
" Mau apa? Awas ya kalau macam-macam! " ucap Arisa sambil menjauhkan tubuhnya.
" Ck! " Roy berdecak pelan. Kenapa gadis satu ini tidak bisa di ajak romantis. Keluh Roy.
" Sayang, suami kamu mau mencium kening kamu loh. " ujar Ruby. " Biasanya pengantin kan emang begitu. Habis pasang cincin, terus suaminya kasih ciuman deh. " lanjutnya.
What??? Di cium.... Nggak .... Nggak ... Nggak ...
Belum juga Arisa sadar dari lamunannya, Roy sudah menyambar keningnya. Untung saja Arisa gadis yang selalu bisa bergerak dengan cepat. Ia menempelkan tangannya di kening, sehingga Roy hanya bisa mengecup punggung tangan Arisa. Itupun hanya sekilas karena Arisa segera mundur ke belakang.
Menutup keningnya sambil memekik, " Jangan!!" membuat semua Yang ada di sana menganga dengan kelakuan pengantin satu ini. Biasanya pengantin perempuan akan merona dengan malu-malu kala sang suami hendak mengecup keningnya.
" Tidak usah malu-malu, nak. Dia suami kamu sekarang. " ucap pak penghulu.
Sontak Arisa menggelengkan kepalanya kencang. " Tidak, pak. Terima kasih. " jawabnya. Lalu ia segera berdiri. Tapi tangannya di cekal oleh Roy
" Mau kemana? " tanyanya.
" Udah selesai kan acaranya? Katanya nggak ada tanda tangan buku nikah. Cincin juga di pasang. Mau ngapain lagi duduk di sini. " jawab Arisa.
Bukannya tidak tahu sopan atau bagaimana. Arisa hanya menghindari ritual pengantin baru yang aneh-aneh. Apalagi di otaknya sekarang sudah terkontaminasi dengan novel-novel yang sering ia baca. Setelah sah, maka pengantin akan di minta untuk berciuman. Ciuman bibir, tentu saja.
Tanpa menunggu jawaban dari Roy, Arisa melangkah dengan sedikit kesusahan karena kain samping yang Lila kenakan kepadanya tadi cukup ketat.
" Arisa, kamu tidak boleh seperti ini. Tidak sopan namanya. " ujar Andhara setelah ia menghampiri sang putri.
" Risa nggak mau di cium, Bu. Geli tau rasanya. " jawab Arisa apa adanya. Membuat orang yang mendengarnya menahan tawanya.
" Nasibmu kak. Sepertinya malam pertama bakalan susah nih. " ejek Selsa sembari berbisik ke Roy dan membuat Roy berdecak.
Setelah penghulu meninggalkan kediaman Julio, kini pesta pernikahan itu berubah menjadi pesta ulang tahun. Kue tart dengan ukuran besar sudah di siapkan oleh Roy tentunya.
" ORIIIII...... " panggil Arisa.
" Apa sih? Teriak-teriak!" sahut Orion.
" Sini! " Arisa melambaikan tangannya. Tak urung Ori pun mendekat ke arahnya yang sedang berdiri di samping kue tart berukuran raksasa itu.
" Kenapa? " tanya Ori setelah ia berada di dekat Arisa.
" Ayo kita potong kuenya barengan. " ajak Arisa dengan antusias. " Kapan lagi coba kita ngerayain ulang tahun kuenya gede Segede kingkong gini. " lanjutnya.
" Loe ajalah. Itu kan kue dari suami loe. " jawab Orion tidak enak hati. " Lagian, gue males ngerayain ulang tahun kayak gini. Udah kek ciwi-ciwi aja. " lanjutnya.
__ADS_1
" Iihhh!!! Ori. "
Puk
Arisa menggeplak lengan Orion. " Tahun depan, kita mungkin udah nggak ngerayain ulang tahun bareng lagi loh. " lirih Arisa. " Lagian, om beliin kue ini buat kita berdua kok. Iya nggak om? " tanya Arisa sambil menoleh ke arah Roy.
Roy hanya mengangguk.
" Ya udah atuh kasepnya ibu. Sok atuh, di potong kuenya barengan sama kakak kamu. " ujar Andhara sambil menepuk pundak Orion.
Akhirnya, karena sang ibu tersayang yang meminta, mau tidak mau, Orion ikut memotong kue raksasa itu. Dengan tangannya yang memegang tangan Arisa yang sudah memegang pisau, kue tart itu terpotong.
Setelah memotong kue, Arisa dan Andhara menaruh dua potong kue di dua piring. Seperti biasa, mereka akan memberikan potongan pertama itu untuk orang yang paling spesial dalam hidup mereka.
Dan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Arisa memberikan potongan pertama kuenya ke sang ayah, dan Orion ke sang ibu. Lalu menyuapkan kue itu ke ayah dan ibunya bergantian. Sebuah pelukan dan kecupan akan mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka.
Potongan kedua kue itu, para tamu meminta mereka untuk memberikannya ke orang spesial setelah orang tua mereka. Dan tentu saja hal itu membuat keduanya bingung.
" Princess, kamu kan udah punya suami, sayang. Kasih lah ke suami kamu. " seru Lila.
