Om itu suamiku

Om itu suamiku
Pingsan


__ADS_3

" Ab-bang...." Arisa melihat sosok sang suami saat ia mendongakkan kepalanya.


Mau apa abang kesini? tanya Arisa dalam hati.


Melihat kondisi dan posisi sang istri yang sudah bak seorang nara pi dana, hati Roy terasa teriris. Ingin rasanya ia memeluk sang istri erat. Tapi ia yakin, jika ia melakukan hal itu, maka Arisa akan sangat marah.


Dan Roy juga ingin mengobrak-abrik seluruh ruangan itu kala matanya menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu, yang hampir semuanya menatap rendah ke arah istrinya. Tapi lagi-lagi, hal itu hanya dalam hati Roy. Ia ingin bermain elegan.


Ia mengukir seulas senyum ke arah Arisa, sebelum ia berjalan melangkah menuju ke arah ruangan lebih dalam. Arisa menggelengkan kepalanya. Seperti dugaan Roy, jika sang istri pasti akan bersikeras untuk diam.


" Tuan Roy. " sapa ketua komite. Semuanya langsung berdiri dan menundukkan kepala mereka sesaat untuk memberi hormat.


" Kok tumben, tuan Roy datang ke sekolah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. " ujar sang kepala sekolah.


" Silahkan duduk, tuan. " seorang waka kurikulum mempersilahkannya untuk duduk.


" Terima kasih. Tapi saya datang kesini bukan untuk duduk. " jawab Roy dingin.


Suara dingin dengan aura mencekam itu mampu membuat Arisa menenguk salivanya dengan susah payah. Ia menggigit bibir bawahnya.


Sontak, jawaban itu membuat ketua komite, kepala sekolah, yang tadi sudah duduk, kembali berdiri.


" Maaf, tuan. Pasti berita tidak mengenakkan tentang apa yang terjadi di sekolah ini sudah sampai di telinga anda. Bahkan tuan Manoj juga. Maaf, atas kelalaian kami dalam mendidik anak murid kami. " ujar kepala sekolah.


" Tuan tenang saja. Kami sedang mengatasi masalah ini. Si pelaku yang sudah mencemarkan nama baik sekolah, sedang kami adili. Kebetulan anda kesini. Jadi silahkan duduk, tuan. Mari kita adili dia bersama-sama. " imbuh ketua komite sambil menunjuk ke arah Arisa yang masih menunduk.


Tuan Manoj, adalah donatur utama sekolah Arisa. Jadi secara otomatis, Roy pun berkecimpung di dalamnya. Seharusnya, tuan Manoj lah yang di tunjuk untuk menjadi ketua komite. Tapi beliau menolaknya.


" Oh ya? Ada masalah apa sebenarnya? Bisa anda ceritakan kronologisnya? " ucap Roy masih dengan berdiri.


Lalu kepala sekolah segera menceritakan gosip yang beredar di sekolah itu.

__ADS_1


" Apa kalian punya buktinya? " tanya Roy setelah kepala sekolah menceritakan semuanya.


" Ada tuan. Dan bisa saya pastikan jika bukti ini bukan rekayasa. Bukti ini nyata. " jawab kepala sekolah sambil memperlihatkan foto-foto yang ada di ponselnya.


Roy hanya melihat sekilas. Ia tersenyum miring. Kini ia tahu, kapan foto itu di ambil. Dan ia bisa memastikan jika benar, itu adalah perbuatan salah satu siswa yang sekolah di sana.


" Wah, foto ini benar-benar asli. " jawabnya santai.


" Iya, tuan. Kami juga sudah memastikan kepada ahli IT kami. " sahut kepala sekolah.


" Lalu, apa tindakan kalian sekarang? Apa kalian akan mengeluarkannya dari sekolah? Apa saat ini, kalian sedang menjudge gadis ini? Menuduhnya sebagai ja lang, seperti gosip yang beredar? Menuduhnya sebagai seorang sugar baby om-om, begitu? " ujar Roy tegas.


" Karena memang seperti itu keadaannya, tuan. Tapi sayang, anak ini tidak mau menjawabnya. Ia hanya diam saja seperti patung di sana. " jawab ketua komite sinis.


Roy tersenyum miring. " Baiklah. Jika gadis ini tidak mau menjawab, saya yang akan memberikan jawaban kepada kalian. " ucap Roy tajam.


