
" Ori, cita-cita kamu apa? Kenapa kamu tidak mengambil sekolah kejuruan seperti kakak kamu? " tanya Roy setelah ia dan adik iparnya berbincang ngalor ngidul dengan segala topik.
" Mmmm... Apa ya bang? Sebenarnya, Ori tuh lebih suka ke bisnis. Pengen berbisnis gitu suatu saat nanti. Cuma nggak tahu nanti ayah sama ibu ngijinin atau nggak. Secara bang Roy tahu lah, cita-cita ibu dulu. Yang tadi Ori ceritain. " jawab Orion.
Roy nampak menganggukkan kepalanya. " Tapi kan Zavi juga udah jadi atlit sepakbola kan di kotanya nenek . "
" Iya juga sih bang. " jawab Ori singkat.
" Mmm... Kalau abang nawarin kamu kerjaan gimana? Bisnis lah. " ujar Roy.
" Jadi sutradara? Ori mah nggak ada bakat buat jadi sutradara. " kekeh Ori menanggapi tawaran Roy.
" Bukanlah. Bukan di Rakesh entertainment. " sahut Roy. " Sebenarnya, abang punya usaha sendiri di luar dunia entertainment. Abang punya travel, punya cafe, resto. Dan selama ini, abang agak kerepotan karena mengurus semuanya sendirian. Belum lagi kerjaan abang sebagai CEO. "
" Widdiihhh... Bang Roy keren. Bener-bener definisi horang kaya sejati. " ucap Ori terkejut dengan kenyataan jika ternyata kakak iparnya itu punya usaha lain selain menjadi CEO.
" Kalau itu bisnis pribadi abang. Karena nggak selamanya abang jadi CEO di Rakesh entertainment. " ujar Roy. " Pada saatnya nanti, abang akan menyerahkan posisi CEO itu ke adik Abang. Karena dia yang lebih berhak. Jadi Abang bikin bisnis sendiri buat entar ngidupin kakak kamu sama anak-anak abang kelak. " jelas Roy dan Ori manggut-manggut.
" Terus kenapa gitu bang Roy nggak punya asisten atau orang kepercayaan buat bantu ngurus bisnis bang Roy? " tanya Ori.
Hah. Roy menghela nafas berat. " Tidak mudah mendapatkan orang yang bisa kita beri kepercayaan penuh. "
" Sebenarnya Abang pernah punya asisten. Orang yang udah abang percaya buat bantu urus bisnis. Dia sahabat abang sendiri. Abang pikir, sahabat pastilah bisa di percaya. Tapi nyatanya, nol besar. Bisnis abang waktu itu hampir koleps kalau abang tidak segera mengetahui korupsi yang dia lakukan. Makanya, setelah itu abang tidak bisa mempercayai orang lain. " lanjutnya.
" Terus, kenapa sekarang bang Roy nawarin ke Ori? "
" Karena kamu, adik abang. Bagaimanapun, saudara bisa lebih di percaya. Apalagi semua bisnis Abang yang nantinya kamu bantu kelola itu, milik kakak kamu juga. " jawab Roy enteng.
" Tapi , Ori belum punya pengalaman bang. " jawab Ori. " Eh, kenapa abang nggak nyuruh si demplon buat ngurusin bisnis bang Roy? "
" Dia belum tahu kalau abang punya bisnis lain. Jadi sementara, baru kamu yang abang kasih tahu. Jangan kasih tahu kakak kamu dulu. Biar besok abang yang kasih tahu. " jawab Roy. " Gimana? "
" Mmm... sebenarnya, Ori sih mau mau aja bang. Tapi... Ori nggak yakin bisa."
" Abang akan ajarin kamu dulu. Kalau kamu oke, sementara, abang kasih kamu tanggung jawab buat urus yang travel. " Dan Ori mengangguk. Lumayan lah buat tambah isi tabungan.
🌷🌷🌷
Arisa sudah bersiap untuk back to school. Karena hari ini adalah hari Senin. Begitupun dengan Roy. Ia juga tengah bersiap untuk bekerja.
