
Mulai malam itu, Arisa dan Roy tinggal di rumah baru mereka. Meskipun dengan adegan drama yang menguras air mata, akhirnya Ruby, mengijinkan mereka untuk tinggal di rumah mereka sendiri.
Siang ini, Roy meminta Arisa datang ke kantornya sebelum pulang ke rumah. Ia sengaja ingin memberikan sebuah kejutan di rumah untuk sang istri.
Rumah sedang di dekorasi oleh penata dekorasi dengan Ori yang menjadi penanggung jawabnya. Kebetulan, hari ini sekolah Ori ada acara, sehingga para siswa di pulangkan terlebih dahulu.
" Abang kenapa nggak jemput sendiri sih ah. " gerutu Arisa kesal.
" Udah, kagak usah ngedumel yang nggak jelas aja. Gue anterin ke kantor laki loe sama si pretty kesayangan gue. " sahut Santo.
" Yang bener loh bro? Tumben baik loe sama gue. Jangan bilang, loe mau minta ongkos nganterin gue sama laki gue. " Arisa memicing curiga.
" Nggak buruk juga ide loe. " Santo menyeringai.
" Mending gue naik ojol aja deh. Kalau bayar ongkos ke elo, jatohnya mahal. "
" Sama temen sendiri perhitungan banget sih elo, Sa. Santo ini Santo... Sohib elo, dodol. " pungkas Santo tak terima.
" Loe tuh yang dodol. "
" Eh, lagian nih ya mak, lebih aman kalau sama gue. Loe nggak tahu kan, kalau Abang Abang ojolno punya niatan jelek sama elo. "
Arisa nampak berpikir. " Iya juga sih. " ucapnya membuat Santo tersenyum menyeringai.
Mayan, bakalan dapet uang tambahan. Bisa makan di resto lah gue. Kagak cuman di warteg mulu. Batin Santo.
" Ngapain loe senyum-senyum sendiri San. Kesambet, loe? Oh kasihan banget sama jinnya kalau masuk ke tubuh loe. Rugi bandar dia. " sahut Kaila.
" Gue ci pox beneran loe lama-lama. " kesal Santo dan membuat Kaila mencebik.
" Udah ah. Jangan pada ribut. Entar se tan pada seneng. Punya temen banyak. " timpal Arisa.
" Gue mau lah di antar sama loe. Tapi inget, jangan malak laki gue. " ancam Arisa.
" Alah, Sa. Laki loe kalau gue yang malakin kagak ngabisin duit se-dompet juga. "
" Loe jadi ke kantor laki loe? " tanya Kaila
" Jadi lah. Yah, meskipun aslinya gue agak males sih. " Arisa mengernyit, menutupi wajahnya dengan tangan karena siang itu matahari begitu terik.
" Beneran bocor kayaknya nih nera ka, guys. Panasnya bikin mau mam pus. " keluhnya.
Ngeeenggg
Sebuah motor melaju dengan cepat di samping Arisa. Membuat Kaila, Roy, dan juga Arisa menoleh ke samping.
" Kayaknya si Miler masih nggak terima deh Sa, loe putusin. " ujar Kaila.
" Biarin aja lah. Nggak sampai beneran nabrak gue ini. Kalau sampai gue lecet dikit aja, gue jamin deh, dia bakalan masuk bui. Laki gue nggak bakalan ngebiarin. Kagak sampai bikin status mau mengakhiri hidup kan, dianya? " sahut Arisa.
" Kayaknya nggak deh. Emang kenapa? "
" Ya... Gue takut aja, dia bikin status di medsos pengen ma ti aja. Terus yang ngejawab malaikat Izrail. " ujar Arisa. " Share lock dong. Biar gue jemput sekarang. " lanjutnya.
" Bahaya kan itu ? "
" Sa ae loe Sa. " kekeh Kaila.
" Eh, Enak kan Sa. Punya laki ganteng, di sayang pula. " tanya Kaila, dan Arisa mengangguk.
" Enak. Kadang sampai pengen gue kresekin, gue bawa kemana-mana. " Arisa mengangguk.
