Om itu suamiku

Om itu suamiku
Bukan kambing


__ADS_3

" Om, beneran nih kita mau masuk ke sana? " Tanya Arisa kala mereka sampai di parkiran sebuah hotel bintang lima yang sangat bagus dan terkenal mahal.


Ia mengangkat gaunnya yang menjuntai panjang hingga membuatnya susah untuk berjalan itu.


" Ya iyalah. Kan acaranya ada di sana. " jawab Roy sambil mengunci pintu mobilnya.


" Tapi... bukankah ini hotelnya sangat mahal? Hanya kaum Borjuis yang mampu datang kesini. " sahut Arisa dengan pandangan masih pada gedung pencakar langit di hadapannya.


" Kita ini di undang. Jadi ayo masuk. Jangan kampungan. Kayak orang susah aja sih. " ketus Roy sambil menarik tangan Arisa dan di bawanya berjalan mengikuti langkahnya. Roy lumayan kesal dengan Arisa yang terlalu banyak drama.


" ADUHH!!! Kaki gue oy!!! Main tarik aja si om ih!! Risa nih manusia ya kalau om lupa. Bukan kambing yang bisa om tarik seenaknya. " pekik Arisa. Ia menarik tangannya kasar dari genggaman Roy. Ia menghentikan langkahnya sambil menghentakkan kakinya kesal.


" Makanya buruan. Abisnya kamu lama. Cerewet! " sahut Roy.


" Ya sabar dong. Saya kan butuh meyakinkan diri untuk masuk ke sana. Saya grogi loh om ini. " jawab Arisa.


" Ck! Ya udah ayok .. " Roy melambaikan tangannya. " Bentar lagi acaranya di mulai. "


" Iya.. Iya!! " sahut Arisa. Ia lalu berjalan dengan langkah lebar dan mengangkat gaunnya tinggi-tinggi.


" Astaghfirullah hal'adzim.... " ucap Roy melihat kelakuan Arisa.


" Eh, bocil? Bisa nggak gaunnya nggak usah di angkat gitu. Yang anggun bociiiilllll!!! " geram Roy sambil mengikuti langkah Arisa.


Sontak Arisa menghentikan langkahnya. " Ah, om cerewet ah! Saya tuh nggak biasa pakai gaun kek gini. Saya lebih suka pakai celana. Ribet tau om. Kalau nggak di angkat, susah jalannya. " protes Arisa.


" Kamu sendiri tadi yang milih gaun itu. " ucap Roy dengan tatapan datarnya.


" Habisnya om tadi milihin gaun kek punyanya emak-emak mau kondangan. Ibu saya aja nggak pernah makai yang kek gitu. " sahut Arisa sambil cemberut.


" Udah , jangan banyak bicara. Ayo! " ajak Roy menekuk siki tangan kirinya ke hadapan Arisa.


" Mau ngapain? " tanya Arisa sambil menatap tak mengerti.


" Gandeng tangan saya. " titah Roy.


Baru saja Arisa hendak membuka mulutnya, Roy segera menambah, " Kita datang kesini, kamu sebagai pasangan saya. Jadi kamu harus menggandeng tangan saya. Kalau kamu nggak mau, kamu nggak akan bisa masuk ke dalam. "


" Ck! " Arisa berdecak kesal. Tapi tak urung, ia juga melingkarkan tangannya ke lengan Roy membuat Roy tersenyum tipis. Sangat tipis hingga siapapun tidak ada yang tahu.


" Pelan-pelan tapi jalannya om. Kaki om tuh kayak kaki jerapah. Sedangkan kaki saya kan imut. Nggak nyampe kalau langkahnya harus yang lebar-lebar. " pinta Arisa.


Mereka mulai melangkah berdampingan.


" Makanya jadi orang tuh jangan bocil. Yang tinggian. Olahraga. Fitness. " sahut Roy.


" Iddihjh.... Daripada buat capek-capek, mendingan buat molor. Itu juga olahraga. " sahut Arisa.

__ADS_1


Roy menoleh. " Molor? Olahraga? "


" Iyalah. Kan ngeluarin keringat. Sama aja kan? Tidur, kita berkeringat. Olahraga juga berkeringat. Jadi intinya, yang penting ngeluarin keringat. " sahut Arisa.


Memang benar-benar wow anak satu ini. Batin Roy.


" Bedalah bocilll!! Kalau cuma sekedar cari keringat, kamu makan pedas saja bisa berkeringat. " kesal Roy.


" Nah, itu om tahu. " kekeh Arisa santai.


Suasana lengang karena Roy memilih tidak menjawab lagi. Daripada mendapatkan jawaban yang lebih wow daripada tadi.


" Jangan panggil saya om. Bisa kan? " ucap Roy datar penuh penekanan setelah beberapa saat.


Arisa menoleh. " Tapi pak bos juga jangan panggil saya Arisa. Bisa kan? " jawab Arisa sambil meniru cara bicara Roy. Dan Roy menghela nafas panjang.


" Jangan pak bos juga. " sahutnya.


" Lalu?? " tanya Arisa masih sambil menoleh ke arah Roy.


" Mas juga boleh. " jawab Roy singkat.


" Cih. Ngarep! " cibir Arisa pelan.


Mereka lalu berjalan memasuki ruangan mewah yang sudah di tata sedemikian rupa hingga mampu memanjakan mata. Arisa semakin di buat kagum oleh pemandangan yang ada di depannya.


" Wuihhh... Keren... " ucapnya dengan senyuman yang merekah dari kedua sudut bibirnya.


" Jangan di lihatin udiknya. " ledek Roy. Dan Arisa menanggapi nya dengan berdecak dan memutar bola matanya jengah.


