Om itu suamiku

Om itu suamiku
Mencuri


__ADS_3

Hari ini, Roy pulang agak larut. Banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Apalagi saat akhir bulan seperti ini. Bukan hanya Rakesh entertainment yang harus ia teliti segala laporannya, tapi usaha travel, restoran, cafe, juga harus ia lihat.


Alhasil, ketika jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam, ia baru menginjakkan kaki di rumah sang mertua.


Bukan ART ataupun sang istri yang membukakan pintu untuknya. Tapi sang adik ipar, Orion yang membuka pintu.


" Baru pulang, bang? " tanya Ori.


" Iya. Biasa akhir bulan. Kerjaan numpuk. Laporan minta di lihatin semua. " jawab Roy.


" Kamu kok belum tidur? Rumah aja udah sepi gini. " tanya Roy.


" Biasa bang. Malam Sabtu gini. Besok kan libur. Nge-game dulu lah, buat ngilangin stress sama buku pelajaran selama seminggu. " jawab Orion.


" Gimana kalau kamu nemenin Abang ngobrol? " tanya Roy sambil terus berjalan berdampingan dengan Ori.


" Boleh bang. Tapi emang, bang Roy nggak capek? Kan baru pulang kerja. "


Roy menggeleng. " Belum ngantuk sih sebenernya. Jadi mending ngopi dulu aja. "


Ori mengangguk. " Tuh, si demplon molor di situ. " tunjuk Orion ke Arisa yang tengah tertidur pulas dengan menekuk kakinya di atas sofa.


" Kok malah tidur di sini? Habis nonton TV ini pasti, terus jadinya ketiduran. "


" Bukan. Tadi bilangnya mau nungguin bang Roy pulang. Tapi yah, gitu. Dasar muka bantal. Sukanya molor. Ketiduran dianya. " sahut Ori dengan masih memegang ponselnya.


" Biar Ori bangunin. " Ori hendak meraih pundak Arisa.


" Jangan. Nggak usah. Biar aku gendong aja ke kamar. "

__ADS_1


" Beneran bang? Berat loh dia tu. Ayah aja suka encok kalau habis gendong dia pas ketiduran gini. "


" Insya allah, nggak. Kamu tungguin aja di sini. Abang nganterin Arisa dulu ke kamar sekalian bersih-bersih. "


" Iya, bang. Lagian, si demplon mah kalau udah tidur ngebo dia. Mau ada gempa, ada gunung meletus, sampai ada banjir aja dia nggak bakalan bangun.


Roy tersenyum tipis. Lalu dengan hati-hati dan perlahan, ia mengangkat tubuh mungil sang istri, tapi menonjol di beberapa bagian. Ia menggendong Arisa dengan brydal style. Ia berjalan ke arah tangga, lalu menaiki tangga dengan hati-hati menuju ke kamar mereka.


Sampai di depan kamar, Roy membuka handle pintu sedikit kesusahan. Ia harus sedikit mengangkat tubuh Arisa, hingga tangannya bisa meraih handle. Setelah handle itu terbuka, ia mendorong pintu dengan kaki kanannya.


Ia menutup kembali pintu kamarnya menggunakan kaki, dan berjalan menuju ke ranjang. Dengan penuh kehati-hatian juga, ia merebahkan tubuh Arisa di atas ranjang.


Arisa sempat menggeliat kecil saat tubuhnya berhasil mendarat dengan selamat di atas ranjang. Mungkin ia merasakan tempat luas bagai di Padang pasir setelah tadi terjepit di dalam got yang sempit.


Arisa memutar tubuhnya hingga kini, ia miring ke kanan dengan memeluk guling. Roy tersenyum melihat tingkah istri kecilnya itu. Ia lalu menarik selimut dan menyelimuti tubuh Arisa.


Perlahan, ia mencondongkan tubuhnya ke bawah, hingga berdekatan dengan wajah Arisa. Ia melihat wajah tenang dan damai sang istri. Kembali ia menyunggingkan senyumnya. Gadis bar-bar yang suka bicara ceplas-ceplos itu terlihat kalem saat tidur.


Hatinya berdebar tiap kali mencium kening sang istri. Tiba-tiba ia ingin mengulanginya lagi malam ini. Perlahan, ia mengecup kening Arisa lembut. Lalu turun ke pipi.


