Om itu suamiku

Om itu suamiku
The real sultan


__ADS_3

" Kamu ngeliatin apaan? " tanya Roy ketika melihat istri kecilnya terlihat celingukan menatap keluar jendela. Mereka saat ini sedang berada di cafe, menunggu makanan tersaji.


" Ha? " beo Arisa. Ia menoleh ke arah Roy. " Itu tadi kayak lihat motor si Ori di depan. Tapi kok anaknya nggak kelihatan di sini, gitu. " lanjutnya menjawab pertanyaan Roy.


" Oh. Ada tuh Ori. Di bangunan sebelah. " jawab Roy.


" Lah? Kok abang tahu? Ngapain Ori di sebelah. Emang Ori mau kemana? Kan sebelah itu travel kan? " tanya Arisa nyerocos.


Roy memandang keluar jendela. " Emang kalau lagi di tempat travel, harus mau bepergian gitu? " ucapnya.


" Iyaaaa... Mau ngapain lagi, coba. Kecuali dia kerja di sana. Atau bos di sana. " sahut Arisa. " Eh, tunggu-tunggu.... Jangan bilang si Ori... Kerja di tempat itu. Wah, nggak boleh di biarin ini mah. Kalau raja sama ratu tahu, bisa di jadikan serdadu dia. " Arisa bangkit dari duduknya.


" Mau kemana? " tanya Roy.


" Mau nyamperin Ori lah bang. Dia belum punya SIM loh. Nanti kalau dia di tangkap polisi gimana? Dia emang sudah bisa nyetir. Tapi ... Duh, tuh anak gimana sih. Masak uang jajan yang di kasih sama ibu masih kurang sih. " ucapnya sambil terlihat panik.


" Duduk dulu. " perintah Roy sambil menggerakkan kepalanya mengisyaratkan supaya Arisa kembali duduk di kursinya.


" Ori, bang. Itu Ori... "


" Iya, aku tahu. Makanya, kamu duduk dulu. Biar abang jelasin. " Roy meraih tangan kiri Arisa dan sedikit menariknya supaya istri kecilnya itu kembali duduk.


Bug. Arisa menghenyakkan pan tatnya di atas kursi dengan kasar.


" Jangan kenceng-kenceng duduknya. Nanti pan tat kamu tepos jadi kayak triplek. " canda Roy.


" Risa lagi mode serius loh ini bang. " sahut Arisa. " Sumpah ya bang. Si Ori ini mah... " Arisa hendak bangkit lagi dari duduknya.


" Mau kemana lagi? " geram Roy sambil memegang tangan Arisa supaya Arisa tidak berdiri lagi.


" Ck! Ori baaaangggg.... " rengek Arisa.


" Iya. Abang tahu. Udah kamu tenang dulu. "


" Gimana mau tenang sih! Itu Ori loh bang... Kalau ketangkep polisi gimana? " ucap Arisa panik .


" Makanya, kamu duduk dulu yang manis, abang jelasin. Oke? " ujar Roy lembut dengan tatapan yang tak lekang dari sang istri. Ternyata istrinya itu begitu mengkhawatirkan saudara kembarnya meskipun jika bertemu, mereka sudah kayaknya air dan minyak. Nggak bisa akur sama sekali. Yang ada selalu saja meletup-letup bikin takut.


Huh. Arisa membuang nafasnya kasar. Lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan kasar pula. Sungguh, kapan gadis ini akan berlaku lembut. Pikir Roy.


" Ya udah, abang cepetan ngomong. "


" Jadi gini. Si Ori emang kerja di travel itu. "


" Nah kan... Ab-"

__ADS_1


" Stop! Abang belum selesai jelasin. Jangan di potong mulu. " titah Roy. Akhirnya, Arisa diam menunggu kelangsungan penjelasan Roy.


