
" Toyib! Temenin gue!!! " teriak Arisa karena Santo hanya menemaninya sampai depan cafe. Ia memang tidak berniat untuk ikut masuk ke dalam cafe. Jujur, Santo takut bertemu dengan CEO tampan tapi terkenal berdarah dingin di dunia bisnis itu.
" Ini masih siang, Sa. Kagak bakalan ada hantu juga. Noh, loe liat. Rame di dalem. " sahut Santo. " Gue tungguin di dalem mall aja lah. Mau cuci mata gue. Mau lihat yang bening-bening. Entar kalau udah di kampung, cuma bisa liat sawah sama burung doang. " lanjutnya.
" Sapa juga yang takut sama hantu. Gue bukan anak indi_home yang bisa lihat hantu sembarangan. " ketus Arisa.
" Indigo kali Sa. "
" Apalah itu namanya. Serah. Yang penting, loe temenin gue. "
" Nih anak udah di bilangin juga. Gue mau lihat yang bening-bening dulu di dalem. "
" Mau liatin kaca, loe? " sengak Arisa.
" Iya. Mau lihat kaca yang gede-gede. Di kampung kagak ada. " kesal Santo juga. " Udah ah. Bye. Gue masuk dulu. Entar kalau loe udahan, telpon gue aja. " Santo meninggalkan Arisa begitu saja tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia sudah jengah dengan rengekan Arisa sang Miss drama.
" Hih! Dasar bang Toyib ngeselin!! " pekik Arisa sambil cemberut. Tapi yang ia maksud sepertinya sudah tidak mendengar. Karena Santo segera masuk ke dalam mall dengan buru-buru.
Akhirnya, dengan langkah berat, Arisa masuk ke dalam cafe. Sampai di dalam, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
" Haiss!!! Mentang-mentang CEO!! Itu kan kalau di kantor. Kalau di luar juga sama kayak gue. " gerutu Arisa karena ia tidak menemukan sosok Roy di sana. " Katanya ' Awas, jangan terlambat '. " ia lalu menirukan gaya bicara Roy.
" Hah! Males banget. " keluhnya. " Gue hitung deh sampai tiga. Kalau dia nggak dateng, gue balik aja. Mendingan nongkrong di mall. Ikutan si Toyib liatin yang bening-bening. " lanjutnya.
" Satu.... " Arisa kembali mengeluarkan pandangannya.
" Dua ... " hitungan kedua sudah keluar dari dalam mulut Arisa. Pandangannya masih tetap mengedar.
" Dua setengaaahhh.... "
" Gue masih baik kan, masih gue kasih setengahnya juga. " gumamnya. Ia memberi jeda waktu lebih lama dalam menghitung. Tangannya ia sedekapkan di depan da da.
Wajah cantik nan imutnya terlihat makin menggemaskan ketika bibir tipisnya mengerucut. Hingga membuat seseorang yang berada di balik pintu sebuah ruangan mengangkat kedua sudut bibirnya. Hal yang sangat jarang ia lakukan.
" Ish .. Beneran nyebelin nih orang. Dia sendiri yang ngajakin janjian. Harus tepat waktu. Eh, dia sendiri yang ngingkarin seenaknya. " Ia masih tetap menggerutu. " Gue tiga in aja lah. " lanjutnya.
" Ti- "
" Nona Arisa? "
Seorang pelayan cafe menyambanginya dan menegurnya.
" Iya? " Beo Arisa. " Sapa ya? Kakak kenal sama saya? Saya baru pertama ini loh masuk ke cafe ini. Jadi, kayaknya saya nggak pernah ngutang deh. " imbuhnya membuat sang pelayan terkekeh.
" Seingat gue, gue cuma ngutang teh pu_*** sebotol di warung Mak Asih deh. Nggak ada ngutang di tempat lain. Palingan juga ke Toyib kalau nggak si Kai Kai. " Arisa masih saja berbicara entah apa. Sang pelayan juga tidak mengerti.
__ADS_1
" Maaf, nona Arisa. Nona tenang saja. Nona tidak punya hutang di cafe kami. Saya hanya menyampaikan pesan dari pelanggan kami, kalau beliau sedang menunggu anda. Di sana. " tunjuk pelayan ke sebuah meja yang ada di dekat kaca besar.
" Buset dah! " Arisa sedikit terjingkat karena terkejut. " Dia bukan hantu kan? " gumamnya.
" Kak, pintu masuk ke cafe ini, ada berapa? " tanyanya ke pelayan.
" Ha? " beo si pelayan. " Hanya satu, nona. " ia menjawab sambil melongo. Apa maksudnya nih tanya-tanya pintu segala. Mau kabur? Atau apa?
" Yang ini aja? " tanya Arisa kembali.
" Benar, nona. "
" Lah? Terus gimana ceritanya tuh orang masuk kesini? Pakai udah duduk di sana lagi. Perasaan dari tadi gue berdiri di sini, belum ada yang masuk deh. " Arisa mengamati pintu yang ada di belakang tubuhnya.
" Maaf nona. Tapi beliau sudah ada di sini sejak tadi. " sang pelayan menambah.