Aneh. Rasanya sangat berbeda ketika dirinya mencium seorang anak kecil meskipun sama - sama di pipi. Perutnya terasa menggelitik.


Roy mengangkat kepalanya lagi. Daaaannn.... arah pandang matanya kini ke arah bibir merah jambu sang istri yang suka bicara panjang lebar.


Sepertinya Allah tahu apa yang diinginkan Roy. Memang kalau sudah halal, pasti semuanya akan menjadi lebih mudah. Arisa merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Yang membuat Roy, bisa dengan mudah menyentuh bibir merah jambu itu dengan bibirnya.


Cup


Satu kecupan Roy daratkan. Wuihhh... Sungguh dahsyat. Jantungnya berdebar makin kencang dengan kupu-kupu beterbangan yang makin banyak jumlahnya.

__ADS_1


Cup


Kecupan kedua ia berikan cukup lama. Tapi hanya sekedar menempel. Lalu ia mengangkat kepalanya dan ia menyentuh bibirnya sendiri sambil tersenyum gokil.


Jika ada yang melihat, tidak akan yang menyangka jika seorang Roy Aditama bisa berbuat seperti ini terhadap seorang gadis. Mencuri ciumannya. Belum lagi, pipinya yang merona dan senyuman gokilnya.


Roy kembali mendekatkan wajahnya ke Arisa, dan menempelkan bibirnya ke bibir Arisa. Kali ini, ia tidak hanya sekedar menempelkan saja. Tapi ia mencoba menyesapnya, dan mengu lumnya hingga menimbulkan bunyi seperti decakan.


" Uhh! " erang Arisa lirih. Entah sedang bermimpi apa anak itu sekarang.


Roy langsung menjauhkan wajahnya dari Arisa ketika ia mendengar erangan Arisa. Ia masih cukup waras untuk sementara waktu melakukannya dengan diam-diam. Dia tidak mau jika ia ketahuan sekarang. Bisa gagal nikmat jika belum apa-apa sudah ketahuan saja.


Belum lagi, bagaimana hebohnya istri amazing nya itu jika tahu kalau dirinya telah mencuri ciumannya. Untung saja, Arisa tidak terbangun. Roy menghela nafas lega. Sepertinya Orion benar. Tidak akan mudah membangunkan seorang Arisa.


Ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, biar lebih segar.


Dan sepertinya, tidak hanya membersihkan tubuh. Tapi juga membersihkan calon benih-benih anaknya yang harus ia bersihkan. Harus ia keluarkan segera. Karena ternyata hanya dengan mencium bibir sang istri saja, adik kecilnya ikut terbangun.


Butuh waktu lumayan lama untuk menenangkan adik kecilnya. Roy mendesah kasar sambil keluar dari dalam kamar mandi. Kenapa dengan gadis kecil itu, rasanya sungguh berbeda dengan gadis-gadis yang lain.


Bahkan adik kecilnya saja yang biasanya selalu anteng meskipun di suguhi pemandangan gunung kembar yang segede semangka, kini cuma merasakan bibir cerry itu langsung menggeliat dan bangun.


Roy memandang ke arah ranjang. Hah. Kenapa sampai sekarang, Arisa masih belum mau membuka Jilbab di depannya. Ia bahkan belum tahu, bagaimana bentukan rambut Arisa. Apakah keriting kayak mi, atau bergelombang kayak laut yang sedang beriak, atau lurus kayak jalan tol.


Roy mengambil boxer, celana rumahan juga kaos dari dalam almari. Ia lalu menanggalkan begitu saja handuk yang melilit di pinggangnya.


Coba aja kalau Arisa melihatnya saat ini. Pasti gadis itu akan membeo dari A sampai Z. Bilang mesum dan segala macam. Tapi nyatanya, ia enggan untuk menutup mata, atau hanya sekedar memalingkan wajahnya.


Roy segera memakai pakaiannya. Setelah selesai, ia menaruh handuknya di gantungan, lalu kembali mendekati ranjang. Sudah kebiasaan, jika Arisa tidur udah mirip kek banteng mau di adu. Berantakan. Roy membenarkan selimut yang merosot.

__ADS_1


Setelah itu, ia berjalan meninggalkan Arisa di kamar sendirian untuk ngobrol dengan adik iparnya.


bersambung


__ADS_2