
Kasih up pagi-pagi deh... Buat ganti kemarin yang udah pada nungguin... Semoga kalian tetep stay di cerita othor ini, dan semoga aja ceritanya nggak bikin kalian kecewa....
Lop Yu Pull deh pokoknya......
_______________________________
" Bukankah nona tidak ke sekolah hari ini? "
Deg
" Tuan muda... " panggil bibi yang tergopoh-gopoh menghampiri Roy yang sedang berdiri di hadapan mamang.
Roy menoleh. Ia masih memegangi sarungnya yang ia angkat agak tinggi.
" Ada apa bi? Sudah bertemu istri saya? "
" Nona Arisa tidak ada di mana - mana tuan. Saya sudah mencarinya tadi sama Sri. " ucap bibi.
" Ya Tuhan... Di mana dia? " gumam Roy sambil memijat pelipisnya .
" Mang, apa semalam kamu mengantar istriku ke toko buku? " tanyanya ke mamang.
" Tidak, tuan. " mamang menggeleng. " Semalam nona Arisa tidak ada meminta saya untuk mengantar kemana-mana. "
" Tuan... " panggil bi Rasti. Pembantu keluarga Rakesh yang telah merawat Selsa semenjak kecil.
" Ada apa bi? " tanya Roy.
" Maaf, tuan. Anda mencari nona Arisa? "
Roy mengangguk.
" Semalam setelah non Selsa di bawa ke rumah sakit, saya sepertinya melihat nona Arisa kembali masuk ke rumah, lalu keluar lagi dengan membawa tasnya. Mungkin nona Arisa keluar ke toko buku. Kalau mamang tidak mengantar, kemungkinan nona Arisa pergi sendiri. " jelas bi Rasti.
" Dia pergi sendiri? " kembali Roy memijat pelipisnya.
" Iya, tuan. Dan dia nampak terburu-buru. "
" Ah!!" Roy menarik rambutnya kasar.
" Semalam, dia makan malam tidak bi? "
" Sepertinya tidak, tuan. Karena setelah rumah sepi, nona Arisa juga langsung pergi. "
" Bi Rasti melihat dia pulang? "
" Maaf, tuan. Saya tidak melihatnya. Coba saya tanyakan ke depan. Mungkin sekuriti mengetahuinya . " Bi Rasti segera beranjak melangkah menuju pos sekuriti.
__ADS_1
Tak lama, dia kembali menghampiri Roy.
" Maaf tuan, kata sekuriti, nona Arisa tidak kembali ke rumah. " ujar bi Rasti.
Si *l. umpat Roy dalam hati.
" Mang, siapkan mobilku sekarang. Aku akan mencari istriku. " ucap Roy dan Mamang langsung mengangguk.
Roy lalu beranjak masuk ke dalam rumah. Ia akan mengganti bajunya terlebih dahulu sebelum mencari sang istri.
Dalam perjalanannya menuju ke kamar, ia yang tadi sudah mengambil ponselnya, mencoba menghubungi sang istri. Tapi panggilannya yang sudah berkali-kali itu, tidak ada jawaban sama sekali.
" Ya Tuhan Arisa... Please, angkat teleponnya. Biar aku tahu kamu baik-baik saja. " monolog nya sambil melihat layar ponselnya dan mencoba menghubungi Arisa kembali.
Tapi lagi-lagi, panggilannya tidak ada jawaban.
Roy meletakkan ponselnya di atas ranjang, lalu ia segera mengambil pakaian ganti. Mandi, di pikir belakangan saja. Yang penting sekarang, ia harus segera menemukan sang istri. Dan mengungkapkan semuanya.
Mengungkapkan perasaannya. Perasaan yang entah sejak kapan ada di hatinya. Ternyata begitu mudah dirinya bisa memasukkan nama Arisa di hatinya. Hingga Roy bahkan tidak menyadari sejak kapan nama itu tersemat di relung hatinya.
Selama ini ia berpikir, akan sangat sulit move on dari adik tirinya. Tapi setelah mengenal Arisa, hanya dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan, ia berhasil mengganti nama Selsa dengan nama Arisa.
Selesai berganti baju, Roy segera menyambar ponselnya. Sambil berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga, ia menghubungi Joice. Ia mengatakan jika kemungkinan hari ini, ia tidak datang ke kantor. Ia meminta Joice untuk me-reschedule jadwalnya.
Sampai mobil, Roy segera memasukinya. Ia segera menjalankan mobilnya segera. Ia harus menemukan istrinya hari ini juga. Entah di mana sang istri sekarang.
