namanya. " sahut Arisa.
" Sekali-sekali boleh lah. Orang juga butuh rebahan juga, Sa. Nggak cuma kerja mulu. " jawab Ori sambil berjalan menuju ke arah dapur.
" Mau gue bikinin omelette nggak, Sa? " tanyanya setengah berteriak karena ia sudah sampai di dapur, sedangkan Arisa masih di ruang tengah.
" Tumben tumbenan loe baik nawarin gue makan? " kekeh Arisa. " Dunia masih aman kan? "
" Dasar loe! Di baikin, di kata tumben tumbenan. Kagak di baikin, di kata kebangetan. " gerutu Orion.
__ADS_1
" Mumpung gue lagi baek nih. Mau nggak gue masakin? " tanya Ori kembali.
Ori yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan saudara kembarnya. Jadi, hari ini, ia rela menjadi chef pribadi sang kembaran.
" Makasih. Tapi gue nggak laper. " tolak Arisa. Ia mengambil sebuah gelas, lalu menuang air putih ke dalamnya dan menenggaknya hingga tuntas.
" Ponakan gue pasti laper. Loe tuh berdua. Jangan karena loe males makan, loe ngorbanin anak loe juga. Kasihan kalau dia nggak loe kasih asupan gizi. " ujar Ori.
" Gue mau bikin omelette mi loh. Loe tahu kan, omelette mi bikinan gue rasanya gimana? " Ori masih pantang menyerah. Ia tetap membujuk Arisa supaya mau makan. Ia tahu, Arisa sangat menyukai omelette mi buatannya.
Arisa menggeleng. " Gue udah makan tadi di sekolah. " jawabnya sambil berjalan menuju ke taman belakang rumah.
" Gue mau tidur aja bentar. " lanjutnya sambil merebahkan tubuhnya di ayunan yang berada di taman.
Ori menghentikan kegiatannya mengeluarkan bahan yang akan ia gunakan untuk membuat omelette.
Lalu ia keluar menuju ke taman belakang menyusul sang kembaran.
" Tidur di kamar. " ucapnya sambil mengusap pundak Arisa. " Di sini ber-angin. Nanti loe masuk angin. "
Arisa membuka matanya, lalu mendongak menatap Ori. Ia menggeleng. " Di sini aja. Sejuk. Adem. Kalau gue tidur di kamar, bisa sampai besok pagi baru bangun. " jawabnya. " Loe kalau mau balik, jangan lupa, gerbang depan di tutup. Jangan sampai ada penculik masuk terus nyulik gue. Minta tebusan ke abang. "
" Ck! Siapa juga yang sudi nyulik elo. Makan loe banyak. " cibir Ori.
Lalu ia meninggalkan Arisa sendiri untuk kembali masuk ke dapur. Ia akan meneruskan acara memasaknya. Sepulang sekolah tadi ia memang belum makan sama sekali.
Ia juga memutuskan untuk tetap di rumah ini sampai kakak iparnya pulang. Ia tidak akan meninggalkan saudara kembarnya sendirian dengan masalah yang entah apa.
Usai memasak, Ori meletakkan piring berisi omelette hasil karyanya di atas meja. Ia lalu melangkah menuju ke taman. Ia menengok, apakah Arisa terbangun atau tidak.
Sampai di taman, ia melihat Arisa tertidur meringkuk.
" Ck! Nyusahin. " decaknya. Ia masuk kembali lalu kembali keluar dengan membawa selimut tipis yang ia selimutkan ke tubuh saudaranya.
" Tidur yang nyenyak. Lupain semua masalah loe. " ucapnya sambil mengusap pundak kepala Arisa. " Gue selalu sayang sama loe. Semoga loe selalu baik-baik aja. "
Lalu Ori kembali ke dalam rumah dan menikmati hasil masakannya.
Bersambung
__ADS_1
Part terpanjang ini loh guysss... semoga kalian puas bacanya...🥰🥰🥰