Om itu suamiku

Om itu suamiku
Jalan sambil tidur


__ADS_3

" Sa... Arisa ... Bangun. " Roy menepuk-nepuk pelan pipi Arisa dengan tangan kanannya. Ia sudah melepas seatbelt nya.


Yang di panggil masih saja tak bergeming. Bahkan bergerak karena terganggu saja tidak.


" Arisa... Istrinya abang yang masih bocil... " panggil Roy kembali sembari mengekeh. Ia bahkan sudah dengan menggerak-gerakkan bahu Arisa. Tapi Arisa seperti orang pingsan saja.


Roy sudah tahu kebiasaan Arisa yang satu ini. Anak satu ini akan sulit di bangunkan. Benar apa yang di bilang Ori waktu itu. Ada gempa pun, Arisa tidak akan terbangun. Jadi sudah pasti, jika ada kondisi alam yang tidak mendukung, dirinya akan menjadi korban yang pertama .


Roy nampak berpikir bagaimana caranya ia harus membuat Arisa terbangun. Karena tidak mungkin ia menggendong sang istri masuk ke kantor. Bisa viral nanti. Pikir Roy.


Akhirnya Roy tersenyum jahil. Ia menemukan sebuah ide yang sepertinya akan manjur. Roy mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Arisa. Lalu ia menempelkan bibirnya ke bibir ranum Arisa. Hanya sekedar menempel, dan Arisa masih tetap tak bergeming.


Merasa Arisa tak bergerak, Roy mulai melu mat dan menyesap bibir itu dengan sedikit ganas. Dan akhirnya, sebuah lenguhan terdengar di telinga Roy.


Ia tersadar. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Arisa. Gadis itu mulai bergumam, " Enak bang. Lagi. " gumam Arisa di sertai rengekan manja.


Roy malah di buat gemas. Ia tertawa, lalu ia menangkup kedua pipi Arisa dan mengecup semua bagian wajah Arisa gemas. Dan akhirnya, Arisa membuka kedua matanya lebar-lebar.


" Abang... Ih!! " protesnya. Ia mengusap wajahnya dan mengucek kedua matanya.


" Ayo kita turun. " Roy tidak akan membiarkan kesempatan ini untuk turun dari dalam mobil. Jika ia tetap di sana, ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, sang istri akan marah dan mengomel, dan kedua, istrinya akan kembali tidur. Dan Roy, tidak mau dua pilihan itu terjadi.


Roy mengitari mobil setelah ia menutup kembali pintu kemudi. Ia menuju ke pintu samping kemudi, lalu membukanya.


" Ayo turun. " ajaknya. Ia menarik tangan kiri Arisa. Dan Arisa hanya mengikuti saja. Entah karena otaknya masih nge-lag karena kecupan Roy, atau memang ia yang belum benar-benar bangun.


Arisa melangkah di samping Roy, karena Roy masih menggenggam sebelah tangannya. Baru ketika mereka sampai di lobby kantor, Roy melepas tangan Arisa. Tapi mereka tetap berjalan berdampingan.

__ADS_1


Roy menarik tas Arisa kala ia sudah masuk ke dalam lift, tapi Arisa malah masih berdiam diri di depan pintu lift. Sepertinya gadis itu memang belum benar-benar sadar dari tidurnya.


Tubuh Arisa sedikit terhuyung ke depan kala Roy menarik tasnya. Untung saja di dalam lift itu tidak ada orang lain selain mereka. Jadi Roy tidak perlu khawatir mereka ketahuan. Ia segera memeluk tubuh Arisa ketika tubuh mungil itu hendak terjatuh ke depan.


" Siang, tuan bos. " sapa Joice ketika ia melihat sang atasan datang. Tapi tiba-tiba, matanya menyipit guna memastikan siapa perempuan berseragam putih abu-abu yang datang bersama sang atasan.


