Om itu suamiku

Om itu suamiku
Aneh


__ADS_3

Roy menatap sang istri yang berlari kecil meninggalkannya. Ia sudah berganti posisi duduk di balik kemudi.


Ia menatap punggung sang istri yang lama kelamaan makin menjauh dengan senyum yang tak surut dari kedua sudut bibirnya.


Ia bahkan mengekeh geli mengingat tindakan absurb nya tadi. Ia sampai tidak habis pikir, bagaimana seorang Roy Aditama yang terkenal dingin, tegas, kaku, dan disiplin, bisa melakukan hal me sum seperti tadi di dalam mobil. Bahkan lebih parahnya, di depan sekolah Arisa lagi.


Apakah dirinya sudah tidak waras sekarang? Roy menggelengkan kepalanya pelan sambil mengulum senyumnya menggigit bibir bawahnya.


Seganas itukah dirinya? Apa karena ia mendapatkan lawan yang masih begitu segar? Hingga tiap kali melihat lawan mainnya, ia tidak bisa menahannya.


Roy mulai menjalankan mobilnya perlahan keluar dari depan sekolah Arisa setelah sang istri tak terlihat.


Di kelas


" Assalamualaikum, maaf bu, terlambat. " ucap Arisa kala ia masuk ke dalam kelasnya dan terlihat sang guru sedang menjelaskan.


" Dari mana kamu? "


" Dari toilet. "


" Kok lama? "


" Maaf, Bu. Agak keras soalnya. Susah di keluarin. Musti sama tenaga dalam baru bisa keluar. " jawab Arisa sambil cengengesan.


" Ck! Kamu itu. Udah sana, buruan duduk. Terus nyatet. " titah sang guru.


Arisa mengangguk, lalu ia segera duduk di bangkunya yang berada di sebelah Kaila.


Melihat Arisa datang, Kaila mencondongkan tubuhnya ke Arisa dan berbisik.


" Dari mana aja loe? Masak iya, makan sampai satu jam? Emang semua masakan Bu kantin loe habisin? Maruk loe! "


" Loe salah. Gue di kantin cuma bentar doang. " jawab Arisa sambil mengambil buku pelajaran dari dalam tasnya.


Kaila mencebik. Mereka lalu kembali mendengarkan penjelasan guru di depan. Tapi sesekali Kaila melirik ke samping.


Aneh. Batin Kaila. Ia melihat perubahan raut wajah Arisa yang sangat drastis. Tadi, sahabatnya itu menangis sesenggukan karena tidak bisa mengerjakan ulangan matematika. Tapi ini, sahabatnya itu malah senyum-senyum sendiri.


Kesambet? Di mana? Di kantin? Oh noooo.... pikir Kaila.


" Sa, loe kenapa? Loe nggak lagi kesambet jin Tomang penunggu pohon cabe deket kantin kan? " bisik Kaila.

__ADS_1


" Maksudnya? "


" Yaa... secara loe tadi mewek kejer. Sedih-sedihan gitu . Eh, habis loe dari kantin, loe jadi senyum-senyum sendiri nggak jelas gini. "


" Soalnya, gue udah dapet obat paling mujarab buat ngatasin bad mood gue. " jawab Arisa santai.


" Obat? Obat apaan? Emang sotonya bu kantin di kasih apaan? "


" Bukan soto, bahlul! " jawab Arisa.


" Terus, apaan? "


" Ada neh. Yang pasti, loe belum pernah lihat obat yang gue dapetin tadi. " pungkas Arisa.


🌷🌷🌷


" Bang, masak sih Arisa udah laper lagi. " keluh Arisa sambil merengek. Menggambar abstrak di dada bidang sang suami yang sedang bersandar di sandaran ranjang.


" Tadi pagi, sarapan sama telur sapi dobel kan. Terus sampai sekolah, istirahat pertama, sarapan tuh sama nasi gudeg Bu kantin. Istirahat kedua, makan batagor. Terus habis ulangan harian, laper lagi. Makan soto deh. Terus pulang sekolah tadi, juga makan nasi Padang. Baru juga 3 jam bang. Masak sekarang udah laper lagi. " Arisa mengabsen semua makanan yang ia masukkan ke dalam perutnya hari ini.


Roy mengerutkan keningnya. Ia menaruh ponselnya di atas ranjang di sebelahnya. Ia menunduk sedikit untuk melihat sang istri.


Kenapa dia jadi banyak makan gini? Apa tadi dia bilang? Nasi gudeg, batagor, soto, nasi Padang? Terus sekarang udah laper lagi? Tanya Roy dalam hati.