" Ih, kakak jangan bercanda deh. Saya dari tadi di sini liatin muter. Kagak ada lah tuh orang di sana. " kekeh Arisa.
" Tapi memang beliau sudah ada di sini sedari tadi, nona. "
Arisa malah mengendikkan bahunya. Ia menoleh ke arah di mana Roy berada. Dan laki-laki itu juga sedang menatapnya.
" Mari nona. Saya antar. " ajak pelayan. Arisa mengangguk, lalu mengikuti langkah si pelayan menuju ke meja di mana Roy berada.
" Om hantu ya? " tanya Arisa ketika ia sudah berada di hadapan Roy.
Arisa melepas tas selempangnya, lalu menaruhnya di atas kursi kosong di sebelahnya, kemudian dia duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Roy.
" Kakak pelayan tadi bilang, om udah di sini dari tadi. Tapi Arisa nggak lihat tuh. "
" Kamu aja yang nggak lihat. Atau mungkin kamu butuh kacamata silindris biar jelas kalau lihat. "
" Ih, enak aja! Mata Arisa masih sehat semua yah. Ibu selalu kasih makanan bervitamin sama anak-anaknya. Biarpun ibu tuh orangnya selengekan, tapi perhatian banget sama keluarganya. " ucap Arisa.
" Laper ih! " ucap Arisa tanpa melihat ke arah Roy. Ia menarik buku menu yang ada di hadapannya.
" Di traktir kan? " tanyanya sambil menegakkan kepalanya melihat ke arah Roy sebentar.
" Maunya? "
" Ya di traktir lah. Kan om yang ngundang. Lagian, kantong pelajar tuh tipis. Nggak cukup kalau buat makan di tempat bergengsi kek gini. " jawabnya dan tanpa menunggu jawaban dari Roy, ia memanggil pelayan.
" Ada yang bisa kami bantu, nona? " tanya pelayan.
" Kak, makanan paling enak di sini apaan? " tanya Arisa.
__ADS_1
" Kalau nona bertanya, maka saya akan menjawab... Semua makanan yang ada di cafe ini enak nona. "
" Oh. " Arisa manggut-manggut. " Kalau gitu, yang paling mahal yang mana? " tanyanya.
Si pelayan tidak langsung menjawab. Ia malah menoleh ke arah Roy. Lalu Roy mengangguk seolah mengisyaratkan jika pelayan untuk menjawab apa yang di tanyakan Arisa.
" Untuk menu termahal, ada beef bowl, sama Wagyu steak dengan saus rahasia kami nona. " jawab pelayan.
Arisa manggut-manggut. " Kalau gitu, saya mau Doble Wagyu steak ya kak. Sama waffle deh. Terus minumnya, mau smoothies deh. "
" Baik nona. Mm... untuk smoothies, mau yang varian apa nona? "
" Mmm.... " Arisa terlihat sedang menimbang dan menimang. " Ini aja deh. Mau coba yang Dragon Fruit and Berries with coconut youghart. "
" Diet kamu? " tanya Roy. " Badan udah kayak triplek gitu mau sok-sokan diet. "
" Ih, nggak. Arisa kan cuma penasaran. Pengen ngerasain. Lagian nih ya om, Arisa tuh mau makan sebanyak gentong juga nggak bakalan gemuk. " jawab Arisa penuh percaya diri.
" Buatkan saya caffe latte. Sama waffle saja. " ucap Roy.
" Baik, tuan. Silahkan di tunggu. Pesanan akan segera kami buat. Permisi. " pelayan itu undur diri.
" Ngomong-ngomong, om mau bicara apa? Emang kerjaan saya yang belum beres apaan? " tanya Arisa.
" Nanti saja kita bicarakan. Setelah kamu isi perut kamu yang kosong. Biar kamu nanti punya tenaga buat dengerin apa yang mau saya katakan. "
" Dih, jadi curiga deh. Jangan-jangan, om mau nyuruh Arisa buat kerja rodi ya? " Arisa memicingkan matanya.
" Ck! " Roy berdecak.
" Oh iya. Saya mau protes lah sama om. " Arisa tiba-tiba teringat sesuatu.
" Protes apaan? " tanya Roy. Dan saat itu, seorang pelayan mengantarkan minuman pesanan Roy juga Arisa. " Makasih. " ucap Roy.
" Makasih kak. " ucap Arisa dan pelayan itu mengangguk sambil tersenyum.
" Om kenapa kasih nilai magang saya cuma B? Harusnya tuh A. Sempurna. Saya udah jadi asisten om yang baik. Mau nemenin om kemana aja. " omel Arisa.
" Udah terima raport kamu? "
" He em. " jawab Arisa. Ia menyeruput smoothies pesanannya. " Wih, seger. Minuman orang kaya emang beda. "
" Nilai kamu gimana? " tanya Roy.
" Baik dong. Arisa naik kelas. Senior nih sekarang di sekolah. " jawab Arisa. Dan akhirnya mereka mengobrol ngaler.ngidul sambil menikmati makanan yang sudah tersaji. Sampai akhirnya Roy berucap.
__ADS_1
" Would you Merry me? "
bersambung