" Jangan pernah melepas tangan saya atau kamu akan hilang. " titah Roy.


" Saya udah gede ya kalau pak bos lupa. " elak Arisa.


" Panggil pak bos lagi di sini, saya cium kamu sekarang juga. " ancam Roy.


" Ha? " Arisa segera menoleh ke samping sambil menutup bibirnya. " Awas aja berani nyium saya. Saya plorotin tuh celana. Biar burungnya terbang sekalian. " ucapnya masih dengan menutup bibirnya.


Pletak


Roy menyentil dahi Arisa.


" AWW!!!! " pekik Arisa sambil mengusap keningnya.


" Makanya, masih bocil, otaknya jangan di pakai pikir yang enggak-enggak. " sahut Roy sambil memandang lurus ke depan.


" Pak bos tadi yang mulai. " elak Arisa.

__ADS_1


Dan seketika itu juga Roy menoleh, menarik tubuh Arisa hingga menempel ke tubuhnya, lalu mencondongkan wajahnya mendekati wajah Arisa. Membuat Arisa gelagapan.


" Stop!! " Arisa menekan dada Roy.


" Makanya jangan melanggar apa yang saya katakan. Jangan panggil pak bos apalagi om di sini. " ucap Roy penuh penekanan dan tatapan menusuk ke mata Arisa. Sesaat kemudian ia kembali menghadap depan. Dari arah depan, ada beberapa kliennya yang mendekat ke arahnya


" Wah tuan Roy. Apa kabar? " sapa salah satu klien yang tentunya juga pengusaha.


" Alhamdulillah tuan Cristiano, saya baik-baik saja. Bagaimana kabar tuan Cristian? " sapa Roy balik.


" Saya juga baik. Terima kasih. " jawab sang klien. " Tumben nih tuan Roy datang ke pesta membawa pasangan. " lanjutnya sambil memperhatikan Arisa. Cristian yang memang seorang Casanova, memandang Arisa tanpa berkedip.


" Cantik. Dan menarik. " ucapnya pelan.


" Iya. Sepertinya saya tidak ingin menyembunyikannya lagi. " ucap Roy sambil melepas tangan Arisa dari lengannya, lalu ia menarik pinggang Arisa dan memeluknya seolah ia ingin menunjukkan jika gadis di sampingnya itu adalah miliknya dan jangan sampai mengganggunya.


" Wah, sayang sekali. Saya pikir nona yang cantik ini adalah adik tuan Roy. " jawab Cristian.


" Tuan Chen, sepertinya anda harus mengurungkan rencana anda untuk menjodohkan putri anda dengan tuan Roy. " canda Cristian ke pengusaha lain yang tadi menghampiri Roy bersama dengannya.


" Anda benar sekali tuan Cris. " sahut tuan Chen sepaket dengan kekehannya. " Sepertinya putri saya akan bersedih. " lanjutnya.


Roy menanggapi apa yang mereka bicarakan dengan tersenyum. Ia sudah terbiasa menghadapi pengusaha - pengusaha yang hendak menjodohkan putri mereka dengannya.


" Maaf jika begitu. " jawab Roy. Ia malam ini sengaja membawa Arisa datang ke pesta sebenarnya memang untuk membuat pengusaha - pengusaha yang hendak menjodohkan putri mereka dengannya untuk berhenti. Ia sudah jengah dengan hal itu.


Lalu mereka kembali berbicara. Beberapa pengusaha lain mulai menghampiri mereka juga. Dan Arisa hanya tersenyum sesekali tanpa mau menyahut obrolan para pengusaha itu. Jujur, dia tidak mengerti sama sekali.


Mata Arisa mulai mengedar ke sekeliling. Ia sudah mulai bosan. Ia hanya bisa berdiri di samping bos magangnya ini tanpa bisa kemana-mana. Tiba-tiba matanya bertemu dengan meja panjang yang berisi banyak makanan juga minuman.


Karena perutnya yang memang meronta sedari tadi minta di isi, dan tenggorokannya yang mengering, Arisa menelan salivanya yang tiba-tiba meningkat jumlahnya. Sudah beberapa kali Arisa berusaha melepas tangan Roy dari pinggangnya, tapi tidak berhasil.


" Om... " panggilnya lirih. Tapi yang di panggil tidak menoleh sama sekali.


" Pak bos... " panggilnya lagi. Roy masih tetap tidak menoleh. Membuat Arisa berdecak dalam hati.


Ia lalu menarik nafas dalam-dalam, lalu berucap, " Mas... " Sontak Roy langsung menoleh.


Dari pandangan matanya, Roy bertanya ada apa.


Ia sedikit berjinjit hingga bibirnya mendekati telinga Roy. Meskipun ia sudah mengenakan sepatu high heels, tapi ia masih harus berjinjit hingga bisa menyamai tinggi Roy.


" Laperr!!! " bisiknya. Lalu dengan tatapan mata penuh meminta, Arisa memandang wajah Roy.


Roy nampak berpikir sejenak untuk melepas Arisa. Ia khawatir gadis itu berbuat ulah, atau malah ada laki-laki yang menggoda Arisa. Tapi melihat wajah memelas Arisa, akhirnya Roy mengangguk. Ia tidak mungkin membiarkan Arisa kelaparan.


" Maaf, tuan-tuan. Saya minta ijin sebentar. Gadis saya sepertinya ingin minum. Saya akan mengantarnya. " ucap Roy.

__ADS_1


" Saya bisa sen-" ucapan Arisa terpotong karena tatapan nyalang Roy. Dan Arisa lalu mengaitkan tangannya ke lengan Roy ketika ia takut dengan tatapan Roy.


bersambung


__ADS_2