" Ori memang bekerja. Tapi tidak menjadi sopir. Di sana, dia jadi penanggung jawab. Dia yang di kasih tanggung jawab buat megang usaha travel itu. Jadi tiap pulang sekolah, Ori kesitu dulu. " jelas Roy.


" Baik banget tuh orang, ngasih kepercayaan ke Ori. Eh, tunggu deh. Kok abang paham banget? " Arisa memicingkan matanya menatap Roy.


Roy menghela nafas panjang. Mungkin sekarang, ia harus mengatakan kepada istri kecilnya tentang semuanya.


" Sa, sebenarnya aba-"


" Maaf mengganggu tuan. Makanannya sudah siap. " ujar seorang pramusaji menghidangkan makanan pesanan Roy dan Arisa di atas meja. Ia tersenyum sambil mengangguk ke Roy, lalu ke Arisa.


" Tan, si Ori udah makan siang? " tanya Roy ke pramusaji itu.


" Oh, tadi udah Tanti ajakin makan sih tuan. Tapi, kata bang Ori, entaran aja. Tadi dia cuma minta di buatin Mango jelly milk ice sama potato wedges aja. " jawab sang pramusaji.


" Oh, ya sudah. " sahut Roy. Lalu pramusaji itu segera undur diri.


" Abang kenal? " tanya Arisa.


" Kenal. " jawab Roy mengangguk.


Arisa menyipitkan kedua matanya. " Jangan bilang kalau abang... "


" Dia pegawai abang. Jadi jelas abang kenal. " potong Roy.


" Jangan makan dulu. " ujar Arisa cepat sambil menarik tangan Roy yang hendak memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Roy meletakkan kembali sendok yang telah berisi nasi itu. Ia memandang ke arah Arisa.


" Jelasin dulu yang tadi belum selesai. Baru habis itu, boleh makan. "


" Ck! Ribet amat sih. Nggak bisa gitu di pending dulu. Kita makan siang dulu. Orang ngomong juga butuh tenaga. Abang janji. Setelah selesai makan, Abang jelasin semuanya. Nggak ada yang terlewat. " ucap Roy. Ia lalu mengambil sendoknya, dan memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


" Ck! Di gantung. Nasinya juga ngegantung di tenggorokan. " gumam Arisa. Ia pun akhirnya menyendokkan nasinya dan memasukkannya ke dalam mulut dengan kasar. Hingga terdengar bunyi tag. Sendok dan gigi Arisa bertumburan.


" Pelan-pelan makannya. Nanti se tannya ikut makan. Apalagi kalau nggak pakai doa dulu. "


" Udah tadi. Dalam hati. " ketus Arisa. Ia lalu melanjutkan acara makan siangnya. Sedangkan Roy, ia menggelengkan kepalanya namun, ia pun ikut meneruskan acara makannya.


Arisa bahkan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan makan siangnya.


" Udah, buru. Jelasin. Makanan Risa udah habis nih. " Arisa berucap sembari mendorong piringnya yang sudah kosong.


" Hah. " Roy mende sah, lalu mengusap bibirnya dengan tisu, lalu ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

__ADS_1


" Ori kerja, aku yang minta. " ucap Roy sambil menatap penuh ke Arisa.


" Apa? Abang nyuruh Ori bekerja? Wah, nggak bener nih. Ayah sama ibu bisa marah besar loh bang, kalau tahu. Ayah masih sanggup buat kasih uang jajan ke dia. " ketus Arisa.


" Bukan gitu maksud abang minta dia buat kerja. Abang cuma minta bantuan dia buat ngurus usaha travel punya abang. Karena waktu abang habis di perusahaan. " jelas Roy.


" Ha? U-usaha abang? Nggak salah denger? Bukannya abang CEO di Rakesh entertainment ya? " beo Arisa.


" Posisi CEO, sebenarnya bukan punya abang. Abang sekarang di posisi itu, sebatas menjaganya saja untuk sementara waktu sampai pemilik aslinya mampu menduduki posisi itu. " ujar Roy dengan serius. Arisa mengernyit.