__ADS_1
" Cie... Yang udah makin di sayang sama pak CEO ganteng... " goda Kaila.
" Ayo, buru. Naik. Buru kebocoran nera ka makin parah. " ujar Santo yang sudah membawa motor dan berhenti di samping Arisa.
" Bawa helm kan loe? " tanya Arisa.
" Ya kagak lah. Kan tadi pagi kagak ada yang gue boncengin. "
" Terus? Kalau di tangkap polisi gimana? Ya, kalau polisinya ganteng, terus baik, kasihan sama muka loe yang kek rakyat Suri yah. Kalau kita malah di bawa ke kantor polisi, gimana? Viral dong gue. "
" Kita ke kost an gue dulu lah bentar ambil helm. "
" Hishh... Kalau kita di grebek gimana? "
" Kimvriitt!!! Lama-lama gue tenggelemin loe ke sumur belakang kost an gue. " kesal Santo.
" Sabar, atuh Toyib. Orang sabar rejekinya banyak loh. "
" Kurang sabar apa, gue sama kalian berdua? Kalau loe tanya kesabaran gue sepanjang apa, noh!! Sepanjang rel kereta. " sahut Santo. Dan dua orang yang di maksud Santo langsung tergelak.
" Ya udah deh. Kai, gue balik dulu ya. Si Toyib pengen cepetan lihat duit yang merah merah nih. " pamit Arisa.
" Oke. Jangan lupa, ada tugas. Di kerjain. Jangan cuma copy pasti aja. " Kaila mengingatkan.
" In syaa Allah. Soalnya manusia itu gudangnya lupa. " kekeh Arisa. Ia lalu naik ke jok motor Santo.
🌷🌷🌷
" Ck! Apa yang harus gue katakan kalau mau masuk ke dalam? " gumam Arisa sambil menatap gedung tinggi menjulang di hadapannya.
Santo sudah meninggalkannya setelah menurunkan dirinya di depan lobby.
" Nggak mungkin juga kan kalau gue bilang, mau ketemu pak Roy Aditama. Terus entar resepsionis nanya, ada perlu apa? Masak iya gue jawab, emang mau ketemu suami perlu alasan? " monolognya kembali sambil mencebik.
" Si om, jemput gue nggak sih? " Arisa melongok melihat dan mengamati dalam ruangan, apakah ada sang suami atau tidak.
" Tuh kan, nggak ada. Emang raja tega ih! " sungutnya sambil menghentakkan kakinya di lantai.
Arisa berjalan menjauh dari lobby. Ia menyeka keringat dari dahinya. Siang ini memang terik.
Arisa mengambil tas ranselnya dari punggung, mengambil botol minuman yang ia bawa dari rumah tadi pagi. Untung saja masih ada isinya meskipun hanya satu teguk.
Setelah minumannya habis, Arisa memasukkannya kembali dari dalam tas. Saat itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia segera mengambilnya dari saku. Tertera nama ' Om CEO ' di sana.
Sambil dengan mulut komat-kamit, ia menerima panggilan sang suami.
" Assalamualaikum!! " sapanya dengan nada ketus.
" Waalaikum salam. Kamu kemana? Kenapa belum sampai sini. Awas keluyuran. " sahut Roy dengan nada tegasnya.
" Siapa yang keluyuran?? " sahut Arisa tidak terima. " Aku tuh udah di lobby dari tadi. Mau masuk bingung mau nyari siapa. " ketusnya.
" Naik saja. Bilang kalau mau ketemu sama aku. " jawab Roy.
" Nggak mau! Kalau abang nggak jemput ke bawah, aku mau pulang aja. " ancam Arisa.
Terdengar Roy menghela nafas beratnya. " Tunggu di sana. " lalu ia mengakhiri panggilannya.
Arisa memutuskan untuk masuk ke dalam kantor. Siapa tahu ia di perbolehkan untuk masuk ke ruangan CEO.
Berjalan penuh percaya diri menghampiri meja resepsionis. Itulah seorang Arisa sejati. Pikiran itu membuat Arisa tertawa dalam hati.