Arisa mendongak terkejut. Ia menatap lekat ke arah Roy. Roy pun menoleh ke arahnya. Roy melihat Arisa kembali menggeleng pelan. Tapi Roy tersenyum hangat seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.


" Maksudnya tuan? Apa tuan sudah menyelidikinya? Ah, pasti sudah. Pasti kejadian yang sebenarnya memang seperti itu. " ujar ketua komite.


" Gadis itu, adalah gadis baik-baik, dari keluarga terhormat. " ujar Roy sambil menyusuri meja kepala sekolah dengan jarinya.


" Dia adalah gadis terbaik yang pernah saya ketahui. "


" Tapi tuan .. foto itu .. "


" Anda benar sekali bapak kepala sekolah. Foto itu memang asli. Tapi sayang, orang yang mengedarkan foto itu tidak mencari kebenarannya dulu sebelum dia menggunggah foto-foto itu. Tidak memikirkan apa yang bisa terjadi kepada dirinya ketika ia mengedarkan foto itu. " jawab Roy. Ia kembali tersenyum miring.


" Tapi siswa ini justru membantu pihak sekolah menyadari jika ada siswa kami yang ternyata berkelakuan minus. Bahkan dia hamil di luar nikah. " sahut kepala sekolah. Dan hal itu mampu membuat Arisa meneteskan air matanya. Tubuhnya terasa makin melemah.


" Hamil di luar nikah? " Roy tertawa sumbang.

__ADS_1


" Apa anda sudah tahu, siapa laki-laki yang sedang bersama siswa anda ini di foto itu? " tanya Roy.


" Dia tidak mau menjawabnya. " sahut kepala sekolah.


Roy kembali tersenyum miring. Ia mengambil dua buah buku kecil berbeda warna dari dalam kantong jasnya, lalu meletakkan dua buku itu di depan kepala sekolah.


" Anda lihat sendiri. " ujar Roy.


" ARISA!!! " pekik Waka kurikulum yang seorang guru perempuan kala melihat tubuh Arisa oleng di sampingnya. Sontak guru itu berdiri dan memeluk tubuh Arisa. Untung saja Bu guru itu dengan sigap meraih tubuh lemah Arisa. Jika tidak, maka Arisa pasti sudah mendarat di lantai yang dingin


Sontak pekikan guru itu membuat Roy menoleh ke belakang. Ia segera berlari dan meraih tubuh Arisa dari pelukan guru itu ke dalam pelukannya.


" Arisa.... Arisa... " panggil Roy sambil menepuk-nepuk pelan pipi Arisa yang sudah tidak sadarkan diri.


Tanpa menunggu lama, Roy segera mengangkat tubuh Arisa, menggendongnya ala brydal.


" Dia adalah istriku. Istri sahku. Dia bukan ja lang. Namanya dan namaku tertera di buku nikah itu. Akulah laki-laki yang bersamanya di foto itu. Dan dia, tidak pernah hamil di luar nikah. Karena dia hamil setelah kami menikah. " ucap Roy setelah ia menggendong Arisa.


Penjelasan yang membuat semua yang ada di ruangan itu bergetar ketakutan. Mereka telah salah mengambil tindakan. Mereka tidak mencari tahu dulu siapa Arisa.


" Aku akan menyerahkan urusan siswa yang telah mengedarkan gosip busuk tentang istriku kepada kalian. Kalau kalian tidak bisa melakukannya, maka akan aku lakukan sendiri. " imbuh Roy, lalu ia segera membawa Arisa keluar ruangan dengan tergesa-gesa.


" Pak... Arisa ... " pekik Kaila.


Kaila, Santo, juga Rian, mereka bertiga menunggu di depan ruang kepala sekolah setelah menghubungi Roy tadi.


Roy masih tetap berjalan membawa Arisa menyusuri lorong depan beberapa kelas. Kaila, Santo, dan Rian mengikuti Roy dari belakang.


Sontak pemandangan itu membuat penghuni kelas yang Roy lewati terheran-heran. Mereka bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Arisa? Dan siapa laki-laki yang menggendong Arisa? Apakah itu om om yang sering mereka lihat di foto yang beredar?


" Biar saya yang nyetir. Anda temani Arisa di belakang. " ujar Rian.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Roy menyerahkan kunci mobilnya ke Rian dan pergilah mereka ke rumah sakit di mana Julio berada.


Bersambung


__ADS_2