" ABANG!!! " teriak Arisa mengagetkan Roy yang masih memperhatikannya. Kini, Arisa sudah menatap tajam ke arah Roy sambil cemberut.


" Arisa bilang lapar loh bang. Kenapa abang malah cuma merhatiin Arisa sambil bengong gitu? Mau ngeledek kalau body aku sekarang gem brot ya?? Mau bilang sekarang aku rakus kan? " ketus Arisa.


Hidung Arisa sudah kembang kempis. Bibir bawahnya sudah ia majukan. Ah, sebentar lagi pasti hujan air mata akan turun. Come on, Roy. Thinking something!!! teriak Roy dalam hati.


" Eh, bukan. Bukan gitu, sayang. Abang... Ab-abang lagi mikir. Mau nawarin kamu makanan apa buat ganjel perut kamu yang katanya tadi laper. " Roy akhirnya menemukan solusi.


" Oohh... Kirain Abang mau ngeledek. " Arisa berucap ringan. Ia menjauhkan diri dari Roy. Melepas pelukannya.


" Mana mungkin abang ngeledek kamu, sayang. Abang kan sayang sama kamu. Cinta sama kamu. Lagian, abang suka kok body kamu yang sekarang. Jadi lebih berisi. Nggak tipis lagi. Enak buat di pegang-pegang. " Roy berucap sambil merapikan rambut Arisa ke belakang telinga.


" Ya udah, kamu mau makan apa sekarang? Abang masakin, atau mau delivery? " tawar Roy.


Arisa tersenyum manis, tapi mengandung sebuah makna yang dalam. Ia mencondongkan tubuhnya mendekati Roy, lalu berbisik di telinga Roy, " Makan abang, boleh?? "


Roy sontak menoleh dan membulatkan bola matanya ke arah Arisa. Ia pun menelan salivanya cepat.

__ADS_1


Aneh. Benar-benar aneh. Bukankah tadi siang, mereka sudah melakukannya? Biasanya, jika sudah sekali melakukannya dalam satu hari, sang istri akan menolak jika ia mengajak. Tapi sekarang, kenapa malah samb istri terdengar sangat menggoda.


" Sayang.. "


" Mau nggak? Tapi Arisa yang di atas. Abang di bawah. " tanpa menunggu jawaban dari Roy, Arisa naik ke atas pangkuan sang suami. Mengalungkan kedua tangannya ke leher Roy, lalu melu mat kasar penuh tuntunan bibir Roy.


Roy sempat terkejut dengan permainan sang istri yang terasa menggebu-gebu. Tapi tak lama, ia pun menikmatinya. Menikmati setiap sentuhan sang istri. Ia hanya akan pasrah. Apapun yang istrinya lakukan, ia akan menikmatinya.


Dan benar saja, kali ini, Arisa benar-benar menyenangkannya. Memimpin permainan hingga peluh membanjiri tubuh keduanya.


Nafas mereka terdengar terengah-engah setelah mencapai puncak bersama-sama. Arisa, tidak membiarkan Roy berada di atasnya sama sekali.


Kini, mereka berdua tidur telentang sambil mengembalikan detak jantung masing-masing. Masih sama - sama dalam keadaan polos.


Setelah detak jantung lumayan normal, Roy memiringkan tubuhnya, menyeka keringat Arisa yang membasahi dahi hingga pelipisnya.


" Permainan yang luar biasa. " puji Roy.


Blush. Kedua pipi Arisa merona. Ia malu mendengar suaminya memujinya seperti itu. Ia juga tidak tahu mengapa ia bisa seaktif tadi.


" Jiwa muda. " sahutnya sambil mengekeh.


Roy pun ikut terkekeh. " Aku suka. Besok-besok, Abang mau lagi. " ujarnya.


" As you wish, my husband. " jawab Arisa sambil menoleh ke arah Roy dan tersenyum.


" Tapi jangan sekarang. Arisa ngantuk. Hoaamm.. " lanjutnya sambil menguap.


" Nggak mandi dulu? " tawar Roy.


" Mau tidur dulu bentar. Capek. Kayaknya lebih capek ketimbang naik kuda beneran deh. " jawab Arisa.


Roy tersenyum, lalu mengusap ujung kepala Arisa.


" Ya sudah, istirahat aja dulu. " ucapnya.


" Abang jangan kemana-mana. Mau di peluk abang bobo nya. Kalau abang tinggalin, Arisa jadi berasa kek ja lang. Habis di pakai terus di tinggal pergi. " lantur Arisa sambil menutup matanya.


" Iya. Abang temenin. " sahut Roy. Lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh sang istri.


Ia lalu menelusupkan tangan kirinya ke bawah leher Arisa, dan membawa tubuh polos Arisa ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2