Om itu suamiku

Om itu suamiku
Sedih


__ADS_3

" Sayang... Maafin abang... " ucap Roy lirih.


Ia duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang Arisa. Ia menggenggam tangan kiri Arisa dengan tangan kirinya sambil sesekali mengecup punggung tangan itu. Dan tangan kanannya mengusap lembut kening juga puncak kepala Arisa.


Arisa belum sadarkan diri semenjak dari sekolah tadi. Rian, Santo, juga Kaila juga berada di ruangan itu. Mereka menatap sedih ke Arisa juga Roy.


Mata Roy berkaca-kaca kala ia mengingat ucapan dari dokter Lulu.


Flash back on


" Kenapa bisa sampai begini, tuan? Kehamilan Arisa sangat baik sebelumnya. Bahkan dia tidak merasakan mual muntah layaknya perempuan yang sedang hamil. " tanya dokter Lulu. Ia sangat menyayangkan kondisi Arisa.


" Ada kejadian yang membuatnya tertekan, dok. " jawab Roy sambil memegang lutut Arisa. Arisa ia tidurkan di atas brankar pasien ruangan dokter Lulu. Dan dokter Lulu sedang memeriksa denyut jantung Arisa juga denyut jantung janin Arisa.


Dokter Lulu terdengar mende sahkan nafasnya lelah.


" Denyut jantung janin anda melemah, tuan. Dan kondisi Arisa juga sedang tidak baik-baik saja. Ia mengalami syok. Bahkan denyut nadi Arisa juga melemah. " jelas dokter Lulu.


" Sepertinya, apa yang di alami Arisa cukup serius. " lanjutnya.


" Iya dok. " mata Roy berkaca-kaca. Ia memandang Arisa penuh luka. Lalu pandangan matanya beralih ke perut Arisa yang sudah agak membuncit.


" Tolong, selamatkan mereka dok. " suara Roy terdengar bergetar. " Seenggaknya, selamatkan Arisa. Istri saya. " pintanya.


Dokter Lulu mengangguk. " Kami akan berusaha semampu kami untuk menjaga janin juga ibunya, tuan. Saya akan menyuntikkan obat penguat kandungan sekarang. Dan sepertinya, Arisa harus bed rest total untuk mengembalikan kondisinya. " jelasnya.


" Dan tolong, jaga mood dan perasaan Arisa, tuan. " imbuh dokter Lulu.


Flash back off


" Maafkan Abang, sayang. Harusnya abang segera bertindak saat abang tahu apa yang menimpamu. Tapi abang... Abang malah sibuk menunggu kamu untuk bercerita. " ucap Roy lalu mengecup punggung tangan Arisa.

__ADS_1


" Bangunlah sayang. Jangan tidur terus. Jangan buat abang makin khawatir sama kalian. " lanjutnya sendu.


Bahkan Kaila kini sudah menitikkan air matanya. Santo segera merangkul bahu Kaila untuk menenangkan Kaila.


Rianpun tanpa sadar juga menitikkan air matanya. Mereka juga menyesal. Kenapa harus mengikuti kemauan Arisa untuk tidak memberitahu keluarganya lebih awal. Jika mereka memberitahu keluarga Arisa lebih awal, mungkin kondisi Arisa tidak akan se down ini.


Kondisi masih tetap sama setelah beberapa waktu hingga sore menjelang. Sampai keluarga Arisa, Julio juga Ori juga sudah berada di ruangan itu.


Julio belum memberi kabar ke istrinya karena ia khawatir istrinya akan syok. Ia akan menunggu Arisa sadar lebih dulu baru ia mengabari sang istri tercinta.


Tuan Manoj juga Ruby, mama Roy juga sudah berada di ruangan itu setelah beberapa saat kedatangan Julio yang memang masih bertugas di rumah sakit itu.


Roy menoleh ke arah sahabat Arisa. Sedangkan tangannya masih setia menggenggam tangan Arisa.


" Sudah saatnya kalian pulang. "ucap Roy.


" Tidak pak. Arisa belum sadar. " sahut Kaila cepat.


