
" Hai baby... " sapa Miler dari kejauhan. Setelah mendapatkan bukti perselingkuhan Miler, Arisa tidak mau membuang waktu lagi. ia segera menemui Miler di kelasnya.
Tidak ada tampang manis nan imut dari wajah cantik Arisa. Yang ada hanya raut wajah kesal.
Arisa menyedekapkan kedua tangannya di depan da da. Ia sedang menahan kekesalannya. Ia menatap nyalang Miler yang sedang berjalan ke arahnya.
" Hai baby, apa kabar? " tanya Miler sambil hendak mengelus puncak kepala Arisa. Hal yang biasa ia lakukan kepada Arisa jika bertemu. Yah, maksud hati pengennya mengelus pipi. Tapi apa daya jika sang pemilik akan mengeluarkan tanduknya jika ia melakukan hal itu.
Arisa segera menyingkir sebelum tangan Miler berhasil meraih puncak kepalanya.
" Hai, what's wrong with you? Ada apa? Hem? " tanya Miler dengan nada suara lembutnya. Selembut e ek ayam menurut Arisa.
Arisa masih tetap bergeming. Ia masih memberikan tatapan mematikan ke Miler. Hingga membuat Miler sedikit salah tingkah.
" Aku seneng banget loh kamu kesini nyamperin aku. Yah, you know lah. Akhir - akhir ini susah banget buat ketemu sama kamu. Apalagi jalan sama kamu. " ujar Miler lagi.
" Oh ya? "
Miler mengangguk. " Sepertinya kamu sangat sibuk akhir - akhir ini. Hingga nggak ada waktu buat aku. Buat kita. Tapi aku seneng, sekarang kamu kesini. Itu artinya, rinduku nggak cuma sepihak. Kamu juga pasti merindukan aku, kan baby? "
" Baby... Baby ... Baby hutan? " ketus Arisa sambil memutar bola matanya jengah.
" Kenapa? Kamu nggak suka, aku memanggilmu seperti itu? Bukankah biasanya aku juga memanggilmu seperti itu? " tanya Miler heran.
" Iya, dulu. Karena gue o on waktu itu. Tapi sekarang gue udah waras. Males gue denger loe manggil gue seperti itu. Jijay, sumpah!" umpat Arisa.
" Arisa, kok kamu pakai loe gue sih. Bukannya kita udah sepakat kalau kita pakainya aku kamu, ya. "
" Dulu. Jangan di ungkit lagi sekarang. Males gue. " sengak Arisa.
" Kamu kenapa sih sebenernya, kok datang terus marah-marah gini? Harusnya, kalau lama nggak ketemu, kita tuh romantis romantisan. " ujar Miler masih dengan santai dan gombalannya.
" Aku kangen banget sama kamu loh. " lanjutnya.
" Oh ya? Loe kangen sama gue? Nggak salah? "
__ADS_1
" Iya lah aku kangen sama kamu. Secara kita nggak ketemu kan lama. "
" Kalau gue bilang sih nggak. Karena loe punya yang lain selain gue." sengak Arisa.
" Mak-maksudnya, apa nih? " Miler nampak kebingungan. Ia menautkan kedua alisnya.
" Nih, loe lihat sendiri. " Arisa memperlihatkan video yang ada di ponsel Rian ke Miler.
Bagaimana bisa ponsel Rian yang ia bawa? Jawabannya, karena video itu ada di ponsel Rian. Terus, bagaimana Arisa bisa membuka layar ponsel Rian? Jawabannya, karena sedari tadi, ia terus berusaha membuat ponsel itu tidak terkunci layarnya.
Miler mengernyit. Ia menatap ponsel yang Arisa perlihatkan di depan mukanya. Di sana, ia melihat isi video yang ternyata adalah dirinya yang sedang memboncengkan seorang gadis berseragam sama dengan seragam Arisa, sampai mereka sampai di sebuah mall dan Miler merangkul mesra bahu gadis itu.
Mata Miler membola seketika. Ia menelan salivanya susah payah.
" Baby... "
" JANGAN PERNAH MANGGIL GUE sepperti itu lagi. " kecam Arisa sambil menudingkan jari telunjuknya ke muka Miler. " ENEK gue dengernya!!! "
" Kamu salah sangka, Sa. Sumpah, aku nggak pernah selingkuh dari kamu. Dia... Dia itu sahabat baik aku. Kita udah biasa bercanda seperti itu. " jelas Miler. Sepertinya Miler agak jiper melihat kemarahan Arisa.
