
" Bang, handuk Arisa melorot nih. " keluh Arisa ketika bibir sang suami terlepas.
" Biar aja. " jawab Roy. Kini ia sedang berkegiatan lain. Menyusuri tengkuk, tulang selang ka sang istri dengan bibirnya.
Sedangkan tangannya, membimbing kedua tangan sang istri untuk melingkar ke lehernya. Dan benar saja, ketika tangan Arisa lepas dari pegangan handuknya, handuk itu langsung morosot bebas ke lantai marmer.
Pug
" Tuh kan??? " kesal Arisa. Bibirnya cemberut. Tapi justru membuat Roy kembali ingin meraup bibir itu.
" Arisa masih marah loh ini. " pekik Arisa kala bibir Roy mendekat kembali ke bibirnya. Ia menjauhkan kepalanya dan memalingkan wajahnya menghindari serangan gerilya bibir Roy.
" Habis ini, marahnya juga bakalan hilang. " sahut Roy. Ia lalu menyerang bibir sang istri tanpa ampun sambil mendorong tubuh sang istri hingga terjerembab ke atas ranjang.
Roy segera melepas semua bajunya tanpa menyisakan sedikitpun. Sedangkan Arisa, tentu saja tubuhnya sudah toples.
Setelah melepas semua bajunya, Roy kembali menindih tubuh sang istri. Menyentuh lembut tubuh sang istri dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Jika sudah begini, bagaimana Arisa bisa marah. Sentuhan sang suami memang selalu memabukkan buat Arisa.
Dan terjadilah sore yang panas dan mengga irahkan untuk Roy juga Arisa. Entah sudah berapa kali Arisa mendapatkan pelepasannya. Kini ia hanya tidur telentang, dengan deru nafas memburu.
" Abang,,, udah ih... Capek. " rengek Arisa. Ia sedikit mendorong dada sang suami yang masih menghimpitnya dengan sisa tenaganya.
Sedangkan Roy masih saja bergerak naik turun di atasnya. " Sedikit lagi. Tanggung. Masak mau di masukin lagi. Udah mau keluar nih. " jawabnya dengan suara memburu.
Aaaahhhhhh
Akhirnya Roy menge rang panjang dan mengakhiri kegiatan sorenya.
Ia lalu menjauhkan diri, menjatuhkan tubuhnya di samping Arisa dengan nafas yang masih memburu.
" Abang tadi habis minum obat kuat ya? " tanya Arisa dengan mata tertutup.
" Nggak. " Roy memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. Ia menyingkirkan helaian rambut Arisa yang menempel di pelipis dan pipinya yang basah karena keringat.
" Ih, kok gitu amat. Arisa sampai capek. Lemes. Badan Arisa udah kek ayam geprek. " keluh Arisa.
" Capek ya? " ucap Roy sambil mengusap lembut pipi Arisa. Ia pun tersenyum.
Arisa hanya mengangguk. Matanya masih terpejam.
" Maaf. Abang minta maaf untuk semuanya. Atas kesalahpahaman hari ini, abang juga minta maaf untuk yang barusan. Abang tuh kalau udah lihat tubuh kamu, suka khilaf dan hilang kendali. " kekeh Roy.
" Kesalahan abang hari ini tuh banyak banget, tahu nggak. Tadi pagi, abang ninggalin Arisa gitu aja. Mana Arisa kelaparan lagi. Mau makan, nggak ada apa-apa yang bisa di makan. Abang nggak bolehin Risa masak mie instan. " decak Arisa.
" Bukankah tadi pagi udah sarapan roti bakar? Dua porsi lagi. "
" Tapi masih laper. "
" Tumben? "
" Au'. "
__ADS_1
" Ya udah, berarti maaf Abang, Abang tambahin deh. Karena udah bikin istri abang kelaparan. " ucap Roy sambil menoel hidung Arisa.
Arisa membuka kedua matanya. Ia menoleh ke arah Roy. " Arisa bakalan maafin. Tapi ada syaratnya. "
" Apa? Hem? "
" Masakin Arisa spaghetti yang kek di resto nya Abang. " pinta Arisa. " Arisa lapeeerr... " rengeknya dengan kedua mata berkedip lucu.
Roy tersenyum. " Oke, abang masakin sekarang. Kamu istirahat aja di sini. Tidur juga boleh. Entar kalau masakannya udah jadi, abang bawain kesini. " ucapnya.
Ia lalu mendekati wajah Arisa, mencium keningnya lembut, lalu mengelap wajah Arisa yang masih basah karena keringat.
Lalu ia menarik selimut dan menutupi tubuh polos Arisa dengan selimut itu. Kemudian ia beranjak turun dari atas ranjang.
" Abang!!! " pekik Arisa. " Abang lupa lagi pakai pengaman ya??? " ucapnya dengan tatapan tajam ke arah pusaka Roy yang menggantung.
Roy tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menatap bagian bawahnya. " Maaf, abang lupa. "
" Abang ih, kebanyakan salah deh hari ini. " ketus Arisa. Ia lalu menarik selimutnya lebih tinggi, dan memiringkan tubuhnya membelakangi Roy.
Roy segera memakai pakaiannya kembali dan keluar dari dalam kamar.
🌷🌷🌷
" Sayang..." Roy membangunkan Arisa. Ia sudah selesai memasak. Dan kini, ia membawa hasil masakannya ke kamar.
Arisa masih terdiam. Masih sibuk di dunia mimpinya.