Ruby mendekat ke arah Kaila, lalu merangkul pundak Kaila.


Lalu Kaila menoleh ke arah Santo juga Rian bergantian. Mereka sama-sama mengangguk.


" Baiklah tante. Kami pulang lebih dulu. Besok, kami pasti akan datang kesini lagi. Dan tolong, kabari kami jika Arisa sudah sadar. " pinta Kaila. Dan Ruby, juga Roy, sama sama mengangguk.


" Pak Roy, besok saya akan bawakan tas Arisa kesini. Tadi tasnya masih ketinggalan di sekolah. " ucapnya sambil memandang Roy.


" Terima kasih. " jawab Roy tanpa mengalihkan pandangannya dari Arisa.


" Gue anter kalian. " tawar Ori sambil menyambar kunci mobilnya.


" Ri, sekalian jemput ibumu, ajak kesini. Tapi jangan kasih tahu dia dulu keadaan Arisa. " ucap Julio.

__ADS_1


" Iya yah. " jawab Ori lalu ia keluar dari dalam ruangan mengikuti ketiga sahabat Arisa yang sudah keluar lebih dulu.


" Sayang... Kenapa kamu nggak bangun bangun, hem? " ucap Roy sambil mengusap lembut pipi Arisa. " Wajahmu pucat sekali. "


" Sabarlah nak. " ucap Julio sambil menepuk pundak Roy. " Arisa perempuan yang kuat. Anak ayah anak yang kuat. Dia pasti baik-baik saja. Dia juga akan segera sadar. " lanjutnya sambil tersenyum meskipun hatinya juga terluka.


" Semuanya salah Roy, yah. Roy nggak bisa jaga Arisa dengan baik. Harusnya Roy segera membereskan masalah di sekolah ketika mengetahuinya. Tapi Roy justru lebih menunggu Arisa untuk berkata jujur. " ucap Roy dengan air mata yang sudah menetes.


" Begitulah Arisa. Ia selalu menyimpan semua masalahnya sendiri. Ia selalu beranggapan jika dia kuat. Jika dia akan selalu baik baik aja. Dia.. Anak ayah satu ini selalu tidak ingin membuat orang-orang yang ia sayangi bersedih melihatnya. " jelas Julio.


" Dia mirip sekali dengan ibunya. " imbuhnya. " Jadi jangan salahkan dirimu. Arisa tidak akan suka. "


" Sebaiknya kita berdoa yang terbaik untuk istri juga anak kamu, nak. " sahut Ruby.


" Istri kamu pasti akan baik-baik saja. " ujar tuan Manoj.


" Papa sudah menyuruh om Ody untuk mengurus masalah yang di sekolah. Setelah ini, tidak akan ada yang berani menyentuh istri kamu lagi. Papa juga sudah mengeluarkan anak yang sudah menyebarkan foto kalian. " lanjutnya.


Roy hanya mengangguk. Ia tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi. Hatinya terlalu bersedih. Hatinya terlalu sakit sekarang melihat keadaan istrinya yang seperti ini. Ia merasa telah lalai menjadi suami siaga.


Bersambung


Hai reader... Mau curhat dong.....


Nggak nyangka banget, cerita om Roy sama si Arisa udah 101 episode. Awalnya, othor tuh bakal hiatus kalau sampai cerita othor ini gagal dapat retensi yang di tentuin pihak NT...


Tapi othor merasa sayang sama ceritanya kalau tiba-tiba cerita mereka berhenti gitu aja...


Apalagi lihat antusiasme kalian terhadap cerita othor ini yang sangat luar biasa...


Othor cuma bisa bilang makasih banget sama kalian semua, yang udah jadi viewer tetap cerita othor, udah kasih komen terbaik kalian, udah relain jempol kalian tiap habis baca... Pokoknya makasih banget atas dukungan kalian semua...

__ADS_1


Semoga besok, othor tetep masih punya semangat yang sama buat ngelanjutin cerita om Roy sama neng Arisa ya...


Lop yu pulllll...


__ADS_2