" Sebelumnya abang minta maaf. Harusnya, abang cerita semua ini ke kamu sedari awal. Tapi abang takutnya kamu nolak jadi istrinya abang kalau tahu kenyataannya. "


" Ihh, prolog nya nggak usah pakai panjang lebar bin lama deh bang. To the point aja. Otak Risa bisa ngepul kalau buat kebanyakan mikir. " sahut Arisa tak sabar.


" Posisi abang di keluarga Rakesh, hanyalah seorang anak tiri. Mama, adalah istri kedua papa Manoj setelah istrinya yang dulu, yaitu mamanya Selsa meninggal. "


Arisa melongo. Ia speechless. Nggak tahu harus menyahut apa.


" Meskipun papa tidak pernah membeda-bedakan antara Abang sama Selsa, tapi tetap saja, abang hanya seorang anak tiri. Dan meskipun papa selalu mengatakan jika abang yang akan menduduki posisi CEO itu selamanya, tapi bagaimanapun juga, papa punya anak kandung yang lebih berhak. " lanjutnya.


" Kamu pasti kecewa kan, ternyata suamimu ini bukanlah CEO yang sebenarnya? " lanjut Roy sambil tertawa sumbang.


" Ck! Abang pikir, Arisa cewek matre?? Yang hanya mikirin duit dan duit. " sahut Arisa kesal. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela.


" Ayah, sama ibu, selalu mendidik anak-anaknya untuk menjadi orang yang tidak selalu melihat ke atas. Kita juga harus melihat ke bawah. Karena tidak menutup kemungkinan jika kita pun bisa berada di bawah. Jadi, buat Arisa, mau abang kaya ataupun miskin abang tetap suaminya Risa. Mau abang CEO, ataupun tukang cendol, tetap aja abang suaminya Polaris Amalthea Prasetya. " lanjutnya membuat hati Roy menghangat.


Roy mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Arisa. Ia mengusapnya lembut. " Terima kasih, udah mau Nerima Abang apa adanya. " ucapnya.


" Tapi, meski begitu, kamu nggak usah khawatir. Jadi, beberapa tahun silam, setelah abang lulus kuliah S1, abang mulai merintis usaha. Dan alhamdulilah, sekarang usaha abang itu sudah maju pesat. Dan usaha travel dimana Ori bekerja, itu salah satu usaha abang. "


" Salah satu? Maksudnya? "


Roy tersenyum. Ia bahagia saat ini. Ternyata dirinya tidak salah memilih. Meskipun Arisa masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri, tapi Roy, tidak merasa menyesal telah menghalalkan gadis ini. Kini, sepertinya Roy yakin untuk memberikan hatinya untuk seorang Arisa.


" Abang punya restoran makanan cepat saji, ada frenchise nya juga di beberapa kota, Abang punya cafe di beberapa tempat. Dan cafe ini, adalah salah satunya. " jelas Roy.


" Seriusan bang? " Arisa menganga sambil menelisik cafe tempatnya makan saat ini. " Cafe ini cafe terkenal loh. Most wanted lah. Apalagi kalau malam Minggu. "


" Kok kamu tahu? Kamu sering kesini? "


" Nggak juga sih. Cuma pernah sekali, sama ayah, ibu, Ori, Kevin kesini makan malam. Waktu itu pas malam minggu. Ada live music nya juga. Jadi ramai banget. " jelas Arisa dengan begitu excited.


" Tunggu deh... " Lanjutnya, tapi setelah itu, ia terdiam untuk berpikir. " Jangan-jangan, restoran tempat abang ngajakin janjian waktu itu, yang aku pikir abang hantu, karena nggak lihat Abang masuk, tapi tiba-tiba abang udah ada di dalam, itu juga restoran punya abang. " tebak nya.


Roy mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Wah, definisi the real sultan


Bersambung


__ADS_2