" Arisa sayang" kembali Roy mencoba membangunkan. Bukan hal baru bagi Roy membangunkan putri tidur satu ini. Putri tidur karena kalau sudah tidur, susah bangunnya.
Roy mendekatkan piring itu ke dekat hidung Arisa.
Ketika sedang menarik nafas, aroma harum spaghetti masuk ke indra penciuman Arisa. Dan langsung diproses oleh otaknya, lalu berangsur turun ke perut.
Arisa mengendus-endus aroma masakan udah kek gu guk peliharaan yang sedang mengendus aroma penyamun.
Arisa bergerak. Masih dengan mata tertutup rapat, mulutnya bergumam, " Laper ih. " sambil mengelus perutnya.
Roy yang merasa gemas dengan tingkah sang istri, lalu menjauhkan piring tadi dan meletakkannya ke atas nakas. Ia lalu menghujani wajah Arisa dengan ciumannya.
" Spaghetti aku mana Bu????? " suara serak Arisa kembali terdengar dengan mata yang masih tertutup.
" Bukan ibu, sayang. Tapi suamimu yang membuat spaghetti. Ayo, buka matamu. " Roy berucap sambil menepuk pan tat Arisa pelan.
" Heeemmm" Arisa menggeliat, lalu perlahan ia membuka matanya.
" Abang??? Udah mateng ya bang?? " tanya Arisa dengan suara seraknya. Ia mengucek matanya yang masih terasa berat.
" Hem. " Roy mengangguk. " Ayo duduk. Keburu dingin entar spaghetti nya. " ia mengambil piring berisi spaghetti.
Arisa kemudian duduk, bersandar ke headboard ranjang, mengangkat selimut dan mengamitnya ke ketiak. Jangan sampai selimutnya melorot dan memperlihatkan tubuh polosnya. Bisa-bisa dirinya tidak jadi makan. Dan ia yang akan kembali di makan suaminya.
" Kok cuma dikit bang? " Arisa menatap spaghetti di atas piring yang Roy letakkan di atas pangkuannya, lalu menatap Roy.
__ADS_1
" Dikit? " tanya Roy dan Arisa mengangguk.
" Tapi ini porsi biasanya kamu makan. "
" Tapi Risa laper banget loh bang. Kurang kalau cuma segini. " rengek Arisa.
" Ya udah, Abang ambilin lagi di bawah. " Roy beranjak dari duduknya sambil mengernyit.
Kenapa porsi segitu bisa kurang? Bukankah porsi sudah sama dengan porsi di restorannya? Apakah memang porsi yang di berikan oleh restorannya terlalu sedikit? Ah, tapi tidak. Selama ini tidak pernah ada komplain dari pelanggan mengenai porsi.
Tak lama, Roy sudah kembali dari dapur dengan membawa piring kedua.
" Taruh jadi satu sini bang. " ucap Arisa antusias.
Roy mengangguk, lalu menuang spaghetti ke dalam piring yang sama.
Lalu setelah menaruh piring kosong di atas nakas, Roy duduk di hadapan Arisa.
" Abang, suapin. " rengek Arisa.
Roy tersenyum, lalu mengambil piring dari pangkuan Arisa dan mulai menyendok spaghetti dan mengarahkannya ke mulut sang istri.
" Kamu tadi jadi ke rumah Kaila? " tanya Roy di sela-sela suapannya.
Arisa menggeleng. " Ke rumah ibu. Si Kai lagi nggak di rumah. " jawab Arisa setelah menelan spaghetti nya.
" Makan di rumah ibu? "
" He em. Makan nasi goreng sama telur mata sapi Doble. " jawab Arisa.
Roy manggut-manggut. " Terus, tadi habis dari kantornya Abang, kemana dulu? Kok abang udah duluan sampai rumah, kamu belum? "
" Mampir dulu ke tukang siomay. Lihat kang siomay di pinggir jalan, Risa jadi laper. " jawab Arisa santai.
" Berarti hari ini, jam segini, kamu udah makan roti bakar 2 porsi, nasi goreng sama telur mata sapi dobel, Siomay, terus spaghetti dobel juga. " Roy mengabsen satu persatu makanan yang sudah masuk kedalam perut sang istri.
" Tumben makan banyak? "
" Nggak tahu. " jawab Arisa sambil menggelengkan kepalanya. " Udah dari kemarin-kemarin, Risa tuh bawaannya laper mulu. Di sekolah, bisa habis bakso dua porsi sama es jeruk dua gelas. "
" Pantesan tubuh kamu makin berisi. " Roy manggut-manggut sambil menyendok spaghetti kembali.
" Isshh, abang mau bilang Risa gendut gitu sekarang? Ini juga pasti gara-gara abang yang tiap malem ngajakin duel mulu. Jadinya, Risa gampang laper. " Arisa melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam sang suami.
" Bukan. Tapi tubuh kamu jadi berisi. Nggak kerempeng. Jadi makin enak kalau di remas-remas. " Roy menyodorkan sesendok spaghetti ke mulut Arisa.
Bug
Arisa memukul Roy menggunakan bantal yang ada di sebelahnya.
" Pengen godain abang ya? " goda Roy sambil menaik turunkan kedua alisnya melihat da da Arisa yang terpampang separoh.
Saat tangan Arisa tadi mengambil bantal dan memukul Roy, rupanya selimutnya melorot sebelah.
__ADS_1
Dengan buru-buru, Arisa segera menaikkan kembali selimutnya sambil menatap tajam ke arah Roy dan membuat Roy tergelak.
Bersambung