Arisa nampak berpikir. Ia menoleh ke arah Roy dan ternyata, Roy pun sedang menatapnya. Hingga pandangan mata mereka bertemu. Tapi Arisa segera memutus pandangan itu
Tanpa banyak kata, Arisa berjalan menuju dimana adik iparnya sedang duduk dengan di dampingi suaminya.
" Nona Selsa. Aku kasih kuenya buat nona saja. " ucap Arisa sambil menyodorkan piring kecil berisi kue tart tadi. Semua orang lagi-lagi di buat menganga oleh kelakuan anak gadis Andhara ini.
" Kan ada dedek kecilnya di perut nona. Dedek pasti pengen kue ini. Daripada di kasih sama om yang udah udzur, mendingan buat dedek aja. Omnya kan punya duit banyak. Bisa beli sendiri. " jawab Arisa.
Jawaban Arisa itu mampu membuat Elyas terkekeh sambil melirik ke arah kakak iparnya.
" Ya ampun. Terima kasih, kakak ipar. Eh, terima kasih onty. " ucap Selsa dengan suara mirip anak kecil. Ia menerima kue tart itu dari tangan Arisa.
" Tapi ngomong-ngomong, kenapa kakak ipar kecil memanggilku nona? Sangat tidak enak di dengar. " keluh Selsa sambil berpura-pura merajuk.
" Panggil namaku saja. Karena sekarang, aku adalah adik iparmu. "
" Tidak ... Tidak ... Tidak sopan namanya. Nona kan usianya jauh di atasku. Jadi kalau aku panggil nama aja, justru malah nggak enak di dengernya. " tolak Arisa. Lalu ia nampak berpikir.
" Kalau gitu, aku panggil kakak ajalah. Lebih enak di dengernya. " lanjutnya.
Kini Selsa yang nampak berpikir. " Okelah. Jauh lebih baik daripada kamu memanggilku nona. " kekehnya.
Lalu Arisa kembali ke dekat Ori yang masih berdiri di tempatnya dengan membawa kuenya
__ADS_1
" Hei, kenapa kuenya loe pegangi terus? Jangan pelit e lah! Tuh, masih banyak. " celetuk Arisa.
" Dia bingung mau di kasih ke siapa, Sa. " sahut Sabil.
" Kasih gue aja Ri. Gue ikhlas kok jadi yang spesial buat loe. " celetuk Kaila.
" Ngarep loe! " sahut Santo
" Diem loe Susan. Atau gue pulangin loe ke kak Ria enes. " timpal Kaila.
" Buat Chiki aja deh. " ucap Orion pada akhirnya.
" Ih, kok buat Kiki sih. Kiki kan punyanya kak Kepin. Nanti kak Epin marah kalau Kiki terima kuenya kak Ori. " tolak Chikita.
Tepuk jidat deh semuanya. Anak kecil keturunan Sabil dan Soni sepertinya lebih pantas jika menjadi adiknya Arisa.
Akhirnya Sabil mengambil kue itu dari tangan Ori. " Emaknya ajalah. Nggak nolak kok. " ucapnya.
" Kita foto dulu yuk. " ajak Andhara. " Masak pengantin baru nggak ada fotonya. Nggak ada yang di pasang di dinding kamar nanti".
Ia menarik tangan Roy dan Arisa bersamaan. Lalu memanggil sang fotografer. Mau tidak mau, Arisa berdiri di samping Roy dengan menjaga jarak. Sedari tadi dirinya sudah berusaha menghindar dari Roy. Tapi tetap saja ada saja halangan nya.
" Agak deketan lagi, kak berdirinya. " pinta sang fotografer.
Bukan Arisa yang mendekat, tapi Roy. Arisa masih mematung di tempatnya. Sebuah tangan terasa melingkar di pinggang Arisa. Yang sontak membuat Arisa memukul tangan itu keras.
" Tangannya deh om. " ketusnya.
" KDRT ini namanya. " protes Roy.
" Pelecehan ini namanya. Baru benar tuh! " balas Arisa.
" Pelecehan gimana? Orang aku cuma memeluk ISTRIKU aja kok. " jawab Roy sambil menekan kata istri yang membuat Arisa terdiam.
" Istri? Siapa? "
Lalu Roy mengangkat tangan kanan Arisa dan menunjukkan cincin pernikahan mereka. " Ini, kalau kamu lupa. " sahutnya.
" Oh iya. Arisa lupa. " jawab Arisa. " Tapi nggak usah pake peluk-peluk, bisa kan? Geli tahu om. Nggak pernah ada cowok lain yang berani meluk Risa selain ayah, Ori, Zavi, sama Kevin loh. Awas, entar di marahi ibu. " Arisa mengancam Roy sambil mengangkat jari telunjuknya.
" Mana mungkin ibu marah? Kan yang meluk suami kamu sendiri. Kalau yang meluk kamu suami orang, baru tuh ibu bawain censo. Buat motong tangannya. " sahut Andhara.
" Pokoknya kita foto, tinggal foto aja. Nggak usah pakai action meluk-meluk segala. Titik. " ucap Arisa tanpa mau di protes lagi.
__ADS_1
Anak Andhara memang ajaib
bersambung