" Bocil. " panggil Roy. Tapi yang di panggil hanya mendelikkan matanya kesal dengan panggilan Roy. Ia sedang memasang dasinya.
" Cil! " panggil Roy kembali.
Ck. Arisa berdecak tanpa menanggapi panggilan sang suami.
" Dosa loh nyuekin suami. Di panggil dari tadi diem aja. " ujar Roy.
" Om manggil Risa? Kapan? Kayaknya nggak deh. " jawab Arisa santai. Ia masih berdiri di depan cermin. Dasi sudah terpasang dengan cantik. Ia kini mengambil liptint nya, mengoleskan di bibir merah jambunya, lalu menempel-nempelkan bibir atas dan bawahnya untuk meratakan liptint tanpa warna miliknya.
" Ck. Pura-pura nggak denger? " decak Roy.
__ADS_1
" Masak? Nggak tuh. Emang om tadi, ada manggil ARISA, gitu? " Arisa melirikkan matanya.
Hah. Roy menghela nafas panjang. Exhale - inhale... Roy mengatur pasokan udaranya.
" Arisa sayang, sini deh deketan sama mas. " ucap Roy lembut.
Bukannya mendekat, Arisa malah bergidik ngeri juga geli.
" Ssss... " Roy mendesis. " Bocilll... "
Arisa menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Nyari apa kamu? "
" Tadi, om manggil bocil. Mana? " Arisa pura-pura be go.
Roy meraup wajahnya kasar. " Kamu yang aku panggil. Dasar bocil. "
" Nama aku Arisa ya. Bukan bocil. Emang dulu om ngucapin ijab, ada gitu nyebut nama Bocil binti Julio Enggar Prasetya? " dengus Arisa.
" Makanya, kamu manggil aku juga jangan om. Mana ada istri manggil suaminya om. Emang aku nikahnya sama tante kamu. " dengus Roy ganti.
Hehehe... Arisa memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Sayangnya aku nggak punya tante. " ucapnya. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Roy. " Kenapa, kenapa, yeobo? " ucapnya sambil masih terkekeh.
" Apalagi itu? " dengus Roy tanpa henti.
" Aku nggak suka. Karena aku bukan orang Korea. "
" Ya udah, yang paling pantes ya emang om. " kekeh Arisa.
Ck. Roy berdecak. Lalu dalam satu kali hentakan, ia meraih pinggang Arisa dan membuat tubuh Arisa menempel di tubuhnya.
" Hei! " pekik Arisa terkejut. " Lepas ih. " pintanya sambil meronta. Tapi percuma karena tubuh kecilnya seperti menghilang dalam dekapan Roy.
" Makanya, mulai saat ini, jangan pernah memanggilku om lagi. Atau kamu akan mendapatkan hukuman yang jauh lebih dahsyat dari ini. " ujar Roy lembut tapi penuh penekanan sambil menatap manik mata Arisa lekat.
Arisa yang di pandang seperti itu, hanya bisa menelan salivanya susah payah. Tapi seperti di hipnotis. Mata Arisa tidak bisa berpaling dari tatapan mata Roy, hingga mereka saling memandang.
Tiba-tiba manik mata Roy turun hingga ke bibir ranum Arisa. Kini Roy lah yang menelan salivanya cepat dengan jakun yang naik turun. Bibir itu seperti di beri gendam. Yang membuat Roy terhanyut.
Tapi sepertinya otaknya masih cukup waras. Ia sadar, jika sampai ia kebablasan, mungkin pagi ini ia akan kehilangan mood booster nya. Arisa pasti akan marah-marah. Biarlah ia cukup menikmati bibir itu saat malam hari ketika si pemilik telah terlelap.
Lalu Roy segera melepas tangannya dari pinggang Arisa, dan menarik tangan Arisa untuk memegang dasinya.