Tapi kali ini, Miler takut di putusin oleh Arisa. Jika biasanya ia akan langsung mengiyakan jika pacarnya mengajaknya putus, maka lain untuk sekarang.
" Arisa, please jangan marah-marah kayak gini. Kita bicarakan baik-baik, oke. Jangan cemburu... Jangan emosi. " Miler mencoba menenangkan seorang Arisa.
" Bicara baik-baik gimana? Lagian siapa juga yang cemburu... Siapa juga yang marah-marah... Heh! " Arisa malah menanggapinya dengan seringaian.
Miler menyunggingkan senyumnya lebar. Ia senang, karena Arisa tidak cemburu. Itu artinya, Arisa mempercayai ucapannya.
" Syukurlah kalau kamu nggak marah lagi. Aku seneng. Dan percayalah, aku dan Inez hanya sekedar sahabat. Sama seperti kamu sama Santo, juga Rian. " ujar Miler. Ia hendak merangkul bahu Arisa, tapi Arisa segera menyingkir.
" Gue emang nggak marah sama loe. Karena gue masih sayang sama nyawa gue. Karena dokter bilang, orang yang suka marah-marah itu pendek umurnya. Cepet koit! " sahut Arisa.
" Makanya, daripada gue marah-marah, mendingan gue minta putus dari loe! " lanjutnya santai.
Jeddeeerrr
__ADS_1
Bagai di sambar petir di siang hari yang terik. Tubuh Miler sempat terhuyung.
" Baby, sayang. Jangan bercanda deh. Bercandaan kamu sumpah, nggak lucu sama sekali. " ujar Miler sambil terkekeh.
" Gue nggak lagi bercanda. Gue nggak pernah seserius ini sebelumnya. Yah, lebih baik gue putus dari loe. Dan loe, silahkan loe ngerentengin cewek sebanyak apapun maunya loe, terserah. Mau loe renteng kek petasan gantung juga silahkan. Mau loe renteng kek sate kambing, juga silahkan. " ujar Arisa.
Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
" Oke, ,everything between us, is over now. Kita jalan masing-masing. Pesen dari gue, jangan loe mainin perasaan cewek. Sebelum loe nyesel entar. " Arisa menepuk bahu Miler, lalu membalikkan badannya dan berjalan menjauh meninggalkan Miler yang masih diam membeku.
" ARISA!!!! " teriak Miler memanggil Arisa ketika ia mendapatkan kembali kesadarannya.
Tapi yang di panggil seolah sengaja menulikan telinganya.
" ****!!! " umpat Miler sambil meninju udara. " Aarrrggghhhh!!!! " teriaknya. Ia menarik rambutnya ke belakang.
" Sayang, kamu kenapa? " tiba-tiba Inez, sahabat selingkuhan sekaligus teman sekelasnya, menghampirinya. Ia hendak menyentuh lengan Miler, tapi langsung di tepis oleh Miler.
" Mile... Ada apa? " tanyanya kembali.
" Mendingan loe sono an deh. Gue lagi pengen sendiri. " ketus Miler.
" Ck! Pasti gara-gara gadis sok lugu itu. " gerutu Inez. Ia menyedekapkan kedua tangannya di depan da da. Ia berbicara seolah malas dengan Arisa.
" Udahlan sayang... Cewek kayak gitu aja di pikirin sih. Kan kamu juga udah punya aku. Aku jauh lebih cantik dari dia. Dan yang pasti, kamu bisa nyentuh aku, nyium aku sepuas kamu. " rayunya.
" Jangan sentuh-sentuh gue!!!!" teriak Miler sambil menepis tangan Inez yang kembali memegang tangannya. Bahkan ia dengan santainya menyelipkan tangannya ke lengan Miler.
" Ih, sayang. Kok kamu kasar sih sama aku. " keluh Inez . " Aku udah mau loh, cuma jadi selingkuhan kamu. Kok kamu malah gini? "
" Ya udah, kita putus. !!! " ucap Miler dengan nada tegasnya. Lalu ia berjalan meninggalkan Inez.
" Sayang... Miler...!! " panggil Inez, tapi Miler hanya mengangkat sebelah tangannya dan melambaikannya tanda jika dirinya tidak mau di ganggu.
Inez kembali masuk ke dalam kelas sambil berjalan menghentak-hentakkan kakinya. Awas loe, ARISA!! geram Inez dalam hati.
__ADS_1
bersambung