__ADS_1
" Siang kak. "
" Siang. Ada yang bisa kami bantu? " tanya resepsionis sambil berdiri dari duduknya. Menunjukkan sikap profesional nya.
" Saya mau ke ruangan CEO Roy Aditama. " ujar Arisa.
Sang resepsionis nampak mengernyit, sambil mengamati Arisa mulai dari ujung kepala, sampai ke ujung kaki.
" Kenapa kak? Nggak pantes ya ketemu CEO dengan penampilan seperti ini? " Kekesalan Arisa mulai terpancing.
" Maaf, dik. Tapi apa adik sudah membuat janji? " tanya resepsionis. " Sebentar, saya cek dulu daftar tamu untuk tuan Roy.
Arisa mendengus kesal. Belum juga dirinya menjawab, sang resepsionis sudah main buka buku tamu. Ya jelas nggak ada lah. Pikir Arisa kesal.
Sebenarnya ia bukan gadis yang temperamental dan mudah emosi. Tapi udara panas, perut keroncongan, memicu emosi Arisa.
" Mau kakak cari ampe kiamat juga nggak akan pernah ada. Saya nggak ada janji ketemu sama pak bos. Tapi pak bos sendiri yang minta saya datang kesini. " ketus Arisa.
Sang resepsionis mendongak, lalu memicingkan matanya.
" Adik jangan macem-macem ya. Nggak mungkin tuan Roy mengundang seseorang tanpa konfirmasi dari sekretarisnya. " ucapnya penuh curiga.
Tak lama, sang resepsionis melihat Joice keluar dari lift.
" Sebentar, saya tanya ke mbak Joice dulu. " sang resepsionis segera keluar dari mejanya dan menemui Joice. Mereka nampak berbicara sebentar, lalu terlihat Joice berjalan menghampiri Arisa.
" Halo Tante. " sapa Arisa sambil tersenyum manis.
" Ck! Kenapa masih aja manggil gue tante. " kesal Joice.
" Terus, kenapa juga tante masih dandan kek gitu? Masih ngarep jadi istri CEO? " ledek Arisa.
" Mulut loe!!! " geram Joice sambil mengepalkan tangannya ke udara.
Sedangkan Arisa tersenyum menampilkan deretan giginya.
" Mau ngapain kamu kesini? " Joice bertanya sambil bersidekap.
" Tante tanya? Tante bertanya-tanya? " cibir Arisa mengikuti gaya Joice yang menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.
" Dasar anak kecil!!! " geram Joice.
" Dasar tante-tante... " jawab Arisa. Jujur, ia makin kesal kala melihat Joice. Bukan karena orangnya, tapi lebih ke penampilannya.
Enak aja mau goda laki gue. Hadapin gue nih!! Bininya kalau berani!! tantang Arisa dalam hati.
" Awas deh tan, minggir. Aku mau ketemu jodoh masa depannya aku. " Arisa agak mendorong tubuh Joice.
Sontak Joice mencekal lengannya. " Mau ketemu sama tuan bos? Udah bikin janji loe? Loe nggak bakalan bisa ketemu tuan bos kalau nggak punya janji. " ujarnya profesional.
" Maaf tante. Asal tante tahu ya, aku tuh nggak butuh ijin dari siapapun, atau janji, atau apalah itu untuk bertemu dengan Roy Aditama. Mau aku kesini tiap hari juga nggak perlu bikin janji. " jawab Arisa.
" Kamu!!! " Joice makin geram.
" Tante nggak percaya? Tunggu, dalam hitungan kesepuluh, Roy Aditama sendiri yang bakalan jemput aku kesini. " tantang Arisa. Lalu dirinya mulai menghitung sambil matanya menatap pintu lift khusus.
Dan benar aja. Baru hitungan ke sembilan, Roy keluar dari dalam lift khusus. Ia melihat ke kanan dan ke kiri.
" See? " ledek Arisa ke Joice. Membuat Joice makin geram.
Bersambung
__ADS_1