" Pakaikan. " titah Roy. Arisa mengernyit. " Mulai pagi ini, kamu harus memasangkan dasiku. "
" Haiss. Mana aku bisa, o-" Arisa segera menghentikan ucapannya dan menutup mulutnya ketika mendapati tatapan tajam Roy.
" Ck. Udah kebiasa, jadinya udah nempel di bibir, ABANG! "
__ADS_1
" Jangan abang. Panggil aku mas. " pinta Roy tapi lebih mirip seperti perintah.
" Mas? Hahahaha.... " Arisa malah tertawa kencang. " Ih, geli ah. Kalau mas. Abang ajalah. Enak di dengar. Kayak ibu ke ayah. " tawarnya.
" Aku orang Jawa. Jadi aku lebih suka kamu panggil mas. Biar adik-adik kamu yang manggil aku abang. "
" Ck. Mau nggak nih, di panggil abang? Arisa maunya itu. Udah Risa planning dari dulu, kalau punya suami mau aku panggil abang. " lirihnya setelah tadi sempat berdecak.
Hah. Kembali Roy menghela nafas panjang. " Oke. Yang penting bukan om. " ujarnya. " Ya udah, buru pasangin dasinya. "
" Ih, nggak bisa om. "
" Siapa bilang kamu nggak bisa. Alasan aja. Tadi kamu bisa pakai dasi kamu. "
" Emang iya? " tanyanya blo on. Lalu ia memperhatikan dasinya dan mengingatnya. " Oh, iya. " Kembali Arisa tersenyum cengengesan. Lalu ia meraih dasi Roy, dan memasangkannya. Sedangkan Roy, ia lebih asyik memperhatikan wajah cantik dan imut sang istri.
" Wuihhh, keren. Ternyata Arisa emang berbakat nih jadi istri CEO. Masangin dasi aja bisa keren abis gini. Jadi makin cakep aja suaminya aku. "
" Emang aku cakep? "
Arisa langsung mengangguk.
" Lalu, kenapa kamu tidak mencintai aku? " tanya Roy sambil menatap Arisa.
" Bukan tidak. Tapi mungkin belum. Karena bagaimanapun juga, abang udah nikahin aku. Jadi, mau tidak mau, aku harus mencintai abang. Gitu kan? Kalau nggak bisa mencintai, masak iya, mau jadi jendes. Nggak lucu ah. " jawab Arisa diplomatis.
Roy menyunggingkan senyum tipisnya.
" Tunggu bentar. " tahan Roy ketika Arisa hendak menjauh darinya. Ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
" Aku beliin ini buat kamu. " lanjutnya sambil kembali mendekat ke arah Arisa.
Arisa mengernyit. " Abang, beli gituan? Buat Arisa? "
Roy mengangguk. Lalu memasangkan Bros itu di jilbab Arisa bagian depan. " Biar jilbab kamu nggak kebuka kalau ada angin. " tuturnya
" Ih, tapi Arisa nggak suka. Kalau gerah, nggak bisa di buka jendelanya kalau di kunci gini. " protes Arisa.
" Emang biar nggak kebuka. Kalau kebuka, dada, sama leher kamu kelihatan. Itu namanya membuka aurat. Kamu aja, masih nggak mau melepas jilbab kamu di hadapan aku kok. Malah mau kasih lihat ke orang lain. " jawab Roy.
" Nah, beres. Cantik gini, istri siapa sih. " goda Roy.
" Ck! Dari dulu juga aku udah cantik. " gerutu Arisa sambil memanyunkan bibirnya.
" Yuk, ke bawah. Ayah sama ibu pasti udah nungguin kita buat sarapan. " ajak Roy sambil tersenyum gemas melihat sang istri yang manyun.
bersambung
Meskipun kecewa dengan pihak platform, tapi demi pembaca setia othor, othor tetep usahain update tiap hari yah...
Mohon dukungannya... Biar othor tetep semangat... Jangan jadi pembaca siluman... Yang ga ninggalin jejak apapun...
__ADS_1
SarangHeo😘😘