" Loh, bukannya itu Arisa ya tuan bos? Kok dia ikutan kesini? "


" Saya ada perlu sama dia. Jadi saya menyuruhnya datang kesini. " jawab Roy tanpa melihat ke arah Joice. Ia malah sibuk membukakan pintu ruangannya, dan menyuruh Arisa untuk cepat masuk ke ruangannya.


" Jangan masuk sembarangan. Ketuk pintu dulu sebelum masuk. " titah Roy dengan nada tajamnya. Karena biasanya, sekretarisnya itu suka seenaknya. Ia tidak ingin jika ketahuan tentang hubungannya dengan Arisa.


Bukan karena ia yang malu atau tidak mau. Tapi ia hanya ingin menjaga Arisa sesuai janjinya, sampai gadis itu lulus dari sekolah menengahnya.


Sampai di dalam ruangan, tanpa berkata apapun, Arisa langsung berjalan menuju ke sofa. Ia langsung saja merebahkan tubuhnya di atas sofa. Meringkuk di sana, memejamkan matanya rapat. Roy menatapnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


Roy segera melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda karena tiba-tiba ia ingin menjemput istri kecilnya ke sekolah dan mengajaknya makan siang bersama.


Setelah dua jam lamanya, mulai ada pergerakan di sofa. Arisa menggeliat kecil. Tapi karena ia tidur di sofa, ia merasa pergerakannya terasa terbatas. Perlahan, ia mulai membuka matanya. Lalu mengedarkan pandangannya.


Arisa terperanjat dan segera bangkit dari posisi tidurnya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, lalu menggosok kedua matanya.


" Gimana ceritanya gue bisa ada di sini? Ini ruangan om CEO kan ya? " monolognya seolah di dalam ruangan itu hanya ada dirinya sendiri.


Roy hanya memperhatikan apa yang di lakukan dan di katakan sang istri dalam diam. Kira-kira apa yang akan di lakukan istri ajaibnya itu.


" Bukannya tadi gue tidur di mobil? Kok tiba-tiba gue ada di sini aja. Ah, nggak mungkin kan kalau gue bisa ngilang, terus tiba-tiba berubah jadi ada di sini? " kekehnya.

__ADS_1


Ia lalu bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengendap-endap, mengintip dari balik tirai ke arah luar.


" Tante Joice tuh. Gimana ceritanya gue bisa melewati dia tanpa ada banyak sekali pertanyaan? Aneh deh. Masak iya, gue tidur sambil jalan sih? " Arisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia masih bingung.


" Nggak mungkin juga kan, abang gendong gue kesini? Bisa viral. Gue jadi seleb gram dadakan kalau gitu ceritanya. Nggak mungkin deh. " ia segera menepis pemikiran yang satu itu.


Ia lalu berjalan kembali ke arah sofa. Ketika ia sudah hendak menghenyakkan pan tatnya di sofa, matanya menemukan sesosok suami.


" Astaghfirullah hal'adzim!!!" pekiknya sambil memegang dadanya.


" Abang ih!! Bikin aku jantungan. Sejak kapan abang ada di situ? " cecar Arisa.


" Dari tadi Abang juga di sini. Kamu aja yang lebih asyik dengan celotehan kamu. Jadi nggak lihat abang ada di sini. " decak Roy.


Arisa lalu berjalan mendekat sang suami, dan duduk di kursi di depan Roy.


" Abang, coba bilang, tadi Arisa sampai sini, naik apa? Nggak mungkin kan, naik permadani terbang? Atau Nimbus 2000? Sapunya si Harry Plot_ter? " ia menempelkan tubuhnya ke meja, supaya ia bisa lebih dekat dengan sang suami.


" Kamu jalan sendiri. Pakai kaki kamu. "


" Kok bisa? Aku nggak ngerasa loh bang. "


" Gimana mau kerasa, orang kamu jalan sambil tertidur. Padahal mata kamu terbuka. "


" Ha???? "


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2