Roy terus melajukan mobilnya membelah jalanan yang semakin siang semakin padat. Roy memutuskan untuk ke rumah mertuanya terlebih dahulu. Ia agak yakin jika sang istri pasti pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah mengendarai mobilnya selama beberapa menit, akhirnya ia sampai di depan rumah Julio. Pak Sutris, penjaga shift pagi, segera membuka gerbang lebar-lebar kala melihat mobil Roy di depan gerbang.
" Terima kasih, pak. " ucap Roy setelah ia membuka jendela mobilnya.
" Sama sama tuan. " jawab pak Sutris sambil membungkuk hormat.
Roy segera memarkirkan mobilnya di depan rumah, ketika ia sudah sampai pekarangan rumah Julio.
" Assalamualaikum... " ucap Roy saat ia memasuki rumah.
" Waalaikum salam. " jawab Andhara dari dalam rumah sambil mengelap tangannya yang basah dengan kain lap. Bahkan kain lap itu ia bawa sampai luar. Persis seperti kebiasaan emak Komsah.
" Bu.. " sapa Roy sembari menyalami Andhara.
" Loh, sudah pulang kamu? Kata si Arisa kamu lagi di luar kota. " ujar Andhara. Sengaja ia mengatakan hal itu. Ia tahu, jika sang menantu, datang ke rumahnya pagi-pagi begini karena ingin mencari istrinya.
" Ah. Oh. I-iya Bu. Baru pulang tadi. " jawab Roy agak gugup.
" Aduh, sayang sekali. Arisa sudah berangkat ke sekolah tadi. " ujar Andhara. Ia tidak akan bertanya. Ia tidak akan mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Meskipun ia begitu ingin tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
" Oh, Arisa sudah berangkat ya Bu. " sahut Roy canggung.
Ya iyalah udah berangkat. Udah mulai pelajaran juga kali. Batin Andhara.
Dasar si emak ini sukanya julid.
" Udah sarapan, Roy? Pasti belum kan? Ayo, sarapan dulu. " tanpa menunggu persetujuan dari menantunya, Andhara sudah melenggang masuk ke dalam rumah.
" Orang mikir juga butuh tenaga. Tenaga di dapetnya dari asupan makanan. " celotehnya hingga sampai di dapur. Bahkan Roy harus terus mengikuti langkahnya.
" Duduk. Biar ibu siapin. " lanjutnya. Tanpa menunggu persetujuan dari Roy, Andhara langsung mengambil piring, lalu kembali menyiapkan lauk pauk yang tadi sudah sempat ia simpan ke dalam lemari dapur.
" Ibu angetin dulu lauknya. " ujar Andhara.
" Roy makan roti aja Bu. " jawab Roy karena memang ia tidak begitu naf su makan.
" Oh, mau roti. Ibu buatin sandwich aja kalau gitu. Mau di isi telur setengah matang, sandwich nya? " tawar Andhara.
" Boleh. " jawab Roy sembari mengangguk.
Melihat bagaimana sang ibu mertua memperlakukan dirinya seperti ini, Roy makin di Landa rasa bersalah.
Keluarga Julio sudah sangat berbaik hati menyerahkan putri mereka satu-satunya kepadanya, memperlakukannya dengan begitu baik, tapi dirinya malah banyak menyakiti Arisa. Bunga di keluarga itu.
" Ini dia sandwich ala-ala ibu Andhara Nurmalia, istri tercinta dokter Julio. " ujar Andhara sambil tersenyum dan meletakkan piring yang berisi sandwich di hadapan Roy.
" Makasih, Bu. "
" Sama-sama... " sahut Andhara. " Bukankah ibu ini harus memperlakukan seorang CEO terkenal dengan baik? Kalau tidak, ibu bisa di julid in sama netijen. " kelakarnya.
" Ibu bisa aja. " kekeh Roy.
" Mau kopi, apa teh hijau? " tawar Andhara kembali.
" Roy bisa buat sendiri, Bu. Nanti Roy buat sendiri saja. " jawab Roy merasa tidak enak.
" No... No ... Dapur itu wilayah wanita. Jadi jangan berani-berani kamu ikut ngacak-acak daerah kekuasan ibu. " canda Andhara sambil menatap tajam.
" Baiklah. Kopi hitam, sepertinya enak. " ujar Andhara.
" Tentu saja. "
Setelah selesai sarapan, Roy berpamitan ke ibu mertuanya. Ia harus menyusul sang istri. Jika ia harus menunggu di depan sekolah hingga sekolah usai, akan ia lakukan. Yang terpenting, ia bisa bertemu istrinya.
" Roy, jika ada masalah, selesaikan baik-baik. Ibu percaya, kamu seorang CEO. Kamu pasti sudah terbiasa menyelesaikan semua masalah dengan cepat. Ibu percaya itu. " ucap Andhara kala Roy berpamitan kepadanya.
Bersambung
__ADS_1