
Roy benar-benar melakukan apa yang ada dalam pikirannya. Ia benar-benar menunggu Arisa di depan sekolah hingga jam sekolah habis.
Ia berdiri di samping mobilnya sambil menyandarkan tubuhnya di kap mobil. Ia melihat kedua tangannya di depan dada. Ia tidak perduli jika banyak mata yang memandangnya.
Ada yang memandangnya dengan pandangan memuja, ada yang memandang dengan pandangan penuh tanya, ada juga yang mencibir, bagaimana bisa seorang CEO terkenal berkeliaran di jam kerja di depan sebuah sekolah.
Entah sudah yang ke berapa kalinya Roy melihat jam di pergelangan tangannya hingga akhirnya ia bisa mendengar dengan lamat-lamat suara bel panjang berdering dari dalam sekolah.
Roy menghembuskan nafas lega. Sebentar lagi, ia akan bertemu dengan sang istri. Gadis yang sangat ia rindukan. Bahkan hanya dengan memikirkannya saja, jantungnya berdetak begitu kencang. Sudah seperti mau bertemu dengan pacar yang baru di ajak jadian.
" Sa, laki loe, bukan? " tanya Kaila sambil menyenggol lengan Arisa
" Mana? " Arisa mengedarkan pandangannya. " Ngaco loe. Dia kan lagi sibuk. " lanjutnya jengah.
" Noh, persis di depan gerbang. Kek mo yang ngajakin tawuran tuh muka. " sahut Kaila.
Arisa melongok ke arah yang di tunjuk Kaila.
Ngapain sih pake kesini segala. Gue kan masih males ketemu. umpat Arisa dalam hati.
" Males banget gue ketemu dia. " sungut Arisa.
" Sa, itu kan masih menurut pendapat loe. Apa nggak sebaiknya kalian bicarakan dulu baik-baik? Siapa tahu cuma salah pahamnya loe doang. " Kaila berusaha memberikan pengertian.
" Ah, sekali males, ya males aja. Loe sebenernya sahabat gue nggak sih? " sungut Arisa.
" E lah Sa. Masak masih nanya aja. Ibarat kata, kita makan satu sendok berdua pun iya. Masih kurang bukti apa loe, kalau gue sahabat eloe? " timpal Kaila.
" Gue tuh cuma sekedar kasih saran. Itu pun kalau loe mau. Secara, loe sama pak CEO itu suami istri. Bukan cuma sekedar pacar. Kekasih. Kalau cuma sekedar pacar, loe bisa males sama dia, terus loe tinggalin aja. Tapi kalian itu pasangan yang udah nikah. Loe ninggalin dia, itu berarti kalian cere. " lanjut Kaila.
__ADS_1
" Ish, amit-amit jabang orok deh Kai, loe ngomongnya pakai bawa-bawa cere segala. Ogah gue jadi jendes. Mana masih ting - ting lagi. " sahut Arisa sambil bergidik.
" Eh, loe jangan salah. Jendes jaman sekarang lagi booming. Lagi viral. Most wanted, you know. " canda Kaila.
" Kai, loe tutupin gue kek. Biar gue bisa kabur. " pinta Arisa sambil menarik lengan Kaila dan matanya melirik ke arah Roy sebentar.
" Mau gue tutupin kek gimanapun, laki loe udah terlanjur lihat loe, keles. Noh, lihat. Matanya aja ngadep sini terus. " kekeh Kaila.
Arisa melirik ke arah Roy yang ternyata benar. Roy sedang menatap lurus ke arahnya. Bahkan posisi Roy sudah siap sedia menangkapnya jika dirinya berusaha kabur.
" Gue mau kabur lewat dinding belakang sekolah aja deh. " Arisa sudah membalikkan badannya hendak kabur. Tapi Kaila segera menahannya.
" Lari bukan suatu jalan keluar. Hadapi dengan berani. Loe bukan Arisa yang lemah. Loe adalah Arisa yang selalu optimis terhadap apapun. Loe, Arisa yang nggak pernah takut terhadap apapun. " ucap Kaila sambil menatap serius ke arah Arisa.
Arisa menghembuskan nafas kasar. Kedua bahunya melorot. Sepertinya benar apa yang di katakan Kaila. Semuanya harus selesai secepatnya. Biar hatinya pun lega. Tidak ada lagi rasa sesak.
Arisa dan Kaila berjalan beriringan. Arisa mencoba untuk baik-baik saja. Tapi nyatanya, hatinya tidak baik-baik saja. Hatinya masih terasa sesak.
" Arisa!! " panggil Roy ketika sang istri sengaja melewatinya begitu saja.
Kaila langsung menyenggol lengan Arisa. Tapi Arisa tidak bergeming. Ia tetap melangkah. Tetap berpura-pura tidak melihat.
Roy berjalan menghampiri. " Arisa ... " panggilnya dengan suara yang sendu.
" Sa, laki loe. " bisik Kaila. Tapi Arisa tetap tidak mau berhenti. Akhirnya, Kaila yang menghentikan langkahnya.
" Gue balik dulu. " ucapnya, lalu berbalik arah. Sedikit membungkukkan tubuhnya ketika melewati Roy. Roy pun sedikit mengangguk. Ia pun semakin melebarkan langkahnya.
" Arisa .. " panggil Roy. Ia berhasil menahan tangan Arisa. Alhasil, mau tidak mau, Arisa menghentikan langkahnya. Tapi ia masih enggan untuk menoleh. Ia lebih memilih membuang muka.
__ADS_1
" Kita bicara. Tapi tidak di sini. " ucap Roy tegas.
Arisa menghela nafas beratnya sambil memejamkan kedua matanya erat. Tapi ia masih tidak bergeming.
" Aku minta maaf. " ucapnya kembali kala tidak ada pergerakan dari Arisa.
" Sa... " panggilnya kembali sambil menggenggam tangan Arisa yang terasa dingin karena jujur, Arisa saat ini tengah gugup.
" Aku minta maaf . " ucap Roy kembali dengan suara yang lebih serius.
Arisa menepis tangan Roy. Ia melepas tangannya dengan paksa. Tanpa menjawab ucapan Roy, Arisa berbalik, melangkah meninggalkan Roy.
" Arisa... " kembali Roy memanggil. Tapi yang di panggil tetap saja melangkah.
Tapi hati Roy sedikit bernafas lega, karena ternyata istri istimewanya justru membuka pintu mobilnya, dan masuk ke dalam mobil.
Roy mengulum senyumnya, lalu berjalan menuju ke mobilnya, dan segera masuk ke dalamnya.
Sambil memasang seatbelt, Roy melirik ke arah sang istri yang justru sedang menatap luar lewat jendela.
Roy mengulurkan tangan kirinya hendak mengelus puncak kepala Arisa sebelum ia menjalankan mobilnya. Tapi Arisa segera memundurkan kepalanya.
" Kalau nggak jadi jalan, biar aku naik bis kota aja. " ucap Arisa dengan nada suara dingin dan tatapan tetap ke luar jendela.
Roy menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia harus sabar menghadapi istri kecilnya yang masih labil ini.
Tapi jujur, Roy agak di buat deg-degan melihat Arisa yang sedang marah. Karena selama ini, yang ia tahu, Arisa adalah sosok yang selalu menggemaskan. Belum pernah Roy melihat Arisa yang marah seperti ini.
Mungkin lebih baik, Roy mendengar dan melihat tingkah absurb Arisa yang selalu mengomel tidak jelas ketimbang diam seperti ini.
__ADS_1
Bersambung